Kiat: Hidup Bahagia Tanpa Membenci

Kebahagiaan Anda dan saya dipengaruhi oleh banyak hal. Adakah seseorang yang hidup bahagia di dunia ini? Kalau ada, siapakah dia? Bagaimana dia meraih kebahagiaan itu?

Sebuah tulisan dari Phyllis Chua di Medium memberikan informasi kepada kita bagaimana hidup bahagia tanpa kebencian.

Dia menulis, bahwa orang yang paling bahagia adalah mereka yang tidak memendam kebencian kepada orang lain.

Lebih jauh, mereka percaya pada dirinya sendiri dan menyayangi diri mereka secara keseluruhan.

Pengenalan terhadap diri sendiri adalah awal dari kepercayaan diri itu.  

Mereka mengenali diri sendiri dengan memahami dan menyadari bahwa kebencian tidak memiliki ruang di dalam dirinya. Hal-hal buruk lain seperti pikiran negatif pun tidak boleh merajai hati mereka.  

Karena kepercayaan dirinya, maka orang yang paling bahagia pun adalah seseorang yang tangguh.

Tentu saja, selayaknya manusia, mereka pun memiliki kekecewaan. Perasaan dikecewakan karena seseorang atau berbagai hal pun pernah mereka rasakan.

Namun, mereka bangun dari kubangan kebencian itu dan kemudian muncul dengan jiwa yang lebih besar.

Dihadapinya kegagalan, kekecewaan, termasuk juga pengkhianatan. Mereka memandang hal-hal ini sebagai kesempatan untuk belajar. Caranya dengan mencintai atau membiarkannya pergi dan tidak memengaruhi hidup mereka lagi.

Phyllis Chua memberikan definisi yang menarik tentang membenci.

Membenci adalah membiarkan diri kita dirajam oleh kesakitan dari masa lalu. Membenci adalah merelakan diri kita disiksa oleh berbagai kenangan tentang rasa sakit. Membenci dengan demikian adalah saat diri kita dirampas dari rasa puas, utuh, dan bebas merdeka.

Dia menulis, bahwa ketika kita membatasi pandangan pada luka di lengan, maka kita akan melupakan seluruh tubuh yang lain. Kita tidak lagi bisa melihat tubuh kita sebagai satu kesatuan. Dia adalah kuil bagi jiwa yang unik dan cantik, serta sangat berharga.

Membenci membuat pandangan kita menjadi terbatas. Bahkan kita tidak lagi peduli jika luka dan bekas-bekasnya sudah musnah.

Eksistensi kebencian dalam pikiran dan jiwa pada akhirnya membuahkan gambaran tentang jiwa yang terluka. Lebih jauh, mengabadikan kebencian sama dengan menutup diri kita dari berbagai kesempatan. Kita menjadi pribadi yang tertutup.

Credit Picture: Pixabay,


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *