Penanggulangan Bencana: Bahaya Wisata Bencana

Pemerintah punya alasan yang kuat untuk melarang warga berwisata di lokasi bencana.

Sudah menjadi kelaziman setiap kali bencana melanda suatu wilayah, maka tak lama kemudian akan berbondong-bondong warga yang menontonnya. Di sana, bukan hanya lokasi, namun masyarakat terdampak bencana pun menjadi tontonan.

Hasil penelitian para ahli menunjukkan, masyarakat melakukan hal itu karena ada dorongan keingintahuan mengenai dampak bencana yang terjadi. Faktor simpati yang dimiliki oleh seseorang akan mendorongnya untuk melakukan tindakan berwisata ke lokasi bencana. Di sisi lain, rasa haru dan belas kasihan terhadap orang lain juga menjadi pendorong kehadiran seseorang di tempat terjadinya musibah.

Longsor yang baru saja terjadi di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara adalah salah satu contoh bagaimana aktivitas menonton bencana berubah menjadi petaka.

Menurut salah seorang penduduk, beberapa hari sebelum terjadi longsoran yang besar, banyak warga datang ke lokasi longsor lain yang lebih kecil. Pada saat warga ini beranjak pulang, mereka melintasi Desa Sampang. Sayang, detik itu pula longsor yang besar terjadi dan melanda mereka.

Di Sampang, korban bukan hanya warga Dusun Jemblung, namun juga mereka yang melintasi ruas jalan sepulang dari berwisata ke lokasi longsor.

Hari Minggu (14/12) adalah dua hari setelah longsor besar terjadi. Ribuan relawan dan petugas bahu membahu melakukan proses evakuasi para korban. Di saat yang sama, ribuan warga yang lain datang dari berbagai penjuru untuk menonton. Mereka datang lengkap satu keluarga dengan putra putri tercinta.

IMG_28201

Orang tua mengajak anak-anaknya untuk menonton lokasi bencana. Mereka menjadikan zona bahaya tak ubahnya seperti taman bermain. Abai pada keselamatan buah hatinya.

IMG_2806

Berada di lokasi bencana bukanlah perkara yang mudah. Keahlian diperlukan, peralatan standard dan melindungi para relawan maupun petugas pun menjadi satu keharusan. Rekaman video ini menampilkan kesulitan menembus medan longsor.

Urukan tanah hasil dari proses longsor yang terjadi masih sangat labil. Belum lagi banyak serpihan bangunan, perkakas, paku, pecahan kaca, logam, dan material lain yang bersembunyi di balik gemburnya tanah. Bila Anda tak hati-hati melangkah, kaki atau bahkan tubuh Anda bisa terbenam di lumpur. Sepatu Anda tertinggal, pecahan kaca menusuk kulit, penyakit ikutan yang lain pun mengancam kemudian.

Medan bencana adalah zona yang berbahaya. Area ini seharusnya steril dari warga dan hanya bagi mereka yang memiliki keahlian serta terdaftar saja yang bisa memasukinya. Warga hendaknya sadar, lokasi ini bukan taman bermain atau tempat wisata.(dew)

Penanggulangan Bencana: Negara Asia Berbagi Pengalaman

video_conference_BPBD_DKI
Video Conference dilakukan di Ruang Pertemuan Pusdalosp BPBD Prov. DKI Jakarta

Jakarta, BPBD Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Bank Dunia menyelenggarakan Video Conference Urban Floods Community Practice pada Selasa, 09 Desember 2014 di kantor BPBD. Video conference ini melibatkan delapan negara dan sembilan kota di Asia, mulai dari Jakarta, Tokyo (Jepang), Manila (Filipina), Ho Cinh Minh, Hanoi (Vietnam), Ulan Bator (Mongolia), Beijing (Tiongkok), Dhaka (Bangladesh), dan Colombo (Srilanka).

Dalam beberapa dekade terakhir, bencana banjir terus meningkat frekuensinya. Negara-negara di Asia tak luput dari ancaman bencana ini. Kota-kota besar yang juga berperan menjadi ibu kota negara harus pula menerima dampak dari meningkatnya kejadian bencana. Banjir di Bankok, Thailand, pada tahun 2011; banjir di Jakarta, Indonesia, pada tahun 2013 adalah contoh-contoh bencana banjir yang terjadi di berbagai ibu kota negara.

Selain ancaman bencana banjir, negara-negara di Asia juga menghadapi ancaman yang kurang lebih sama. Dalam video conference mengemuka berbagai persoalan yang muncul sebelum, dan pada saat bencana banjir. Negara tersebut mengalami penurunan permukaan tanah (subsidence) sebagai akibat dari buruknya pengelolaan dan pemanfaatan air tanah. Selain itu, kesulitan yang seragam dalam upaya memindahkan warga yang tinggal di daerah rawan banjir akibat permukiman kumuh.

Negara-negara di Asia juga harus menghadapi persoalan di masa pasca bencana. Persoalan tersebut seperti siapa yang berwenang dalam penganggaran dan institusi yang melakukan penanganan bencana manakala bencana terjadi atau bencana melanda dua wilayah administrasi yang berbeda. Secara umum, di antara negara-negara yang terlibat dalam video conference mengalami kesulitan dalam penghitungan kerusakan dan kerugian akibat bencana.

Jepang sebagai nara sumber dalam video conference tersebut berbagi pengalaman dalam menangani bencana banjir. Pertama-tama diungkapkan mengenai hubungan antara pertumbuhan penduduk dan masalah lingkungan yang muncul kemudian. Sebagai contoh, laju urbanisasi berdampak pada meningkatnya aliran permukaan (run off) yang kemudian akan berimbas pada peningkatan potensi kerusakan.

Dalam mengatasi bencana banjir, Jepang melakukan upaya struktural. Upaya Jepang tersebut di antaranya adalah dengan menambah kapasitas aliran sungai melalui normalisasi atau pengerukan. Selain itu, dilakukan juga penambahan kapasitas penampungan air dengan pembangunan bendungan atau dam.

Di sisi lain, dilakukan juga upaya non struktural. Di sini Jepang membuat peraturan perundang-undangan yang mendukung upaya-upaya penanggulangan bencana banjir.

Narasumber lain dari Pemerintah Kota Yokohama mengungkapkan perlunya pelibatan teknologi dalam penanganan banjir. Hal ini dapat berupa pembangunan model banjir atau model genangan. Selain itu juga pembuatan peta ancaman bencana yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Upaya lainnya adalah dengan menggandeng media televisi, radio, atau jaringan seluler untuk mendistribusikan peringatan bencana kepada masyarakat.

“Perlu adanya pendekatan yang menyeluruh dimulai dari pencegahan sampai dengan tanggap darurat.” Demikian dikatakan ahli penanganan bencana banjir dari Jepang. Beliau kemudian merinci, upaya menyeluruh tersebut meliputi: peningkatan kondisi sungai, kondisi daerah aliran sungai, dan upaya-upaya untuk mengurangi risiko terjadinya kerusakan. Hal lain yang tak boleh dilupakan adalah pelibatan semua pihak terkait yang ada di sepanjang sungai. (Dew)

NB: Laporan secara lengkap bisa Anda baca pada tautan ini

Perubahan Iklim: Pengaruh Bahan Bakar Kotor

Laporan dari PBB mengenai pembatasan perubahan iklim mengungkapkan bahwa masyarakat dunia harus segera berpindah dari penggunaan bahan bakar yang memicu karbon. Dalam laporan yang diluncurkan di Berlin tersebut, dikatakan bahwa perubahan secara besar-besaran ke energi terbarukan harus dilakukan. Laporan tersebut adalah hasil negosiasi antara ilmuwan dan para pejabat di pemerintahan. Laporan tersebut adalah hasil kerja IPCC, yang mencoba menyediakan bukti-bukti mengenai dampak dari perubahan iklim.

Gas alam dipandang sebagai sumber baru yang dapat menggantikan minyak bumi dan batu bara. Namun, terdapat perdebatan di antara peserta mengenai siapa yang akan mengeluarkan anggaran untuk perubahan sumber energi tersebut.

Ringkasan untuk para pengambil kebijakan memberikan gambaran tentang dunia yang mengalami peningkatan pelepasan karbon secara cepat. “Kereta mitigasi yang berkecepatan tinggi harus segera meninggalkan stasiun dan semua warga dunia harus berada di dalamnya.” Demikian dikatakan ketua IPCC Rajendra Pachauri kepada wartawan di Berlin pada saat peluncuran laporan tersebut.

Dr Youba Sokono sebagai wakil ketua IPCC untuk kelompok kerja ke tiga yang menyusun laporan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan telah membuktikan dampak perubahan iklim. Beliau menambahkan, bahwa pengambil kebijakan sebagai ‘the navigator’ mereka harus mengambil keputusan, sementara para ilmuwan adalah pembuat petanya.

Sekretaris Badan Energi dan Perubahan Iklim Inggris, Ed Davey mengatakan, bahwa pemanasan global harus diantisipasi menggunakan semua teknologi. Dia menyampaikan kepada BBC News, “Kita dapat melakukannya, kita harus melakukannya karena ini adalah tantangan dan sangat mengancam kehidupan ekonomi dan sosial, kesehatan kita dan juga ketahanan pangan. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa kita bisa menghadapinya apabila kita punya kemauan.”

Beliau menambahkan, bahwa pemerintah Inggris adalah perintis penggunaan energi terbarukan. “Kita sudah meningkatkan listrik dengan energi terbarukan sebanyak dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Sepertinya kita sudah melampaui target dalam peningkatan jumlah listrik yang menggunakan energi terbarukan. Namun, kita harus terus meningkatkannya.”

Dari jumlah karbon yang ada di atmosfer sejak 1750, setengah di antaranya baru dihasilkan dalam empat puluh tahun terakhir. Angka karbon di atmosfer tersebut meningkat cepat sejak tahun 2000 meskipun saat itu terjadi krisis ekonomi global.

Laporan IPCC menyoroti peningkatan penggunaan batu bara dalam satu dekade sejak perubahan millenium sebagai ” kebalikan tren yang sudah lama terjadi mengenai pengurangan karbon sebagai penyedia energi dunia.”

Diawali dari peningkatan populasi dunia dan aktivitas ekonomi, suhu permukaan global meningkat antara 3,7 sampai 4,8 derajat celcius pada tahun 2100 bila tidak ada upaya baru yang dilakukan. Jumlah tersebut adalah dua derajat lebih tinggi dari titik di mana pengaruh perubahan iklim akan terasa. Namun, para peneliti yang terlibat dalam laporan mengatakan bahwa situasi tersebut dapat berubah.

“Perlu perubahan yang mendasar di sektor energi, hal tersebut tak terbantahkan lagi.” Demikian dikatakan oleh Prof. Jim Skea, salah seorang wakil dari kelompok kerja 3. “Satu hal yang sangat penting adalah mengeluarkan karbon sebagai sumber listrik, sehingga energi terbarukan, nuklir, bahan bakar fosil dengan kandungan karbon yang disimpan, semua hal tersebut adalah bagian dari sumber energi yang memungkinkan terjadinya perubahan, sehingga pemanasan yang terjadi masih di bawah dua derajat celcius.”

Hal tersebut bukanlah sebuah usaha yang sederhana. Guna menjaga agar perubahan iklim tetap berada di bawah dua derajat, jumlah karbon di udara harus berkisar antara 450 bagian per sejuta pada tahun 2100. Agar angka tersebut tercapai, maka emisi pada 2050 haruslah antara 40-70% lebih rendah daripada emisi di tahun 2010.

Laporan IPCC mengungkapkan bahwa bahan bakar terbarukan adalah bagian yang paling penting. Semenjak laporan terakhir pada tahun 2007, para ilmuwan mengatakan bahwa energi terbarukan penggunaannya telah meningkat dengan pesat.

Pada tahun 2012, energi terbarukan menyumbang lebih dari setengah dari total listrik yang dihasilkan di seluruh dunia. Para ilmuwan menekankan bahwa energi terbarukan lebih ekonomis dibandingkan energi berbahan bakar fosil, serta menawarkan berbagai keuntungan, termasuk udara yang bersih dan keamanan.

“Hal ini benar-benar akan menjadi akhir dari era sumber energi karbon.” Demikian dikatakan Jennifer Morgan dari World Resources Institute, yang menjadi salah seoran editor dari satu bab di laporan IPCC. “Perlu ada perubahan yang drastis dan secepatnya dari energi berbahan dasar fosil menjadi 100% energi bersih.”

Prof. Ottmar Edenhofer, wakil ketua dari kelompok kerja 3, mengatakan, “Mitigasi bukan berarti dunia harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi.” Beliau menjabarkan, bahwa laporan IPCC menginformasikan mengenai ‘harapan sederhana’, namun beliau menambahkan, “Kebijakan iklim bukanlah makan siang gratis.”

Salah satu dukungan yang cukup mencengangkan dalama laporan adalah pada gas alam. “Emisi dari penyediaan energi dapat dikurangi secara signifikan dengan mengganti pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dengan kombinasi gas alam yang lebih modern dan efisien.” Demikian dikatakan dalam laporan.

Laporan tersebut juga menyinggung peran gas alam sebagai ‘jembatan’ teknologi seiring dengan meningkatnya pembangunannya sebelum mencapai puncak dan kemudian jatuh di bawah level saat ini pada tahun 2050. Namun, banyak skenario yang dinilai oleh panel masih mencantumkan ‘kekurangan’ dari rentang target.

Guna mengatasi hal tersebut, dunia perlu kiranya untuk menghapus karbon dari atmosfer. Kombinasi pengikatan dan penyimpanan karbon dengan bioenergi dipandang sebagai salah satu solusi yang potensial, namun hal ini kurang disambut antusias dalam laporan. Di dalamnya, upaya ini dianggap belum meyakinkan dan berasosiasi dengan risiko.

Waktu adalah segalanya, demikian dikatakan oleh para ilmuwan.

“Penundaan upaya mitigasi saat ini sampai dengan tahun 2030 diperkirakan akan meningkatkan secara drastis kesulitan untuk perpindahan ke emisi jangka panjang yang lebih rendah.” Demikian ditulis dalam rangkuman laporan.

“Jika kita menunda, maka kita akan menghadapi pilihan yang lebih sulit.” Dikatakan, Prof, Skea. “Apa kita akan menyerah dengan target dua derajat atau apakah kita akan menggunakan teknik-teknik yang dapat menyerap CO2 dari atmosfer? Jika kita mengantisipasi lebih awal dan tercapai kesepakatan di Paris tahun depan, maka harapan pada ide ini haruslah dikurangi.”

Dikatakan dalam laporan tersebut, perlu ada perubahan yang mendasar dalam investasi jika dampak yang lebih buruk dari peningkatan temperatur ingin dihindari. Investasi dalam energi terbarukan dan sumber energi yang rendah karbon lainnya perlu ditingkatkan tiga kali lipat dalam pertengahan abad, sementara arus uang untuk bahan bakar fosil haruslah dihilangkan.

Namun, perdebatan muncul pada siapa yang harus memangkas emisi dan siapa yang harus membayar guna perubahan kepada sumber energi rendah karbon. Negara maju dan berkembang bertentangan dalam hal ini di Berlin, perbedaan pandangan ini kemudian berlanjut dalam negosiasi di UN.

“Dinamika yang terjadi dalam negosiasi UNFCC juga dapat dengan mudah disaksikan di sini.” Dikatakan Kaisa Kosenan dari Greenpeace. “Hal tersebut mengindikasikan sebuah pertanyaan kunci mengenai keadilan, siapa yang harus melakukan sesuatu dan siapa yang harus membayar kerusakan yang sudah terlanjur terjadi.”

Peserta yang lain mempercayai, bahwa laporan baru ini dapat mendorong proses di UN lebih jauh lagi. “Saya berharap bahwa informasi dari IPCC ini dapat sedikit mengubah pola kerjasama antar negara daripada pola saling tunjuk di antara mereka. Ada terlalu banyak hal yang dipertaruhkan.” Kata Jennifer Morgan.

Sumber tulisan dari sini

Perubahan Iklim: Dampak Iklim yang Luar Biasa

Laporan oleh PBB menyatakan, “Dampak dari perubahan iklim adalah ‘parah, meluas, dan tak dapat dihindari’.”

Ilmuwan dan pejabat yang melakukan pertemuan di Jepang menyimpulkan bahwa dokumen tersebut saat ini adalah yang paling lengkap untuk mengkaji dampak perubahan iklim di dunia. Beberapa dampak perubahan iklim adalah peningkatan risiko bencana banjir, perubahan hasil pertanian, dan ketersediaan air.

Manusia mungkin bisa beradaptasi dengan beberapa perubahan tersebut, namun hanya untuk jangka pendek. Salah satu contoh adaptasi adalah dengan membangun infrastruktur seperti tembok atau tanggul laut untuk melindungi dari banjir. Contoh lain yaitu dengan irigasi yang lebih efisien untuk petani di daerah yang mengalami kelangkaan air.

Sistem alami saat ini harus menanggung beban dari perubahan iklim yang terjadi, namun dampak pada manusialah yang paling mengkhawatirkan. Anggota panel PBB untuk iklim mengatakan, laporan ini menyediakan banyak bukti untuk dampak yang terjadi.

Kesehatan, rumah, makanan, keamanan kita terancam oleh meningkatnya suhu, demikian dilaporkan.

Laporan tersebut merupakan kesepakatan yang dicapai setelah melalui diskusi yang panjang di antara para ahli di Yokohama. Di dalamnya termasuk perhatian dari berbagai penulis yang menyumbangkan pemikirannya di dalam dokumen. Ini adalah seri kedua dari laporan IPCC yang diterbitkan tahun ini dan khusus menyoroti penyebab, dampak, dan solusi dari pemanasan global.

Laporan untuk para pemangku kepentingan ini menyoroti berbagai fakta yang terdiri dari bukti-bukti dari para peneliti mengenai dampak dari pemanasan yang meningkat dua kali lipat sejak laporan terakhir pada tahun 2007. Selain mencairnya es dan pemanasan permafrost (lapisan tanah beku) di daerah kutub, laporan tersebut juga menggarisbawahi fakta bahwa di semua benua dan samudera terjadi perubahan iklim yang berdampak pada sistem alami dan manusia pada beberapa dekade terakhir.

Menggunakan kata dalam laporan tersebut, “Pemanasan yang meningkat telah memicu dampak yang parah, meluas, dan tak dapat dihindari.”

“Siapapun di planet ini akan terkena dampak dari perubahan iklim.” Kata Rajendra Panchauri dalam konferensi pers-nya dihadapan wartawan di Yokohama.

Dr. Saleemul Huq, seorang penulis untuk salah satu bab berkomentar, “Sebelumnya kita tahu hal ini telah terjadi, namun sekarang kita punya banyak bukti bahwa hal tersebut sedang terjadi dan nyata.”

Michel Jarraud, sekretaris jenderal Organisasi Meteorologi Dunia, mengatakan bahwa sebelumnya manusia bisa mengabaikan iklim bumi, namun saat ini pengabaian bukanlah alasan yang bagus. Jarraud mengatakan, laporan ini disusun dengan mengkaji lebih dari 12.000 penelitian ilmiah. Dia bilang, “Ini adalah dokumen terlengkap yang bisa Anda dapatkan dari berbagai disiplin ilmu.”

Sekretaris Negara Amerika Serikat, John Kerry berkomentar, “Bukti dari berbagai penelitian menunjukkan iklim dan hidup kita dalam bahaya, kecuali kita bertindak secara dramatis dan cepat. Penolakan terhadap bukti-bukti tersebut adalah kekeliruan.” Beliau menambahkan, “Tidak ada satu negara yang menyebabkan pemanasan global dan tak ada satu pun negara yang mampu menghentikannya. Namun, kita harus menyesuaikan tindakan yang diambil dengan perhitungan-perhitungan ilmiah.

Ed Davey, Sekretaris Energi dan Iklim di Inggris mengatakan, “Bukti ilmiah telah dengan jelas menunjukkan, perubahan iklim akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan kita. Masalah kesehatan, ketahanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi. Banjir di Inggris baru-baru ini adalah penanda bahwa kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.”

Laporan tersebut berisi detail dampak jangka pendek pada sistem alami dalam 20 sampai 30 tahun ke depan. Di sana dijelaskan lima alasan yang harus diperhatikan seiring dengan pemanasan yang telah terjadi di dunia. Hal ini termasuk ancaman pada sistem yang khusus seperti di lautan es Arktik dan terumbu karang, di mana risiko peningkatan suhu sangat tinggi , yaitu sekitar 2 derajat celcius. Ringkasan laporan menyoroti dampak di lautan dan pada sistem air tawar. Lautan akan lebih asam dan mengancam terumbu karang serta berbagai spesies yang hidup di sana. Di darat, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan species yang lain akan mulai berpindah ke daerah yang lebih tinggi atau ke kutub seiring dengan meningkatnya suhu.

Demikian juga manusia, akan merasakan peningkatan dampak seiring berjalannya waktu. Ketahanan pangan menjadi satu hal yang sangat diperhatikan. Hasil pertanian untuk jagung, padi, dan gandum adalah sumber pangan utama sampai tahun 2050, namun sekitar sepersepuluh dari perkiraan menunjukkan kerugian hingga 25%. Setelah tahun 2050, terjadi peningkatan risiko pada hasil panen yang kian mengkhawatirkan seiring dengan dampak ledakan dan kegagalan di banyak wilayah. Sementara itu, permintaan akan pangan terus meningkat karena populasi dunia mencapai angka 9 milyar.

Banyak jenis ikan, sumber pangan yang penting bagi banyak orang juga akan berpindah karena air semakin hangat. Di beberapa bagian wilayah tropis dan Antartika, tangkapan yang potensial menurun hingga lebih dari 50%.

“Ini adalah penilaian yang wajar.” Kata Prof Neil Adger dari Universitas Exeter, salah seorang penulis yang lain. “Di masa depan, risiko akan meningkat pada manusia, dampak pada tanaman, dan ketersediaan air dan terutama pada kejadian ekstrem yang berdampak pada manusia dan mata pencahariannya.”

Manusia akan terdampak oleh banjir dan gelombang panas yang menyebabkan kematian. Laporan tersebut memperingatkan akan adanya risiko baru, termasuk ancaman bagi mereka yang bekerja di luar seperti petani atau pekerja konstruksi. Perhatian terhadap hubungan antara proses migrasi dengan perubahan iklim juga meningkat, termasuk pada konflik dan keamanan nasional.

Maggie Opondo, salah seorang penulis dari Universitas Nairobi mengatakan bahwa, di tempat seperti Afrika perubahan iklim dan kejadian ekstrem berarti masyarakat yang makin rentan dan makin tenggelam dalam kemiskinan.

Ketika negara miskin lebih terdampak dalam jangka pendek, di sisi lain negara maju pun tak bisa melepaskan diri. “Negara kaya sudah semestinya memikirkan perubahan iklim. Kita sudah melihat hal itu terjadi di Inggris dengan banjir yang terjadi beberapa bulan lalu serta badai yang melanda Amerika dan kekeringan yang terjadi di California.” Dikatakan oleh Dr. Hug. “Ini adalah kejadian dengan kerugian jutaan trilyun dollar yang harus dibayar oleh negara maju, sementara di satu sisi mereka punya keterbatasan anggaran untuk membiayai itu semua.”

Namun, hal tersebut belum seberapa, seperti yang dikatakan oleh seorang penulis laporan. “Saya kira hal baru yang ada dalam laporan ini adalah ide untuk mengatasi perubahan iklim sebagai suatu persoalan dalam mengelola risiko.” Dikatakan oleh Dr. Chris Field. “Perubahan iklim sangat penting dan kita memiliki berbagai peralatan untuk secara efektif mengatasinya, namun kita harus lebih pintar.”

Dalam ringkasan laporan terbaru ini, ditekankan bagaimana cara beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Permasalahannya adalah, siapa yang akan mengucurkan dana?

“Guna menentukan hal tersebut, tidak bergantung pada IPCC.” dikatakan Dr. Jose Marenggo, seorang pejabat pemerintah Brasil yang hadir dalam pertemuan. “Laporan tersebut mengemukakan berapa anggaran yang diperlukan dan kemudian seseorang/institusi harus membayarnya dengan berdasarkan perhitungan keilmuan. Saat ini lebih mudah untuk melakukan negosiasi di UNFCC (lembaga PBB untuk perubahan iklim) dan memulai kesepakatan siapa yang akan mengucurkan dana guna keperluan adaptasi terhadap perubahan iklim.”

Sumber tulisan dari sini

Perubahan Iklim: Peran Manusia dalam Pemanasan Global

Para peneliti meyakini, bahwa manusia adalah ‘penyebab dominan’ pemanasan global yang terjadi sejak tahun 1950an. Laporan oleh panel iklim PBB menjelaskan dengan detail bukti-bukti fisik di balik perubahan iklim.

“Di tanah, di udara, di lautan, pemanasan global jelas terlihat.” Demikian dituliskan dalam laporan.

Laporan tersebut juga menyimpulkan, bahwa terjadinya jeda panas dalam 15 tahun merupakan waktu yang sangat singkat untuk menggambarkan tren jangka panjang. Panel para ahli juga menyampaikan peringatan jika emisi gas rumah kaca terus terjadi, maka akan menyebabkan pemanasan yang mengubah seluruh aspek dalam sistem iklim. Guna mengurangi perubahan tersebut, maka diperlukan langkah yang menyentuh ke inti persoalan dan upaya terus menerus untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Proyeksi yang dilakukan berdasarkan asumsi berapa banyak gas rumah kaca yang boleh dilepaskan. Setelah melampaui negosiasi selama seminggu yang sangat intens di Ibukota Swedia, ringkasan untuk pengambil keputusan pada aspek fisik dari perubahan iklim akhirnya diterbitkan.

Bagian pertama dari trilogi IPCC setebal 36 halaman ini adalah yang paling lengkap untuk memberikan pemahaman pada penyebab pemanasan planet bumi. Disampaikan dengan jelas, bahwa sejak 1950-an, banyak kajian perubahan pada sistem iklim belum pernah selengkap ini selama beberapa dekade bahkan ribuan tahun. Tiap-tiap dekade dalam tiga puluh tahun terakhir sukses meningkatkan suhu permukaan bumi dan menjadi yang paling hangat sejak 1850. Suhu tersebut barangkali juga lebih hangat dari suhu di manapun selama 1.400 tahun terakhir.

“Kajian ilmiah kami menemukan bahwa atmosfer dan lautan telah menghangat. Jumlah salju dan es berkurang dan rata-rata permukaan laut global serta konsentrasi gas rumah kaca meningkat.” Kata Qin Dahe, wakil ketua IPCC working group 1 yang menulis laporan tersebut.

Berbicara dalam konferensi yang berlangsung di Ibukota Swedia wakil ketua yang lain, Prof. Thomas Stocker, berkata bahwa perubahan iklim akan mengancam dua sumber daya yang paling penting bagi manusia dan ekosistem, yaitu tanah dan air. Dalam waktu singkat, akan mengancam planet kita, satu-satunya rumah kita.

Sejak 1950, manusia harus bertanggung jawab pada lebih dari setengah kenaikan temperatur yang terjadi. Namun, penundaan kenaikan suhu pada periode 1998 tidak dianggap penting dalam laporan. Para ilmuwan mengemukakan bahwa periode ini merupakan tahun yang sangat panas karena awal dari El Nino.

“Tren berdasarkan data dalam waktu singkat sangat terpengaruh pada tanggal awal dan akhir serta secara umum tidak mencerminkan tren iklim jangka panjang.” Demikian dilaporkan. Prof Stocker menambahkan, “Saya khawatir tidak banyak literatur yang tersedia dan memungkinkan bagi kita untuk mempelajari lebih jauh serta lengkap guna menjawab pertanyaan ilmiah yang muncul sekarang ini. Sebagai contoh, tidak cukup penelitian untuk menyelidiki penyerapan panas terutama dalam lautan yang dalam. Padahal, penelitian tersebut mungkin dapat menjelaskan mekanisme yang terjadi saat hilangnya pemanasan. Kita juga tidak memiliki data yang lengkap untuk melakukan penilaian faktor apa yang menyebabkan kenaikan suhu pada 10-15 tahun terakhir.”

Namun, laporan tersebut tidak jauh berbeda dengan kajian yang telah dilakukan pada tahun 2007. Saat itu, kisaran suhu untuk menggandakan kandungan CO2 di atmosfer, atau dikenal sebagai keseimbangan sensitivitas iklim berkisar antara 2-4,5C. Dalam dokumen terakhir, kisaran suhu telah berubah menjadi 1,5-4,5 C. Ilmuwan mengatakan, bahwa hal ini mencerminkan peningkatan pemahaman, perbaikan pendataan suhu dan perkiraan adanya faktor baru yang menyebabkan suhu meningkat.

Dalam ringkasan bagi pengambil keputusan, para peneliti mengatakan bahwa laju kenaikan air laut terjadi lebih cepat dalam 40 tahun terakhir. Rata-rata permukaan laut global akan naik pada tahun 2081-2100 yang diprediksi antara 26 cm (pada level terendah) dan 82 cm (pada level tertinggi) bergantung pada tingkat emisi gas rumah kaca yang terjadi pada abad ini. Para peneliti mengemukakan bahwa pemanasan lautan mendominasi peningkatan energi yang terjadi pada sistem iklim. Tercatat sudah mencapai 90% energi yang merupakan akumulasi energi antara tahun 1971 sampai 2010.

Di masa depan, laporan menyatakan bahwa pemanasan diperkirakan akan terus berlangsung dengan berbagai skenario. Simulasi pemodelan mengindikasikan bahwa suhu permukaan global berubah di akhir abad ke 21 mencapai 1,5 derajat celcius, dibandingkan tahun 1850.

Prof. Sir Brian Hoskin, dari Imperial College London berkomentar di BBC, “Kita melakukan suatu percobaan yang sangat berbahaya dengan planet kita dan saya tak ingin anak cucu kita menderita akibat dari percobaan yang kita lakukan.”

Sumber tulisan dari sini