Kuliah: Memahami Daya Dukung Lingkungan

Seorang petani bersama dengan teman-temannya mencoba untuk membuhuh tikus-tikus di sawah. Usaha itu memang tampak berhasil pada mulanya, namun kemudian tikus-tikus itu dengan cepat segera datang lagi.

Petani itu lupa, bila tikus di sawah berkurang karena dibunuh, maka yang tersisa memiliki lebih banyak ruang untuk beranak pinak, sehingga sia-sia saja usaha para petani.

Sebenarnya ini berhubungan dengan kapasitas satu lahan untuk menyokong kehidupan.

Katakanlah sepetak sawah mampu untuk menyokong hidup 100 ekor tikus, maka bila Anda mengurangi tikus itu menjadi 50 mereka masih tetap punya ruang untuk 50 yang lain.

Nah, sebab tikus itu kerjanya barangkali hanya mencari makan dan melakukan perkawinan, maka anak-anak mereka pun semakin banyak yang hidup di sawah.

Pada kondisi demikian, ada dua cara yang bisa ditempuh petani: pertama dengan membiarkan tikus-tikus terus beranak pinak hingga lebih dari seratus. Bila jumlah ini telah tercapai, maka tikus yang ke seratus satu dan seterusnya sudah di luar kemampuan daya dukung lahan. Tikus-tikus pun mulai saling berkelahi satu dengan yang lainnya dan lahan pun akan terus rusak karena semua sumber daya yang ada digunakan oleh tikus.

Hasil akhirnya adalah tikus yang kurus-kurus karena kurang makan. Bisa jadi juga tikus yang mati sendiri karena saling berkelahi satu dengan yang lain. Mereka memperebutkan makanan yang kini hanya sedikit namun dimakan oleh lebih banyak tikus.

Adapun pilihan kedua bagi petani adalah dengan membunuh semua tikus yang ada di sawah. Tetapi, sepertinya ini pun mustahil dilakukan karena sarang tikus itu tersebar bukan hanya berada di sawah milik si petani tersebut?

Bagaimana dengan tikus yang tinggal di sawah milik orang lain, siapa yang harus bertanggung jawab untuk membunuh itkus ini? Terus, bagaimana bila ada tikus yang tinggal dipinggir sungai atau tepi jalan yang tak bertuan.

Ahh…. harus ada sesuatu yang dilakukan oleh petani tersebut. Tapi apa?

======

world

Pada satu waktu, kemampuan bumi untuk mendukung manusia pun akan terlampaui. Bahkan saat ini, sebenarnya jumlah manusia yang bisa ditampung dan disokong kehidupannya oleh bumi terlampaui.

Manusia semestinya sudah membutuhkan satu setengah bumi untuk menyokong semua kegiatannya. Bagaimana bila populasi dunia terus tumbuh dan kerusakan lingkungan terus terjadi?

Credit Picture: https://exploringresearchbio.wordpress.com

2 Responses

  1. soal manusianya.. yah survival of the fittest, because nature always finds a way. juga ndak perlu merisaukan bumi, karena pada suatu masa ibu bumi akan menekan tombol restart untuk ia bisa terlahir kembali. tinggal tunggu waktu entah kapan 🙂

  2. Hi Christin,

    Memang alam akan selalu menemukan jalannya dan mencoba mencari keseimbangan atau bisa jadi jalan itu adalah tombol restart seperti yang kamu tulis. Tapi, sebenarnya agak mengerikan kalau apa yang kamu tuliskan benar-benar terjadi dan sebenarnya aku baru tahu ada pandangan itu.

    Pandangan itu juga membuatku khawatir karena seakan-akan manusia tidak perlu melakukan apa pun karena toh nanti bumi akan menentukan nasibnya sendiri. Seolah-olah tidak masalah kalau kita terus tumbuh melampaui kapasitas bumi dan terus merusaknya.

    Bumi tidak memiliki suara dan manusialah yang selain terus merusaknya juga harus membantu dia dengan bersuara. Paling tidak agar anak dan cucu nanti merasakan keindahan lembah dan sungai. Juga, agar mereka tak perlu berperang demi untuk berebut pangan.

    Bagaimana menurutmu?

    Salam,
    Goop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: