Kepemimpinan: Kekuatan Kepercayaan

Thousands-expected-at-King-memorial-unveiling-BTA3U25-x-large

Pada musim panas tahun 1963, 200 ribu orang berkumpul di depan sebuah mall di Washington untuk mendengar pidato Dr. King. Saat itu tak ada undangan dan juga tak ada website untuk mengetahui kapan tanggal berkumpul. Jadi bagaimana mereka bisa melakukannya?

Dr. King tidak berkeliling Amerika untuk menyampaikan apa yang perlu dilakukan. Dia senantiasa bicara apa yang membuatnya percaya. “Saya percaya…. saya percaya….” dia terus berkata begitu kepada orang-orang. Kemudian para pioneer yang percaya kepada Dr. King menularkan kepercayaan tersebut kepada orang lain, yaitu mayoritas awal. Begitu seterusnya hingga akhirnya, dua ratus ribu orang berkumpul di hari dan waktu yang tepat.

Berapa orang di antara mereka yang alasan kehadirannya adalah untuk Dr. King?

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah: tak ada!

Mereka hadir untuk diri sendiri. Mereka percaya apa yang tepat untuk Amerika, sehingga bukanlah menjadi persoalan jarak yang jauh atau menempuh bis selama delapan jam. Saat itu bukan lagi soal kulit hitam dan putih karena di antara mereka yang hadir seperempatnya adalah orang kulit putih.

Orang-orang datang bukan untuk Dr. King, namun mereka mempercayai hal yang sama dengan beliau. Mereka hadir terutama untuk dirinya sendiri. Bahkan, ketika saat itu Dr. King bicara mengenai mimpi-mimpinya dan belum mewujud menjadi rencana-rencananya.

Tipe Pemimpin

Ada dua tipe pemimpin di dunia ini, yakni seorang pemimpin dan mereka yang memimpin. Pemimpin memegang kekuasaan atau otoritas. Namun, mereka yang memimpin dapat menginspirasi kita. Entah itu seseorang atau organisasi, kita mengikuti mereka yang memimpin bukan karena kita harus, namun karena kita ingin melakukannya. Kita mengikuti mereka yang memimpin bukan untuk mereka, namun untuk diri kita sendiri.

Mereka yang memimpin adalah yang memulai dengan bertanya ‘kenapa?’ Mereka memiliki kemampuan untuk menginspirasi orang di sekitarnya atau mencari inspirasi dari sekitar.

Sumber gambar dari sini

Sumber tulisan dari sini:

Kepemimpinan: Law of Diffusion of Inovation

Hukum Diffusion of Inovation membagi populasi dunia ke dalam beberapa kategori seperti yang terlihat pada grafik berikut ini:

Diffusion_Inovation_Diagrams

Masing-masing dari kita berada di kelompok yang berbeda-beda tiap saat. Namun, Law of Diffusion of Inovation mengajarkan kepada kita jika Anda ingin pasar yang sukses atau menerima ide Anda, maka hal itu baru bisa tercapai bila Anda sudah bisa melewati titik antara pengadopsi awal dan mayoritas awal. Titik tersebut ada di antara 15 dan 18 persen (tipping point) untuk penetrasi pasar di awal waktu.

Mayoritas awal tak akan mencoba sesuatu sampai ada seseorang yang berani mencobanya. Orang tersebut adalah para penemu dan pengadopsi awal, mereka berani mengambil keputusan untuk mencoba. Mereka digerakkan oleh kepercayaan yang tinggi pada dunia dan bukan semata-mata pada produk yang tersedia. Mereka ini adalah yang bersedia antri selama enam jam hanya untuk menunggu iPhone saat pertama kali diluncurkan. Sementara orang lain, orang kebanyakan akan menunggu satu minggu lagi hingga barang yang sama tersedia di toko dan mereka tinggal mengambilnya dari rak.

Para pioneer melakukan hal itu untuk dirinya sendiri karena mereka percaya pada dunia dan ingin semua orang melihat mereka menjadi yang pertama.

Sumber tulisan dari sini:

Kepemimpinan: Kegagalan Samuel Pierpont Langley

Tahukah Anda, siapa itu Samuel Pierpont Langley?

Langley

Di awal abad ke 20, saat itu semua orang mencoba untuk terbang. Pak Langley, kala itu memiliki apa yang tampak seperti resep kesuksesan.

Saat itu, Langley menerima dana 50.000 dolar dari Departemen Pertahanan untuk menciptakan ‘mesin terbang’. Dia memiliki tempat kerja di Harvard dan juga bekerja di Smithsonian. Selain itu, dia juga terhubung dengan orang-orang terpintar di zaman itu. Dia merekrut orang terpintar yang dapat dibayarnya. Pada saat itu, kondisi pasar juga sangat bagus. Media seperti New York Times mengikuti kemana pun Langley pergi. Sementara itu, hampir semua orang ingin berhubungan dan terlibat dengan Langley.

Namun, kenapa kita tak pernah sekali pun mendengar mengenai Samuel Pierpont Langley?

Beberapa mil di Dayton, Ohio, dua bersaudara Wright, yakni Orvill dan Wilbur Wright memiliki apa yang tak pernah kita pikirkan tentang resep sebuah kesuksesan. Mereka tak memiliki uang, maka dengan uang hasil dari toko sepedanya, mereka membayar mimpi. Dalam tim yang dibentuk oleh Wright bersaudara, tak ada satupun yang mengenyam pendidikan di universitas, termasuk juga mereka berdua. Keduanya juga tak pernah diikuti oleh media, termasuk New York Times.

Perbedaan di antara Samuel dan Wright bersaudara adalah adanya alasan yang kuat, serta adanya tujuan dan kepercayaan pada Wright. Mereka percaya, kalau dapat menemukan ‘mesin terbang’ ini, maka akan menjadi awal bagi perubahan dunia.

Di sisi lain, Langley memiliki motif yang berbeda. Dia ingin kaya dan terkenal. Dia mengejar hasil berupa kekayaan dan kepopuleran.

Sementara itu, orang yang percaya dengan duo Wrights bekerja bersama dengan menyumbang darah, keringat, dan air mata. Akhirnya, pada 17 Des 1903, dua kakak beradik Wright terbang dan bahkan tak ada orang yang mengetahuinya. Kita baru mendengar capaian Wright tersebut setelah lewat beberapa hari.

Bukti lain bahwa motivasi Langley keliru adalah dia berhenti tepat pada hari Wright bersaudara terbang. Padahal sebenarnya dia bisa berkata, “Itu penemuan yang sangat hebat, kawan, dan aku akan meningkatkan teknologinya.” Sayangnya, dia tak melakukan itu. Dia tak menjadi yang pertama, tak juga berubah jadi kaya apalagi terkenal, maka dia berhenti.

“People don’t buy what you do; they buy why you do it.”

Jika apa yang dibicarakan adalah hal yang Anda percaya, maka mereka yang memiliki kepercayaan yang sama akan terpanggil.

Sumber gambar dari sini

Sumber tulisan dari sini:

Penanggulangan Bencana: Setelah 20 Tahun Gempa Kobe

Oleh: Margareta Wahlström

Penghargaan-PBB-ke-SBY
Margareta Wahlström dan Kepala BNPB

 

Pada tahun yang didominasi pembicaraan mengenai perubahan iklim, maka peringatan 20 tahun gempa Kobe menjadi momen untuk mengenang kembali meningkatnya ancaman terhadap hidup dan perekonomian yang disebabkan oleh aktivitas seismik di lokasi rawan bencana di seantero dunia.

Gempa yang dikombinasikan dengan kualitas bangunan yang buruk akan membunuh lebih banyak orang daripada bencana alam. Tercatat 10 gempa dengan kematian terbanyak di seantero dunia sejak 1900, empat di antaranya terjadi sejak 2004.

Gempabumi Haiti pada tahun 2010 menghancurkan ibu kota, Port-au-Prince dan tsunami di Samudera Hindia melanda 14 negara. Gempa pada tahun 2008 di Szechuan, China dan pada tahun 2005 di Muzaffarabad, Pakistan masing-masing menyebabkan 80 ribu orang meninggal dunia.

Gempa-gempa tersebut menimbulkan korban jiwa hingga 500.000 orang dan lebih banyak lagi orang yang terluka serta jutaan lainnya terganggu kehidupan dan penghidupannya.

Kejadian kelima, gempa dan tsunami di Timur Jepang pada tahun 2011 membawa kesadaran baru, yaitu risiko bencana di abad nuklir. Selain itu, kejadian tersebut juga menjadi pelajaran berharga bagi kita, bagaimana bencana alam memberikan dampak yang tak terduga, namun dengan konsekuensi jangka panjang terhadap perilaku warga dan kebijakan terhadap penggunaan dan produksi energi.

Lima kejadian bencana besar dalam waktu yang sangat singkat memberikan pesan penting kepada kita mengenai risiko dan keterpaparan pada abad ke dua puluh satu. Hal tersebut terutama pada kota-kota yang menjadi rumah bagi sebagian besar populasi dunia yang akan meningkat dari 7 milliar hingga 10.1 milliar pada tahun 2100.

Bencana dengan dampak terburuk belum terjadi. Saat seseorang melihat ledakan penduduk akibat urbanisasi di berbagai zona seismik aktif dunia, maka dia akan menyadari bahwa penggunaan lahan dan implementasi yang buruk dari building code akan menyebabkan meningkatnya potensi bencana.

Di dunia, 3 milliar penduduk tinggal di daerah yang rawan gempabumi, sementara itu tiap tahun rata-rata terjadi 150 gempa dengan kekuatan di atas 6.0 skala Richter.

Mengambil contoh satu kejadian, yaitu rubuhnya pabrik tekstil Rana Plaza pada tahun 2013 di Dhaka, Bangladesh, dengan korban lebih dari 1000 jiwa adalah penanda bagaimana kondisi tersebut akan berlipat ganda saat kota yang padat dihantam oleh gempa besar.

Melindungi Sekolah

Profil usia warga di negara yang rawan gempabumi menunjukkan bahwa anak sekolah adalah di antara mereka yang rentan terhadap bencana tersebut. Selain murid-murid sekolah, para lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang susah bergerak, terbaring di tempat tidur, serta yang tinggal di rumah.

Gempabumi di Pakistan menghancurkan lebih dari 7.500 sekolah dan diperkirakan 17.500 siswa meninggal di antara puing. Sementara itu, di Port-au-Prince lebih dari 90 persen sekolah roboh.

Di tahun 2003, 84 siswa di Turki meninggal di asramanya setelah gempabumi. Hal tersebut mendorong upaya perbaikan, atau penghancuran dan rekonstruksi semua sekolah yang rentan sampai dengan tahun 2017.

Komitmen ini membuat Turki sebagai pionir inisiatif dunia untuk gerakan ‘Safe Schools’ yang akan diluncurkan dalam Konferensi Dunia untuk Pengurangan Risiko Bencana yang diselenggarakan oleh PBB di Sendai, Jepang.

Konferensi dunia terakhir diselenggarakan di Kobe, Prefektur Hyogo, pada tahun 2005 pada peringatan 10 tahun gempa Kobe yang menyebabkan 6.437 jiwa meninggal dunia. Kejadian tersebut menyebabkan penurunan peringkat Kobe sebagai kota pelabuhan tersibuk dunia nomor enam menjadi peringkat 47, setelah 15 tahun pasca bencana.

Hyogo kemudian selalu berasosiasi dengan penyebarluasan manajemen risiko bencana. Pada konferensi dunia di tahun 2005 tersebut diluncurkan kerangkakerja aksi Hyogo (Hyogo Framework for Action), sebuah cetak biru yang lengkap mengenai bagaimana mengurangi kerugian akibat bencana. Kobe yang secara sukarela membagi pengalamannya telah menginspirasi banyak orang dan menyebarluaskan budaya pengurangan risiko bencana ke seluruh dunia.

Perusahaan Segera Bertindak

Gempa berbeda dengan jenis bencana alam lainnya. Gempa menguak kerentanan ekonomi dalam menghadapi bencana. Jenis bencana lain yang hampir menyamai adalah banjir besar yang melanda tiap tahun di suatu daerah. Keduanya menunjukkan usaha sia-sia dari implementasi building codes tanpa didukung oleh keterlibatan sektor swaste.

Banyak hal yang sudah dilakukan untuk mengoreksi hal tersebut di beberapa tahun terakhir, mengingat sektor swasta bertanggung jawab pada 70 sampai dengan 80 persen dari keseluruhan investasi ekonomi.

Satu contoh adalah angka sejumlah 6 juta dollar AS yang diinvestasikan oleh perusahaan listrik Orion dalam pekerjaan penguatan seismik sebelum terjadinya gempa di Christchurch pada 2010 dan 2011. Perusahaan dari Selandia Baru tersebut bisa menghemat kerugian langsung hingga lebih dari 65 juta dollar AS.

Seperti kita ketahui, jutaan mata saat ini beralih fokusnya dari Kobe yang dihantam gempa 20 tahun lalu ke kota lain di Jepang yang mengalami gempa, tsunami, dan kebocoran reaktor nuklir.

Sendai kini sedang dalam proses pemulihan, namun tentu banyak di antara peserta konferensi pengurangan risiko bencana membayangkan bagaimana hari-hari di Kobe empat tahun yang lalu manakala bumi berguncang, dan air laut datang dengan kecepatan tinggi, serta peringatan yang diberikan dalam waktu singkat.

Semoga banyak pelajaran positif yang bisa diadopsi dari Sendai, berbagai agenda untuk mengurangi risiko bencana di abad ke 21, bagaimana menghilangkan dampak gempa dan bencana lain yang merusak, termasuk di dalamnya penggunaan lahan dan building codes.

Konferensi Dunia untuk Pengurangan Risiko Bencana ketiga yang diselenggarakan oleh PBB pada 14-18 Maret di Sendai, Jepang, adalah ajang bagi pemerintah dunia untuk mengadopsi rencana aksi baru untuk mengurangi bencana.

Margareta Wahlström adalah kepala U.N. Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR)

Sumber tulisan dari sini

Kepemimpinan: Simon Sinek, Kekuatan ‘Kenapa’

Kenapa Apple sangat maju dalam berinovasi?

Kenapa Martin Luther King begitu berkarisma saat memimpin warga kulit hitam?

Kenapa dua bersaudara Wrights menemukan cara untuk terbang?

Ada satu pola yang diterapkan para pemimpin besar dunia, mereka berkomunikasi dengan media yang sama, namun sekaligus juga sangat berbeda. Simon Sinek membuat kodifikasi bagaimana para pemimpin dunia tersebut berkomunikasi. Model atau kodifikasi itu disebut sebagai Lingkaran Emas (golden circle).

Golden_Circle

Di dunia ini, banyak orang tahu ‘apa’ yang mesti dilakukan (what), sebagian di antara mereka tahu ‘bagaimana’ (how) mereka melakukan hal tersebut. Namun, sangat sedikit orang atau organisasi yang mengetahui ‘kenapa’ (why) mereka melakukan hal itu.

Dengan mengetahui ‘kenapa’, tak selalu berujung pada keuntungan. Namun, lebih dari itu, kita bisa memahami hasil/produk dari yang kita lakukan. Selain itu, kita juga dapat mengerti tujuan, penyebab, dan kepercayaan.

Satu contoh kecil yang berkaitan dengan ‘kenapa’ adalah: tahukah kenapa organisasi Anda berdiri?

Bila Anda melihat di golden circle, secara umum, orang kebanyakan akan berpikir dari luar ke dalam, dari ‘apa’ kemudian ‘kenapa’, dari yang jawabannya paling jelas ke yang paling rumit. Di lain pihak, seorang pemimpin besar berpikir dari dalam keluar, dari ‘kenapa’ ke ‘apa’, dari yang paling rumit ke paling mudah.

Kata Sinek, “Orang tidak membeli produk (apa) yang Anda hasilkan, mereka membeli karena ingin tahu, kenapa Anda menghasilkan produk tersebut.” Tujuan akhirnya adalah tidak untuk berbisnis dengan orang yang mengetahui apa yang Anda miliki. Tujuannya adalah untuk membangun bisnis dengan orang yang percaya dengan apa yang Anda percayai.

‘People don’t buy what you do, they buy why you do it?’ The goal is not doing business with anybody who knew what you have, the goal is to do business with people who believe what you believe.

Golden circle tersebut selaras dengan suatu teori dan praktik dalam pelajaran biologi. Obyek kajiannya adalah otak manusia. Jika Anda membelah otak dan melihatnya dari atas ke bawah, otak kita terdiri dari tiga komponen. Pertama adalah bagian terluar, yaitu Neocortex. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan level ‘apa’. Neocortex bertanggung jawab mengenai semua hal yang bersifat rasional, analytical, dan bahasa.

Dua komponen lain di bagian tengah disebut sebagai bagian Limbic. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan ‘bagaimana’. Bagian ini bertanggung jawab mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan, seperti kepercayaan dan kesetiaan. Selain itu, bagian ini juga berhubungan dengan perilaku manusia dan proses pengambilan keputusan. Namun sayangnya, bagian otak ini tidak mengetahui mengenai bahasa.

Kekurangan bagian Limbic menyangkut bahasa menjadi suatu hambatan saat kita ingin berbicara dari luar ke dalam. Kita memang mengetahui apa topik pembicaraan, namun tak pernah menjadi kebiasaan (habit). Sebaliknya, bila kita bicara dari dalam keluar, maka kita langsung bersinggungan dengan bagian otak yang berperan dalam perilaku dan kemudian merasionalisasinya di bagian terluar. Akhirnya, dari sinilah keberanian untuk mengambil keputusan akan muncul.

Barangkali Anda sering berada dalam kondisi saat kita sudah menyodorkan berbagai fakta dan angka, namun kita merasa ada sesuatu yang salah. Perhatikan pada kalimat ‘Ada sesuatu yang salah’. Kenapa kalimat itu harus muncul? Jawabannya adalah, karena bagian otak yang mengambil keputusan tidak bisa mengontrol bahasa atau tidak bisa menerjemahkannya ke dalam kata-kata. Akhirnya kita biasanya akan berkata, “Saya kurang tahu apa yang menyebabkannya, namun rasanya masih ada yang salah.”

Anda harus tahu kenapa sesuatu dilakukan, satu produk diciptakan, alasan di balik segala tindakan dan keputusan diambil. Jika Anda sampai tak tahu alasan di balik suatu tindakan, maka orang lain pun akan meresponnya dengan kebingungan. Pada kondisi tersebut, kecil kemungkinan bagi Anda untuk bisa mengajak orang lain untuk percaya, membeli, atau setia dengan Anda. Selanjutnya, sangat sulit mengajak orang lain menjadi bagian untuk turut serta dalam apa saja kegiatan yang sedang Anda lakukan.

Simon Sinek mengingatkan sekali lagi, bahwa tujuan Anda bukanlah untuk menjual kepada orang lain apa yang Anda miliki. Tujuannya adalah menjual kepada orang-orang yang tepat yang percaya kepada apa yang Anda percayai.

Tujuan itu lebih lanjut bukanlah hanya sekadar merekrut seseorang yang membutuhkan pekerjaan. Namun, mengajak mereka yang percaya dengan apa yang Anda percayai. Menurut Simon, jika Anda merekrut seseorang hanya karena dia bisa melakukan tugasnya, mereka akan bekerja hanya untuk uang Anda. Di sisi lain, bila Anda merekrut seseorang yang mempercayai apa yang Anda percaya, mereka akan bekerja untuk Anda sekuat tenaga, menyerahkan darah, keringat dan air matanya.

Secara lengkap, paparan Simon Sinek dapat disaksikan pada tautan berikut ini:

Penanggulangan Bencana: Hidup Harmoni dengan Alam

Berbagai kejadian bencana mengajarkan kepada kita satu filosofi baru, yaitu bahwa manusia adalah bagian dari alam.

Dengan demikian, hidup harmoni dan selaras dengan alam adalah sebuah conditio sine a qua non – sebuah keharusan yang tak bisa ditawar.

Kehidupan harmoni dan merasa menjadi bagian dari alam akan menyadarkan manusia bahwa bencana maupun nikmat dari alam adalah dua sisi dari satu keping mata uang yang harus disikapi sama.

Daftar Pustaka:

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Disaster Management: History of BNPB

The history of The National Agency for Disaster Management (BNPB) of Republic Indonesia was related to the development of disaster management activity since Indonesia’s Independence Movement in 1945 to the mega-earthquake that struck Indian Ocean in the twentieth century.

Indonesia as the largest archipelago country in the world has 17.508 islands. This country has many kinds of natural resources, but it is also part of a ring of fire zone. As consequences, there are 129 active volcanoes that spread all over the nation and threatening the inhabitants.

Beside the threat from the volcanoes, Indonesia, is located in the cross section between three active tectonic plates: Indo-Australia, Eurasia, and Pasific. Therefore, this country suffers from geological disaster such as: earthquake and tsunami.

Geological disaster is not the only type of disaster that hit Indonesia. Due to its location in the tropical zone, the country also has to be faced with hydro-meteorological disaster such as: strong wind, flood, landslide, and drought.

Both geological and hydro-meteorological disaster is caused by the power of nature. In addition, Indonesia also has non natural or man made disaster. For instance, this type of disaster are forest fire, social conflict, and technological failure.

In order to face those kinds of disaster, Indonesia government established disaster management system. An institution that manage with the disaster is inevitable. The process of development the disaster institution in Indonesia is shown in the diagram below.

The Timeline

HistoryOfBNPB Source: www.bnpb.go.id