Penanggulangan Bencana: Komponen Ketangguhan

Menurut Christophe Bene dan kawan-kawan, ada tiga komponen ketangguhan: kemampuan meredam (absorb) ancaman, kemampuan beradaptasi, dan kemampuan mengusahakan transformasi.

Masing-masing komponen merupakan bentuk kemampuan sebuah sistem untuk menghadapi gangguan, baik guncangan sesaat maupun krisis jangka panjang. Sebuah sistem yang tangguh akan ideal apabila memiliki ketiga komponen tersebut.

Kemampuan meredam ancaman terjadi ketika kelompok masyarakat atau rumah tangga dapat menghadapi dampak guncangan tanpa terjadi perubahan fungsi, status atau kondisi pada masyarakat atau rumah tangga tersebut, sesemantara apa pun. Hal ini, misalnya, dapat dilihat pada keberadaan bangunan peredam gempa atau pemakaian sumber listrik cadangan. Kapasitas meredam ini bisa membantu mencegah atau menahan serangan bencana. Bila kapasitas meredam tak mampu mengatasi intensitas ancaman, orang harus memanfaatkan kapasitas adaptasi.

Bentuk lain dari daya redam adalah sarana dan prasarana yang khusus diadakan untuk mengurangi risiko bencana. Kapasitas seperti ini bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari tabungan untuk masa krisis pasca bencana, jaringan komunikasi seperti radio komunitas, dan jalur evakuasi.

Namun, sekadar mampu menghindar sebelum tertimpa ancaman tidaklah cukup. Adaptasi membutuhkan kemampuan menyusun siasat menghadapi masa lebih panjang di antara dua letusan. Bila daya redam berfungsi sebagai pelindung otomatis setiap kali datang ancaman, daya adaptasi berperan merawat ketangguhan di luar kurun itu.

Transformasi melibatkan perubahan besar-besaran terhadap struktur sosial masyarakat. Transformasi berbeda dengan adaptasi, yang merupakan penyesuaian kecil-kecilan yang terus berlangsung berdasarkan “kondisi yang sudah ada”. Upaya transformasi adalah berusaha mmengubah ‘kondisi’ tersebut. Transformasi bukan perkara teknis atau teknologi semata, melainkan juga melibatkan tindakan menuju reformasi institusi dan perubahan perilaku. Dengan kata lain, upaya transformasi merupakan tindakan menantang status quo, dalam arti mengubah sistem yang mapan.

Daftar Pustaka

Saragih, Bonar, dkk, 2014, Asmaradana Merapi, Narasi Ketangguhan Orang-orang Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan UNDP Indonesia, Jakarta.

Pelatihan: Forkom Wartawan Kaltim

Perjalanan yang jauh antara Balikpapan ke Samarinda segera terbayang begitu saya mendapatkan tugas untuk berbicara dalam acara Forum Komunikasi Wartawan Kalimantan Timur. Senin (18/05) sore saya pun berangkat dari Jakarta dan baru jelang tengah malam sampai di Kota Samarinda.

Esoknya, sedikit terlambat saya bangun dan segera bersiap-siap untuk mengikuti acara pembukaan.

Di depan ruang tempat pertemuan sudah banyak wartawan yang sibuk melakukan pendaftaran. Para panitia dari Bidang Humas, BNPB dan dibantu oleh BPBD Prov. Kaltim sampai-sampai tidak terlihat karena saking banyaknya wartawan yang mengerumuni mereka. Sebuah keuntungan bagi saya karena itu berarti masih ada waktu untuk sarapan.

Saya menyelesaikan sarapan bertepatan dengan dimulainya acara pembukaan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas, BNPB, Dr. Sutopo Purwo Nugroho yang sedianya akan membuka acara tersebut berhalangan hadir karena harus mendampingi Kepala BNPB. Sebagai gantinya, maka Kepala Pelaksana BPBD Prov. Kaltim, Wahyu Widhi yang menggantikan membuka acara.

Dalam kesempatan tersebut, saya bertugas menggantikan Kepala Bidang Data, BNPB, Dr. Agus Wibowo untuk menyampaikan paparan Data dan Informasi Kebencanaan di Indonesia. Jadwal yang saya peroleh adalah pukul 13.00 WITA. Sebuah kebetulan yang lain lagi mengingat saya masih harus menyiapkan paparan dalam perangkat lunak power point.

Alhasil, sejak dari pembukaan, kemudian dilanjutkan oleh berbagai pembicara lain dari LKBN Antara, Bappenas, dan Kedeputian Tanggap Darurat BNPB saya habiskan waktu untuk mengedit paparan yang sudah ada agar sesuai dengan konteks acara.

Waktu bagi saya untuk paparan pun tiba. Duduk di depan saya bersama dengan Kepala Bidang Humas, BNPB, Rita Rosita sebagai moderator dan dua pembicara lain, yaitu Bapak Sutrisno dari BMKG dan Kepala BPBD Prov. Kaltim Bapak Wahyu Widhi.

paparan

Saya mengawali paparan dengan menyampaikan peran media dalam penanggulangan bencana yang dapat Anda baca di sini. Setelah teman-teman wartawan mengetahui apa perannya dalam penanggulangan bencana, saya kemudian meminta mereka untuk berdiskusi bagaimana mewujudkan peran tersebut. Peserta, yaitu para jurnalis yang sangat antusias tersebut memiliki waktu satu menit untuk berdiskusi dan menuliskan hasil diskusinya.

Hasil diskusi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Media harus menyampaikan informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat.
  2. Media menyampaikan berbagai kebutuhan dan kekurangan bantuan yang dialami oleh penduduk terdampak agar institusi yang terkait segera bertindak.
  3. Media memberitakan berbagai upaya pemerintah dalam menanggulangi bencana, memberikan informasi yang benar dan tidak simpang siur, serta tidak menambah kepanikan kepada masyarakat.

Sesi berikutnya berturut-turut saya menyampaikan data bencana di Kaltim selama sepuluh tahun terakhir, apa bencana paling dominan, dan bagaimana tren kejadian bencana di Kaltim selama kurun waktu tersebut. Tak lupa, saya pun menyajikan data bencana di Kaltim yang sudah dihimpun oleh BNPB selama tahun 2015 ini.

Paparan berlanjut dengan metode pengumpulan data di BNPB, pengolahan, dan penyajiannya. Di sesi ini, saya menampilkan sistem pendataan bencana melalui DiBI (Data Bencana Indonesia) yang dapat Anda akses di www.dibi.bnpb.go.id. Secara sekilas juga saya sampaikan bagaimana cara mengakses dan mendapatkan data dari situs tersebut.

Sistem lain yang digunakan untuk menampilkan berbagai produk pemetaan BNPB, yaitu Geospasial BNPB saya tampilkan berikutnya. Saya jelaskan berbagai fasilitas, manfaat, dan kemampuan geospasial BNPB termasuk kegunaannya untuk memantau bencana. Setelah geospasial, saya kemudian melanjutkannya dengan sistem InaSAFE dan InAWARE yang menjadi sesi paling akhir sebelum saya menutup rangkaian paparan itu dengan kesimpulan.

Sore itu, mengingat besok paginya saya akan kembali bertemu dengan peserta untuk materi praktik penggunaan GPS, maka saya mengingatkan para peserta untuk membaca dua tulisan di blog ini yang berkaitan dengan manfaat GPS untuk wartawan dan pengantar penggunaan GPS yang dapat Anda baca di sini dan di sini.

Demikianlan tugas pertama saya untuk memaparkan data dan informasi kebencanaan di Indonesia telah selesai.

Malam menjelang dan saya diberitahu akan dilakukan survei ke lokasi untuk praktik lapangan bagi para peserta. Bersama dengan teman-teman dari Bidang Humas, malam itu kami menyambangi Polder Air Hitam, sebuah bendungan di Kota Samarinda yang akan dijadikan lokasi praktik lapangan.

Mengingat esok pagi saya harus menyampaikan materi mengenai pengenalan GPS, maka tak lupa malam itu saya membawa satu perangkat GPS. Tujuannya adalah untuk mengetahui koordinat lokasi, menyusun skenario praktik, dan menentukan beberapa titik lain yang akan dicari oleh para peserta menggunakan GPS pada saat praktiknya nanti.

Hari Rabu (20/05) acara Forum Komunikasi Wartawan Kalimantan Timur diisi dengan praktik lapangan. Para peserta akan mendapatkan pengenalan: pendirian tenda, dapur umum, trauma healing, water treatment, GPS, dan water rescue.

Mengingat begitu banyaknya materi yang disampaikan juga peserta yang hadir, maka teman-teman jurnalis dibagi ke dalam lima grup. Para instruktur termasuk saya akan berdiri terpisah dan memilih lokasi masing-masing kemudian tiap grup akan datang bergantian untuk mendapatkan materi yang berbeda-beda. Pada sesi pagi, semua peserta mendapatkan materi praktik kecuali water rescue yang akan dipraktikkan siang harinya.

belajarGPS

Dalam praktiknya, saya mengikuti tulisan yang sudah dibuat yaitu kegunaan GPS bagi wartawan dan empat langkah mudah menggunakan Garmin 62s. Syukurlah semua berjalan lancar, peserta menunjukkan ketertarikan dan sangat bersemangat ditandai dengan berbagai pertanyaan yang muncul selama praktik dilakukan serta keinginan teman-teman wartawan untuk mencoba berbagai hal baru yang mereka ketahui termasuk GPS di dalamnya.

Panas siang itu pun ditutup dengan makan siang bersama dengan nasi, lauk, sambal, sop yang dimasak langsung dari dapur umum. Semuanya terlihat begitu kelaparan hingga banyak juga teman-teman panitia dari BPBD Prov. Kaltim yang tidak kebagian lauk atau pun sambal.

Kota Samarinda memang jauh. Dari Jakarta perjalanan harus ditempuh dengan pesawat dan dilanjutkan jalan darat dari Balikpapan ke Samarinda yang saat ditempuh rasanya tak kunjung sampai. Kendati begitu, semua terbayar lunas saat melihat antusias dan merasakan semangat teman-teman jurnalis saat mengikuti semua rangkaian kegiatan yang dilakukan.

Terima kasih Samarinda Kalimantan Timur, kapan-kapan saya akan datang lagi mungkin untuk mencari batu akik yang katanya menarik.

Paparan mengenai Data dan Informasi Kebencanaan di Indonesia dapat Anda unduh dari tautan di sini.

Menulis: Kiat Menulis dari William Zinsser

williamzinsser

William Zinsser adalah seorang jurnalis dan penulis non fiksi. Dia memulai kariernya di New York Herald Tribune pada 1946. Selain penulis, dirinya juga dikenal sebagai seorang guru. Karyanya yang terkenal adalah On Writing Well, rujukan yang handal bagi tiga generasi penulis, wartawan, editor, guru dan juga para murid.

Berikut ini adalah beberapa kutipan dari On Writing Well yang barangkali dapat bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca.

Rahasia menulis yang bagus adalah dengan mencopot setiap kalimat hingga tinggal komponen utamanya saja. Hal ini berarti menghilangkan setiap kata yang tak berarti, setiap frasa yang panjang menjadi pendek, kata keterangan yang tak perlu semuanya adalah beberapa hal yang justru melemahkan kalimat.

Menulis adalah kerja keras karena kalimat yang bagus tidak timbul dari satu kebetulan. Sangat sedikit kalimat yang pertama kali keluar langsung benar, bahkan bisa jadi hingga tiga kali pun masih dirasa kurang tepat. Jika Anda merasa bahwa menulis itu satu pekerjaan yang berat, memang begitulah kenyataannya.

Penulis akan menjadi sangat natural bila menggunakan sudut pandang orang pertama. Sebab menulis adalah proses yang sangat intim antara dua orang, dibantu media kertas–atau apa pun itu–dan akan sangat bagus bila tetap mempertahankan sisi kemanusiaan penulisnya.

Menulis merupakan proyek percontohan. Jika seseorang bertanya bagaimana saya belajar menulis, maka saya akan menjawab dengan cara membaca karya pria atau wanita yang telah menulis dengan gaya seperti yang ingin saya lakukan dan mencoba mencari tahu bagaimana mereka melakukan itu.

Harap juga diingat, manakala Anda memilih kata dan menggabungkannya, perhatikan bunyi yang timbul bila kalimat itu dibaca. Memang terdengar aneh, karena para pembaca menggunakan mata. Namun, pada saat yang sama mereka juga mendengar apa yang mereka baca.

Anda belajar menulis melalui menulis. Satu-satunya jalan saat belajar menulis adalah memaksa diri Anda untuk memproduksi serangkaian kata secara teratur dan konsisten.

Satu karya non fiksi yang sukses ditandai oleh pembaca yang terprovokasi pada satu pengetahuan atau pemikiran baru yang belum pernah dimiliki mereka sebelumnya. Ingat, bukan dua, tiga, hingga lima pemikiran, namun hanya satu. Jadi, tentukan satu saja pesan yang ingin Anda sampaikan ke benak pembaca.

Kalimat yang paling penting dalam satu artikel adalah kalimat pertama. Jika kalimat tersebut tidak membuat pembaca melanjutkan ke kalimat berikutnya, maka matilah Anda. Pun jika kalimat kedua tidak membuat pembaca melanjutkan ke kalimat ketiga, hal yang sama pun akan terjadi pada Anda.

Manakala Anda siap untuk berhenti, maka berhentilah menulis. Saat Anda sudah menyampaikan seluruh fakta dan juga selesai dengan poin-poin yang ingin disampaikan, segeralah cari jalan keluar untuk mengakhiri tulisan tersebut.

Banyak penulis yang lelah dengan pemikiran adanya kompetisi dengan orang lain yang juga mencoba menulis bahkan mungkin lebih baik. Lupakan kompetisi tersebut dan teruslah melangkah, Anda hanya berlomba dengan diri sendiri.

Menulis ulang adalah esensi dari menulis yang baik. Inilah titik penting di mana satu pertandingan dapat dimenangkan atau dikalahkan. Ide tersebut memang susah diterima sebab kita selalu merasa sayang dengan draft pertama, kita sulit menerima karya tersebut tak sempurna. Padahal sejatinya memang karya tersebut tak 100% sempurna.

Tak ada satu topik tulisan yang tak boleh Anda tuliskan. Para murid acap kali menghindari topik yang berkaitan dengan hati karena mereka berprasangka bahwa para guru akan menganggap itu sebagai topik yang bodoh. Sesungguhnya tak ada wilayah dalam hidup yang bodoh bila seseorang menganggapnya serius. Jika Anda mengikuti perasaan Anda, maka akan menjadi tulisan yang bagus dan menarik minat para pembaca.

Undanglah orang untuk bicara, belajarlah membuat pertanyaan yang akan mengungkap sisi apa yang paling menarik atau paling jelas dalam hidup mereka. Tak ada yang begitu nyata dibandingkan saat seseorang menceritakan apa yang mereka pikirkan atau lakukan dengan bahasa mereka sendiri. Kata atau kalimat mereka akan selalu lebih bagus daripada kalimat Anda.

Komoditas yang saya miliki sebagai seorang penulis adalah diri saya sendiri. Pun demikian dengan Anda, komoditas itu adalah diri Anda sendiri. Jangan ubah nada Anda agar sesuai dengan subjek tulisan. Kembangkanlah satu suara yang akan membuat pembaca mengenali diri Anda saat mereka ‘mendengar’ di tiap halaman.

Ingatlah bahwa penghayatan terjadi pada arus yang dalam. Hal itu menggerakkan kita dengan berbagai hal yang tak terungkapkan, menyentuh sisi-sisi terdalam yang sudah kita ketahui melalui bacaan, agama, adat-istiadat kita.

Menulis adalah pekerjaan yang sepi sehingga saya harus tetap ceria. Jika saya menemukan hal yang lucu saat menulis, saya tuliskan untuk menyenangkan diri sendiri. Jika satu hal saya anggap lucu, maka dugaan saya orang lain pun akan menganggapnya lucu dan itulah hari yang baik untuk bekerja.

Seluruh kalimat Anda yang telah jelas dan menyenangkan akan berantakan manakala Anda lupa bahwa menulis adalah proses yang linear dan berurutan. Logika tersebut ibarat lem yang mengikat seluruh bagian. Oleh karena itu, maka ikatan tersebut harus senantiasa terjaga antar kalimat, antar paragraf, bahkan antar bab. Narasi yang tersaji kemudian niscaya akan menarik para pembaca ke dalam pusaran cerita tanpa ada kejutan yang berarti.

Berpikirlah sederhana. Jangan mengacak-acak masa lalu Anda atau keluarga untuk mencari episode yang Anda pikir penting untuk ditampilkan dalam tulisan. Lihatlah pada satu kejadian kecil yang masih terekam jelas dalam ingatan. Jika Anda masih teringat, maka itu terjadi karena peristiwa tersebut mengandung kebenaran universal yang akan dikenali oleh pembaca dari pengalaman mereka sendiri.

Carilah cara untuk meringankan tulisan Anda sehingga dapat menghibur. Biasanya ini berarti memberikan pembaca satu kejutan yang menyenangkan. Banyak cara untuk melakukan hal itu, bahkan bisa jadi nanti menjadi gaya Anda. Manakala seseorang menyukai gaya seorang penulis, sejatinya dia sedang menyukai pribadi penulis yang tersaji di kertas.

Jika Anda ingin menulis lebih baik daripada orang lain, pertama kali Anda harus INGIN menulis lebih baik daripada orang lain. Anda harus bangga pada tiap detil yang ada pada hasil karya Anda. Selanjutnya, Anda pun harus bersedia untuk mempertahankan hal itu dan tidak berkompromi dengan para editor, agen, dan penerbit yang sudut pandanganya barangkali berbeda dengan Anda, yang standardnya tak setinggi Anda.

Sumber tulisan dari sini:

Penanggulangan Bencana: Mengelola Informasi Pada Saat Bencana

Oleh: Mark Frohardt

FrohardtMark2006Di tengah kekacauan dan nestapa pasca gempa di Nepal, satu hal mendasar tetap diperlukan, yaitu informasi yang padat dan dapat dipercaya.

Seiring dengan kemajuan teknologi, banjir informasi pun terjadi, terkadang penuh dengan isu dan informasi yang keliru.

Wakil Presiden Internews, Mark Frohardt menjelaskan bagaimana informasi sangat diperlukan pada kondisi darurat.

Pada saat terjadi krisis kemanusian seperti kejadian bencana, maka informasi adalah segalanya. Mereka yang selamat ingin mengetahui kabar keluarganya, rumahnya, para tetangganya. Dari situ, kemudian berlanjut berbagai pertanyaan yang mungkin timbul. Di mana tempat yang aman? Bagaimana, kapan, dan di mana makanan, air, dan kesehatan bisa didapatkan? Orang-orang bertanya kepada para tetanga, mengecek telepon genggam masing-masing dan juga media sosial. Mereka pun menyetel radio, mencoba mengikuti berbagai perkembangan terkini dan mencari tahu di mana jalan keluar yang harus ditempuh dari kesulitan tersebut.

Pada saat kebutuhan akan informasi yang cepat dan terpercaya sangat tinggi, jaringan yang ada justru ikut rusak terdampak bencana. Kepercayaan itu pun perlahan akan sirna dan berbagai hal akan memburuk dengan cepat. Seperti yang baru-baru ini dilaporkan oleh New York Times, ada isu di masyarakat Nepal yang berkembang luas bahwa bantuan luar negeri melimpah jumlahnya dan ditimbun oleh pegawai pemerintah. Pada saat orang-orang tinggal di tenda darurat kemudian hujan turun dan orang lain pergi dari ibukota, maka isu seperti itu bisa dengan cepat menjadi potensi bahaya.

Dalam waktu yang sekejap, informasi yang dibutuhkan pada warga terdampak meningkat sementara akses mereka terhadap informasi tersebut justru mengalami penurunan yang signifikan.

Beberapa saat setelah gempa akan terjadi kelangkaan informasi. Jaringan listrik, telepon, dan konektivitas lain seperti internet kemungkinan besar akan berhenti bekerja. Masyarakat terkejut dan informasi mengenai keamanan dan sumberdaya menjadi langka. Kemudian situasi terus berkembang dari langka informasi menjadi banjir informasi manakala orang-orang berbagi informasi yang keliru, rumor, dan rasa frustasi karena kebutuhannya tidak terpenuhi.

Media sosial dan teknologi komunikasi yang lain dapat memberikan bantuan seperti menyatukan keluarga, pada saat yang sama teknologi tersebut juga dapat menyebabkan kekacauan dan kebingungan.

Masih dalam waktu yang sama datanglah bantuan internasional yang memiliki tantangannya tersendiri, yaitu bagaimana mengkoordinasikan berbagai layanan bantuan dalam kondisi yang kacau? Belasan organisasi mulai mengirim pesan melalui berbagai saluran seperti sms, radio, tv, dan juga cetak. Jika semua informasi tersebut tidak terkoordinasi, maka dapat meningkatkan kebingungan masyarakat yang sejauh ini telah mengalami kelebihan dan kekacauan informasi. Namun, jika pesan itu berkaitan dengan usaha penyelamatan, maka terjalinnya komunikasi dua arah dan terbukanya ruang untuk tanya jawab atau dialog bukan lagi menjadi prioritas.

  • Dengar Dahulu

Sangat masuk akal pada saat terjadi kekacauan informasi diawali dengan mendengarkan masyarakat terdampak. Sangat penting mengetahui apa yang diperlukan oleh masyarakat dan apa yang tidak mereka peroleh. Perlu dilakukannya sebuah penyelidikan secara paralel untuk menilai konteks lokal, ini yang kita sebut sebagai ekosistem informasi. Ekosistem lokal ini akan memiliki nuansa, kekuatan, dan kelemahannya tersendiri serta bisa jadi di sinilah area kepercayaan dan pengaruh dibangun.

Sebagai contoh adalah kasus di Haiti saat beberapa stasiun radio lokal selamat dari bencana gempa. Saat itu, untuk meredam gangguan di titik pendistribusian barang, sebuah stasiun radio menghadirkan musisi lokal ketimbang pejabat pemerintah. Hal itu dilakukan karena sosok tersebut lebih diterima oleh masyarakat setempat. Dalam situasi yang lain, ada juga stasiun radio yang tidak dipercaya oleh masyarakat, namun mereka percaya pada pastur setempat. Kendati Bapak Pastur itu menerima informasi dari stasiun radio yang sama, dia memverifikasi dan mengecek kebenaran info tersebut sebelum menyampaikan kepada umatnya. Bapak tersebut adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam situasi seperti itu.

Akhirnya kita perlu mengetahu apa yang masyarakat lakukan dengan informasi. Kita perlu memahami apa dampaknya. Karena itu, sangat penting mengetahui saran dan masukan dari masyarakat.

Pada kondisi yang demikian itu, maka radio komunitas memegang peranan yang sangat penting. Dengan mengirimkan pesan berantai kepada masyarakat, dapat dilihat tren pertanyaan dan respon masyarakat terhadap satu jenis informasi. Hasilnya stasiun radio tersebut dapat merespon dengan cepat dan dapat mengatasi berbagai isu atau kekacuan informasi.

Selanjutnya apabila terjadi peningkatan kejelasan informasi yang berkembang di masyarakat, maka itu adalah pertanda membaiknya kondisi mereka. Manakala masyarakat berhenti bertanya mengenai makanan, isu kesehatan, air, dan mulai menanyakan mengenai pendidikan anaknya, maka itu adalah tanda kondisi mulai kembali ke normal.

Di tiap daerah, sangat penting untuk bekerja bersama warga yang mengetahui kondisi setempat. Warga yang paham bagaimana mekanisme yang terjadi dan telah sensitif terhadap kepentingan masyarakat jauh sebelum terjadinya krisis. Kami menemukan bahwa media lokal adalah rekan kerja yang sangat baik. Radio lokal dapat menjangkau orang banyak, maka wartawan radio lokal adalah elemen yang sangat penting untuk komunikasi pada masa darurat dan pemulihan.

Kendati banyak kelebihan yang dimiliki oleh media lokal tersebut, namun seringkali jurnalis setempat tidak memiliki kemampuan untuk melaporkan pada saat krisis terjadi, mereka juga kurang familiar untuk mengakses dan berhubungan dengan komunitas internasional. Dalam situasi tersebut, kami bekerja bersama dengan mereka untuk mendapatkan dan membagi informasi kepada masyarakat guna membangun kesepahaman bersama mengenai situasi yang berkembang di lapangan. Kami juga menghubungkan mereka dengan komunitas kemanusiaan, sehingga mereka dapat mulai melaksanakan dialog bagaimana seharusnya upaya pendampingan dan perbaikan dilaksanakan. Para jurnalis lokal tersebut kemudian menjadi jembatan di antara dua sisi.

Seringkali para jurnalis lokal tersebut juga terdampak oleh bencana yang terjadi, kami kemudian akan mendukung mereka untuk melakukan pekerjaannya tanpa perlu khawatir kondisi keluarga. Hal ini bisa berupa memberikan dukungan baterai, telepon tambahan, fasilitas pengisian ulang listrik, atau pendapatan tambahan agar kawan jurnalis tersebut dapat antri di pos bantuan sementara yang bersangkutan tetap bekerja sebagai seorang wartawan.

Nepal dikenal sebagai perintis pergerakan radio FM lokal, ditandai dengan pendirian radio pertama pada tahun 1996. Sejak saat itu, stasiun-stasiun radio kecil mulai berdiri di desa-desa yang terpencil, melakukan kegiatan berupa model pelibatan dan keberlanjutan masyarakat. Salah satu contohnya adalah membangun jaringan untuk memahami dan menangani berbagai kebutuhan masyarakat bahkan di daerah yang paling terpencil sekalipun.

  • Dari Bantuan ke Lembaga

Pada masa tanggap darurat seringkali tak mudah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bicara pada berbagai aspek yang menentukan, misalnya terkait bantuan. Namun, kemampuan bicara tersebut ternyata akan meningkatkan kemampuan masyarakat dan sekaligus memperkuat serta lebih tangguh pasca terjadinya krisis.

Filosofi kami adalah memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk menggapai masa depan mereka secepatnya. Saat terjadi gempa di Pakistan pada tahun 2005, di lembah yang penuh dengan pengungsi namun tak bisa dijangkau oleh stasiun radio yang ada, kami membantu membuat asosiasi yang terdiri dari lima stasiun radio darurat untuk mendorong berbagai peralatan siaran ke lembah. Lama setelah gempa tersebut, stasiun-stasiun radio tersebut tetap beroperasi dan menyediakan berbagai dukungan penting kepada masyarakat termasuk saat terjadi krisis pada tahun 2007-2008 dan banjir 2010.

Jika komunikasi pada masa krisis ditangani dengan baik, biasanya akan terbangun dialog yang konstruktif antara komunitas kemanusiaan dan masyarakat terdampak. Kemudian hal tersebut akan dapat menggerakkan masyarakat dari sekadar penerima bantuan yang pasif menjadi peserta aktif dalam upaya pemulihan mereka sendiri.

Dengan menjaga kepercayaan, menyampaikan informasi lokal yang berguna, akhirnya kita dapat memberikan satu badan tertentu untuk masayarakat. Saat kami melakukan peningkatan kapasitas stasiun radio lokal, seringkali kami menemukan terjadinya perubahan peran dari yang semula melaporkan mengenai bantuan menjadi menyajikan laporan mengenai upaya rekonstruksi. Selain itu juga disampaikan kepada pendengar setia mengenai akuntabilitas pemerintahan serta isu-isu politik dan sosial lain yang lebih besar.

Sulit dibayangkan memang semua hal itu terjadi ketika satu negara berada di tengah krisis, namun pengalaman kami menunjukkan, jika kita bisa mengelola saat ini dengan baik, maka masyarakat yang lebih tangguh akan bisa tercapai di masa datang.

Mark Frohardt memiliki banyak pengalaman dalam bidang komunikasi kemanusiaan. Selama dua puluh tahun sebelum bergabung dengan Internews, dia bekerja di Medecins Sans Frontieres, UNHCR, UNOCHA, dan berbagai lembaga lain. Saat ini, beliau memimpin Internews Center for Innovation and Learning.

Sumber tulisan dari sini:

https://medium.com/local-voices-global-change/humanitarian-information-in-nepal-from-crisis-to-agency-bd234a8287a7

Kepemimpinan: Tiga Hal Terpenting Bagi Pemimpin

Apakah tiga hal yang paling penting bagi seorang pemimpin?

Dalam tulisan berikut ini, Guy Kawasaki menjawab pertanyaan tersebut.

Menurut Kawasaki, tiga hal paling penting yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah:

  • Empathy
  • Honesty
  • Humility

Empathy
Diartikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi atau memahami situasi yang harus dihadapi oleh orang lain, termasuk juga perasaan mereka. Empati adalah kemampuan khas yang dimiliki oleh seorang manusia.

Seorang pemimpin perlu mengetahui kebutuhan mereka yang dipimpin agar tercipta efektivitas.

Beliau juga harus dapat membedakan antara empati dan simpati. Empati dalam hal ini berarti bahwa seorang pemimpin dapat mengapresiasi, menghormati, dan memahami berbagai hal yang dialami oleh orang lain.

Sifat empati sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin karena saat Anda benar-benar paham kebutuhan orang lain, maka Anda dapat menyediakan dukungan yang mereka perlukan dalam mencapai kesuksesan. Pada akhirnya, hal ini akan meningkatkan produktivitas dan kerja sama.

Honesty
Pengertian dari honesty sangatlah sederhana, ini adalah kemampuan untuk berlaku jujur pada diri sendiri dan orang lain.

Saat ini, sangat sulit menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Berbagai informasi dapat dengan mudah diakses dan tersaji dalam jaringan (online). Tak ada lagi rahasia, saat ini kita hidup dalam dunia yang transparan.

Berlaku jujur dan terbuka, terutama pada kondisi yang sulit adalah langkah yang penting untuk membangun kepercayaan, kredibilitas dan reputasi yang positif sebagai seorang pemimpin. Sebagai pemimpin, Anda membutuhkan kepercayaan mereka yang di belakang Anda. Bila kepercayaan itu tak didapat, maka semua hal yang Anda lakukan menjadi tak berarti.

Humility
Seorang pemimpin hendaknya memiliki atau menunjukkan kesadaran pada kelemahan atau kekuarangan orang lain, tidak sombong, tidak egois, dan terutama adalah sosok yang sederhana.

Humility atau sifat rendah hati sangat penting bagi seorang pemimpin karena orang-orang akan mengikuti pribadi yang mereka sukai. Seorang pemimpin yang narsistis akan dapat memperoleh pengikut, namun pemimpin yang tetap bersahaja dan membumi adalah mereka yang dicintai dan dielu-elukan.

Seorang pemimpin hendaknya berfokus pada umpan balik dan pemenuhan kebutuhan orang lain. Anda harus dapat menerima masukan dan kritik, Anda pun harus bisa mengakui bahwa Anda tak sempurna dan sangat mungkin membuat kekeliruan.

Tulisan ini adalah hasil terjemahan dari paparan di slideshare yang dapat Anda lihat pada tautan berikut ini:

Penanggulangan Bencana: Menentukan Lokasi Hunian Tetap?

Belajar dari penanganan pasca bencana Erupsi Merapi pada tahun 2010, maka penentuan hunian tetap di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah harus mempertimbangkan beberapa kriteria. Kriteria tersebut dibagi menjadi kriteria umum dan khusus. Selengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Kriteria umum
– Aman dari kerawanan bencana gunungapi
– Lahan mempunyai kemiringan maksimum 30%
– Berada di kawasan budidaya di luar permukiman dan tanah garapan aktif yang ditetapkan dalam RTRW kabupaten terdampak.
– Berada di kecamatan yang sama.

2. Kriteria penunjang
– Tersedia air baku
– Tersedianya jaringan infrastruktur
– Kemudahan pembebasan lahan
– Tersedianya luasan lahan minimal untuk perumahan

Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi juga melibatkan masyarakat terdampak sebagai stimulus ekonomi demi keberlanjutan kehidupan mereka. Stimulus ini perlu diadakan agar perekonomian masyarakat kembali pulih dan dapat mencukupi kehidupan mereka sendiri-sendiri. Arahan Wakil Presiden RI dalam ruang lingkup rehabilitasi dan rekonstruksi adalah:

  1. Pemulihan perumahan dan permukiman dengan memperhatikan kebijakan relokasi yang aman dan desain yang berbasis mitigasi dan pengurangan risiko bencana.
  2. Pemulihan infrastruktur publik yang mendukung mobilitas masyarakat dan perekonomian serta infrastruktur vital dalam penanggulangan bencana.
  3. Pemulihan kebutuhan sosial masyarakat.
  4. Pemulihan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
  5. Pemulihan lintas sektor melalui sub sektor keamnan dan ketertiban, pemerintahan, lingkungan hidup dan pengurangan risiko bencana.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Perubahan Iklim: Tanahku Negeriku

Oleh Vandana Shiva

Solusi bagi perubahan iklim berada pada tanah, namun tanah itu juga yang kita lupakan dan pendam di bawah paham ‘sementifikasi adalah kemajuan’.

Pada masa-masa rentan bagi evolusi manusia seperti saat ini, Hari Bumi, pada 22 April 2015, memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan refleksi bagaimana kondisi bumi dan juga manusia. Hari itu juga menjadi kesempatan untuk memperbarui janji kita sebagai bagian dari keluarga bumi-Vasudhaiv Kutumbukan.

Vasudhaiv Kutumbukan adalah satu pandangan hidup yang mencakup berbagai aliran paham, kebijakan, visi, dan nilai-nilai.

Ilmu pengetahuan telah membenarkan satu pandangan, bahwa hidup adalah jejaring yang saling terhubung. Dari tanah ke tanaman, dari serangga ke binatang, semua menunjukkan hidup adalah jejaring makanan. Taittiriya Upanishad–salah satu bagian Weda–mengenal hal ini sejak bertahun-tahun lampau dengan ujarannya, “Semua adalah makanan; makanan bagi yang lain.”

Upanishad tersebut juga mengatakan bahwa menumbuhkan dan memberikan makanan yang melimpah adalah dharma yang paling tinggi. Sementara itu, menumbuhkan dan memberikan makanan yang buruk adalah bentuk tertinggi dari adharma. Oleh karena itu, maka menumbuhkan dan memakan tanaman organik tanpa merusak tanah adalah tugas suci kita. Di sisi lain, menanam dan menikmati makanan yang terkontaminasi bahan kimia, pestisida, modifikasi genetis organisme atau makanan cepat saji merusak tata ekologi, kebudayaan, dan hukum kesehatan dan nutrisi.

Para petani kita sedang berada dalam tekanan. Petani yang bunuh diri adalah suatu tanda terjadinya sistem pertanian yang mengeksploitasi dengan memeras kesuburan tanah dan kemakmuran mereka. Globalisasi dan ekonomi neo liberal yang menempatkan hak perusahaan lebih tinggi daripada alam serta hak-hak manusia adalah akar dari berbagai persoalan yang terjadi pada petani.

Sejak tahun 1995, hampir 300.000 petani membunuh dirinya sendiri. Vidarbha adalah lokasi di mana keserakahan Monsanto, sebuah perusahaan bioteknologi pertanian telah menaikkan biaya benih lebih dari 700.000 persen sehingga banyak petani kapas yang bunuh diri. Di Bengal Bagian Barat, ada Pepsi. Petani kentang hanya menerima 0.20 rupee per kilogram kentang sementara para konsumen membayar 200 rupee dalam bentuk makanan ringan Lays. Para konsumen juga mesti membayar dengan kesehatan mereka karena penyakit yang disebabkan oleh makanan cepat saji.

Kekacauan iklim yang terjadi tahun ini juga telah menambah tekanan bagi petani dengan curah hujan yang tinggi serta badai di masa panen yang membabat habis tanaman mereka, mata pencaharian mereka. Bulan lalu, lebih dari 100 petani bunuh diri di Uttar Pradesh karena kerusakan tanaman.

Konsep yang mendalam bagi masyarakaat India adalah ‘rta’-jalan dharma–sebuah jalan yang mengupayakan urutan yang benar berdasarkan mata pencaharian yang benar pula. Dari ‘rta’ menjadi ‘ritu’ sebuah pola yang stabil pada cuaca dan iklim. Manakala kita mengadopsi kebijakan dan gaya hidup yang menentang dengan hukum bumi berdasarkan anrita (ketidakteraturan penciptaan), maka akan membuahkan in ritu asantulan (ketidakteraturan iklim).

Dalam buku saya, Soil not Oil (2007), saya menilai bahwa lebih dari 40 persen gas rumah kaca penyebab perubahan iklim adalah hasil dari kontribusi bidang industri dan pertanian global. Sistem monokultur kimiawi yang dipakai juga lebih rentan gagal apabila harus menghadapi kekeringan yang panjang, banjir, atau hujan yang tak menentu.

Di sisi lain, pertanian organik mengurangi emisi dan juga membuat sistem pertanian yang lebih tahan menghadapi perubahan iklim. Penelitian Navdanya menunjukkan bahwa pertanian organik meningkatkan penyerapan karbon hingga 55 persen. Kajian internasional juga menunjukkan bahwa dengan dua ton per hektar tanah organik, kita dapat mengurangi 10 gigaton karbondioksida dari atmosfer, yang berarti juga mengurangi polusi atmosfer hingga 350 bagian per sejuta.

Kenaikan satu persen pada tanah organik dapat meningkatkan kapasitas menahan air hingga 100.000 liter per hektar, sementara bila lima persen, maka bisa meningkatkan kapasitas tahanan air hingga 800.000 liter. Ini adalah jaminan kita dalam melawan perubahan iklim, baik itu pada saat kekeringan dan sedikit hujan, serta manakala terjadi banjir dan hujan berlebih. Sementara itu, di sisi lain, untuk semen dan beton akan meningkatkan aliran permukaan, memperhebat terjadinya banjir dan juga kekeringan. Kami menyaksikan terjadinya hal ini saat banjir pada tahun 2013 di Uttarakhand dan di Kashmir pada tahun 2014.

Pada tanah yang sehat tersedia solusi bagi perubahan iklim, yaitu melalui mitigasi dan adaptasi. Namun, tanah itu juga yang kita lupakan dan pendam di bawah paham ‘sementifikasi adalah kemajuan’.

Ibu Bumi telah berkorban untuk pertumbuhan jangka pendek demi keserakahan segelintir manusia.

Sekitar 4.000 tahun yang lalu, dalam Weda telah mengajarkan kepada kita, “Dalam segenggam tanah ini kelanjutan hidup kita bergantung. Jagalah, maka dia akan menumbuhkan pangan, bahan bakar, tempat tinggal, dan melingkupi kita dengan keindahan. Rusaklah, maka tanah akan rusak dan mati, membawa serta kehidupan manusia bersamanya.”

Peraturan Pemilikan Tanah telah merendahkan tanah menjadi komoditas, merusak tatanan kebudayaan bahwa tanah adalah suci dan telah menyokong kita selama bertahun-tahun. Adalah kebutaan bila tak mampu melihat peran tanah yang sehat pada fungsi ekologis dan juga pelayanan pada kehidupan. Sayang, dalam skala global, kerusakan yang terjadi setara dengan sekitar 20 dollar triliun per tahun.

Dalam Isha Upanishad dikatakan dengan jelas bahwa semesta ini adalah suci dan untuk keuntungan semua makhluk. Oleh karena itu, setiap mereka yang mengambil lebih dari yang seharusnya adalah pencuri. Mahatma Gandhi, mengambil kebijaksanaan ini dalam ujarannya yang terkenal, “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, namun tak pernah dapat mencukupi keserakahan seseorang.”

Mereka yang mendukung peraturan kepemilikan tanah mengharapkan para petani kecil itu hilang dan memberi jalan bagi perusahaan pertanian yang berbasis kimia serta modifikasi genetika.

Studi dari PBB dan hasil pekerjaan dari Navdanya menunjukkan, pertanian kecil memproduksi lebih banyak pangan daripada industri pertanian besar. Nutrisi per hektar berlibat ganda serta pendapatan masyarakat pedesaan meningkat hingga 10 kali lipat melalui pertanian organik.

Solusi bagi kemiskinan, krisis agraria, kesehatan dan kurang gizi adalah sama, merawat tanah dan juga petani yang peduli pada tanah dan kesehatan kita.

Sistem ekonomi yang mengganggu hak-hak Bumi juga mengancam hak-hak manusia karena kita tak terpisahkan dari bumi. Kita semua adalah anggota dari Vasudhaiv Kutumbukan. Kita memerlukan perjanjian baru dengan bumi sebagai bagian keluarga, janji untuk menciptakan perekonomian baru yang tidak merusak dan Demokrasi Bumi di mana kontribusi dan hak dari spesies terakhir juga manusia terakhir pada bumi juga diperhitungkan.

Vandana Shiva adalah seorang filosof, aktivis lingkungan, dan eko-feminis. Shiva saat ini berbasis di Delhi, telah menulis lebih dari 20 buku dan 500 artikel pada jurnal keilmuan dan teknis terkemuka. Latar belakang pendidikan beliau adalah fisika dan menerima gelar doktoralnya dalam bidang fisika dari University of Western Ontario, Canada. Beliau menerima anugerah ‘Right Livelihood Award’ pada tahun 1993. Beliau juga pendiri Navdanya di http://www.navdanya.org.

Tulisan asli bisa dibaca di sini: http://www.countercurrents.org/shiva230415.htm

Penanggulangan Bencana: Pelajaran dari Bencana Nepal

Ribuan lagi warga Nepal dapat menjadi korban di masa depan dan negara tersebut dapat kembali mengalami kemiskinan jika pemerintah dan komunitas internasional tidak belajar dari kejadian bencana yang lalu.

Katie Peters, seorang peneliti pada Overseas Development Institute (ODI) dalam The Guardian mengatakan bahwa kendati sebuah proses perbaikan sekolah dan rumah sakit juga pelatihan kepada masyarakat bagaimana menghadapi gempa telah dilakukan, namun masih perlu upaya mitigasi bencana alam yang mungkin terjadi di masa depan.

Peters yang bekerja bersama Pemerintah Nepal dalam pengurangan risiko mengatakan bahwa kegagalan berinvestasi untuk pembangunan yang lebih baik –building back better– dalam bentuk peningkatan infrastruktur dan memastikan setiap orang telah bersiaga menghadapi gempa justru akan sangat mahal harganya. “Akan selalu terjadi peningkatan baik itu dalam jumlah korban maupun kerugian akibat bencana. Hal itu adalah kenyataan dan akan makin mahal pula bagi komunitas internasional.”

Peters mengatakan bahwa keinginan untuk segera melakukan rekonstruksi hendaknya tak mengabaikan sisi perencanaan yang baik. “Selalu ada pertentangan antara keinginan untuk segera membangun dan memastikan bahwa perlu dilakukannya berbagai pertimbangan mengenai segala bencana yang harus dihadapi Nepal serta meyakinkan bahwa tidak ada risiko di belakang tiap upaya rekonstruksi.”

“Jika membangun sekolah dan rumah sakit, maka harus dipastikan bahwa bangunan tersebut dapat menghadapi gempa pada skala yang sama.” Demikian imbuh Peters dalam keterangannya.

Fokus pada pengurangan risiko menjadi kepentingan setiap orang bukan saja hal ini dapat menyelamatkan masa depan ribuan warga Nepal, namun yang lebih penting lagi, hal tersebut dapat menghemat jutaan poundsterling biaya yang harus dikeluarkan oleh komunitas internasional. “Statistik menunjukkan biaya yang digunakan untuk upaya tanggap darurat adalah lima kali pembiayaan untuk kesiapsiagaan dan upaya pengurangan dampak bencana,” kata Peters.

“Setiap dollar yang dihabiskan untuk upaya kesiapsiagaan akan menghemat delapan dollar yang digunakan untuk tanggap darurat, bukti hal ini sudah begitu nyata. Ada begitu banyak perhatian yang diberikan pada upaya tanggap darurat bencana, namun pada saat yang sama sebagai lembaga donor kita harus memastikan bahwa dukungan terhadap masyarakat dan pemerintah tetap berlangsung sebelum bencana lain datang, sehingga bukan hanya manakala bencana terjadi saja, namun juga pada saat sebelum terjadi bencana.” Panjang lebar Peters memberikan penjelasan.

Kendati gempabumi sudah lama diprediksi, namun sebuah kejadian bencana hendaknya menjadi satu alarm yang membangkitkan kesadaran kita bersama akan pentingnya investasi pada saat bencana belum terjadi. Selain itu, komunitas lokal juga harus diberdayakan karena mereka ini adalah pusat dari berbagai upaya penanggulangan bencana. Mereka ini yang harus menggali saudara-saudaranya dari reruntuhan pada 24 jam pertama sebelum berbagai bantuan datang.

Komunitas internasional juga mestinya belajar dari penanganan gempabumi di Haiti pada tahun 2010. Saat itu banyak donor yang dikritisi karena menyalurkan bantuannya pada lembaga-lembaga atau NGO yang besar alih-alih pada organisasi lokal Haiti. Pasca kejadian tersebut, di Nepal kini masyarakat internasional lebih mendorong peran masyarakat atau organisasi dan pemerintah lokal dalam upaya tanggap darurat. Hal inilah yang justru akan terus berkelanjutan. “Jika Anda mengembangkan kapasitas masyarakat, organisasi, dan pemerintah lokal, maka impian besarnya adalah pada masa yang akan datang mereka dapat mandiri dan tak memerlukan bantuan internasional.” Demikian pungkas Peters dalam keterangannya.

Sumber tulisan: http://www.theguardian.com/global-development/2015/apr/29/nepal-earthquake-disaster-response-risk-management

Penanggulangan Bencana: Peran Drone

Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau Pesawat Nir Awak atau Drone terbukti sebagai peralatan berteknologi tinggi yang membantu para pekerja kemanusiaan pasca gempa di Nepal.

Para ahli dari Etobicoke, GlobalMedic berbasis di Ontario, Canada yang mengelola Drone untuk misi kemanusiaan telah berada di Nepal. “Tim UAV kami bertugas untuk membuat peta udara pada daerah yang terdampak, kemudian mengumpulkan, dan menggabungkan berbagai gambar ke dalam satu peta yang dapat menampilkan gambaran kebutuhan di lapangan.” Demikian tulis juru bicara GlobalMedic kepada FoxNews.com. “Identifikasi daerah terkena banjir, jalan yang rusak, pergerakan manusia, infrastruktur roboh, dan berbagai pemanfaatan lain dari drone pada situasi darurat yang sangat beragam.”

Organisasi bantuan menggunakan tiga UAV tercanggih, yaitu SkyRanger dan Scout, yang dikembangkan oleh Aeryon Labs. Ketiganya dikontrol menggunakan layar sentuh, dilengkapi dengan kamera thermal sehingga dapat mengenali korban yang terjebak atau terluka.

Drone yang digunakan dapat merekam dan mengirimkan informasi dalam waktu yang bersamaan (real time) dan sangat menolong untuk penentuan prioritas pengiriman bantuan dan mengenali isu aksesibilitas. “Peta ini sangat bermanfaat untuk penilaian kebutuhan korban terdampak. Semua informasi dan hasil pemotretan akan dibagi dengan lembaga PBB, pemerintah Nepal, dan semua organisasi yang bekerja membantu Nepal. Tujuannya adalah untuk menyebarluaskan informasi tak ternilai ini sehingga jaringan pekerja kemanusiaan dapat berkoordinasi secara efektif, mengurangi kesenjangan dan tumpang tindih bantuan, sehingga pada akhirnya dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa.” Demikian disampaikan juru bicara dari GlobalMedic.

Pada penanggulangan bencana Topan Hagupit di Filipina tahun lalu Organisasi dari Canada tersebut juga telah menggunakan drone. Direktur GlobalMedic, Rahul Singh mengatakan bahwa informasi sangatlah penting dalam setiap upaya tanggap darurat. Gambar yang diperoleh dari UAV ini menjadi satu informasi yang dapat mendukung terkirimnya bantuan kepada korban secara lebih efektif.

Sumber tulisan: http://www.foxnews.com/tech/2015/04/30/how-drones-are-helping-nepal-earthquake-relief-effort/

Penanggulangan Bencana: 5 Kaidah Pemberian Bantuan

Ketika Anda melihat gambaran yang begitu menyayat hati pasca bencana yang terjadi di Nepal, tentu Anda ingin segera melakukan sesuatu.

Namun, pada bencana besar dan kondisi darurat, perlu kehati-hatian saat akan memberikan bantuan agar pertolongan yang Anda salurkan tidak menambah kesulitan atau berakhir pada lembaga yang tidak kredibel. Anda juga perlu memastikan agar sokongan tersebut tidak bertentangan dengan kebutuhan dari para korban dan juga bisa tepat sampai ke sasaran.

Berikut ini adalah pengalaman Doug Saunders–wartawan The Globe and Mail, sebuah koran di Canada–saat melihat bantuan dan kinerja lembaga donor pasca bencana terbesar di abad ini. Pengalaman perdana melihat bagaimana komunitas online dan media sosial menjadi alat pengumpul bantuan.

Jika Anda ingin memberikan bantuan bagi para korban bencana di Nepal, beliau menyarankan agar pertolongan tersebut diberikan kepada UNICEF atau Palang Merah Internasional. Selain itu, bisa juga diberikan kepada Koalisi Kemanusiaan yang mencakup NGO veteran seperti Care, Oxfam, Plan, dan Save the Children. Dengan begitu, bantuan Anda akan dikirimkan secara langsung, cepat, dan profesional.

Bagaimana Bantuan dapat Menolong atau Melukai

Pada bulan Desember, 2004, Saunders tiba di satu tempat yang tadinya kota pinggir pantai di Timur Laut Srilanka. Orang pertama yang dia temui di sana berdiri dengan tatapan kosong tak bergerak di luar sebuah tenda yang dibangun seadanya. Wanita itu kurang dari sehari sebelumnya baru saja kehilangan dua gadis kecilnya yang direnggut dari lengannya oleh tsunami.

Saunders tak tahu harus berkata apa pada wanita tersebut. Sepanjang dua jam kemudian, dia bertemu dengan sekurangnya selusin orang tua yang mengalami kejadian serupa serta ratusan lebih orang yang terpisah dari keluarganya. Pantai pun penuh dengan korban yang sebagian besar adalah anak-anak. Sementara orang tua berdiri memandang dengan putus asa ke laut lepas berharap menemukan orang-orang tercinta.

Bencana yang terjadi waktu itu bukan hanya menimbulkan korban dan kerugian yang sangat besar, membunuh sekurangnya 230.000 orang dalam hitungan jam dan meninggalkan jutaan lainnya tanpa tempat tinggal di belasan negara. Peristiwa tersebut juga memicu gerakan pertolongan terbesar di dunia, menarik pekerja kemanusiaan dan lembaga bantuan untuk beraksi. Saat itu juga menjadi sejarah digunakannya internet untuk penghimpunan dana dari masyarakat yang mencapai 5.4 trilyun dollar dan 8.4 trilyun dollar dari pemerintah.

Peristiwa bencana pada tahun 2004 tersebut juga menjadi pelajaran apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manakala memberikan bantuan.

1. Menolong justru dapat melukai

Saat itu tiga hari sebelum ada bantuan tiba di daerah tersebut. Kemudian, truk pertama yang datang di perkampungan nelayan muslim tersebut berasal dari Gereja Scientology. Bantuan mereka datang bersama dengan cetak ulang Dianetics dan upaya pengubahan yang kemudian disambut dengan tatapan kosong dari warga. Baik lembaga kristiani dan muslim selalu mengindahkan etika dan tidak ada upaya untuk mengajak berpindah agama, namun tetap saja kadang menyampaikan pesan yang keliru. Agama yang Anda anut barangkali mengajarkan tentang memberi, namun mencampuradukkan antara bantuan dengan iman dapat menyebabkan orang kehilangan harapan.

2. Niat baik kadang bisa menjadi buruk

Dalam hitungan minggu, ada sekitar 200 organisasi yang bekerja di suatu desa. Sebagian besar adalah organisasi kecil. Beberapa organisasi bekerja di area yang sama: sumur, pelatihan olah raga atau konseling pernikahan. Beberapa adalah proyek bantuan dari pesohor. Bahkan yang lebih buruk adalah proyek bantuan dari pengusaha yang berpikir bahwa produk mereka adalah bantuan yang paling tepat. Pada akhirnya, hanya lembaga besar milik UN, yaitu UNICEF dan Komisi Tinggi untuk Pengungsi serta Palang Merah Internasional yang mampu membantu masyarakat untuk bangkit dan sekaligus menjaga mereka dari berbagai organisasi kecil. Bantuan atau organisasi kecil tampak menarik, namun alangkah lebih baik bila dapat membantu dalam skala yang lebih besar.

3. Jangan pergi ke sana

Salah satu pemandangan yang tak biasa di Colombo dan Jaffna adalah penuhnya hotel oleh dokter yang datang dari Amerika Utara dan Jepang. Mereka ini berharap bisa memberikan bantuan, padahal mereka tak dibutuhkan. Saat itu, bahkan sebuah desa yang kecil pun telah memiliki tiga atau empat tim medis dari luar negeri, merawat warga yang kebanyakan sehat. Mayat korban bencana yang membusuk tidak menyebabkan wabah penyakit. Sampai dengan saat itu, belum pernah masyarakat yang sangat miskin tersebut mendapatkan perawatan yang sangat baik untuk penyakit kelamin dan hernia. Apa yang diperlukan oleh korban adalah peralatan pertukangan, mesin diesel, dan teknisi elektrik; berbagai organisasi mencari komoditas ini di tingkat lokal. Para dokter itu berpandangan mereka dibutuhkan yang tentu saja sangat melegakan hati, namun alangkah baiknya bila mereka bertanya terlebih dahulu.

4. Jangan mengirimkan barang

Kebanyakan warga yang sangat miskin hidup dengan menanam dan menjual makanan atau ikan. Di antara mereka juga ada yang menjual barang-barang murah. Banjir makanan gratis, yang datang dengan cepat memang pada mulanya dibutuhkan, namun kemudian ini akan mengganggu proses pemulihan. Sungguh sulit bagi petani padi untuk berkompetisi dengan penyedia makan malam gratis.

Mengirimkan mainan, sepatu, atau pakaian sepertinya ide yang baik bagi masyarakat yang kerap melihat anak-anak di televisi bermain di tengah debu pada negara yang miskin. Membawa hal tersebut ke negeri yang jauh dan mengawasi distribusinya menelan biaya yang sangat mahal. Tindakan ini menghalangi pengiriman bantuan yang lebih diperlukan atau menjadi halangan bagi para pebisnis lokal yang bisa menyediakan barang yang sama.

Dalam lingkaran bantuan, memberikan barang, apakah itu pakaian bekas, bangunan, atau makanan dikenal dalam Bahasa Inggris sebagai Swedow, Stuff We Don’t Want atau barang yang tidak kami perlukan karena nilai manfaatnya lebih sedikit daripada biaya yang dikeluarkan.

5. Berikan sesuatu tapi jangan terlalu spesifik

Peristiwa bencana terkadang menyebabkan jumlah bantuan melebihi kebutuhan. Hal ini bagus manakala lembaga bantuan mengalami surplus mereka dapat membangun gudang permanen di berbagai negara sehingga mereka dapat merespon secara lebih cepat. Namun, terlalu banyak bantuan diberikan kepada peristiwa bencana daripada ke lembaga seperti Unicef, Oxfam, atau Palang Merah Internasional. Memberi adalah ide yang sangat baik, namun jangan spesifik. Pertolongan dapat bekerja dengan baik jika dikombinasikan dengan kepercayaan.

Sumber tulisan: http://www.theglobeandmail.com/globe-debate/want-to-help-nepal-follow-these-five-rules-of-disaster-charity/article24150908/