Penanggulangan Bencana: Tantangan Pengelolaan Bencana Gunung Api

Para ahli gunung api dari berbagai negara yang tergabung dalam Tim Mitigate and Assess Risk from Volcanic Impact on Terrain and Human Activities (Miavita), sudah memberikan peringatan mengenai sulitnya pengelolaan risiko gunung api.

Menurut Tim Miavita, ada empat kesulitan pengelolaan risiko gunung api yang kerap, dan tak boleh diabaikan.

Pertama, lereng gunung api merupakan tempat manusia sering berkerumun. Di situlah tanah tersedia, subur, dan kadang lebih murah, bahkan meski area tersebut sangat berbahaya karena tingginya ancaman gunung api.

Kedua, ketersediaan sumberdaya, seperti anggaran dan atau kapasitas saintifik, berangkali tidak mencukupi untuk memastikan penanggulangan yang efisien, khususnya di negara berkembang.

Ketiga, masa antara dua letusan atau terjadinya ancaman yang panjang barangkali dianggap sebagai serangan berisiko rendah oleh otoritas lokal dan penduduk setempat.

Keempat, baik keputusan untuk hidup di lingkungan gunung api yang berbahaya dan kurangnya ketersediaan sumberdaya berakar dari kendala struktural jangka panjang yang terhubung dengan faktor ekonomi politik, seperti distribusi sumberdaya, relasi patron-klien, beban utang, serta kebijakan perdagangan global.

Daftar Pustaka

Saragih, Bonar, 2014, Asmaradana Merapi, Narasi Ketangguhan Orang-orang Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan UNDP Indonesia, Jakarta.

Kuliah: Apa itu Waktu?

Disampaikan oleh: Roger Beckmann

Ilmu pengetahuan dipelajari untuk memberikan bukti kepada para pengambil keputusan, pengusaha atau berbagai pihak lain yang berkepentingan. Kendati bukti-bukti tersebut seringkali tidak begitu saja dimanfaatkan oleh politisi karena mereka lebih mementingkan agenda politik mereka sendiri. Seorang manusia manakala ingin mendapatkan bukti-bukti juga memerlukan ilmu pengetahuan meskipun seringkali mereka juga mengabaikan bukti tersebut dan lebih memilih untuk mengikuti emosi dan kata hatinya.

Ilmu pengetahuan memberikan kemampuan kepada kita untuk mengubah dunia. Bentuk perubahan yang dilakukan oleh ilmu pengetahuan di antaranya adalah penemuan pakaian, bangunan, dan lampu. Bagaimana perjalanan listrik dari generator sampai dengan menjadi cahaya yang dikeluarkan oleh lampu adalah contoh pemanfaatan ilmu pengetahuan.

Dua ratus tahun lampau yang ada hanyalah barang-barang sederhana. Saat itu belum ada pesawat, mobil, pakaian berbahan nilon dan lain-lain. Pada saat yang sama tingkat polusi juga belum setinggi saat ini. Ilmu pengetahuan dengan berbagai penemuan dan teknologi sebagai anak kandungnya di satu sisi memberikan manfaat yang luar biasa kepada manusia, namun pada saat yang sama juga membawa kerugian. Ilmu pengetahuan dapat menjadi sumber masalah, namun dengannya dapat pula ditemukan berbagai terobosan untuk mengatasi persoalan. Ilmu pengetahuan mempermudah dan memperbaiki mutu hidup, namun di sisi lain juga memperburuk kehidupan.

Ilmu pengetahuan (science/sains) berawal dari empat hal sederhana, yaitu:
1. Materi
Ilmu pengetahuan membicarakan materi, atom-atom, zat, atau benda. Contohnya antara lain adalah gas, air, besi, batu, kayu, dan sebagainya.

2. Ruang
Setiap benda memerlukan ruang untuk menempatkan dirinya sendiri. Ruang tersebut berwujud tiga dimensi: ke atas dan ke bawah, ke depan dan ke belakang, serta ke kiri dan ke kanan.

3. Energi
Contoh dari energi tersebut adalah gerak, panas, cahaya, listrik dan lainnya. Energi berbeda dengan benda karena keberadaannya tidak memerlukan ruang. Energi juga tidak terbuat dari atom. Energi menjelaskan karakteristik dari suatu benda. Satu benda dipengaruhi oleh energi, sebagai contoh pensil yang jatuh karena gaya gravitasi. Hal ini tak berlaku untuk energi. Cahaya tidak terpengaruh oleh gravitasi demikian juga panas.

4. Waktu
Apa sebenarnya waktu?
Dia tidak terbut dari atom, dia tidak terpengaruh oleh gaya/energi, dia juga tidak memerlukan ruang, waktu juga tidak bisa diukur seperti berapa kilometer, berapa kilogram. Sangat sulit untuk menjelaskan waktu.
Bayangkan Anda berada dalam satu ruang tanpa jendela sehingga tak bisa membedakan siang dan malam. Anda juga tidak dibekali dengan jam atau pun arloji. Pada kondisi tersebut, apakah Anda dapat merasakan waktu?
Setiap orang memiliki waktu internal yang dapat dirasakan. Terkadang waktu yang dirasa itu lebih cepat dan lebih lambat.
Bagi yang belajar fisika, semua hal yang dipelajari dalam sains saling terkait. Gravitasi yang sangat besar dapat membengkokkan ruang dan waktu. Namun, Anda harus menjadi seorang Einstein untuk memahami hal ini.
Jangan menanyakan definisi waktu, sangat sulit untuk menjelaskannya, namun Anda dapat merasakannya sehari-hari.

Bagaimana kita mengukur waktu?
Waktu diukur menggunakan bantuan jam dinding atau arloji yang menggunakan satuan detik, menit, jam. Namun, jam dinding tersebut memanfaatkan bantuan gerakan jarum jam untuk mengukur waktu. Manakala jam berhenti berdetak, maka waktu tetap berjalan dan jam itu rusak.

Apa yang terjadi dengan waktu berhubungan dengan perubahan. Bila tidak ada perubahan, maka tidak bisa dikatakan ada waktu. Siang menjadi malam, perubahan dalam tubuh kita seperti kita tidur, bangun, ke toilet adalah bukti lain dari waktu yang bekerja.

Pertanyaan:
Adakah waktu sebelum kelahiran kita? Apakah waktu masih akan terus berjalan pada saat kita meninggal nanti?
Sejak kapan adanya waktu? Sampai kapan waktu akan ada?
Jika ada permulaan waktu, maka apa yang ada sebelum permulaan tersebut? Sebab kata mula-mula juga mengindikasikan adanya ‘waktu’ yang lain sebelum ‘mula-mula’ itu terjadi.
Jika waktu berakhir, maka apa yang ada setelah berakhirnya waktu tersebut? Sebab kata akhir juga mengindikasikan adanya waktu yang lain setelah akhir itu.
Hal ini juga berlaku untuk ruang. Dari mana asal muasal ruang dan akan sampai di mana ujung ruang tersebut karena manakala ada awal, berarti ada ruang sebelumnya pun apabila ada akhir maka harus ada ruang lain setelahnya. Bayangkan sebuah tembok, jika tembok itu adalah jalan buntu, maka apa yang ada di balik tembok tersebut?

Infinity
Hal yang sama juga berlaku untuk angka. Bayangkan angka dari satu sampai dengan berapa pun angka terbesar yang dapat Anda bayangkan kemudian tambahkan satu, maka Anda akan mendapatkan satu bilangan yang lebih besar, demikian seterusnya hingga Anda tak tahu pada angka berapa akan berhenti. Hal yang sama juga terjadi pada angka yang kecil, apabila dikurangi satu berapa pun angka terkecil yang terpikir maka akan terus didapatkan angka lain yang lebih kecil lagi. Kondisi ini dinamakan ‘infinity’.

Apa yang ada di antara dua angka, sebagai contoh antara angka 1 dan 3? Pada rentang itu pun terjadi infinity. Satu hal yang membuat para matematikawan mengalami kesulitan tidur tiap malam.

Asymtote
Bayangkan dua buah lokasi yang terpisah sejauh 200 km. Setiap hari, Anda menempuh setengah jarak dari lokasi pertama ke lokasi kedua. Artinya, pada hari kedua Anda menempuh 100 km. Esok harinya, Anda kembali menempuh jarak setengahnya lagi, yaitu 50 km. Demikian seterusnya setiap hari, Anda menempuh setengah jarak dari kemarin.

Apakah pada satu titik Anda akan sampai?

Kondisi tersebut dinamakan Asymtote. Anda semakin mendekati titik tujuan, tapi tidak pernah sampai. Setiap hari masih ada tersisa setengah dari jarak yang harus Anda tempuh. Gambaran Asymtote adalah seperti grafik berikut ini.

AsymtoteCurve

Kedua garis akan bertemua di tempat yang tak terhingga. Jarak di antara keduanya akan semakin mendekati, namun dalam rentang yang semakin pendek dan tidak pernah bertemu. Kondisi ini dinamakan paradoks sebab kita semakin mendekati tujuan, namun kita juga tidak pernah sampai. Sangat sering di alam kita menemukan pola Asymtote ini, seperti hubungan antara laju populasi dengan kemampuan alam untuk menyokong manusia. Kita banyak menggunakan pendekatan asymtote ini.

Penanggulangan Bencana: Pengumpulan Data Bencana

Setelah gempa berkekuatan 7,8 SR menghantam Nepal pada Sabtu, 25 April 2015 pukul 11.56, sepasukan relawan bergerak dan bekerja sebagai bagian dari upaya bantuan. Relawan tersebut tidak berada di Nepal, tak juga mereka dalam perjalanan ke negeri di mana 8.583 orang terbunuh. Mereka adalah para relawan dari seluruh dunia yang menganalisis citra satelit dan berbagai data lain. Mereka membuat peta baru untuk membantu berbagai lembaga bantuan dengan informasi yang disusun bersama-sama.

Sampai beberapa tahun yang lalu, kerja bersama (crowdsourced) untuk merespon satu bencana dilakukan secara informal, tidak terkoordinir dan serampangan. Sekarang, crowdsourced sudah digunakan oleh lembaga kemanusiaan dan menjadi bagian dalam operasi bantuan. Hal tersebut dilakukan sebagai respon terhadap membeludaknya informasi yang diperoleh dari masyarakat terdampak pasca terjadinya suatu krisis atau bencana.

Jika gempa pada 25 April terjadi 10 atau bahkan lima tahun yang lalu, upaya tanggap darurat akan sangat berbeda. Saat itu, salah satu hambatan terbesar yang dihadapi oleh lembaga kemanusiaan adalah kurangnya informasi. Manakala bencana terjadi, tidak ada gambaran jumlah orang yang terdampak, seberapa parah, dan di mana lokasi mereka sampai dengan beberapa hari bahkan minggu kemudian.

Kini, ribuan orang di Nepal memiliki telepon genggam seiring dengan perkembangan jaringan telekomunikasi dan layanan internet di negeri tersebut. Berdasarkan data dari otoritas telekomunikasi di Nepal, pada tahun 2014 86 persen dari 28 juta penduduk Nepal memiliki telepon dan 30 persen di antara mereka memiliki akses internet.

Gangguan
Setelah gempa, terjadi gangguan pada layanan internet, data dari penyedia layanan menunjukkan lalu lintas data mengalami penurunan tajam dan bagi perusahaan layanan kecil jaringannya mati total. Di sisi lain, jaringan telepon tetap berfungsi, hampir 90 persen jaringan telepon mobile meskipun terjadi kepadatan namun masih tetap berfungsi.

Bersamaan dengan itu, hanya beberapa saat setelah goncangan berhenti, terjadi banjir pesan dan foto yang diunggah di Twitter dan Facebook melalui telepon pintar dan layanan 3G.

Berbagai postingan di media sosial tersebut memberikan gambaran hampir langsung bagaimana kondisi di lapangan. Informasi ini bagi petugas penolong pertama dan organisasi bantuan cukup membingungkan karena sudah berlebihan sementara waktu dan tenaga yang dimiliki sangat terbatas untuk memproses jutaan informasi tersebut.

Pada kondisi demikian, tantangannya adalah bagaimana memilah informasi yang banyak sekali jumlahnya di media sosial untuk kemudian mengkategorikannya dengan metode tertentu yang akhirnya dapat berguna bagi pertolongan kemanusiaan. Di sinilah kemudian masuk pekerja kemanusiaan digital yang bertujuan untuk mengubah tiap tulisan di sosial media menjadi satu daya yang sangat kaya.

Generasi baru dalam kerja kemanusiaan tersebut adalah ribuan relawan yang melek teknologi dari berbagai penjuru dunia yang secara fisik maupun maya. Mereka dipertemukan dalam krisis dan bekerja di tengah gunungan data untuk membantu berbagai lembaga kemanusiaan menyalurkan bantuannya.

Patric Meier, direktur Social Innovation pada Qatar Computing Research Institute, adalah salah seorang dari generasi baru yang dia sebut sebagai Humanitarian Jedis–merujuk salah satu tokoh pada film Stars Wars–telah bekerja dengan data yang sangat besar dan diperoleh dalam satu waktu tertentu. Salah satu teknologi yang ditemukannya adalah aplikasi untuk bekerja bersama yang dinamakan Micromappers.

Aplikasi tersebut membantu relawan untuk mengidentifikasi dan memetakan data dari media sosial yang bermanfaat dengan cara memecah tugas-tugas analisis yang besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sebuah pekerjaan mini namun lengkap. Aplikasi lain diberi nama Clickers didesain untuk membantu relawan memberi tanda pada situasi/kata tertentu, pada gambar sampai dengan kategorisasi jumlah dan tipe kerusakan yang tampak seperti ringan, sedang, hingga tak relevan. Selain itu juga menandai kicauan yang berlokasi (geo-tag) dan gambar yang belum ber geo-tag. Pekerjaan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja sehingga saat satu informasi berhasil diunggah, maka lebar pita internet bukan lagi menjadi kendala.

Pekerjaan micro (microtasking) bukanlah ide baru, inisiatif ilmu pengetahuan warga (citizen science initiatives) barangkali adalah yang paling sukses mengembangkan microtasking untuk tujuan yang bermanfaat. Galaxy Zoo sebagai contoh telah mampu menggerakkan ratusan ribu astronom amatur untuk memetakan daerah gelap di sudut angkasa sejak tahun 2007. Ratusan ribu gambar dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble milik NASA digunakan oleh para ilmuwan yang diminta untuk membuat katalog galaksi atau menandai gambar bulan dan lantai bawah laut. Zooniverse, nama proyek dari Galaxy Zoo melibatkan 83.000 relawan dan telah mengkatalog 300.000 galaksi di bawah dua tahun.

