Kepemimpinan: Simon Sinek, Kekuatan ‘Kenapa’

Kenapa Apple sangat maju dalam berinovasi?

Kenapa Martin Luther King begitu berkarisma saat memimpin warga kulit hitam?

Kenapa dua bersaudara Wrights menemukan cara untuk terbang?

Ada satu pola yang diterapkan para pemimpin besar dunia, mereka berkomunikasi dengan media yang sama, namun sekaligus juga sangat berbeda. Simon Sinek membuat kodifikasi bagaimana para pemimpin dunia tersebut berkomunikasi. Model atau kodifikasi itu disebut sebagai Lingkaran Emas (golden circle).

Golden_Circle

Di dunia ini, banyak orang tahu ‘apa’ yang mesti dilakukan (what), sebagian di antara mereka tahu ‘bagaimana’ (how) mereka melakukan hal tersebut. Namun, sangat sedikit orang atau organisasi yang mengetahui ‘kenapa’ (why) mereka melakukan hal itu.

Dengan mengetahui ‘kenapa’, tak selalu berujung pada keuntungan. Namun, lebih dari itu, kita bisa memahami hasil/produk dari yang kita lakukan. Selain itu, kita juga dapat mengerti tujuan, penyebab, dan kepercayaan.

Satu contoh kecil yang berkaitan dengan ‘kenapa’ adalah: tahukah kenapa organisasi Anda berdiri?

Bila Anda melihat di golden circle, secara umum, orang kebanyakan akan berpikir dari luar ke dalam, dari ‘apa’ kemudian ‘kenapa’, dari yang jawabannya paling jelas ke yang paling rumit. Di lain pihak, seorang pemimpin besar berpikir dari dalam keluar, dari ‘kenapa’ ke ‘apa’, dari yang paling rumit ke paling mudah.

Kata Sinek, “Orang tidak membeli produk (apa) yang Anda hasilkan, mereka membeli karena ingin tahu, kenapa Anda menghasilkan produk tersebut.” Tujuan akhirnya adalah tidak untuk berbisnis dengan orang yang mengetahui apa yang Anda miliki. Tujuannya adalah untuk membangun bisnis dengan orang yang percaya dengan apa yang Anda percayai.

‘People don’t buy what you do, they buy why you do it?’ The goal is not doing business with anybody who knew what you have, the goal is to do business with people who believe what you believe.

Golden circle tersebut selaras dengan suatu teori dan praktik dalam pelajaran biologi. Obyek kajiannya adalah otak manusia. Jika Anda membelah otak dan melihatnya dari atas ke bawah, otak kita terdiri dari tiga komponen. Pertama adalah bagian terluar, yaitu Neocortex. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan level ‘apa’. Neocortex bertanggung jawab mengenai semua hal yang bersifat rasional, analytical, dan bahasa.

Dua komponen lain di bagian tengah disebut sebagai bagian Limbic. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan ‘bagaimana’. Bagian ini bertanggung jawab mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan, seperti kepercayaan dan kesetiaan. Selain itu, bagian ini juga berhubungan dengan perilaku manusia dan proses pengambilan keputusan. Namun sayangnya, bagian otak ini tidak mengetahui mengenai bahasa.

Kekurangan bagian Limbic menyangkut bahasa menjadi suatu hambatan saat kita ingin berbicara dari luar ke dalam. Kita memang mengetahui apa topik pembicaraan, namun tak pernah menjadi kebiasaan (habit). Sebaliknya, bila kita bicara dari dalam keluar, maka kita langsung bersinggungan dengan bagian otak yang berperan dalam perilaku dan kemudian merasionalisasinya di bagian terluar. Akhirnya, dari sinilah keberanian untuk mengambil keputusan akan muncul.

Barangkali Anda sering berada dalam kondisi saat kita sudah menyodorkan berbagai fakta dan angka, namun kita merasa ada sesuatu yang salah. Perhatikan pada kalimat ‘Ada sesuatu yang salah’. Kenapa kalimat itu harus muncul? Jawabannya adalah, karena bagian otak yang mengambil keputusan tidak bisa mengontrol bahasa atau tidak bisa menerjemahkannya ke dalam kata-kata. Akhirnya kita biasanya akan berkata, “Saya kurang tahu apa yang menyebabkannya, namun rasanya masih ada yang salah.”

Anda harus tahu kenapa sesuatu dilakukan, satu produk diciptakan, alasan di balik segala tindakan dan keputusan diambil. Jika Anda sampai tak tahu alasan di balik suatu tindakan, maka orang lain pun akan meresponnya dengan kebingungan. Pada kondisi tersebut, kecil kemungkinan bagi Anda untuk bisa mengajak orang lain untuk percaya, membeli, atau setia dengan Anda. Selanjutnya, sangat sulit mengajak orang lain menjadi bagian untuk turut serta dalam apa saja kegiatan yang sedang Anda lakukan.

Simon Sinek mengingatkan sekali lagi, bahwa tujuan Anda bukanlah untuk menjual kepada orang lain apa yang Anda miliki. Tujuannya adalah menjual kepada orang-orang yang tepat yang percaya kepada apa yang Anda percayai.

Tujuan itu lebih lanjut bukanlah hanya sekadar merekrut seseorang yang membutuhkan pekerjaan. Namun, mengajak mereka yang percaya dengan apa yang Anda percayai. Menurut Simon, jika Anda merekrut seseorang hanya karena dia bisa melakukan tugasnya, mereka akan bekerja hanya untuk uang Anda. Di sisi lain, bila Anda merekrut seseorang yang mempercayai apa yang Anda percaya, mereka akan bekerja untuk Anda sekuat tenaga, menyerahkan darah, keringat dan air matanya.

Secara lengkap, paparan Simon Sinek dapat disaksikan pada tautan berikut ini:

One Response

  1. jadi teringat sama janji-janji kampanye. sepertinya kerangka berpikirnya seperti ini juga ya, biar bisa menarik simpatisan yang loyal. meskipun entah realisasinya gimana nanti… *halah malah mbahas pulitik*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: