Kiat: Meraih Kemerdekaan Pribadi

Freedom

Apa arti kemerdekaan bagi Anda?

Adam Baker memiliki cerita dan tahap demi tahap untuk menggapai kemerdekaannya sendiri.

Malam itu, dia baru saja pulang dari rumah sakit paska kelahiran putri pertamanya. Sebagai seseorang yang masih muda dan serba kekurangan, maka kehadiran sebuah mulut lagi menjadi beban tersendiri.

Kesulitan tersebut Adam diskusikan dengan istrinya. Dari diskusi tersebut, barulah mereka menyadari arti penting untuk tahu terlebih dahulu apa yang benar-benar diinginkan. Selama ini, mereka tak pernah memikirkan hal tersebut. Mereka terutama tak paham mengenai bagaimana sejatinya kehidupan keuangan mereka.

Menurut Baker, hal itu terjadi karena sistem yang sudah terbentuk selama ini. Sistem itu mengajarkan, ketika sudah punya apartemen, maka saat ada tambahan anggota keluarga baru tentu akan perlu rumah yang lebih besar. Rumah baru tersebut tentu tak akan diisi dengan barang-barang lama dari rumah sebelumnya. Barang-barang baru segera dipesan untuk melengkapi apartemen yang baru.

Kembali kepada pertanyaan, ‘apa arti kemerdekaan bagi Anda’, sebisa mungkin haruslah dijawab sendiri. Bila Anda tak bisa menjawabnya, maka ada pihak lain yang akan membantu menjawab, yaitu toko, pengiklan, pemerintah dan lainnya. Pada ujungnya Anda kembali harus mengeluarkan uang untuk membayar semuanya itu.

Siklus yang terjadi pada seseorang kurang lebih adalah sebagai berikut: Anda bersekolah, kemudian memperoleh ijazah. Bermodalkan ijazah tersebut, kemudian Anda bekerja, berlanjut dengan membeli sebuah apartement. Tak lama, putra atau putri pertama Anda pun lahir, sehingga dirasa perlu untuk membeli aparteman lebih besar. Pada saat itu, Anda juga sudah sibuk berpikir barang apa yang diperlukan untuk mengisi apartemen baru. Begitulah siklus itu terus berputar.

Setelah diskusi selesai, Adam dan istri pun ingin lepas dari semua barang dan belenggu kenyamanan lain yang ada di aprtemennya. Mereka ingin bebas dari jebakan keinginan yang terus memerangkap. Keduanya kemudian memutuskan untuk menjadi backpacker ke Australia lengkap dengan bayinya yang baru lahir.

Sungguh tidak mudah untuk mengambil keputusan itu, ada ketakutan yang hinggap saat harus pergi dengan uang saku terbatas dan hanya dilengkapi dengan dua tas punggung. Akhirnya dengan setengah nekad mereka pun bisa sampai di Sydney.

Mereka memulai petualangannya mengunjungi tempat-tempat yang berbeda di Australia. Sambil terus berjalan, dia menyadari bahwa mereka harus hidup untuk memenuhi keinginan mereka sendiri.

Adam menyarankan agar kita memeriksa gudang dan mulai menjual menjual barang-barang yang tak lagi dipakai. Sebab, kebiasaan kita adalah menumpuk barang dan menjadikannya seperti sarang, terus menumpuk barang-barang yang sejatinya tidak kita perlukan.

Barang-barang itu bisa saja dititipkan di tempat penyimpanan dengan membayar sewa. Namun, setelah disimpan di tempat lain, kita pun akan mulai membeli barang lain untuk kembali mengisi rumah kita.

Adam bilang, semakin banyak barang bukan berarti semakin aman. Kita cenderung mengidentifikasi diri kita dengan barang-barang yang bersifat fisik. Padahal barang tersebut tidak selalu menjamin keamanan finansial kita meskipun barangkali menambah kenyamanan.

Bila Anda sudah bisa terbebas dari barang-barang tersebut, maka Anda mulai bisa terbebas dari kerakusan dan hobi membeli barang dan mengisi rumah.

Tak lupa, Adam mengingatkan, apa sebenarnya yang harus kita kumpulkan? Lebih banyak barang yang kemudian tidak kita pakai atau mengejar pengetahuan?

Dalam paparannya, dia juga menjelaskan mengenai lingkaran setan yang membelenggu kita. Lingkaran tersebut terdiri dari kerja, membeli barang, dan berhutang. Kita bekerja lebih keras untuk membayar hutang, sekaligus membeli barang, dan berhutang lagi.

Pada akhirnya selalu berujung pada bekerja lebih keras. Hal ini bukan menjadi masalah yang besar atau justru mengasyikkan bila kita menyukai bidang pekerjaan yang kita pilih. Sayangnya, tak jarang pekerjaan kita sekarang adalah profesi yang kita benci. Bila kita berada dalam kondisi seperti ini, maka tak jarang kita akan menderita stres.

Saat stres itu datang, maka kita mempunyai dua jalan keluar, yaitu: makan dan belanja. Kita membenarkan tindakan itu karena merasa kita sudah bekerja sangat keras dan layak untuk makan atau belanja. Namun, kadang kita tak punya uang sehingga harus kembali berhutang. Akhirnya menjadi bola salju yang mengulang dan memperhebat lingkaran setan.

Adam mengutip salah satu perkataan dari Nigel Marsh, “There are thousands and thousands of people out there living lives of quiet, screaming desperation who work long, hard hours, at jobst they hate, to enable them to buy things they don’t need to impress people they don’t like.” Sungguh benar pernyataan tersebut, karena memang banyak di antara kita yang bekerja sangat keras dengan jam kerja panjang pada bidang pekerjaan yang dibenci, hanya agar bisa membeli barang-barang yang tidak diperlukan agar memberi kesan pada orang yang tidak kita sukai.

Nah, jika Anda sudah memutuskan untuk mengumpulkan pengalaman dan bukannya barang-barang yang tidak kita perlukan, maka Anda bisa menggapai kemerdekaan yang Anda impikan. Berikut ini beberapa langkah yang Adam sarankan:
Menjual barang-barang yang tak terpakai
Bayar hutang Anda
Lakukan hal yang Anda sukai

Tiga langkah tersebut adalah jalan menuju keamanan finansial dan sekaligus kemerdekaan Anda. Setelah Anda bisa melakukan hal tersebut, mungkin Anda bisa menjawab pertanyaan, “Apa arti kemerdekaan bagi Anda?”

Guna melihat penampilan Adam Baker saat memberikan penjelasannya, Anda bisa mengakses video berikut ini:

Sumber gambar dari sini

Penanggulangan Bencana: Peran GIS untuk Menanggulangi Bencana

Susan Cutter, profesor geografi dari Universitas South Carolina, mendiskusikan bagaimana GIS digunakan dalam penanggulangan bencana, serta perannya untuk menjawab pertanyaan ‘kenapa’ dan ‘di mana’ ketika kita bekerja dengan peta.

Susan L. Cutter adalah profesor bidang geografi terkemuka di Universitas South Carolina. Di sana, beliau menjadi direktur dari Institut Bahaya dan Kerentanan. Ketertarikan beliau pertama-tama adalah pada ilmu kerentanan/ketangguhan menghadap bencana. Beliau mengukur faktor apa saja yang menyebabkan suatu lingkungan tempat hidup manusia menjadi begitu rentan karena satu kejadian ekstrem, serta bagaimana jalan keluar, monitoring, dan penilaian dilakukan.

Cutter adalah ‘guru’ pemetaan bahaya menggunakan GIS yang mendukung fungsi manajemen penanggulangan bencana. Saya memberikan kepadanya beberapa pertanyaan mengenai pemetaan dan memintanya menjawab melalui tulisan. Dalam tanggapannya, Cutter kembali mengingatkan pentingnya bertanya ‘kenapa dan di mana’ ketika kita melihat peta.

Bagaimana evolusi pemetaan bencana di AS serta bagaimana bila dibandingkan dengan proses serupa di negara lain?

Pemetaan bencana memiliki sejarah panjang di AS. Bila kita melihat ke belakang pada tahun 1960, Gilbert F. White ‘memaksa’ kita bukan hanya sekadar melihat lokasi bahaya mungkin terjadi, namun juga di mana manusia tinggal dan bekerja serta hubungannya dengan risiko bencana. Hal ini kemudian disebut sebagai ‘penguasaan manusia pada area bahaya’. Pemetaan bencana menunjukkan kepada kita bahwa kita tak pernah bisa benar-benar mengontrol alam.

Proses pemetaan sendiri telah berubah, bukan hanya berfokus pada kejadian bencana (sebagai model proses fisik), namun lebih menitikberatkan pada interaksi antara manusia dan lingkungannya. Amerika, karena keanekaragaman ancaman bencananya, maka menjadi pelopor dalam pemetaan bahaya serta dalam menggabungkan berbagai peralatan/aplikasi, seperti GIS, penginderaan jauh, GPS ke dalam siklus manajemen darurat.

Selain pemetaan bahaya banjir, daerah terdampak gempa, dan sejenisnya, menurut Anda apa peran lain GIS untuk manajer penanggulangan bencana?

GIS bukan hanya proses pemetaan itu sendiri. Sistem ini juga mencakup analisis, manajemen data, dan alat untuk visualisasi. GIS dapat digunakan untuk peningkatan kewaspadaan, menentukan lokasi suatu aset sebelum bencana terjadi, mengetahui hubungan antara keterpaparan bencana dan kerentanan sosial yang menjadi bagian dari rencana mitigasi bencana. Pemodelan dan simulasi menggunakan GIS memungkinkan pengambil keputusan untuk melakukan geladi tanggap darurat dan rehabilitasi pada masa damai tidak terjadi bencana. Selain itu, para pemimpin juga dapat mengetahui berbagai kemungkinan situasi yang harus dihadapi apabila bencana benar-benar terjadi. Lebih khusus, jika Anda memiliki data yang dapat dipetakan, dianalisis, dan digunakan, maka keputusan yang diambil pun dapat lebih baik.

Hal terbaik yang dapat dilakukan oleh manajer penanggulangan bencana adalah mengidentifikasi lembaga terkait di tingkat lokal yang dapat membantu pemetaan dan analisis kebutuhan. Lembaga tersebut terdiri dari komunitas pendidikan lokal atau universitas. Hal ini dapat diawali dengan penilaian bahaya oleh pihak lokal atau negara bagian yang melibatkan kualifikasi dan kepakaran para ahli bencana. Pilihan lainnya adalah melalui dinas perencanaan lokal dan dewan pertimbangan pemerintah. Fokus kegiatan adalah pada proses perencanaan, sementara pekerjaan mereka sendiri berkaitan dengan topik manajemen bencana seperti mitigasi bencana dan penilaian risiko.

Terdapat bermacam-macam data sosial, mulai dari informasi usia, pendapatan, etnisitas yang bersumber dari sensus AS atau data yang didapatkan dari sosial media. Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui lokasi anggota masyarakat yang rentan dan berkebutuhan khusus. Dengan mengetahui kerentanan sosial tersebut, maka dapat membantu mengidentifikasi populasi mana yang membutuhkan bantuan, sehingga bisa disiapkan respon dan upaya pemulihan pasca bencana.

Data yang diperoleh dari sosial media saat ini digunakan untuk menyebarluaskan pesan dan informasi dari institusi penanggulangan bencana melalui pendekatan top-down. Beberapa metode digunakan dalam penelitian untuk memanfaatkan ‘warga sebagai sensor’ guna menciptakan gambaran yang lebih realistis mengenai situasi kewaspadaan sehingga bisa membantu para pengambil keputusan.

Pemilihan software yang digunakan berdasarkan sumberdaya dan keahlian yang tersedia. Jika Anda tak punya seseorang dengan keahlian GIS, maka tak perlu software ESRI yang sangat lengkap. Dalam kondisi tersebut, menggunakan data yang tersedia secara online adalah pilihan paling tepat. Di lain pihak, web-mapping, pengumpulan dan analisis data secara mobile, serta pemodelan desktop menggunakan software ESRI saat ini telah terjangkau dan sangat bermanfaat untuk pengguna dengan keahlian rata-rata seperti saya.

Anda dan universitas mendukung Divisi Manajemen Bencana South Carolina (SCEMD). Menurut Anda, apakah orang lain dapat melakukannya juga? Jika memang bisa, apa mekanisme yang paling tepat untuk negara bagian dan universitas saat akan menjalin kemitraan?

Kemitraan yang kami bentuk dengan SCEMD sangatlah menguntungkan, para siswa dapat mempraktikkan ilmu yang diperolehnya dalam dunia kerja; SCEMD mendapatkan dukungan secara keilmuan dalam program-program mereka serta di beberapa persoalan dapat menjadi model untuk negara bagian lainnya. Ini adalah win-win solution. Tiap negara bagian akan mempunyai mekanisme yang berbeda-beda dalam menjalin kemitraan. Tidak semua manajer penanggulangan bencana menerima, demikian juga tak semua universitas akan menyambutnya. Kuncinya adalah mengidentifikasi mereka yang bersedia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan mengawalinya dari sana. Jika ada kemauan untuk bekerja bersama demi kemajuan negara bagian, maka mekanisme dapat disusun untuk menjalin kerja sama.

Teknologi mobile terkini seperti smartphone atau tablet dengan didukung oleh internet berkecepatan tinggi telah merevolusi metode kita untuk mengakses data. Menurut Anda, apa dampak hal ini pada pemetaan menggunakan komputer, bagaimana kita harus beradaptasi terutama untuk tujuan penanggulangan bencana?

Teknologi tersebut telah merevolusi penanggulangan bencana dan pemetaan. Sebagai contoh, saat ini kita mengumpulkan data lapangan untuk rehabilitasi menggunakan iPad dan secara langsung mengunggah datanya ke cloud atau server kami di universitas. Perkembangan teknologi ini bukan hanya memangkas waktu pemrosesan dan juga kekeliruan, namun juga dapat memetakan secara lebih cepat. Data kerusakan secara real time dapat dikumpulkan menggunakan metode ini untuk keperluan penanganan pasca bencana, artinya data detil penilaian kerusakan dapat dibuat dalam hitungan jam dan bukan hari. Apabila data-data tersebut masih ditambah data sensor warga yang diperoleh dari sosial media, maka data kerusakan dan upaya yang sumbernya dari masyarakat dapat menjadi kenyataan.

Social media terus meningkat penggunaannya, sehingga memengaruhi aktivitas sehari-hari warga. Secara umum, apa keuntungan dari proses pemetaan yang memanfaatan sosial media untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat?

Di dalam peralatan mobile terdapat geocoding. Saat ini kita dapat melihat apa yang sedang hangat dibicarakan di twitter serta lokasi pengiriman twitter tersebut. Peta yang memanfaatkan percakapan di twitter dan lokasinya dapat memberikan gambaran yang lebih baik mengenai kewaspadaan, dampak, dan status warga di lokasi terdampak. Hal ini lebih baik daripada menggunakan pendekatan top-down. Bidang ini menjadi sangat menarik dan belum banyak dilakukan penelitian.

Anda telah memberikan saran yang sangat bagus mengenai pemanfaatan GIS untuk meningkatkan upaya penanggulangan bencana. Apa kekeliruan yang biasanya dilakukan oleh seseorang saat menggunakan GIS untuk penanggulangan bencana serta apa langkah yang harus dilakukan untuk menghindari kesalahan tersebut?

Salah satu isu terbesar adalah menyangkut kartografi (seni dan pengetahuan untuk membuat peta). Seseorang yang hanya berlandaskan pengetahuan menggunakan perangkat lunak GIS, maka belum memahami dasar-dasar relasi spasial. Mereka masih perlu bertanya lebih lanjut mengenai ‘apa dan di mana’ saat melihat peta. Peta misalnya menunjukkan distribusi shelter dan kepemilikan, namun pertanyaan selanjutnya adalah ‘kenapa ada shelter yang ditinggali dan ada yang tidak?’ Selain itu, seorang personel GIS harus memahami penggunaan klasifikasi dan simbolisasi yang tepat untuk menghindari kesalahan interpretasi atau menampilkan data yang tidak relevan.

Apakah ada hal lain yang ingin Anda tambahkan?

Sebagai pribadi dan profesional, menurut saya sangat penting suatu penelitian digunakan untuk meningkatkan kondisi umat manusia, praktisi hendaknya menyediakan dasar-dasar empiris untuk mendukung kebijakan publik. Anda dapat mengetahui lebih jauh mengenai aktivitas kami dengan mengunjungi website HVRI di www.webra.cas.sc.edu/hvri.

Pewawancara adalah Eric Holdeman, kontributor untuk Emergency Managemeng, beliau adalah mantan Direktur Kantor Emergency Management King County, Washington.

Sumber tulisan dari sini

Kiat: Mengatasi Kerentanan

Seseorang menjadi rentan karena perasaan malu dan takut yang dimilikinya. Malu atau takut itu kemudian menjelma menjadi satu tindakan. Terkadang, tindakan itu merugikan bagi dirinya sendiri, namun tak jarang juga merugikan orang lain.

Sebagai manusia yang saling terhubung satu dengan yang lainnya, maka perasaan rentan akan memengaruhi hubungan itu. Sebagai contoh, orang yang ingin menyembunyikan kelemahan atau malu untuk tampil akan cenderung untuk menutup diri. Semakin dia menutup diri, barangkali semakin besar aib yang ingin ditutupinya.

Menyendiri adalah tindakan lain yang biasa dilakukan oleh seseorang yang rentan. Menurutnya, mengucilkan diri adalah tindakan yang benar untuk dilakukan. Padahal, alih-alih dia mendapat pertolongan, tingkat kerentanan yang dimilikinya justru bisa jadi semakin besar.

Seseorang dengan kerentanan yang tinggi merasa dia tak aman dan selalu terancam. Hal ini tergambar dalam tingkah lakunya sehari-hari, dalam berbagai aspek hidupnya.

Sebagai contoh adalah dalam bidang keagamaan. Aspek hidup yang paling pribadi ini berhubungan dengan keyakinan, perubahan, kepercayaan, dan tidak ada keniscayaan di dalamnya karena sangatlah dinamis. Namun, bila aspek religi ini berada pada seseorang yang rentan, maka menjadi suatu kemestian. “Aku benar dan kamu salah, tutup mulutmu!” Kata orang tersebut.

Orang yang rentan adalah seseorang yang mati rasa. Secara sengaja mereka mematikan perasaannya, barangkali agar mereka tak harus melihat kelemahan dirinya yang membuatnya malu, tak mesti mengakui kekurangannya, tak hendak menunjukkan ketakutannya. Mereka mencoba menutup itu semua dengan tindakan lain yang seolah-olah membuatnya tampak sempurna.

Mereka membangun sebuah dunia baru yang palsu, tampak sempurna, padahal sekadar topeng semata.

Kerentanan yang dihadapi seseorang tak mudah untuk diatasi. Namun, kita dapat memulainya dengan melihat kelemahan, kekurangan, dan kelemahan diri sendiri. Sedikit demi sedikit kita harus tampil, kita harus terlihat sebagai seorang pribadi yang utuh, pribadi yang tak selalu sempurna.

Selanjutnya, kita juga harus terhubung dengan orang lain. Contohnya adalah dengan mencintai sepenuh hati tanpa jaminan adanya perasaan serupa dari orang lain. Layaknya perasaan yang dimiliki oleh orang tua kepada anaknya, seseorang harus berlatih untuk melakukan hal itu dan dia bisa mengatasi kerentanannya.

Betapa pun rentannya kita, namun dari situlah peluang untuk maju, bertahan, dan berkreasi. Kita bisa mengatasi berbagai kelemahan, ketakukan, dan kekurangan dengan penerimaan diri dan rasa terima kasih. Jangan lupa, selalu bergembira dan berpikir positif.

Selengkapnya tentang kekuatan kerentanan, silakan lihat video berikut ini.

Perubahan Iklim: Dampak dan Diskriminasi pada Wanita

Di antara dampak perubahan iklim, mulai dari peningkatan muka air laut, tanah longsor, dan banjir; ada satu hal yang dilupakan yaitu terjadinya perbedaan perlakuan, terutama pada wanita.

Hal tersebut terutama terjadi di negara miskin, hidup wanita biasanya bergantung pada lingkungan alami di sekitarnya.

Wanita bertanggung jawab untuk menyediakan air dan kayu bakar untuk memasak dan penghangat ruangan, serta dalam bidang pertanian untuk menghasilkan pangan. Kekeringan, hujan yang tidak menentu dan penggundulan hutan membuat pekerjaan ini memakan banyak waktu dan sulit, sehingga mengganggu pekerjaan wanita dalam melakukan mata pencahariannya, belajar hal baru, mendapatkan pemasukan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Namun, peran wanita yang membuatnya rentan dalam menghadapi kondisi lingkungan, pada saat yang sama menjadikan mereka sebagai aktor kunci untuk menuju pembangunan yang berkelanjutan. Pengetahuan dan pengalaman mereka dapat membuat manajement sumber daya alam, adaptasi perubahan iklim, dan strategi mitigasi di semua level akan lebih sukses.

Contoh nyata terjadinya hal ini adalah apa yang terjadi di Ecuadorian Amazon, di mana asosiasi wanita Waorini mempromosikan pengolahan cokelat secara organik sebagai upaya perlindungan suakamargasatwa serta sebagai jalan untuk mendukung pembangunan lokal yang berkelanjutan.

Dengan dukungan dari UNDP, asosiasi wanita tersebut dapat mengelola lahannya secara bersama-sama dan bekerja untuk mencapai angka ‘nol’ penggundulan hutan, perlindungan pada species suakamargasatwa yang rentan dan sertifikasi produksi cokelat organik.

Dalam prosesnya, wanita membangun ketangguhan komunitasnya dengan melakukan investasi keuntungan dari bisnis cokelat ke pendidikan lokal, kesehatan, dan infrastruktur, mereka mengarahkan perekonomian lokal dari yang semula pembersihan lahan serta pasar hewan liar ilegal.

Wanita pribumi di Mexico juga mengarahkan pada pembangunan yang berkelanjutan. Di sana, UNDP mendukung Koolel-Kab/Muuchkambal, sebuah sistem pertanian organik dan agroforestry. Sistem ini diprakarsai oleh para wanita suku Mayan yang bekerja untuk konservasi hutan, kampanye hak-hak penduduk pribumi, serta strategi pengurangan risiko bencana di level komunitas.

Asosiasi yang meliputi komunitas seluas 5000 hektar, mendorong kebijakan publik untuk menghentikan penggundulan hutan dan mendorong upaya alternatif sebagai modal bagi pertanian komersil. Selain itu, aktivitas ini juga membagi model pembiakan lebah kepada lebih dari dua puluh komunitas. Upaya ini menyediakan alternatif perekonomian dari pembalakan liar.

Pemberdayaan wanita menjadi langkah yang paling efektif untuk menghadapi perubahan iklim. Suksesnya aksi perubahan iklim bergantung pada peningkatan peran dan suara wanita, memastikan bahwa pengalaman dan pandangannya didengar pada meja-meja pengambil keputusan serta mendorong mereka untuk menjadi pemimpin dalam gerakan adaptasi iklim.

Dengan mempertimbangkan aspek gender dan pemberdayaan perempuan sebagai satu hal yang secara sistematis dimasukkan dalam merespon isu lingkungan dan perubahan iklim, maka para pemimpin dunia yang terlibat dalam Konferensi Perubahan Iklim di Peru diharapkan dapat mengurangi alih-alih memperhebat kesenjangan perlakuan kepada wanita serta memastikan dapat dilakukannya pembangunan yang berkelanjutan.

Sumber tulisan dari sini

Perubahan Iklim: Pembangunan dengan Green Growth

Benua Asia dikenal dengan keanekaragaman hayatinya dan juga berbagai jenis sumber daya alam. Hanya saja, di sisi lain, benua ini juga menghadapi peningkatan populasi, kelangkaan beberapa sumber daya alam, ketahanan energi dan pangan, serta berbagai bencana alam yang makin parah karena pengaruh terjadinya perubahan iklim.

Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, Asia perlu menerapkan sistem pertumbuhan ekonomi yang baru. Sebuah sistem yang dapat mempercepat pembangunan, mengurangi kemiskinan, serta menyediakan kualitas kehidupan yang tinggi.

Sistem ekonomi yang dimaksud adalah Green Growth (pertumbuhan hijau). Penerapan sistem ini diharapkan dapat mengurangi pelepasan karbon akibat polusi, pelibatan berbagai lapisan sosial dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Green Growth dapat dicapai dengan menerapkan kebijakan yang tepat, berbagi pengetahuan, dan juga pemberian insentif. Selain itu, penerapan sistem ini juga mempertimbangkan strategi pembangunan yang rendah polusi.

Segala hal tersebut hendaknya tertuang dalam Kerangka Kerja Pembangunan Nasional, yang terdiri dari analisis persoalan, perencanaan, dan pelaksanaan. Analisis yang dilakukan bukan hanya melakukan identifikasi masalah, namun juga dengan melihat kekuatan yang tersembunyi pun tantangan lain yang mungkin akan dihadapi. Dalam pelaksanaannya, kerangka kerja pembangunan nasional mencakup peningkatan efisiensi, pengurangan efek rumah kaca, pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan ketangguhan dalam menghadapi perubahan iklim.

Aplikasi Pembanguan Hijau

Sektor Kehutanan
Sektor ini harus dapat menjamin terlaksananya pembangunan yang berkelanjutan. Bidang kehutanan juga menjadi salah satu sarana untuk penyimpanan karbon akibat polusi. Pembangunan di bidang ini juga hendaknya menjaga keanekaragaman hayati, menjaga tata guna air, dan mengurangi erosi tanah yang terjadi.

Beberapa tindakan yang harus segera diambil adalah dengan melakukan perlindungan pada hutan, merestorasi hutan yang rusak, menghentikan pembalakan liar dan pembersihan hutan serta dengan mempromosikan manajemen yang berkelanjutan.

Sektor Pertanian
Sektor ini sangat penting mengingat tantangan pertambahan populasi di masa mendatang akan sangat memengaruhi. Dengan demikian, maka pembangunan hijau pada sektor ini harus mempertimbangkan ketahanan pangan untuk jangka panjang guna memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Selanjutnya, bidang ini juga diharapkan dapat membantu untuk mengurangi kemiskinan. Salah satu metode yang dapat ditempuh adalah dengan menanam varietas tanaman pertanian yang dapat tumbuh pada kondisi ekstrem seperti pada daerah yang mengalami kekeringan atau di lahan banjir.

Pembangunan sektor pertanian sebisa mungkin dilakukan dengan pertimbangan dapat menghindari potensi kehilangan (losses) hasil produk pertanian. Selain itu, segala upaya di bidang ini dilakukan untuk menambah pendapatan bagi petani. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan investasi dan promosi pertanian organik. Khusus untuk industri pertanian, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian ‘Green Labels’ atau Label Hijau. Lebih lanjut lagi, pengembangan sektor pertanian dapat juga dilakukan dengan memasukkannya sebagai bagian dari sektor pariwisata dengan program khusus seperti Ecotourism. Semua hal tersebut, nantinya akan menjadi ‘Green Jobs’.

Sektor pertanian dibangun dengan mempertimbangkan perlindungan pada ekosistem yang penting. Di antara ekosistem yang harus diperhatikan adalah pollinator (penyebaran benih oleh hewan) dan kejernihan air yang terjaga.

Sektor Energi
Seperti halnya sektor pertanian, energi memainkan peran yang sangat vital seiring dengan pertambahan polusi yang terjadi. Pembangunan dalam bidang ini hendaknya didukung dengan berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Pemanfaatan energi juga sebisa mungkin memperhatikan efisiensi. Sektor ini juga perlu dukungan pendanaan melalui investasi dan pengembangan teknologi melalui inovasi-inovasi.

Kendati demikian, sektor energi diharapkan dapat memberikan keuntungan dan ketahanan energi pada masa yang akan datang. Langkah yang dapat ditempuh di bidang energi adalah dengan melakukan penelitian mengenai sumber-sumber energi mikro dan peningkatan energi akses bagi semua lapisan masyarakat.

Sektor Transportasi
Fokus utama pembangunan hijau pada sektor transportasi adalah mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Selain itu, sektor ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi tingkat kemiskinan. Metode yang dapat ditempuh adalah dengan promosi penggunaan moda transportasi massal. Selain itu, hendaknya sektor transportasi juga mempertimbangkan efisiensi pemanfaatan bahan bakar minyak dan mendorong pemakaian kendaraan berbahan bakar listrik.

Pengambil kebijakan dapat mendorong terwujudnya standard polusi bagi kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Hal lain yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan kampanye transportasi hijau, misalnya dengan penggunaan sepeda atau jalan kaki. Pada akhirnya, pembangunan sektor ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja hijau.

Akhirnya, pembangunan hijau sebisa mungkin adalah pembangunan yang pintar atau ‘smart development’. Jenis pembangunan ini dilakukan dengan melibatkan semua pihak termasuk pemerintah, swasta/bisnis, kelompok masyarakat dan individu-individu. Setiap orang harus mengetahui apa peran masing-masing….

Dalam sistem pembangunan hijau ini, apa peran Anda?

Lebih jauh tentang ‘Green Growth’ dapat dilihat di: www.asialeds.org
Tulisan ini dapat dilihat penjelasannya dalam bentuk video di sini

Penanggulangan Bencana: Peta untuk Ketangguhan Hadapi Bencana

Komunitas manajemen risiko bencana (DRM) Bank Dunia menilai kerusakan yang terjadi pasca gempa yang melanda Haiti pada 12 Jan 2010. Selain itu, mereka juga mendukung pemerintah Haiti untuk merencanakan tindakan yang masif dan dalam jangka waktu lama untuk proses pemulihan setelah bencana yang demikian dahsyat. Peta yang akurat dan terbaru menjadi satu komponen yang sangat penting untuk mendukung perencanaan. Peta-peta tersebut bermacam-macam sumbernya, termasuk dari komunitas global relawan pemetaan. Mereka ini menggunakan koneksi internetnya untuk mengakses citra satelit dan kemudian berpartisipasi untuk memetakan Haiti dari rumah mereka masing-masing.

Pasca gempa bumi di Haiti, World Bank, Google, dan beberapa institusi lain membuat citra resolusi tinggi wilayah terdampak yang dapat diakses oleh publik. Selanjutnya, lebih dari 600 orang dari OpenStreetMap (OSM) mulai melakukan digitasi citra, menelusuri jalan, batas bangunan, dan infrastruktur lain. Bersama-sama mereka membuat peta pertama yang paling detil untuk wilayah Port au Prince. Relawan dari 29 negara membuat 1,2 juta perubahan pada peta, pekerjaan kartografi yang bisa bertahun-tahun tersebut bisa diselesaikan hanya dalam waktu dua puluh hari! Upaya ini membuka mata Bank Dunia dan institusi internasional lain mengenai ‘open data’ dan ‘community mapping’.

OSM sering disebut sebagai Wikipedia-nya peta, adalah basis data online dan sebuah komunitas global dengan lebih dari sejuta kontributor yang bekerja sama untuk membangun peta dunia yang gratis dan terbuka. Di OSM, setiap orang dapat berkontribusi dan memanfaatkan peta-peta tersebut menggunakan berbagai perangkat lunak untuk berbagai analisis.

World Bank telah menggunakan OSM platform untuk membangun data spasial mengenai lokasi dan berbagai karakteristik bangunan maupun lingkungan di sekurangnya 10 negara. Upaya ini diawali pada tahun 2010 setelah gempa bumi Haiti.

Open Cities

Saat ini, tantangan yang harus dihadapi wilayah Asia Selatan adalah bagaimana cara untuk membangun ketangguhan masyarakat apabila bencana alam terjadi. Tingkat migrasi dari desa ke kota mencapai angka 6-7% per tahun. Pada tahun-tahun yang akan datang, sekitar 500 juta orang diperkirakan akan berpindah ke kota. Proses ini akan menyebabkan permukiman yang tidak terencana dengan bangunan yang berbahaya dan meningkatkan risiko bencana. Seperti halnya usaha rekonstruksi di Haiti, peta akan membantu untuk menjelaskan lokasi dan karakteristik pusat-pusat populasi, infrastruktur penting, serta risiko bencana akan menjadi kunci utama untuk tahap perencanaan.

Dengan memahami hal tersebut, maka DRM Team meluncurkan program ‘Open Cities’ pada bulan November 2012. Kegiatan ini bekerja sama dengan Innovation Lab di Global Facility for Disaster Reduction and Recovery (GFDRR), South Asia Climate and Disaster Risk Management (DRM) Unit, dan Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT). Open cities juga bekerja bersama relawan dan menggunakan OSM platform dalam pemetaan berbasis komunitas untuk mendukung perencanaan kota serta menjadi sebuah investasi pada penanggulangan risiko bencana di kota-kota di Asia Selatan.

Open Cities diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai pendekatan apa yang paling tepat untuk mengetahui tantangan dan risiko bencana di kota-kota Asia Selatan. Tiga kota dipilih sebagai lokasi dilakukannya ‘Open Cities’, yaitu Batticaloa, Sri Lanka; Dhaka, Bangladesh, dan Kathmandu, Nepal. Kota-kota tersebut dipilih karena tingginya risiko bencana yang ada di sana, kehadiran World Bank dengan aktivitas utamanya adalah untuk melakukan perencanaan kota dan penanggulangan bencana yang akan menguntungkan pada akses data yang lebih baik.

Di Batticaloa, kegiatan dilakukan selama dua bulan dengan menggandeng institusi pemerintah dan telah dipetakan 30.000 bangunan, termasuk bangunan yang rentan. Di Kathmandu, mahasiswa menilai kerentanan struktur bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan. Di sana, pekerjaan ini menjadi penyedia data pertama yang gratis dan terbuka mengenai tiap sekolah di lembah Kathmandu. Di Dhaka, dipetakan rumah bagi 125.000 orang yang dilakukan oleh relawan dan konsultan teknologi.

Hasil dari upaya ini adalah peningkatan kesadaran risiko bencana di pemerintahan serta kesepakatan di antara kementerian untuk mengurangi risiko. Open cities telah dan akan melanjutkan kegiatan ini sebagai bentuk investasi World Bank di dua lokasi dari tiga yang menjadi pilot project. Hal ini termasuk US$ 212 juta investasi di Sri Lanka yang telah disetujui pada tahun 2014 dan US$ 125 juta untuk Proyek Ketangguhan Kota di Bangladesh yang sedang disiapkan.

Belajar dari Contoh Terdahulu

Manakala pengalaman OSM di Haiti menunjukkan bahwa relawan yang bekerja bersama dalam ‘open data’ dapat secara cepat membangun informasi yang akurat dan terpercaya, proyek lain dilakukan di Indonesia dengan nama Pemetaan Komunitas untuk Keterpaparan. Kegiatan ini dilakukan untuk membangun lokal data sebelum terjadinya bencana untuk kesiapsiagaan dan kegiatan penyusunan rencana kontijensi. Bekerja bersama pemerintah daerah, mahasiswa, serta kelompok sosial masyarakat, kerja pemetaan difokuskan pada infrastruktur penting yang berada di Jakarta, seperti sekolah, rumah sakit, fasilitas umum, dan tempat ibadah. Data yang dihasilkan kemudian dikombinasikan dengan informasi bencana dari berbagai sumber untuk membentuk skenario wilayah terdampak menggunakan perangkat lunak InaSAFE. Perangkat lunak ini adalah open source yang dikembangkan oleh AusAID, Pemerintah Indonesia, dan World Bank yang secara khusus dikembangkan untuk proyek ini, namun kini telah berkembang untuk berbagai kegiatan pengurangan risiko bencana yang lain.

Membangun Kemitraan

Sejak dimulainya program, Open Cities telah memadukan pengambil kebijakan baik itu dari pihak pemerintah, lembaga donor, swasta, universitas, dan kelompok masyarakat lainnya untuk membangun basis data informasi yang sangat bermanfaat dengan menggunakan teknik pemetaan partisipatif. Bersama-sama, mereka mengembangkan aplikasi dan peralatan untuk membantu pengambilan keputusan, sementara di saat yang sama juga membangun jaringan kepercayaan sebagai modal sosial yang sangat diperlukan agar upaya ini dapat berkelanjutan. Proses ini menjadi suatu evolusi dengan berbagai kemungkinan untuk percobaan, pembelajaran, kegagalan, serta adaptasi yang semuanya tergabung dalam perencanaan kegiatan.

Selesainya tahap pertama proyek Open Cities menjadi penanda pentingnya keberlanjutan pekerjaan ini untuk pengembangannya di berbagai kota di wilayah ini.

Tindak Lanjut

Tim Pengurangan Risiko Bencana Asia Selatan akan bekerja dengan berbagai rekan di wilayah lain untuk melanjutkan pekerjaan dengan menggandeng GFDRR Innovation Lab untuk mempertimbangkan apa yang selama ini sudah terbukti sebagai sebuah model guna meningkatkan kewaspadaan dan kesepakatan menghadapi risiko bencana.

Sumber tulisan dari sini

Penanggulangan Bencana: Mengenal Relawan

Relawan Penanggulangan Bencana yang selanjutnya akan disebut relawan adalah seseorang atau sekelompok orang, yang memiliki kemampuan dan kepedulian dalam penanggulangan bencana yang bekerja secara ikhlas untuk kegiatan penanggulangan bencana.

Relawan ini akan dilatih terus secara berkala agar mempunyai keahlian khusus dalam hal kebencanaan, seperti relawan logistik, evakuasi, medis dan lain-lainnya.

Kewajiban relawan penanggulangan bencana adalah:
1. Melakukan kegiatan PB.
2. Mentaati peraturan dan prosedur kebencanaan yang berlaku;
3. Menjunjung tinggi azas dan prinsip kerja relawan;
4. Mempunyai bekal pengetahuan dan keterampilan.
5. Meningkatkan kapasitas dan kemampuan.
6. Menyediakan waktu untuk melaksanakan tugas kemanusiaan.

Selain itu hak relawan adalah:
1. Mendapatkan pengakuan atas peran dan tugasnya sesuai keterampilan dan keahliannya.
2. Mendapat pengetahuan tentang PB.
3. Mengundurkan diri sebagai relawan.
4. Hak sesuai dengan aturan atau ketentuan lembaga yang menaunginya.

Untuk menjadi relawan mempunyai persyaratan sebagai berikut:
1. WNI usia min. 18 tahun.
2. Sehat jasmani dan rohani.
3. Berdedikasi tinggi dalam kerelawanan.
4. Mandiri dan koordinatif.
5. Memiliki pengetahuan, keahlian dan keterampilan tertentu dalam kebencanaan.
6. Tidak dalam masalah pidana dan subversi.
7. Punya lembaga induk pembina.
8. Telah mengikuti kegiatan pelatihan dasar PB.

Peran relawan adalah:
Prabencana:
Mendukung penyusunan kebijakan perencanaan, pengurangan risiko bencana, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan serta peningkatan kapasitas (capacity building) bagi masyarakat, melalui memberikan bimbingan dan pelatihan (coaching and training);

Tanggap Darurat
Setiap relawan yang hadir di lokasi bencana :
1. Dalam koordinasi/komando orgnisasi ICS.
2. Melaksanakan tugas sesuai dengan keahliannya,
3. Jelas fungsi dan perannya,
4. Mendukung kegiatan-kegiatan pada tanggap darurat seperti rescue dan evakuasi, kesehatan, logistik, dumlap dan pendataan.

Pasca Bencana
1. Perbaikan darurat;
2. Pembuatan huntara;
3. Pemberian kebutuhan dasar korban;
• pelayanan kebutuhan pangan
• pelayanan kebutuhan sandang
• pelayanan kebutuhan kesehatan
• pelayanan kebutuhan air bersih dan sanitasi
4. Pemulihan sosial psikologis

Pikiran dan Gagasan, Penanggulangan Bencana di Indonesia oleh Dr. Syamsul Maarif, M.Si. (2012)

Penanggulangan Bencana: Peran Media

Banyak kajian mengenai peran media dalam penanggulangan bencana. Baik itu kajian yang dilakukan di tingkat internasional maupun nasional. Intisari dari kajian tersebut ada enam point, mengapa media penting dalam penanggulangan bencana, yaitu:
1. Mampu mempengaruhi keputusan politik, mengubah perilaku, dan menyelamatkan nyawa manusia (UNISDR, 2011).
2. Komunikasi merupakan inti untuk sukses dalam mitigasi, kesiapsiagaan, respon, dan rehabilitasi bencana (Haddow, 2009).
3. Media dapat menunjukkan eksistensi, pencitraan, dan simbol organisasi terhadap masyarakat terkait tugas kemanusiaan dalam penanggulangan bencana (UN, 2009).
4. Media sebagai wahana diseminasi berita atau informasi terkait kebencanaan.
5. Dapat berperan dalam membangun kesadaran masyarakat tentang PRB.
6. Membangun pemahaman dalam menghadapi ancaman atau situasi saat terjadinya bencana.

Pikiran dan Gagasan, Penanggulangan Bencana di Indonesia oleh Dr. Syamsul Maarif, M.Si. (2012)

Penanggulangan Bencana: Mewujudkan Masyarakat Tangguh Bencana

Bagaimana mewujudkan masyakarat yang tangguh menghadapi bencana?

Secara filosofis menghadapi bahaya atau ancaman bencana tersebut dapat dilakukan dengan cara:

1. Menjauhkan bahaya atau ancaman itu dari manusia. Dalam kasus bahaya alam seperti gempabumi, gunungapi, tampaknya hal tersebut sulit atau bahkan kadang tidak mungkin dilakukan. Mencegah timbulnya bahaya atau mengeliminasi suatu ancaman, memerlukan effort yang sangat besar. Maka kemungkinan berikutnya adalah dengan cara yang kedua, yakni;

2. Menjauhkan manusia dari bahaya atau ancaman bencana. Cara ini yang disebut dengan relokasi. Pekerjaan ini bisa dilakukan, tetapi memerlukan pendekatan sosial yang tepat. Tidaklah mudah memindahkan manusia dari lingkungan yang sudah menjadi satu kesatuan. Cara ini bisa berhasil, bisa juga tidak. Apabila kedua cara tersebut sulit dilakukan, maka kita tempuh cara berikutnya, yakni;

3. Living harmony with risk. Dalam kondisi ini kita harus mengenal karakter dan sifat-sifat alam, agar kita dapat menyesuaikan setiap perilaku alam. Mengenali sifat-sifat alam ini dimulai dengan memahami proses dinamikanya, waktu kejadiannya dan dampak yang ditimbulkan. Manusia diberikan akal dan pikiran untuk bisa mengatasi dan mengadaptasi kondisi alam di sekitarnya.

4. Belajar dari pengalamannya, masyarakat selalu berusaha untuk mendapatkan cara yang paling bijak dalam melawan, menghindari dan mengadaptasi terhadap bahaya yang mengancamnya. Dari pelajaran inilah kemudian setiap masyarakat tempatan menemukan kearifan lokal yang sangat spesifik dalam menghadapi ancaman bencana di masing-masing wilayah.

Pikiran dan Gagasan, Penanggulangan Bencana di Indonesia oleh Dr. Syamsul Maarif, M.Si. (2012)

Penanggulangan Bencana: Ciri Masyarakat Tangguh Bencana

Masyarakat tangguh menghadapi bencana memiliki ciri-ciri, yaitu:

1. Kemampuan untuk mengantisipasi setiap ancaman atau bahaya yang akan terjadi. Oleh karena itu tahap ini kita dituntut mampu untuk melakukan prediksi, analisis, identifikasi dan kajian terhadap risiko bencana. Kemampuan ini memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik yang canggih maupun yang tepat guna. Juga dari pengetahuan yang modern hingga kearifan lokal yang sudah ada di masyarakat.

2. Kemampuan untuk melawan atau menghindari ancaman bencana tersebut. Kemampuan untuk melawan ini sangat tergantung dari besarnya ancaman yang akan kita hadapi. Apakah kemampuan sumber daya kita mampu menghadapi kekuatan dampak yang dakan ditimbulkan? Sebagai contoh yang masih ada dalam ingatan kita, letusan Gunung Merapi tahun 2010. Awan panas yang meluncur hingga 17 km dari puncak Merapi, mampukah kita melawan atau menolak luncuran material panas yang mencapai 800 derajat celcius itu? Jika tidak mampu, maka kita harus menghindar dari jalur lintasan awan panas tersebut.

3. Kemampuan untuk mengadaptasi bencana dan dampak yang ditimbulkan. Apabila kita tidak mampu melawan ataupun menghindar, maka kita harus mampu mengurangi, mengalihkan atau menerima risiko bencana yang akan terjadi. Prinsip-prinsip manajemen risiko berlaku untuk menanggulangi bencana. Upaya memperkecil dampak yang ditimbulkan atau mitigasi bencana, seperti membuat bangunan tahan gempa, membangun shelter vertikal, membuat jalur-jalur pengungsian dan sebagainya harus diterapkan. Pengalihan risiko atau risk transfer, seperti asuransi bencana mulai dibudayakan. Pada dasarnya mengadaptasi bencana ini bertujuan agar kemampuan masyarakat untuk menerima risiko semakin tinggi. Hal ini berkaitan dengan filosofi, hidup berdampingan secara damai dengan bencana.

4. Kemampuan untuk pulih kembali secara cepat setelah terjadi bencana. Ketangguhan suatu masyarakat dalam menanggulangi bencana dapat dilihat dari kemampuannya (daya lenting) untuk pulih kembali setelah ditimpa bencana. Masyarakat di DI Yogyakarta, khususnya Kabupaten Bantul telah membuktikan ketangguhan ini. Setelah kejadian bencana gempabumi 2006, Pemerintah Daerah dan masyarakat di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah telah mampu melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap kerusakan yang ditimbulkan. Bahkan menurut laporan Bank Dunia, pemulihan ini telah mendapatkan apresiasi dari dunia internasional, karena dalam waktu 2 tahun telah dapat diselesaikan. Tidak semua bencana dapat dipulihkan secara cepat, banyak contoh kejadian bencana yang membuat suatu masyarakat atau negara menjadi semakin terpuruk.

Pikiran dan Gagasan, Penanggulangan Bencana di Indonesia oleh Dr. Syamsul Maarif, M.Si. (2012)