Manakala Topan Pablo menghantam Filipina pada bulan Desember 2012, UN-OCHA meminta dukungan dari Micromappers dan jaringan kerja kemanusiaan digital yang lain untuk menganalisis aktivitas Twitter dan informasi pemetaan lain yang berkaitan.

Big Data

Relawan menganalisis 20.000 kicauan dalam 10 jam. Data mereka menjadi dasar dari peta krisis UN dan ditampilkan pula di halaman krisis peta Google Filipina. Setelah gempa Nepal, UN-OCHA kembali meminta dukungan dari Micromapper. Peta krisis kemudian berhasil dibuat berdasarkan gambar dan kicauan yang dianalisis, yaitu lebih dari 55.000 tulisan dan 234.727 gambar.

Data yang diperoleh itu kemudian dibagi ke Kathmandu Living Labs, sebuah lembaga nirlaba yang beroperasi dari gedung utuh yang tersisa di kota. Mereka menggunakan berbagai informasi dari internet untuk membuat peta dari wilayah terdampak dan kemudian menghubungkan dengan para pekerja bantuan seperti Palang Merah Nepal dan juga tentara Nepal, demikian disampaikan Direktur Eksekutif Nama Budhathoki.

Hasil kerjasama antara Kathmandu Living Labs dan Humanitarian OpenStreetMap berupa peta offline bagi para pekerja bantuan untuk menentukan posisi.

Bersamaan dengan itu, platform web eksperimental Verily digunakan untuk memverifikasi informasi yang diperoleh dari khalayak, seperti gambar dan pengiriman bantuan. Kegiatan itu dilakukan dengan menggunakan ‘detektif digital’ yang dikembangkan oleh para peneliti Masdar Institute of Technology dan Qatar Computer Research Institute. Verily membuat daftar orang untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti-bukti untuk mengkonfirmasi atau menolak suatu laporan. Sebagai bentuk insentif, akan dihadiahkan poin atau peringatan kepada para distributor.

Pemetaan bersama sebagai bagian dari upaya tanggap darurat marak digunakan sejak gempa Haiti pada tahun 2010. Upaya pemetaan berkembang pesat sejak saat itu. Menurut Dale Kunce, kepala GIS dari Palang Merah Amerika, dua bulan setelah gempa Haiti, 600 kontributor pemetaan membuat 1,5 juta editan. Sementara itu pada 48 jam pertama setelah gempa Nepal terdapat 2.000 kontributor yang membuat 3 juta editan.

Kegiatan pemetaan lain pasca bencana dilakukan dari udara di atas zona terdampak. Banyak gambar yang dianalisis oleh para relawan untuk membuat peta krisis berasal dari Drones. Helicopter yang diawaki oleh manusia digunakan untuk upaya penyelamatan.Sementara itu, di tempat yang sulit dijangkau melalui jalur darat menggunakan drones. Hasilnya berupa gambar-gambar yang berisi informasi bentang alam yang terpencar, jalan yang retak, gedung rubuh, dan para pengungsi yang memenuhi lapangan-lapangan. Selain itu, sebuah UAV yang dikerahkan membawa kamera thermal berguna untuk menemukan korban yang masih terjebak dengan memindai suhu tubuh korban.

Drones juga digunakan oleh para wartawan untuk melaporkan dari lapangan. Berita termasuk yang ada di website memanfaatkan video untuk menceritakan kerusakan. Namun, dilaporkan juga pemerintah Nepal merasa terganggu dengan wartawan yang merekam jejak bencana menggunakan drones. Hal ini memicu kesadaran mengenai tersebarnya informasi yang sensitif seperti pada tempat-tempat bersejarah. Pemerintah melaran UAV yang terbang kecuali untuk keperluan kemanusiaan.

Pada saat bencana, koordinasi tak pernah lebih mudah dan selalu menjadi tantangan. Meier menulis di blognya Irevolution, “Pemanfaatan teknologi baru dalam tanggap darurat bencana juga menjadi satu tantangan.”

Hal itu akan terus menjadi tantangan manakala di dunia yang makin terhubung ini pertolongan berdatangan dari berbagai penjuru, meskipun apabila bencana terjadi di negeri yang jauh. Lembaga bantuan dalam gempa Nepal memandang pengoperasian kembali jaringan komunikasi sangatlah penting dalam pertolongan kemanusiaan. Upaya yang memungkinkan warga lokal dan pekerja kemanusiaan untuk melakukan panggilan telepon, mengirimkan SMS dan juga mengakses internet menjadi krusial.

Di Nepal, sejumlah peralatan diturunkan untuk memperbaiki jaringan komunikasi yang rusak.

WFP bekerja sama dengan Pemerintah Luxembourg, perusahaan telepon Ericsson, dan Nethope, sebuah jaringan NGO, telah membangun antena untuk data mobile yang cukup kecil untuk dibawa ke pesawat komersial. “Benda itu terlihat seperti bola pantai” Kata Mariko Hall dari WFP. Lebih lanjut beliau mendeskripsikan mereka sebagai, ‘dapat ditiup, ringan, dan cepat digunakan’. Peralatan tersebut bekerja seperti jaringan wifi, menyediakan koneksi internet untuk tim yang bekerja di daerah terpencil manakala jaringan yang ada rusak.

Yayasan Vodafone mendukung di Lembah Kathmandu dengan ‘Jaringan Instan Mini’ yang ada di dalam tas ransel. Berat tas hanya 11 kg sehingga peralatan tersebut dapat dibawa dengan berjalan kaki ke lokasi yang sulit dijangkau dengan kendaraan. Guna menyiapkan peralatan hingga dapat digunakan hanya memerlukan waktu 10 menit dan berdaya bateri. Alat ini dapat menghubungkan hingga lima pengguna dalam waktu bersamaan ke jaringan global dan memungkinkan dikirimkannya ribuan pesan.

Sebuah organisasi nirlaba lain Galway-based Disaster Tech Lab yang memiliki spesialisasi layanan berbasis IP dan akses wifi di daerah krisis ikut meluncurkan misi di Nepal. Sebelumnya mereka telah bekerja di berbagai daerah bencana seperti Filipina di mana para relawannya memasang titik akses wifi di pos komando yang kemudian menjadi penghubung jaringan dan komunikasi regional. Manakala makin banyak relawan yang datang, mereka menyediakan berbagai dukungan seperti peralatan untuk layanan ambulance dan menyiapkan klinik kesehatan.

Raksasa teknologi seperti Google dan Facebook juga tak ketinggalan ikut berperan saat terjadi bencana di Nepal. Bagi mereka yang ingin mengetahui nasib kerabat atau sahabat dibantu oleh Google dengan program ‘Person Finder’. Peralatan pencarian ini dikembangkan setelah gempa Haiti pada tahun 2010. Setiap orang akan memasukkan informasi pribadi seperti nama, jenis kelamin, usia, alamat, foto, dan profil media sosial dan mereka akan menerima pemberitahuan manakala orang lain melakukan update.

Facebook sendiri telah meluncurkan fasilitas ‘Safety Check’ yang mengirimkan pesan ke warga dan para pekerja kemanusiaan di Nepal, mendorong mereka untuk mengeklik tombol di FB sehingga teman-teman mereka mengetahui keselamatan pengguna.

Sumber tulisan: http://www.irishtimes.com/business/technology/how-data-gathering-has-helped-in-nepal-1.2219588

Humaniora: Wujud Perbudakan Modern

“Kita baru benar-benar merdeka manakala mereka yang berada dalam perbudakan telah bebas.” Archbishop Desmond Tutu

Saya berada 150 kaki di bawah lubang penggalian ilegal di Ghana. Udara terasa berat dengan panas dan debu, hingga sangat sukar untuk bernafas. Saya dapat merasakan tubuh yang kasar dan berkeringat berlalu lalang di kegelapan, namun tak banyak yang dapat saya lihat.

Saya mendengar suara, orang yang berbicara, namun kebanyakan adalah hiruk pikuk di dalam terowongan dan pria-pria yang terbatuk. Bunyi lain dalam terowongan itu adalah batu yang pecah dihantam peralatan tradisional.

Seperti yang lain, saya mengenakan senter murah yang berkelip, terikat di kepala menggunakan karet elastis yang sudah koyak. Saya hampir tak dapat menggerakkan anggota badan karena licin, terhimpit di dinding pada lubang seluas tiga kaki persegi, dan perlahan turun beratus-ratus kaki ke dalam bumi.

Flashlight_band

Ketika tangan saya terpeleset, seketika dalam benak saya terbayang seorang penambang yang bertemu beberapa hari yang lalu. Saat itu pegangannya terlepas dan jatuh entah berapa kaki ke dalam terowongan itu.

Saat saya bicara dengan Anda hari ini, para pria itu masih berada di kedalaman lubang, mempertaruhkan nyawa mereka tanpa gaji dan kompensasi, seringkali mereka sekarat.

Saya harus memanjat naik dari lubang itu dan pulang. Namun mereka, sepertinya tak akan pernah bisa pulang karena telah terjebak dalam perbudakan.

Climb_out_the_shaft

Selama 28 tahun terakhir saya telah mendokumentasikan kebudayaan warga pribumi di lebih dari 70 negara di enam benua. Pada tahun 2009 saya mendapat kehormatan dalam pameran pada Konferensi Perdamaian di Vancouver.

Di antara banyak orang luar biasa yang saya temui di sana, saya bertemu dengan sebuah NGO, Free the Slaves. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mendedikasikan dirinya untuk penghapusan perbudakan di zaman modern ini.

Kami mulai berbicara mengenai perbudakan dan sungguh saat itu saya mulai belajar tentang perbudakan. Sebab, saya tahu hal ini pernah ada di dunia di masa lampau, namun tak sebesar saat ini.

Setelah kami selesai bicara, saya merasa sangat sedih dan juga malu karena kurangnya pengetahuan pada kekejaman yang terjadi sepanjang hidup saya. Kemudian saya berpikir, jika saya tak tahu, berapa banyak orang lagi yang tak paham bahwa perbudakan ini terjadi.

Apa yang terjadi kemudian adalah semagat yang tumbuh dalam diri saya, sehingga dalam beberapa minggu kemudian, saya terbang ke Los Angeles untuk bertemu dengan direktur Free the Slaves dan mencari tahu apa yang bisa saya bantu. Itulah yang mengawali perjalanan saya dalam perbudakan di zaman modern ini.

Anehnya, saya pernah ke berbagai tempat ini sebelumnya, bahkan beberapa telah menjadi seperti rumah kedua. Namun kali ini, saya ingin melihat apa yang selama ini tersembunyi jauh di belakang.

Sebuah perkiraan kasar menunjukkan ada lebih dari 27 juta orang diperbudak di dunia saat ini. Angka tersebut adalah dua kali lipat jumlah orang Afrika yang dibawa sepanjang masa perdagangan budak trans-Atlantik. Seratus lima puluh tahun yang lalu, perbudakaan di bidang agrikultur menelan biaya tiga kali lipat gaji tahunan seorang pekerja Amerika. Jumlah itu saat ini setara dengan 50 ribu dollar.

Namun hari ini, seluruh keluarga dari berbagai generasi dapat diperbudak hanya karena hutang sebesar 18 dollar. Sementara itu, perbudakan sendiri menghasilkan keuntungan sebesar 13 milyar dollar dari seluruh dunia setiap tahunnya.

Banyak di antara mereka yang dijebak karena janji-janji surga, seperti pendidikan yang baik, kesempatan bekerja yang lebih baik. Sayangnya , mereka ternyata hanya diminta bekerja tanpa menghasilkan gaji, di bawah ancaman kekerasan, dan mereka tak bisa berlari.

Saat ini, perbudakan menjadi pasar, suatu keadaan untuk mendukung proses jual beli. Jadi, berbagai barang yang dihasilkan oleh para budak memiliki nilai yang tinggi. Sementara itu, mereka yang memproduksi justru sangat mungkin untuk ditendang.

Perbudakan ada di manapun, hampir di seluruh dunia, dan memang benar, hal itu adalah ilegal di seluruh dunia.

Di India dan Nepal, saya diajak ke tempat pembakaran batu bata. Pemandangan di sana sungguh aneh sekaligus mencengangkan. Seperti berjalan ke Mesir Kuno atau nerakanya Dante.

brick_carrier_women

Di tengah suhu yang mencapai 130 derajat, pria, wanita, anak-anak, seluruh keluarga terselimuti debu yang tebal. Mereka mengangkat batu bata di kepala, sekitar 18 buah sekali angkat. Kemudian bata tersebut dibawa dari tempat pembakaran ke truk yang menunggu cukup jauh.

Dicekam oleh pekerjaan yang monoton dan kelelahan, mereka bekerja dalam diam. Dikerjakan tugas yang sama itu berulang-ulang, selama 16-17 jam per hari. Mereka tak mendapatkan istirahat untuk makan dan minum, sehingga kebanyakan mengalami dehidrasi.

Di tengah panas dan debu itu, kamera saya menjadi terlalu panas untuk dipegang dan harus sering diistirahatkan. Setiap dua puluh menit saya harus berlari ke kendaraan, membersihkan peralatan dan menempatkannya di bawah pendingin ruangan agar dapat bekerja kembali. Saat itu, kamera saya rasanya mendapatkan perhatian yang lebih baik daripada para pekerja di sana.

brick_carrier

Kembali ke lokasi pembakaran, saya ingin menangis, namun pendamping saya mengatakan, “Lisa, jangan menangis di sini, jangan sekali-kali.” Kemudian dia menjelaskan dengan gamblang bahwa menunjukkan perasaan emosional kita sangatlah berbahaya di tempat semacam ini. Bukan hanya untuk saya, namun terlebih lagi untuk mereka. Saya tak bisa memberikan bantuan langsung atau pun uang, saya tak bisa membantu apa pun. Saya bukan warga negara itu, sehingga saya bisa membawa mereka ke situasi yang lebih buruk.

Di Himalaya, saya menemukan anak yang mengangkut batu menuruni gunung ke truk yang menunggu di bawah. Batu yang dibawa itu lebih berat dari pengangkutnya. Anak-anak itu membawa dengan cara menaruh bebatuan itu menggunakan kayu dan tali yang disangkutkan ke kepalanya.

kids_stone_himalaya

Sangat sulit melihat sesuatu yang begitu menyedihkan, bagaimana kita sangat terpengaruh oleh hal yang disembunyikan, namun juga begitu terlihat. Beberapa di antara mereka tak paham sedang berada dalam sistem perbudakan. Orang-orang yang bekerja 16-17 jam per hari tanpa dibayar, sebab ini adalah hidup mereka. Mereka tak tahu seperti apa kehidupan yang lain itu.

Ketika orang-orang itu mengklaim kemerdekaannya, maka para majikan akan membakar habis rumah mereka. Para budak tersebut sangat ketakutan dan ingin menyerah.

Perdagangan sex seringkali kita asumsikan ketika mendengar perbudakan dan karena kesadaran global tersebut, justru menjadi sangat berbahaya bagi saya jika ingin masuk untuk menginvestigasi lebih dalam industri ini.

Di Kathmandu, saya ditemani seorang wanita yang dulunya adalah budak sex. Mereka membimbing saya untuk turun melalui tangga ke satu tempat yang kotor dan remang-remang di basement.

stairs_sex_kathmandu

Sejatinya ini bukanlah rumah bordil, namun lebih mirip sebuah restauran. Restauran yang terdiri dari kamar-kamar, menjadi tempat untuk prostitusi yang terpaksa dilakukan.
Ruang-ruang kecil itu digunakan secara pribadi. Di sana para budak, para wanita atau lelaki kecil, beberapa masih berusia tujuh tahun dipaksa untuk menghibur para klien, mendorong mereka untuk membeli lebih banyak makanan dan alkohol.

Tiap ruang dalam kondisi gelap dan kotor. Masing-masing dikenali dari nomor yang ada di tembok, kemudian dipisahkan menggunakan plywood dan tirai. Para pekerja di sini sering mengalami kekerasan seksual dari pelanggannya yang berakhir tragis.

Berdiri di sana membuat saya bisa merasakan ketergesaan, ketakutan yang dalam, dan seketika saya membayangkan bagaimana rasanya terperangkap di neraka tersebut. Hanya ada satu jalan masuk dan keluar, yaitu melalui tangga di mana saya tadi melangkah, tak ada pintu belakang, tak ada jendela yang besar dan cukup untuk kabur. Mereka sama sekali tak punya peluang untuk melarikan diri.

Sangat penting untuk dicatat, bahwa saat kita membicarakan perbudakan, termasuk perdangangan sex, sungguh-sungguh terjadi di halaman belakang kita.

Sepuluh per seratus orang diperbudak dalam bidang pertanian, restauran, rumah tangga, dan daftar itu masih terus bertambah. Laporan baru-baru ini dari New York Times mengatakan, bahwa antara 100-300 ribu anak di Amerika dijual menjadi budak sex setiap tahunnya.

Itu terjadi di sekitar kita, hanya saja kita tak melihatnya.

Industri tekstil adalah tempat lain terjadinya perbudakan. Saya mengunjungi sebuah desa di India di mana satu keluarga menjadi budak dalam perdagangan sutera.

silk_slavery

Ini adalah gambar dari keluarga tersebut. Tangan yang menghitam adalah ayah, sementara yang memerah, dan membiru anak-anaknya. Mereka mencampurkan pewarna dalam sebuah drum, kemudian mencelupkan sutera ke dalamnya menggunakan tangan sampai ke siku. Pewarna itu sendiri adalah racun.

Penerjemah saya menceritakan kisah mereka. “Kami tak punya kemerdekaan,” mereka berkata, “Kami berharap bisa meninggalkan rumah ini suatu hari nanti dan pergi ke tempat lain di mana kami mendapatkan bayaran untuk mewarnai.”

Diperkirakan lebih dari empat ribu anak di Danau Volta–danau buatan terbesar–di Ghana. Saat pertama kali datang, saya melihat sekilas, tampak seperti satu keluarga berada di perahu menjala ikan. Mereka adalah dua orang remaja yang lebih tua dan adik-adiknya, tampak seperti sebuah keluarga, bukan?

fish_slavery

Sayang, ternyata mereka tidak memiliki hubungan keluarga. Mereka semua telah diperbudak. Anak-anak diambil dari keluarganya, diperjualbelikan, dan kemudian hilang. Di sana mereka dipaksa untuk bekerja tanpa henti di atas perahu kendati tak tahu cara berenang.

Anak ini berusia delapan tahun. Dia gemetar saat perahu kami mendekat, ketakutan perahunya akan terbalik. Dia ketakutan kalau sampai tercebur ke air.

child_fish_slavery

Batang dan dahan pohon yang terendam di dalam Danau Volta sering menyangkut jala. Kemudian anak yang kelelahan dan ketakutan diceburkan ke air untuk melepaskan jala itu. Banyak di antara mereka tenggelam.

Seorang pekerja mengingat, bahwa dia dipaksa bekerja di danau. Ketakutan kepada tuannya, menyebabkan dia tak akan melarikan diri. Menerima perlakuan buruk nan kejam sepanjang hidupnya menyebabkan dia melakukan hal yang sama kepada orang yang lebih muda. Mereka yang berada di bawah komandonya.

Saya bertemua anak-anak itu pada pukul lima pagi ketika mereka mengangkut jala yang terakhir. Namun, rupanya mereka telah bekerja sejak pukul satu dini hari berteman angin dan dingin malam. Perlu juga dicatat, bahwa saat jala itu penuh ikan beratnya lebih dari seribu pound.

Kofi_fish_slavery

Saya ingin mengenalkan Anda kepada Kofi. Dia diselamatkan dari desa nelayan. Saya bertemu dengannya di tenda di mana Free the Slaves merehabilitasi korban perbudakan. Di sini, dia mandi di dekat sumur, mengguyurkan seember air ke kepalanya. Berita menggembirakan darinya adalah, saat kita duduk sekarang ini, dia sudah berkumpul dengan keluarganya. Selain itu, keluarganya juga mendapatkan berbagai peralatan untuk mencari nafkah dan memastikan anak-anaknya aman.

Menyusuri jalanan di Ghana, sekelompok orang di atas sepedanya mendekat dan mengetuk jendela kami. Mereka bilang agar kami mengikuti dan kemudian masuk ke dalam hutan. Di ujung jalan, mereka memaksa kami turun dari mobil dan menyuruh sopir untuk segera pergi. Dia memimpin kami mengikuti satu jalan setapak, menyingkirkan berbagai halangan di depan.

Kami sampai di bagian jalan yang tersapu oleh banjir. Saat itu hujan, sehingga saya harus membawa berbagai peralatan fotografi di atas kepala. Saat kami turun, air bergerak naik hingga ke dada. Setelah dua jam berjalan di tengah angin dan hujan, kami sampai di lahan terbuka. Di depan kami, menganga lubang-lubang penggalian yang sangat besar seukuran lapangan bola.

Di dalam lubang itu penuh dengan orang yang diperbudak untuk bekerja. Banyak wanita menggendong anaknya di belakang, sembari mereka mencari emas, terendam di air yang beracun karena mercury. Zat yang digunakan dalam proses ekstraksi emas.

gold_slavery

Mereka ini adalah para budak di lahan tambang yang berada di Ghana. Saat keluar dari terowongan, mereka kuyup oleh keringatnya sendiri. Saya teringat bagaimana mata mereka menyiratkan kelelahan karena banyak yang telah berada di bawah tanah selama 72 jam.

Terowongan itu dalamnya 300 kaki dan mereka harus menaikkan batu-batu yang berat sebelum kemudian diangkut ke tempat lain di mana batu tersebut akan ditumbuk dan diekstrak emasnya.

Melihat sekilas, tempat penumbukan batu tampak penuh dengan para pria yang sangat kuat. Namun, begitu kita memerhatikan, banyak yang tidak beruntung bekerja di pinggir juga anak-anak. Mereka ini adalah korban yang terluka, sakit, atau mengalami kekerasan. Pria-pria kuat itu kemungkinan besar akan berakhir sama, yaitu menderita karena TBC dan juga keracunan mercury hanya dalam waktu singkat.

Manuru_gold_slavery

Adalah Manuru, saat ayahnya meninggal, Sang Paman mengajaknya bekerja di tambang. Kemudian saat pamannya meninggal, Manuru mewarisi hutang-hutang ayahnya. Hutang yang kemudian memaksanya lebih jauh untuk menjadi budak di pertambangan.

Saat saya bertemu dengan Manuru, dia telah bekerja di tambang selama 14 tahun. Betisnya yang cedera terjadi karena kecelakaan di tambang, seorang dokter bilang kalau kakinya harus diamputasi, selain itu dia juga memiliki TBC. Namun, dia tetap bekerja tiap hari keluar masuk terowongan ke tambang. Dia juga punya mimpi suatu hari nanti akan bebas dan dididik oleh aktivis lokal seperti Free the Slaves.

Saya ingin menyinari perbudakan. Manakala bekerja di lapangan, saya juga membawa banyak lilin. Kemudian dengan bantuan para penerjemah, saya berkata kepada orang-orang yang saya foto, bahwa saya ingin membuat cerita mereka bersinar. Maka ketika dirasa aman untuk mereka dan juga saya, saya membuat gambar-gambar mereka memegang lilin. Mereka tahu, gambar itu akan dilihat Anda dan tersebar ke dunia.

Candle_slaves

Saya ingin mereka tahu, bahwa kita menjadi saksi kehadiran mereka dan akan melakukan apa pun yang kita bisa untuk menolong. Bersama kita bisa membuat hidup mereka berbeda. Saya percaya, jika kita bisa melihat satu sama lain sebagai sesama manusia, maka akan sangat sulit menerima tindakan semacam perbudakan.

Gambar-gambar ini bukanlah masalahnya, mereka para pemegang lilin itu adalah sosok yang nyata seperti saya dan Anda. Semua memiliki hak, martabat, dan kehormatan yang sama. Saya berharap berbagai gambar ini membangunkan kesadaran dan kekuatan dalam diri mereka yang melihatnya termasuk Anda. Saya berharap kekuatan itu akan menyalakan api yang akan menyinari perbudakan karena tanpa cahaya tindakan brutal perbudakan akan terus berlangsung di balik bayang-bayang.

Sumber tulisan dari sini: