Penanggulangan Bencana: Sapaan Sebelum Merapi

Sebelum Merapi meletus, dia selalu menunjukkan gelagat, semacam sapaan. Hal tersebut bisa berupa harimau yang turun, kemudian burung, lalu monyet dan kijang. Namun, karena satwa-satwa tersebut nyaris tidak ada lagi, bahasa Merapi yang satu ini sudah mulai sirna, dan itu berarti khazanah penting pengetahuan tradisional tentang Merapi pupus.

Perilaku binatang yang tidak seperti biasanya, seperti monyet dan kijang yang berlarian turun gunung, anjing menggonggong terus menerus, burung kedasih berkicau pada malam hari, hingga cacing-cacing keluar dari tanah, menandakan timbulnya hawa panas di sekitar mereka.

Pengetahuan ini bisa diterjemahkan ke dalam bahasa ilmu pengetahuan modern-salah satu bentuk rasionalisasi. Pengetahuan lokal sangat berkaitan dengan hal praktis kehidupan sehari-hari warga di daerah rawan bencana.

Penanggulangan Bencana: Upaya Mitigasi Merapi

Kewajiban melakukan mitigasi disebut dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Nasional. Undang-undang tersebut berfungsi sebagai pedoman dasar yang mengatur wewenang, hak, kewajiban dan sanksi bagi segenap penyelenggaran dan pemangku kepentingan di bidang penanggulangan bencana. Menurut UU tersebut, penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi berpotensi terjadi bencana meliputi kesiapsiagaan, peringatan dini, dan mitigasi bencana.

Kesiapsiagaan dilakukan untuk memastikan upaya yang cepat dan tepat dalam menghadapi bencana. Sedangkan peringatan dini dilakukan untuk pengambilan tindakan cepat dan tepat dalam rangka mengurangi risiko terkena bencana serta mempersiapkan tindakan tanggap darurat. Mitigasi dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana. Mitigasi bencana Gunung Merapi bisa diartikan sebagai segala usaha dan tindakan untuk mengurangi dampak bencana yang disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi. Mengingat begitu padatnya penduduk yang bermukim di sekitarnya, bencana erupsi Merapi dapat terjadi sewaktu-waktu.

Berdasarkan tugas dan fungsinya, PVMBG termasuk BPPTK sebagai salah satu unitnya, turut berperan dalam manajemen krisis bencana erupsi. Pada fase pra kejadian, peranannya meliputi langkah-langkah penilaian risiko bencana, pemetaan daerah rawan bencana, pembuatan peta risiko, dan pembuatan simulasi skenario bencana. Tindakan lain yang perlu dilakukan adalah pemantauan gunung api dan menyusun rencana keadaan darurat. Adapun pada fase kritis, badan ini sudah harus melakukan tindakan operasional berupa pemberian peringatan dini, meningkatkan komunikasi dan prosedur pemberian informasi, menyusun rencana tanggap darurat yang berupa penerapan dari tindakan rencana keadaan darurat, dan sesegera mungkin mendefinisikan perkiraan akhir dari fase kritis.

Sedangkan sistem peringatan dini Gunung Merapi berfungsi untuk menyampaikan informasi terkini status aktivitas Merapi dan tindakan-tindakan yang harus diambil oleh berbagai pihak terutama oleh masyarakat yang terancam bahaya. Ada berbagai bentuk peringatan yang dapat disampaikan, Peta Kawasan Rawan Bencana sebagai contoh adalah bentuk peringatan dini yang bersifat lunak. Peta ini memuat zonasi level kerawanan sehingga masyarakat diingatkan akan bahaya dalam lingkup ruang dan waktu yang dapat menimpa mereka di dalam kawasan Merapi.

Bentuk peringatan dini terutama adalah tingkat ancaman bahaya atau status kegiatan vulkanik Merapi serta langkah-langkah yan harus diambil. Bentuk peringatan dini bergantung pada sifat ancaman serta kecepatan ancaman Merapi. Apabila gejala ancaman terdeteksi dengan baik, peringatan dini dapat disampaikan secara bertahap, sesuai tingkat aktivitasnya. Namun, apabila ancaman bahaya berkembang secara cepat, peringatan dini langsung menggunakan perangkat keras berupa sirine sebagai perintah pengungsian.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Penanggulangan Bencana: Memahami Fenomena Merapi

Memahami Merapi, tidak cukup dengan menelisik wujud fisiknya, menghitung tremor dan gempa yang diakibatkan, mewaspadai wedhus gembel dan aliran lahar dinginnya saja. Akan tetapi, tak kalah penting adalah memahami masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar Merapi

Merapi merupakan ujung atau puncak perjalanan manusia mencapai eksistensi tertinggi (swarga pangratunan), di mana Jagad Ageng (makrokosmos) dan Jagad Alit (mikrokosmos) menyatu dalam diri. Kosmologi itu termanifestasi dalam tata ruang kerajaan (kota) Yogyakarta, yang membujurkan sumbu di garis Parangkusuma (Laut Kidul)-Panggung Krapyak-Keraton-Tugu Pal Putih hingga Merapi dan singgasana Sultan menjadi pusatnya.

Dalam pemahaman warga di sekitar Merapi, alam tak pernah berdiri sendiri: alam dan manusia berada dalam relasi yang erat dan mendalam. Karena itu, peristiwa alam, seperti erupsi Merapi, juga bisa ditangkap sebagai purifikasi atau teguran terhadap manusia dan kelakuannya.

Mbah Maridjan hidup sepenuhnya dalam kosmologi ini. Gunung Merapi baginya adalah makhluk hidup yang dapat bernapas, berpikir, dan berperasaan. Ada roh yang berdiam di baliknyaa, yang juga membaca (pikiran dan perilaku) manusia di sekitarnya. Dengan dasar itu, maka beliau menganggap sebutan seperti mbledhos, njeblug, dan wedhus gembel, sebagai sesuatu yang menyakitkan hati Merapi, dan karena itu, ia pantang menggunakan istilah tersebut.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Penanggulangan Bencana: Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana

Perwakilan dari 187 negara anggota UN pada (18/03) telah mengadopsi persetujuan utama dan pertama pasca agenda pembangunan 2015. Kerangka kerja baru dalam pengurangan risiko bencana yang diadopsi tersebut berisi tujuh capaian target dan empat prioritas aksi.

Pemimpin konferensi, Mr. Eriko Yamatani, Menteri Negara untuk Penanggulangan Bencana, membacakan teks tertulis kesepakatan tersebut. ‘Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030 adalah acuan kerja baru bagi aktivitas pengurangan risiko bencana. Kesepakatan tersebut, seperti dilansir oleh laman WCDRR, dicapai setelah melalui negosiasi yang alot di antara peserta dan memakan waktu hingga lebih dari 30 jam.

Margareta Wahlström, Sekretaris Jenderal dan Perwakilan Khusus untuk Pengurangan Risiko Bencana, serta Kepala Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) mengatakan, “Adopsi kerangka kerja baru dalam pengurangan risiko bencana ini membuka satu babak baru dalam pembangunan berkelanjutan dengan melakukan aksi yang lebih jelas tujuan dan prioritasnya untuk mengurangi risiko, hilangnya nyawa, penghidupan, dan juga kesehatan.”

“Pelaksanaan dari kerangka kerja Sendai untuk pengurangan risiko bencana dalam 15 tahun ke depan memerlukan komitmen dan kepemimpinan politik. Hal ini juga penting untuk mencapai kesepakatan di masa depan sesuai tujuan dari pembangunan berkelanjutan dan iklim. Sekjen PBB dalam pembukaan konferensi ini pun berkata bahwa keberlanjutan diawali dari Sendai.”

Kerangka kerja tersebut berisi tujuh capaian global yang harus dipenuhi dalam 15 tahun, yaitu: pengurangan jumlah korban meninggal akibat bencana, pengurangan jumlah warga terdampak, pengurangan pada kerugian ekonomi dan kaitannya dengan GDP global, pengurangan kerusakan pada infrastruktur penting dan sarana vital bagi pemenuhan kebutuhan dasar seperti pada fasilitas kesehatan dan pendidikan, peningkatan jumlah negara yang memiliki strategi pengurangan risiko bencana di level lokal dan nasional pada tahun 2020, peningkatan kerjasama internasional, peningkatan akses pada peringatan dini multi bencana, informasi risiko dan penilaian bencana.

Pemimpin konferensi, Ibu Yamatani, mengatakan, “Hubungan Jepang dengan komunitas pengurangan risiko bencana global makin erat sebagai hasil dari konferensi dunia ini. Kesuksesan pelaksanaan kerangka kerja baru berarti pengurangan tingkat risiko bencana saat ini dan juga menghindari risiko baru yang mungkin muncul di masa depan.”

Wakil Ketua Komite Utama Konferensi, Duta Besar Paivi Kairamo dari Finlandia berkata, “Para delegasi dari negara peserta memberikan berbagai pengalaman dari pelaksanaan kerangka kerja Hyogo selama ini. Kita telah bersepakat dalam empat prioritas aksi yang berfokus pada pemahaman yang lebih baik akan risiko, penguatan pemerintah serta peningkatan investasi untuk pengurangan risiko.

“Prioritas akhir memerlukan kesiapsiagaan menghadapi bencana yang lebih efektif, serta praktik ‘build back better’ untuk fase pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi. Semua hal tersebut adalah 4 titik tujuan atau prioritas aksi PRB dalam 15 tahun ke depan.

Konferensi dunia tersebut dihadiri lebih dari 6.500 peserta, termasuk 2.800 wakil pemerintah dari 187 negara. Forum untuk masyarakat umum diikuti oleh 143.000 pengunjung selama konferensi digelar dan menjadikannya sebagai pertemuan UN terbesar yang pernah diselenggarakan di Jepang.

Penanggulangan Bencana: Kearifan Lokal Mulai Hilang

Merapi tidak pernah ingkar janji. Kalimat itu bagaikan sebuah penegasan akan kearifan lokal yang diajarkan oleh orang tua di sekitar Merapi kepada anaknya.

Merapi selalu memberikan pratanda dan peringatan sebelum meletus. Pada letusan di tahun 1996, misalnya, penduduk sangat akrab dengan berbagai pratanda dari Gunung Merapi. Masyarakat mampu membaca tanda-tanda seperti munculnya wedhus gembel atau awan panas, guguran lava, suara gemuruh, tremor atau getaran, maupun asap yang keluar dari puncak Merapi.

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan terbukanya informasi, maka arus berita menjadi begitu deras dari berbagai media massa. Akibatnya, masyarakat kehilangan kemampuannya untuk membaca berbagai pratanda dari Merapi. Dampaknya, jika informasi tidak diterima dengan cepat dan bahkan simpang siur, hal ini justru membuat masyarakat kehilangan orientasi terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh letusan Merapi.

Dalam upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana, perlu dikembangkan berbagai kearifan lokal seperti yang diajarkan oleh para orang tua. Berbagai pratanda seperti lampor atau yang dikenal dengan banjir lahar dingin, yaitu banjir besar yang membawa material vulkanik, oleh warga dimaknai bahwa Merapi dan Laut Kidul sedang mempunyai hajatan. Lampor sendiri adalah konsekuensi logis yang terjadi saat Merapi meletus pada musim hujan.

Kearifan lokal yang lain adalah bagaimana masyarakat bisa memperkirakan arah wedhus gembel dengan memperhatikan letak titik api diam di puncak Merapi yang pasti akan terlihat jelas sekitar pukul 3 dini hari. Kata orang tua, titik api diam tersebut dikenal sebagai banaspati, yaitu sejenis makhluk gaib raksasa yang perutnya besar dan menyala.

Kehadiran banaspati mengisyaratkan terjadinya sebuah bencana. Lokasi titik api diam ditambah frekuensi dan besaran suara gemuruh dapat memberi tanda ke mana dan seberapa jauh aliran wedhus gembel menerjang dan meluluhlantakkan kehidupan yang dilaluinya.

Semua fenomena tersebut menunjukkan bahwa manusia perlu akrab dan mengembangkan kemampuan untuk membaca berbagai tanda yang diberikan oleh Merapi.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Penanggulangan Bencana: Kearifan Lokal dalam Menghadapi Bencana

Contoh penerapan kearifan lokal dalam menghadapi bencana adalah apa yang terjadi pada warga di Pulau Simeuleu. Mereka tinggal kurang dari 150 m dari lepas pantai barat Aceh dan terhindar dari bencana tsunami yang melanda Provinsi Aceh pada tahun 2004.

Gugusan Kepulauan Simeulue yang terdiri atas beberapa pulau besar dan kecil (lebih kurang 40 buah) berada tepat di atas persimpangan tiga palung laut terbesar dunia, yaitu pada pertemuan lempeng Asia dengan lempeng Australia dan lempeng Samudera Hindia.

Akibat kondisi geografisnya, maka saat terjadi gempabumi dan tsunami pada 26 Des 2004 yang ber-episentrum di ujung barat Pulau Simeulue, pulau ini mengalami kerusakan sarana prasarana sangat parah.

Namun, jumlah korban jiwa akibat peristiwa tersebut relatif minim. Hal ini disebabkan masyarakat setempat sudah mengenal secara turun-temurun peristiwa yang disebut sebagai smong, sebab peristiwa tsunami juga pernah terjadi di sana pada tahun 1907.

Bila gempa besar terjadi dan diikuti oleh surutnya air latu dari bibir pantai secara drastis dan mendadak, otomatis tanpa disuruh seluruh penduduk, tua muda, besar kecil, laki-laki, dan perempuan beranjak meninggalkan lokasi menuju tempat-tempat ketinggian atau perbukitan guna menghindari terjangan smong/tsunami tersebut.

Kearifan lokal seperti yang ditunjukkan oleh warga Simeulue harus terus dikembangkan menjadi suatu budaya baru bagi masyarakat di wilayah rawan bencana. Masyarakat hendaknya bisa bersahabat dengan alamnya, mengembangkan budaya dan kearifan lokal yang ada untuk menghindar dari ancaman bencana. Kelak, bila bencana itu datang, maka tidak sampai merenggut kehidupan dan penghidupan masyarakatnya. Manakala bencana itu datang, masyarakat akan menyambutnya dengan kearifan dan kesigapan untuk menyapa sang alam dengan penuh keyakinan bahwa bencana itu memang harus dihadapi dan disikapi dengan benar.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Penanggulangan Bencana: Empat Filosofi

Dalam menyikapi sebuah bencana, ada empat filosofi yang dapat kita anut, yaitu: pertama menjauhkan masyarakat dari ancaman bencana (hazard), kedua menjauhkan bencana dari masyarakat, ketiga hidup harmoni dan bersahabat dengan ancaman, dan keempat menumbuhkembangkan kearifan lokal.

Filosofi kedua adalah menjauhkan bencana dari masyarakat melalui upaya pengurangan risiko bencana, yaitu dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh, pembangunan tanggul untuk sungai yang berpotensi banjir, pembangunan sabo dam di lereng gunung berapi untuk mengurangi dampak lahar maupun lahar dingin, penanaman pohon di sekitar daerah rawan longsor, dsb.

Filosofi ketiga adalah harmoni bersama bahaya atau ancaman (living harmony with risk). Dalam kondisi ini, masyarakat harus mengenal karakter dan sifat-sifat alam. Mengenali sifat-sifat alam ini dimulai dengan memahami proses dinamikanya, waktu kejadiannya dan dampak yang ditimbulkan. Manusia diberi akan dan pikiran untuk bisa mengatasi dan mengadaptasi kondisi alam di sekitarnya

Filosofi keempat lebih mendorong kearifan lokal dan berbagai upaya kombinasi dua filosofi sebelumnya, yaitu bagaimana masyarakat bisa hidup selaras dan bersahabat dengan ancaman bencana. Dengan demikian, apabila bencana itu terjadi, masyarakat sudah tahu dan paham benar apa yang mesti dilakukan untuk menghindari risiko bencana tersebut. Pengalaman di berbagai negara seperti Jepang (yang hampir setiap saat terjadi gempabumi) dan Vietnam (yang setiap tahun terkena banjir besar dari Sungai Mekong), misalnya, masyarakat di wilayah bencana dapat menerima dan mengatasi risiko bencana tanpa menimbulkan korban yang besar.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Penanggulangan Bencana: Kepemimpinan Adalah Kunci Penanggulangan Bencana

Ketangguhan menurut UNISDR (2005) didefinisikan sebagai kapasitas suatu sistem, komunitas atau masyarakat dalam menghadapi ancaman. Kapasitas ini ditentukan oleh tingkat kemampuan sistem sosial dalam mengorganisasi dirinya melalui pembelajaran dari bencana di masa lalu untuk meningkatkan kemampuan dalam pengurangan risiko akibat bencana.

Risiko bencana berkaitan dengan dua faktor penting. Pertama, berkaitan dengan tingkat kerentanan (vulnerability) suatu komunitas atau daerah dalam mengantisipasi, mempersiapkan diri, memberikan tanggapan, dan memulihkan diri. Faktor kedua berkaitan dengan ancaman (hazards) risiko bencana yang terjadi di daerah tersebut.

Faktor lainnya adalah kepemimpinan (leadership). Kepemimpinan dapat diterjemahkan sebagai kepemimpinan formal dan struktural, serta kepemimpinan informal dan kultural.

Pemimpin dalam situasi bencana dituntut untuk berani dalam mengambil keputusan untuk bertindak yang cepat dan tepat. Selain itu, perlu juga kearifan dalam memutuskan kebijakan yang diambil, serta peka dalam menyikapi situasi yang terjadi tanpa harus terbebani prosedural yang mengikat. Diperlukan kecepatan dalam mengoordinasikan berbagai instansi, lembaga, dan organisasi kemasyarakatn yang terlibat untuk mendapatkan sasaran penindakan yang tepat. Dibutuhkan keberanian dalam pengambilan keputusan bertindak yang cepat.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Kiat: 10 Hal Perlu Dipertimbangkan Saat Membuat Power Point

Cool-Underwater-Powerpoint-Templates

Saat melihat-lihat video di internet, saya menemukan sebuah paparan yang sangat menarik mengenai berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan saat Anda menyusun power point.

Video tersebut, kendati disampaikan secara guyon (komedi), namun sangat mengena dan mudah diingat. Saya menyarankan Anda melihat “Life After Death by Powerpoint 2010 by Don McMillan”. Adapun tulisan berikut ini adalah semacam ringkasan dari apa yang beliau sampaikan. Semoga dapat membantu Anda dalam menyusun sebuah paparan menggunakan Power Point yang bukan saja menarik namun juga informatif.

1. Slide yang bersambung
Tak jarang, satu gagasan tidak cukup dituangkan dalam sebuah slide. Oleh karena itu, terkadang Anda membaginya ke dalam beberapa slide. Hal tersebut tidak dianjurkan untuk dilakukan karena dapat memengaruhi fokus para pendengar (audience) yang menyimak paparan Anda.

Seyogyanya, satu buah slide telah dapat menampung satu ide tertentu dan tugas Anda adalah mengembangkan ide tersebut melalui penjelasan yang Anda sampaikan.

2. Ukuran huruf
Seringkali ukuran huruf menjadi penentu kejelasan informasi yang disampaikan dalam power point. Pada saat memilih ukuran huruf, sebenarnya program power point sudah membuat standar (default) ukuran huruf yang pas baik itu untuk judul maupun tubuh (body) tulisan.

Anda tinggal mengikuti ukuran huruf standard tersebut dan power point yang dihasilkan akan mudah dibaca. Sayangnya, kebutuhan untuk menampilkan berbagai informasi terkadang menuntut kita untuk mengecilkan atau membesarkan ukuran huruf.

Pertimbangan menyangkut ukuran adalah keseimbangan. Huruf Anda hendaknya tak menutupi gambar atau objek lain dan menjadi yang paling menonjol. Begitu pun huruf Anda jangan sampai terlampau kecil sehingga menyulitkan hadirin yang ingin membaca power point Anda.

3. Animasi pada teks
Sungguh menyenangkan saat kita bermain-main dengan berbagai animasi yang ada di power point. Salah satunya adalah saat kita bermain dengan animasi untuk teks. Kita bisa mengatur agar tulisan yang muncul memiliki animasi seperti berputar, kedip, membesar kemudian mengecil, mengecil kemudian membesar, dan seterusnya.

Sayangnya, animasi pada tulisan cenderung mengaburkan maksud yang ingin disampaikan. Siapa orang yang suka membaca tulisan berkedip-kedip atau berputar-putar?

Pada saat memilih animasi untuk tulisan haruslah sangat berhati-hati atau kalau ingin aman hindari menggunakan animasi pada teks.

4. Pertimbangkan jenis huruf
Rupanya terdapat korelasi antara jenis huruf dengan ‘kekuatan’ pesan yang ingin disampaikan melalui power point. Misalnya saja jenis ‘Comic Sans’ cenderung dianggap untuk anak kecil, bermain-main, dan tak serius.

Sebagai contoh lain, ‘Times New Roman’ atau ‘Calibri’ ini menunjukkan pribadi yang enggan berimprovisasi dan menerima standar (default) yang diberikan oleh progam power point.

Selain itu, masih banyak contoh lain dan hendaknya sangat diperhatikan pada saat Anda menyusun paparan. Sedikit saran, hendaknya perusahaan atau Anda memiliki standar huruf sendiri yang menjadi bagian profil dari perusahaan. Keuntungan dari metode ini adalah, membangun citra diri atau perusahaan, sehingga orang lain akan mudah mengenali perusahaan/diri Anda melalui jenis huruf yang digunakan.

5. Huruf besar, huruf kecil, gabungan keduanya
Ada satu masa ketika penggunaan huruf besar digabung dengan huruf kecil, bahkan dengan angka menjadi satu tren tersendiri. Saat Anda menyusun paparan, hendaknya sangat memperhatikan kaidah penggunaan huruf besar atau kecil. Tujuannya adalah untuk kejelasan pesan yang ingin disampaikan.

Pernahkah Anda melihat paparan atau tulisan yang terdiri dari huruf besar semua? Di kalangan pengguna internet, hal tersebut diartikan sebagai bentuk ‘kemarahan’ atau seolah-oleh sedang ‘berteriak’. Bila Anda keliru menggunakannya, maka hadirin bisa salah mengira, yaitu bahwa Anda sedang marah-marah alih-alih sedang memberikan paparan.

Oh iya, apabila Anda bukan seorang penculik atau agen rahasia, hendaknya jangan menggunakan gabungan huruf besar, huruf kecil, dan juga angka. Sebab, Anda ingin memberikan penjelasan dan pesan yang jelas kepada pendengar serta sedang tidak mengirimkan kode rahasia.

6. Hati-hati saat menggunakan bullet point
Kelebihan terbesar dari power point adalah ‘kekuatan poin’. Anda menguraikan gagasan, teori, pendapat, produk, dalam bentuk poin per poin. Biasanya untuk menggambarkan hal tersebut dalam paparan adalah menggunakan ‘bullet’ atau peluru.

Barangkali filosofi penggunaan ‘bullet’ adalah agar pesan yang disampaikan seperti peluru menghujam di benak para pendengar. Tentu saja konsekuensinya haruslah tepat jumlah dan sasaran dari bullet tersebut.

Oleh sebab itu, maka penggunaan ‘bullet’ hendaknya harus diperhatikan baik itu keperluannya, maupun jumlah peluru yang digunakan.

7. Animasi secara efektif tidak mengaburkan pesan
Menyampaikan ide yang rumit menggunakan perangkat yang ada dalam power point sungguh tidak mudah. Seringkali, kita harus menggabungkan berbagai bentuk seperti lingkaran, persegi, segi tiga, elips, tanda panah, garis-garis, garis putus-putus dan lain-lain dan kawan-kawan.

Tujuan paparan Anda adalah untuk membuat kejelasan pada para pendengar dan bukan menambah keruwetan, bukan? Oleh karena itu penggunaan berbagai bentuk dan lebih lagi animasi untuk mewakili ide Anda harus diperhatikan betul-betul agar tidak malah mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Semakin sederhana diagram, struktur, atau gambar yang disajikan, maka pendengar akan semakin mudah memahami.

8. Penggunaan singkatan
Paparan menggunakan power poin berbeda dengan sebuah buku cerita atau novel. Ruang yang Anda miliki sangat terbatas, belum lagi waktu Anda menyampaikan pun biasanya juga sangat dibatasi.

Jalan keluar yang biasanya ditempuh adalah dengan menggunakan berbagai singkatan. Sayangnya, tak semua pendengar atau pemirsa Anda memiliki pemahaman yang sama. Oleh sebab itu, penggunaan singkatan yang terlalu sering dan digunakan untuk berbagai hal yang tidak lazim justru akan cenderung membuat pusing pendengar.

9. Penggunaan grafik, chart, bar chart, pie chart, tabel, diagram alir/struktur organisasi, dll
Saat Anda menyampaikan data tak jarang digunakanlah berbagai grafik atau diagram. Kunci yang harus diperhatikan saat memanfaatkan grafik atau diagram adalah kejelasan informasi yang ingin disampaikan.

Bisa saja grafik atau struktur atau diagram alir yang Anda sajikan begitu sederhana dan tidak rumit namun justru itu yang mudah diterima oleh pendengar. Di lain saat, karena ingin terlihat canggih dan memesona, maka ditampilkan grafik dengan berbagai warna, dilengkapi dengan huruf, bahkan mungkin animasi tapi ujungnya adalah pemirsa yang kebingungan. Tentu hal semacam itu harus dihindari.

10. Resume/riwayat hidup Anda sendiri
Sebagai pelengkap, tentu saja Anda ingin menampilkan profil diri sendiri di awal atau akhir dari paparan. Pada bagian ini, hendaknya diperhatikan lagi-lagi menyangkut kejelasan informasi dari pada sekadar memukau para pemirsa.

Alangkah lebih bijak untuk menyampaikan hal-hal yang relevan dan berkaitan dengan para pendengar daripada memamerkan berbagai capaian selama karier Anda. “Apakah semua gelar dan sertifikat serta pelatihan yang pernah Anda ikuti harus ditampilkan?” Pertanyaan tersebut semoga bisa menjadi rambu-rambu dalam menyampaikan riwayat hidup Anda di paparan menggunakan power poin.

Penutup
Seseorang yang akan menggunakan power poin hendaknya mempertimbangkan berbagai hal di atas. Selain itu, sebagai bonus, maka berikut ini rangkuman dari uraian yang sudah disampaikan di atas.

Pemirsa atau pendengar Anda berhak mendapatkan kejelasan informasi, ide, gagasan, teori daripada dipamerkan kecanggihan program, aneka rupa animasi, atau berbagai jenis dan ukuran huruf.

Power poin adalah memanfaatkan kekuatan poin. Hendaknya begitulah ide, informasi, gagasan, teori Anda disampaikan, yaitu dalam bentuk poin-poin apa yang paling penting ingin disampaikan. Sementara itu, untuk berbagai penjelasan yang mengikutinya adalah tugas Anda untuk menjelaskannya kepada pemirsa. Tak semua hal harus ditulis di power poin apalagi dibaca kata demi kata. Apabila Anda melakukan hal ini, maka sama saja menghina kemampuan para pemirsa dalam membaca.

Power poin adalah alat bantu bagi Anda untuk menyampaikan gagasan, ide, informasi, atau teori secara runtut. Selain itu juga memperkuatnya dengan berbagai gambar, suara, video, untuk mendukung Anda saat memberikan penjelasan kepada pendengar. Ingatlah bahwa aktor utamanya adalah Anda yang harus memukau penggemar dan bukan power poin buatan Anda yang lebih memesona.

Sumber gambar dari sini

Sumber tulisan dari sini

Kiat: Menjadi Blogger

Mena Trott adalah seorang blogger. Berikut ini paparannya mengenai blog, selamat menyimak.

Blogger bagi Anda barangkali adalah profesi yang berarti banyak hal. Blogger bisa sekelompok orang yang berhasil membobol satu merk kunci dan menyebarluaskan caranya. Mereka juga bisa beberapa orang yang sibuk mencari celah sebuah perangkat lunak, mengulas, dan membaginya dengan banyak orang.

Bisa jadi Anda mengira blog adalah satu tempat yang mengerikan. Sesuatu yang tidak bersahabat. Namun, blog juga telah mengubah cara kita membaca berita dan mengkonsumsi apa yang ditawarkan oleh media. Banyak contoh blog yang sangat menarik dan telah menjaring jutaan pembaca.

Beberapa blog juga menjadi sangat penting. Sebagai contoh adalah saat terjadinya badai, ketika itu MSNBC memposting tentang badai di blog mereka dan mengupdatenya secara rutin. Hal tersebut sangat mungkin dilakukan, karena perangkat (tools) di dalam blog sangatlah mudah. Ada pula teman saya yang memiliki blog, mendapatkan uang dengan memasang iklan dan bisa menghidupi keluarganya di Oregon. Itulah yang dilakukannya sekarang dan dengan blog memungkinkan untuk melakukan itu semua.

Contoh lain adalah Interplast, sebuah blog tentang orang dan dokter yang pergi ke negara berkembang dan menawarkan operasi plastik kepada mereka yang membutuhkan. Mereka kemudian akan mendokumentasikan ceritanya dan itu sangatlah berarti.

Saya tak sehebat itu. Seperti sudah saya bilang, “I am a blogger”. Saya mendefinisikan diri sebagai orang yang ahli pada sesuatu. Saya ahli pada diri sendiri, jadi saya tulis tentang diri sendiri.

Cerita blog saya dimulai di tahun 2001 saat saya berumur 23 tahun. Saat itu saya tak suka dengan pekerjaan, yaitu seorang designer. Sebuah profesi yang tak cocok dengan latar belakang pendidikan saya, yaitu Bahasa Inggris. Namun, saya rindu menulis, maka sebuah blog berhasil dibuat dan satu buah cerita pendek menjadi isinya yang pertama. Cerita tersebut adalah kisah mengenai keikutsertaan saya dalam kemah di YMCA pada usia 11 tahun. Di akhir dari kemah tersebut, saya buat teman-teman sangat membeci saya. Saat itu saya bersembunyi, tak ada yang bisa menemukan, bahkan ketika tim pencari dibentuk. Saya mendengar beberapa orang berharap saya bunuh diri dengan melompat dari Puncak Bible.

Saya memulai dengan kesadaran bahwa menjadi blogger tak menjamin seseorang terkenal ke seluruh dunia, namun saya bisa dikenal oleh orang-orang di internet. Kemudian saya pun membuat satu tujuan, yaitu memenangkan satu penghargaan karena sepanjang hidup, tak sekalipun penghargaan saya terima. Akhirnya saya menerima South by Southwest Weblog Award dan puluhan ribu orang membaca kisah blog saya setiap hari.

Kemudian saya menulis mengenai banjo yang ingin dibeli seharga 300 dolar, sebuah harga yang fantastis. Sementara saya tak memainkan alat musik, bahkan tak tahu sama sekali mengenai musik. Namun, saya suka musik dan juga suka banjo. Saya pun berkata kepada suami, “Ben, dapatkah aku membeli banjo?” Dia pun menjawab dengan singkat, “Tidak.” Lebih lanjut suami saya bilang, “Kamu tidak perlu membeli banjo, jangan seperti ayahmu yang mengoleksi instrumen musik.”

Saya pun menuliskan betapa marah kepada suami karena tak diizinkan membeli banjo. Dia seperti tiran yang melarang membeli banjo. Bagi mereka yang mengetahui saya, ini adalah lelucon. Itulah cara saya membuat candaan kepada seseorang. Mereka tahu, orang yang saya tulis tersebut sangat manis dan baik dan telah mengizinkan fotonya saya tampilkan di blog.

Namun, saya mendapat email dari orang yang berkata, “Oh Tuhan, suamimu benar-benar brengsek! Berapa banyak uang yang dihabiskannya untuk membeli beer selama setahun? Kamu bisa mengambil uang itu dan membeli banjo. Kenapa kamu tak membuat rekening terpisah?” Saya juga mendapat email yang bilang “Tinggalkan dia!”

Saya kemudian bertanya-tanya, siapa orang-orang ini dan kenapa mereka membaca tulisan saya? Kemudian saya pun sadar, saya tak ingin menulis untuk orang-orang ini, saya tak mau mereka menjadi pengunjung blog, sehingga perlahan-lahan saya pun menutup blog. Saya tak ingin menulis lagi.

Tak lama kemudian, saya menulis sesuatu yang lebih pribadi, yaitu tentang Einstein, binatang peliharaan yang meninggal dua tahun lalu. Barangkali Anda membaca blog mengenai politik, gosip, media atau apa pun itu. Namun, hal-hal yang personal, yang pribadi, mulai menarik minat saya. Inilah saya. Saya tertarik dengan blog yang berisi cerita pribadi seseorang.

Saya membaca blog mengenai seorang bayi bernama Odin yang memiliki ayah seorang blogger. Satu hari dia menulis di blognya tentang istrinya yang melahirkan bayi pada usia kandungan 25 minggu. Tentu saja dia tak pernah mengharapkan hal ini terjadi, dari hari-hari yang normal menjadi hari yang menyedihkan.

Odin adalah bayi dengan berat satu pound dan mulai didokumentasikan tiap hari. Fotonya diunggah secara berkala, hari pertama, hari kedua, dan seterusnya. Di hari ke sembilan dia mengalami apnea, pada hari ke 39 dia menderita pneumonia, bayinya begitu kecil, mungkin gambarnya sedikit mengganggu, namun juga menyentuh perasaan.

Anda membaca hal itu tepat ketika peristiwa tersebut terjadi. Kemudian di hari ke 55 semua orang membaca bahwa dia mengalami kegagalan pernafasan dan jantung. Semua melambat dan Anda tak tahu apa yang bisa diharapkan. Namun, kemudian semua membaik dan di hari ke 96 dia pulang ke rumah.

Apa yang diceritakan dalam blog tersebut bukanlah hal yang dapat Anda temukan di koran atau majalah. Ini sesuatu yang dirasakan oleh pemilik blog dan orang-orang menyukainya. Dua puluh delapan komentar bukan berarti dua puluh delapan pembaca, namun dua puluh delapan orang yang peduli. Saat ini, dia adalah seorang balita yang sehat, dan jika Anda membaca blog ayahnya di snowdeal.org, dia masih mengambil gambarnya, karena si kecil itu adalah putranya.

Blog kemudian adalah sebuah evolusi. Blog merekam siapa diri Anda secara pribadi. Saat Anda klik di google nama Anda sendiri, bisa ditemukan kisah hidup Anda, entah itu gembira atau sedih. Selanjutnya Anda juga menemukan blog orang lain, rekaman hidupnya, yang menulis tiap hari, bisa jadi bukan topik yang sama, namun hal-hal yang menarik perhatian mereka.

Saya menemukan bahwa rekaman hidup yang ada pada blog adalah sangat penting. Sangat menakjubkan ketika saya kembali ke satu masa dan kemudian saya tahu apa yang terjadi saat itu dengan tepat.

Kisah selanjutnya adalah tentang seorang wanita, Emma, yang juga seorang blogger. Dia adalah salah seorang yang pertama kali memanfaatkan layanan blog kami. Dia menulis tentang hidupnya yang harus berjuang melawan kanker. Dia terus menulis dan menulis. Saat itu masih sangat sedikit blogger yang menggunakan layanan kami, sehingga kami pun mulai membaca kisah Emma.

Satu hari dia menghilang, kemudian saudarinya datang dan berkata bahwa Emma telah meninggal. Mendengar berita tersebut semua orang di perusahaan yang membaca kisahnya menjadi sangat emosional. Saat itu menjadi hari yang berat bagi perusahaan kami. Saat itu saya baru menyadari, betapa hebat dampak blog bagi hubungan kami dan mendekatkan jarak antar manusia di dunia ini.

Satu hal yang begitu memengaruhi saya adalah saat saudarinya menulis di blog, bahwa menulis blog bagi Emma di beberapa bulan terakhir hidupnya adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya. Dapat bercerita pada orang lain, dapat berbagi apa yang terjadi pada dirinya, dapat menulis dan menerima komentar. Sangat menakjubkan bagaimana kami dapat membantu terlaksananya hal itu dan bahwa blogging menjadi satu aktivitas yang menyenangkan baginya. Sungguh menyenangkan ide bahwa blog tidaklah menakutkan, kita tak harus selalu menyerang blog, kita bisa menjadi pribadi yang terbuka, ingin menolong dan bicara pada orang lain.

Harapan saya bagi Anda adalah, pikirkan tentang blog, tentang blogger, siapa sih mereka itu, tentang pendapat Anda untuk mereka dan kemudian lakukanlah, jadilah blogger, karena ini benar-benar akan mengubah hidup kita.

Tulisan ini bersumber dari paparan Mena Trott berikut ini: