Kiat: Manfaat Bersyukur Setiap Hari

Semua berawal saat saya mengikuti saran dari Shawn Achor seorang motivator di Ted.com. Dia bilang, bila Anda ingin bahagia, lakukanlah satu di antaranya: menuliskan tiga hal yang Anda syukuri dan hal baru yang Anda pelajari dalam satu hari.

Saya mencoba melakukannya kendati tidak mudah. Sebelum tidur, biasanya saya akan membuka tumblr dan menuliskan hal-hal itu. Tetapi, sering juga saya lupa dan langsung tertidur….

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengingat kembali hal-hal yang kita alami sepanjang hari. Langkah selanjutnya adalah memilih tiga hal yang layak disyukuri. Kemudian mengingat-ingat, apakah ada hal baru yang terjadi pada hari itu.

Saat menuliskan hal yang disyukuri, maka ini yang menjadi catatan saya. Banyak sebenarnya yang kita alami tiap hari, namun saat kita ingin bersyukur, selalu saja ada suara lain yang seperti mencegahnya.

“Hari ini saya berhasil menulis blog, tetapi…..”

Pada kalimat di atas, ‘tetapi’ itu selalu ada saat kita bersyukur terhadap segala hal. Nah, saat kita menuliskan hal yang kita syukuri, ‘tetapi’ itu tidak perlu dimasukkan. Hasil akhirnya, lambat laun kita hanya berfokus pada hal-hal yang kita syukuri dan melupakan hal lain, yaitu ‘tetapi’ tersebut.

Berikut ini contoh peristiwa yang saya alami saat kesulitan mencari hal positif yang terjadi.

Pada satu kesempatan pelatihan dengan nara sumber dari luar Indonesia, sebagai refleksi di bagian akhir acara, para peserta diminta untuk menyampaikan satu-dua hal yang positif dari pelatihan yang baru dilaksanakan. Entah kenapa, pada saat itu saya sulit sekali untuk mencari hal-hal positif…..

Pikiran saya selalu saja tertuju pada berbagai hal negatif yang terjadi sepanjang pelatihan. Beberapa kali saya dilewati saat diminta untuk berbicara. Saya tidak juga menemukan hal positif itu dan akhirnya memilih untuk diam saja.

Saya kurang tahu bagaimana pikiran bekerja saat itu. Saya bertanya-tanya, kenapa saya sulit menemukan hal yang layak disyukuri dan juga hal positif? Apakah karena saya terbiasa melihat segala sesuatu dari yang negatif?

Semenjak saya membiasakan diri–walaupun susah–untuk menuliskan hal-hal yang patut disyukuri setiap hari tanpa menuliskan ‘tetapi’ di belakangnya, perlahan-lahan berbagai pikiran positif berkembang biak. Sepertinya saya melihat dunia dengan sedikit berbeda, betapa pun sulit rintangan, tanpa sadar kita diajak untuk melihat sisi lain dari kesulitan itu. Diam-diam, kita disibukkan dengan berbagai hal positif dan melupakan hal-hal negatif yang hanya akan membebani kita.

Sudahkah Anda mencoba menuliskan tiga hal yang patut disyukuri dalam satu hari dan juga menulis hal baru yang Anda pelajari pada hari itu?

Berikut ini tautan ke paparan Shan Achor di ted.com.

Humaniora: Tidak Ada Manusia yang Hidupnya Sempurna

3594887377_53e0e79f47

Anda melihat status teman di FB atau Twitter, kemudian merasa hidup Anda tak berharga…..

Teman-teman Anda seolah-oleh memiliki kehidupan yang menarik dan tanpa cela. Makan berbagai menu yang menggiurkan, pergi ke berbagai tempat wisata yang hanya bisa Anda impikan.

Sebenarnya, teman-teman….

Mereka seperti kurator yang memilih cerita terbaik dari hidupnya untuk dibagikan di Twitter, FB, atau Instagram….

Tidak ada yang hidupnya benar-benar sempurna. Saya tidak, Anda pun tidak. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk jaya dan terpuruk. Mereka mengalami kegagalan, kesalahan, kesedihan, tapi juga kebahagiaan dan keindahan. Hal-hal yang buruk, menyebalkan, yang tak perlu diceritakan, tapi juga berbagai hal yang baik, berharga, dan membanggakan yang dengan senang hati akan dibagikan.

Bersyukurlah dengan hidup Anda tanpa perlu membandingkannya dengan hidup orang lain. Memang berat, tapi perlu….
Sebab perbandingannya bukan apel dengan apel karena Anda tidak pernah melihat keseluruhan cerita.

Credit picture from here: https://farm4.staticflickr.com/3001/3594887377_53e0e79f47.jpg

Menulis: Hal Sederhana yang Perlu Ditulis

Hal-Hal besar, yang mengubah dunia, yang kita lakukan, yang terjadi, seringkali ingin segera kita tuliskan agar orang terkesima dan bengong. Kita segera menulis seharusnya agar mereka mengerti dan terhubung dengan kita.

“Ingin tahu ceritaku saat jalan-jalan ke Eropa? Owh, gini lho…..”

“Atau saat berenang bersama lumba-lumba di Karibia? Hah, kamu belum pernah? Oke, aku akan ceritakan SEMUA untukmu….”

Kita terhubung dengan orang lain melalui peristiwa sehari-hari yang sederhana, yang terjadi karena kesamaan latar. Ketika kita menjadi teman dan bukan orang asing yang baru pulang dari planet lain. Entah itu bercerita sambil ngopi atau berkirim kabar melalui tulisan, momen sederhana itu yang merawat pengertian di antara kita.

Sebagai penulis, kita berbagi peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi dengan penuh kejujuran, sebagai penanda satu hubungan di antara penulis dan pembaca. Bisa jadi sebuah cerita yang bergaung dan menyentuh perasaan-perasaan terdalam. Cerita yang membuat penulis dan pembacanya dekat, sehingga kita tak merasa sendiri. Sehingga pada satu kesempatan, kita merasa ada orang lain di seberang sana yang memahami kita.

Hidup adalah potongan-potongan gambar sederhana. Satu gambar yang tampaknya tidak penting, layaknya pecahan sebuah ubin. Namun, manakala kita sabar dan bisa menyusunnya, maka akan ditemukan sebentuk keindahan dan makna, diam-diam kita menjadikannya sebuah seni. Seni yang memiliki kemampuan untuk menyatukan kita melalui berbagai kisah yang dibagi.

Sumber tulisan:

https://medium.com/the-coffeelicious/why-finding-magic-in-the-mundane-is-the-secret-ingredient-that-will-change-your-writing-fde9cd1597b4

Kuliah: Memahami Daya Dukung Lingkungan

Seorang petani bersama dengan teman-temannya mencoba untuk membuhuh tikus-tikus di sawah. Usaha itu memang tampak berhasil pada mulanya, namun kemudian tikus-tikus itu dengan cepat segera datang lagi.

Petani itu lupa, bila tikus di sawah berkurang karena dibunuh, maka yang tersisa memiliki lebih banyak ruang untuk beranak pinak, sehingga sia-sia saja usaha para petani.

Sebenarnya ini berhubungan dengan kapasitas satu lahan untuk menyokong kehidupan.

Katakanlah sepetak sawah mampu untuk menyokong hidup 100 ekor tikus, maka bila Anda mengurangi tikus itu menjadi 50 mereka masih tetap punya ruang untuk 50 yang lain.

Nah, sebab tikus itu kerjanya barangkali hanya mencari makan dan melakukan perkawinan, maka anak-anak mereka pun semakin banyak yang hidup di sawah.

Pada kondisi demikian, ada dua cara yang bisa ditempuh petani: pertama dengan membiarkan tikus-tikus terus beranak pinak hingga lebih dari seratus. Bila jumlah ini telah tercapai, maka tikus yang ke seratus satu dan seterusnya sudah di luar kemampuan daya dukung lahan. Tikus-tikus pun mulai saling berkelahi satu dengan yang lainnya dan lahan pun akan terus rusak karena semua sumber daya yang ada digunakan oleh tikus.

Hasil akhirnya adalah tikus yang kurus-kurus karena kurang makan. Bisa jadi juga tikus yang mati sendiri karena saling berkelahi satu dengan yang lain. Mereka memperebutkan makanan yang kini hanya sedikit namun dimakan oleh lebih banyak tikus.

Adapun pilihan kedua bagi petani adalah dengan membunuh semua tikus yang ada di sawah. Tetapi, sepertinya ini pun mustahil dilakukan karena sarang tikus itu tersebar bukan hanya berada di sawah milik si petani tersebut?

Bagaimana dengan tikus yang tinggal di sawah milik orang lain, siapa yang harus bertanggung jawab untuk membunuh itkus ini? Terus, bagaimana bila ada tikus yang tinggal dipinggir sungai atau tepi jalan yang tak bertuan.

Ahh…. harus ada sesuatu yang dilakukan oleh petani tersebut. Tapi apa?

======

world

Pada satu waktu, kemampuan bumi untuk mendukung manusia pun akan terlampaui. Bahkan saat ini, sebenarnya jumlah manusia yang bisa ditampung dan disokong kehidupannya oleh bumi terlampaui.

Manusia semestinya sudah membutuhkan satu setengah bumi untuk menyokong semua kegiatannya. Bagaimana bila populasi dunia terus tumbuh dan kerusakan lingkungan terus terjadi?

Credit Picture: https://exploringresearchbio.wordpress.com

Kiat: Agar Kita Bahagia

Happiness-is-not-the-absensce-of-problems

Apakah bahagia itu ketika Anda memakan menu kegemaran seperti es krim atau coklat?

Bagaimana kalau kita lipat gandakan jumlah es krim atau coklat itu? Katakan saja Anda mesti menghabiskan satu kotak es krim atau sepuluh batang coklat di waktu yang sama. Di sini, barangkali Anda tak lagi bahagia.

Saya banyak membaca, mendengar, dan melihat presentasi tentang kebahagiaan. Secara umum, para penulis dan pembicara itu memberikan kiat-kiat atau tips bagaimana agar kita bisa bahagia.

Saya mencoba mempraktikkan beberapa di antaranya. Hasilnya memang saya bahagia. Berarti betul apa yang disarankan oleh para penulis dan pembicara itu.

Bagaimana kalau saya tidak melakukan kiat yang ada di sana, apakah kemudian menjadi sedih? Rupanya tidak demikian, sebab kadang kita bahagia karena satu hal dan di lain waktu hal yang sama tersebut tidak terasa membahagiakan. Di sini berarti kebahagiaan itu naik turun dan bergantung pada banyak hal.

Satu pelajaran yang saya ambil dari mempraktikkan semua kiat tentang kebahagiaan itu adalah, kita merasa bahagia bila berhasil melakukannya.

Bila Anda barangkali tertarik agar bisa bahagia, maka syaratnya adalah dengan melakukan apa yang disarankan. Anda tidak bisa sekadar mengetahui bagaimana menjadi bahagia tetapi tidak melakukan apa yang disarankan. Antara mengetahui dan melakukan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Singkatnya, praktik hidup bahagia memegang peranan penting agar Anda ‘benar-benar’ bahagia.

Adakah di antara banyak tips mengenai kebahagiaan yang sudah Anda praktikkan?

Image credit: http://www.lifehack.org/

Kiat: Meningkatkan Kemampuan Mendengar

Kita telah kehilangan kemampuan untuk mendengar, dari 60 persen pembicaraan, rupanya kita hanya bisa mendengarkan 25 persennya saja.

Mendengar adalah mengartikan satu hal dari suara-suara. Kita mengembangkan kemampuan mental ini dengan memecah berbagai suara yang didengar menjadi satu bunyi yang bermakna.

Kita dapat melakukan hal itu salah satunya dengan mengenali pola. Bayangkan Anda sedang berada dalam satu lingkungan yang bising; bisa di pinggir jalan, di dalam mall, atau di sebuah restauran. Tiba-tiba, nama Anda dipanggil dan Anda pun akan bisa mendengar panggilan itu kendati di tengah keriuhan.

Kita juga dapat mendengar hal-hal tertentu karena kemampuan kita untuk membedakan. Di pinggir pantai dengan debur ombak yang nyaring, kita tetap dapat mendengar bebunyian lain. Sebab, kita memiliki kemampuan untuk mengabaikan bunyi-bunyi yang mirip dan didengar berulang-ulang.

Selain kedua hal tersebut, saat kita mendengar, banyak sekali saringan yang terlibat di dalamnya. Beberapa hal sebagai penyaring adalah: budaya, bahasa, nilai-nilai, kepercayaan, sikap, harapan, dan minat. Kebanyakan manusia tidak menyadari saringan ini karena terjadi begitu saja dan saat itu juga.

Suara juga membuat kita sadar mengenai waktu dan tempat. Sekali waktu saat berada di sebuah ruangan, cobalah Anda pejamkan mata. Melalui suara-suara, kita bisa menyadari berapa luas ruangan itu, berapa banyak orang yang bersama kita dan lain-lain. Semua itu terjadi karena pantulan, dengung, atau bebunyian lain yang kita dengarkan dengan lebih seksama.

Selain tempat, suara membuat kita sadar mengenai waktu. Kita tidak dapat menghitung waktu tanpa bantuan gerakan jarum jam di dinding atau di arloji, maka suara seringkali menjadi pengingat berjalannya waktu.

Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar? 

Pertama karena penemuan alat perekam. Entah itu perekam suara atau perekam gambar yang dilengkapi suara telah membuat hilangnya kemampuan kita untuk mendengar dengan penuh perhatian.

Kedua, dunia saat ini begitu berisik. Bukan hanya menyangkut suara, namun juga berbagai hal yang mengganggu pandangan kita. Pada kondisi yang demikian itu, mendengar menjadi begitu sulit dan melelahkan. Banyak orang kemudian melarikan diri pada earphone atau headphone, tapi kemudian dia tak mendengarkan apa-apa….

Kehilangan kemampuan mendengar juga membuat kita menjadi tidak sabar. Seni berbicara atau bercerita satu sama lain dengan bertukar kata dan mendengar telah digantikan oleh siaran pribadi. Kita mudah menemuinya di facebook, twitter, atau blog yang seakan-akan berteriak-teriak di ruang hampa….

Lebih dari itu, bila kita menengok ke berbagai pemberitaan di media yang berisi: sensasi, kejutan, pengungkapan, skandal, kemarahan, atau pemaparan aib seseorang, yang semua itu bertujuan untuk menarik perhatian kita, maka kita menjadi makin sukar untuk mendengarkan bunyi yang tersembunyi, bisikan, atau suara-suara di bawah permukaan.

Kehilangan kemampuan mendengar sangatlah berbahaya karena ‘mendengar’ adalah satu jalan bagi kita agar paham. Saat Anda mendengarkan dengan penuh kesadaran, maka di situlah pemahaman akan didapat. 

Di sisi lain, ketika kita mendengarkan tanpa kesadaran, maka yang terjadi adalah kesalahpahaman. Dunia yang kehilangan kemampuan mendengar adalah wilayah yang menakutkan karena di situlah lahan subur bagi konflik, protes, dan tindakan butral lainnya.

Menghadapi berbagai situasi di atas, apa yang dapat kita lakukan? Berikut ini lima langkah untuk kembali berlatih mendengar. 

Pertama, adalah diam…. Lakukan setidaknya tiga menit setiap hari karena ini sangat penting sebagai satu cara untuk me-reset telinga Anda sehingga bisa mendengar bunyi-bunyi yang begitu samar sekalipun.

Kedua adalah ‘mixer’. Saat Anda berada di tempat yang ramai, maka cobalah untuk memilah suara-suara yang ada. Mana suara sepeda motor, anak menangis, penjual bakso, gesekan langkah orang berjalan dan lainnya. Latihan ini sangat bagus untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas mendengar.

Ketiga adalah ‘savoring’, yaitu mendengarkan keindahan dari berbagai bunyi yang biasanya justru kita anggap mengganggu. Bisa bunyi mesin penggiling kopi, kulkas, atau mesin cuci.

Keempat, adalah posisi mendengar. Ini berhubungan dengan saringan dalam mendengar yang sudah dijelaskan di bagian awal. Bagaimana Anda mendengarkan dan kemudian bersikap pada bunyi-bunyi tertentu yang sesuai atau tidak sesuai dengan diri Anda.

Kelima adalah acronym RASA—Receive, Appreciate, Summarise, Ask. Receive adalah menerima informasi. Appreciate adalah memberikan penghargaan kepada lawan bicara, yakni bisa dengan bunyi, “oke”, “hmmm”, atau sekadar mengangguk-anggukkan kepala. Summarise adalah ketika kita mengulang berbagai poin penting dari lawan bicara, biasanya diawali dengan “Jadi…. “. Ask adalah mengajukan pertanyaan sekiranya ada hal-hal yang masih kurang jelas.

Seseorang perlu mendengar dengan penuh kesadaran agar terhubung dengan ruang dan waktu, dengan sekitar kita, dan kemudian agar saling memahami.

Ingat, Dalai Lama pernah berkata, “Saat berbicara, kita hanya mengulang-ulang apa yang sudah kita ketahui. Namun, saat mendengar, banyak hal baru yang bisa kita pelajari.”

Anda bisa mendengarkan perihal ‘mendengar’ ini dari ahlinya di video berikut ini:

Kuliah: Musuh Terbesar Manusia

100709pogo

Siapakah musuh terbesar umat manusia?

Dia bukan serangga, bukan tumbuhan, bukan fenomena alam, bukan makhluk luar angkasa, atau penjahat yang harus dikalahkan oleh super hero.

Musuh terbesar umat manusia adalah manusia itu sendiri.

Saat bicara mengenai kerusakan lingkungan, siapa yang menyebabkan kerusakan itu terjadi?

Bagaimana bisa manusia yang tadinya hanya hidup di satu sudut Afrika sana kemudian merambah ke berbagai pelosok belahan dunia? Meninggalkan jejaknya di mana-mana, merusak pemandangan alam, mengubah rantai makanan, menyebabkan kepunahan berbagai satwa.

Kenapa manusia melakukan itu semua?

Di antara semua binatang yang hidup di dunia dan manusia termasuk di dalamnya, siapa yang paling rakus?

Kendati mulut, gigi, lidah, dan perut manusia tidak dilengkapi dengan berbagai perangkat untuk mengerat daging, mengunyahnya mentah-mentah, dan mengolahnya di perut dengan semacam zat asam yang bisa melunakkannya, namun manusia mampu memasak daging itu agar empuk dan bisa dinikmati panas-panas.

Biarpun mulut, gigi, lidah, dan sistem metabolisme manusia tidak seperti kerbau yang bisa mengeremus tumbuh-tumbuhan, namun tangan manusia bisa memilih mana tanaman yang bisa langsung dimakan, mana yang harus diolah dulu.

Pada akhirnya, manusia memakan apa saja yang dihidangkan di hadapannya. Dia tak seperti harimau yang hanya memakan daging atau kerbau yang cuma mengunyah tanaman. Manusia melahap berbagai hal bahkan yang barangkali beracun sekali pun saking rakusnya.

Selain untuk makan, binatang menggunakan lingkungan sebagai tempatnya tinggal. Namun, binatang tidak membangun rumah, mendirikan gedung-gedung, membangun monumen, tugu, sekolah, penjara, pengadilan, kantor polisi, dan lainnya. Dia tak menggali lubang begitu dalam agar binatang lain bisa berkelap-kelip lehernya karena perhiasan. Dia tak menebang pepohonan agar bisa tidur nyaman di atas ranjang empuk. Mereka menerima dan memanfaatkan apa yang diberikan oleh alam tanpa mengubahnya.

Manusia di sisi lain mengambil dari alam, mengubahnya menjadi sesuatu yang lain untuk kemudian mengambil lebih banyak lagi dari apa yang bisa alam berikan.

Humaniora: Hukuman Bagi yang Rakus

Pennytown_Ponds_-_geograph.org.uk_-_228152

Pada suatu masa, tersebutlah sebuah kolam yang ditinggali banyak ikan.

Siang itu pemancing datang dan mulai memancing sambil membaca buku. Duduk memancing dari siang sampai sore dan tanpa susah payah dia memperoleh banyak sekali ikan. Senanglah hatinya dan sudah dibayangkan senyum mengembang di bibir istrinya juga tawa di wajah anak-anaknya saat nanti menatap ikan goreng di meja makan terhidang bersama sambal kegemaran.

Keesokan harinya pemancing itu datang lagi bersama dengan adiknya. Mereka berdua sibuk memancing dan pulangnya mendapatkan banyak sekali ikan.

Di rumah, ikan yang kemarin belum lagi habis dan kini sudah mendapatkan tangkapan baru lagi. Agar tidak mubazir, maka dibagi-bagikan ikan itu ke para tetangga.

Ada seseorang yang penasaran dan ingin mendapatkan ikan sendiri agar bisa terpuaskan hatinya. Maka, orang itu pun memohon kepada pemancing pertama untuk ikut pergi ke kolam. Rupa-rupanya bukan hanya seorang yang ingin ikut memancing, namun banyak sekali yang berminat.

Kolam itu kini menjadi ramai dengan para pemancing yang sibuk berharap umpannya dimakan oleh ikan. Mereka duduk terpisah, setiap orang memiliki area pancing sendiri-sendiri.

Tapi ikan tidak bisa diatur, dia berenang ke sana dan kemari. Sekali waktu satu lokasi mendapatkan banyak ikan, di masa yang lain lokasi itu pun sepi tak ada ikan.

Para pemancing di kolam itu pun mulai sibuk memperebutkan area favorit. Banyak usul disampaikan, ada yang setuju tapi ada pula yang enggan berpindah. Di sini konflik mulai timbul di antara mereka.

Ikan di kolam lama kelamaan pun menipis jumlahnya karena tiap hari dipancing. Semakin banyak pemancing yang datang justru semakin sedikit ikan yang tersedia. Ujungnya konflik di antara para pemancing semakin sering terjadi.

Kelangkaan ikan pula yang menyebabkan para pemancing gelap mata. Tanpa pandang bulu mereka memancing apa saja mulai dari yang besar sampai dengan anakan ikan yang masih kecil. Hingga akhirnya tak ada satu pun ikan yang bisa dipancing. Ikan di kolam itu sudah habis karena tak ada yang sempat bertelur sebab semua berpindah ke penggorengan dan piring di atas meja makan para pemancing.

Anda masih ingat pemancing yang pertama tadi?

Apa yang ada dalam benaknya sekarang?

Credit picture: https://commons.wikimedia.org/

Kuliah: Mental Models

thinking_in_the_right_frame_of_mind_by_scramblesthedarklord-d5ra85v

Manusia memiliki kemampuan untuk mengenali sekitarnya melalui indera yang ada pada dirinya.

Apakah alam sekitar atau fakta yang kita dengar dan baca itu benar-benar perwakilan dari kenyataan sesungguhnya di alam nyata?

Sebenarnya manusia membuat dunia lain yang baru di dalam kepalanya, sebuah dunia khayalan dan terpisah dari lingkungan sekitarnya. Sebuah dunia yang tidak lengkap dan hanya sepotong-sepotong.

Manusia menggunakan bingkai untuk melihat lingkungan. Bingkai itu digunakan untuk memilih berbagai kenyataan dari alam nyata yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut, kepercayaan, atau memori. Semua hal ini berasal dari pengalaman manusia tersebut selama hidupnya. Keseluruhan proses ini dinamakan mental models.

Dalam bidang apa saja, maka bingkai ini menjadi penting saat Anda berbicara dengan orang lain. Sebab, berdasarkan bingkai ini, maka Anda bisa mengajak atau memengaruhi orang lain.

Seseorang dapat saja melakukan hal yang buruk dan tanpa menyadari keburukan yang dilakukannya itu. Hal ini terjadi karena hal yang sejatinya buruk tersebut dibingkai dengan kemasan yang bagus. Misalnya saja, Anda telah berperan penting bagi sekolah bila berhasil memenangkan sebuah perlombaan bagaimana pun caranya. Tujuan untuk nama baik sekolah ini bila tidak berhati-hati bisa berujung pada menghalalkan segala cara termasuk yang ilegal sekalipun untuk memenangkan satu perlombaan.

Kejadian di atas hanyalah contoh kecil dari berbagai hal besar yang terjadi di dunia dan disebabkan oleh pembentukan bingkai dan dunia khayalan di kepala manusia yang sejatinya tak lengkap.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana agar kita memahami dunia dan seisinya ini dengan utuh? Bagaimana agar kita tidak terjebak kepada satu bingkai yang ujungnya justru merugikan diri kita, orang lain, dan lingkungan sekitar?

Credit picture from here: http://scramblesthedarklord.deviantart.com/art/Thinking-in-the-right-frame-of-mind-348157651

Kiat: Peran Imajinasi

Selain akal, satu hal yang istimewa dimiliki oleh manusia adalah imajinasi. Dengannya, manusia bisa mengambil berbagai manfaat dari lingkungan di sekitarnya, namun pada saat yang lain, manusia juga bisa jadi merugikan lingkungannya.

Binatang memahami realitas sekitar secara obyektif. Manusia di sisi lain memahami lingkungannya dengan pemahaman obyektif dan fiksi sekaligus. Kemampuan tersebut membuat manusia bisa bekerja sama, mengenali bahaya, merencanakan tindakan, dan lain-lain.

Banyak hal yang dikenal manusia saat ini adalah hasil dari imajinasi, termasuk blog yang sedang Anda baca ini. Saat binatang hanya melihat dunia sebagai satu kenyataan dan kemudian cerita berakhir, manusia juga melihat dunia sebagai satu hal yang nyata dan kemudian membuat cerita baru darinya.

Di antara beberapa hal berikut ini, manakah yang nyata dan mana yang hanya ada dalam imajinasi manusia saja?

  • Batas Negara
  • Politik
  • Perusahaan
  • Hak asasi
  • Agama, Tuhan, Surga, dan Neraka

Apakah Anda bisa menemukan garis batas negara, provinsi, dan kabupaten? Seperti apa wujud politik itu sebenarnya? Kenapa kita harus percaya pada perusahaan apakah dia benar-benar nyata atau kesepakatan kita semata?

Seperti apa agama itu? Bagaimana wujud Tuhan, Surga, dan Neraka?

Oh, satu lagi? Apakah uang itu nyata atau sekadar selembar kertas dengan gambar, warna, dang angka belaka?

Kenapa bila semua itu hanya ada dalam imajinasi kita, namun dampaknya begitu terasa?

Imajinasi manusia begitu memengaruhi tindakan seseorang, baik itu positif atau negatif, namun semuanya buah dari imajinasi. Imajinasi juga mewujud dalam bentuk koordinasi atau kerja sama antar manusia yang tidak bisa disaingi oleh makhluk apa pun di dunia. Hati-hati dalam berimajinasi karena seperti semua hal yang dilakukan manusia, dia bisa bermanfaat atau bisa juga merugikan.

Simak selengkapnya bagaimana imajinasi berperan dalam evolusi manusia dalam video berikut ini: