Kuliah: Musuh Terbesar Manusia

100709pogo

Siapakah musuh terbesar umat manusia?

Dia bukan serangga, bukan tumbuhan, bukan fenomena alam, bukan makhluk luar angkasa, atau penjahat yang harus dikalahkan oleh super hero.

Musuh terbesar umat manusia adalah manusia itu sendiri.

Saat bicara mengenai kerusakan lingkungan, siapa yang menyebabkan kerusakan itu terjadi?

Bagaimana bisa manusia yang tadinya hanya hidup di satu sudut Afrika sana kemudian merambah ke berbagai pelosok belahan dunia? Meninggalkan jejaknya di mana-mana, merusak pemandangan alam, mengubah rantai makanan, menyebabkan kepunahan berbagai satwa.

Kenapa manusia melakukan itu semua?

Di antara semua binatang yang hidup di dunia dan manusia termasuk di dalamnya, siapa yang paling rakus?

Kendati mulut, gigi, lidah, dan perut manusia tidak dilengkapi dengan berbagai perangkat untuk mengerat daging, mengunyahnya mentah-mentah, dan mengolahnya di perut dengan semacam zat asam yang bisa melunakkannya, namun manusia mampu memasak daging itu agar empuk dan bisa dinikmati panas-panas.

Biarpun mulut, gigi, lidah, dan sistem metabolisme manusia tidak seperti kerbau yang bisa mengeremus tumbuh-tumbuhan, namun tangan manusia bisa memilih mana tanaman yang bisa langsung dimakan, mana yang harus diolah dulu.

Pada akhirnya, manusia memakan apa saja yang dihidangkan di hadapannya. Dia tak seperti harimau yang hanya memakan daging atau kerbau yang cuma mengunyah tanaman. Manusia melahap berbagai hal bahkan yang barangkali beracun sekali pun saking rakusnya.

Selain untuk makan, binatang menggunakan lingkungan sebagai tempatnya tinggal. Namun, binatang tidak membangun rumah, mendirikan gedung-gedung, membangun monumen, tugu, sekolah, penjara, pengadilan, kantor polisi, dan lainnya. Dia tak menggali lubang begitu dalam agar binatang lain bisa berkelap-kelip lehernya karena perhiasan. Dia tak menebang pepohonan agar bisa tidur nyaman di atas ranjang empuk. Mereka menerima dan memanfaatkan apa yang diberikan oleh alam tanpa mengubahnya.

Manusia di sisi lain mengambil dari alam, mengubahnya menjadi sesuatu yang lain untuk kemudian mengambil lebih banyak lagi dari apa yang bisa alam berikan.

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: