Penanggulangan Bencana: Kearifan Lokal Mulai Hilang

Merapi tidak pernah ingkar janji. Kalimat itu bagaikan sebuah penegasan akan kearifan lokal yang diajarkan oleh orang tua di sekitar Merapi kepada anaknya.

Merapi selalu memberikan pratanda dan peringatan sebelum meletus. Pada letusan di tahun 1996, misalnya, penduduk sangat akrab dengan berbagai pratanda dari Gunung Merapi. Masyarakat mampu membaca tanda-tanda seperti munculnya wedhus gembel atau awan panas, guguran lava, suara gemuruh, tremor atau getaran, maupun asap yang keluar dari puncak Merapi.

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan terbukanya informasi, maka arus berita menjadi begitu deras dari berbagai media massa. Akibatnya, masyarakat kehilangan kemampuannya untuk membaca berbagai pratanda dari Merapi. Dampaknya, jika informasi tidak diterima dengan cepat dan bahkan simpang siur, hal ini justru membuat masyarakat kehilangan orientasi terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh letusan Merapi.

Dalam upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana, perlu dikembangkan berbagai kearifan lokal seperti yang diajarkan oleh para orang tua. Berbagai pratanda seperti lampor atau yang dikenal dengan banjir lahar dingin, yaitu banjir besar yang membawa material vulkanik, oleh warga dimaknai bahwa Merapi dan Laut Kidul sedang mempunyai hajatan. Lampor sendiri adalah konsekuensi logis yang terjadi saat Merapi meletus pada musim hujan.

Kearifan lokal yang lain adalah bagaimana masyarakat bisa memperkirakan arah wedhus gembel dengan memperhatikan letak titik api diam di puncak Merapi yang pasti akan terlihat jelas sekitar pukul 3 dini hari. Kata orang tua, titik api diam tersebut dikenal sebagai banaspati, yaitu sejenis makhluk gaib raksasa yang perutnya besar dan menyala.

Kehadiran banaspati mengisyaratkan terjadinya sebuah bencana. Lokasi titik api diam ditambah frekuensi dan besaran suara gemuruh dapat memberi tanda ke mana dan seberapa jauh aliran wedhus gembel menerjang dan meluluhlantakkan kehidupan yang dilaluinya.

Semua fenomena tersebut menunjukkan bahwa manusia perlu akrab dan mengembangkan kemampuan untuk membaca berbagai tanda yang diberikan oleh Merapi.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *