Kiat: Saat Anda Tak Suka dengan Pekerjaan

Banyak orang yang tak menyukai pekerjaannya sekarang. Barangkali Anda termasuk satu di antaranya.

Banyak alasan kenapa seseorang tak betah dengan profesinya. Salah satu contohnya adalah karena lingkungan pekerjaan yang tidak nyaman. Bos Anda adalah seseorang yang menyebalkan, teman Anda pun tak menyenangkan, Anda benci dengan toilet di kantor, dll.

Permasalahannya, Anda tak bisa dengan gampang untuk berpindah pekerjaan. Hal ini disebabkan karena keahlian Anda sudah pas dengan posisi Anda sekarang. Selain itu, tak banyak lowongan pekerjaan yang sesuai untuk Anda.

Anda pun kemudian harus menyesuaikan diri dan menerima keadaan. Betapa tidak menyenangkannya pekerjaan Anda, namun karena berbagai sebab Anda tetap harus menjalaninya. Konsekuensi dari hal tersebut adalah sebisa mungkin Anda melakukan adaptasi. Pada saat yang sama, Anda juga berlatih menerima berbagai kondisi yang tak sesuai dengan keinginan Anda. Adaptasi dan menerima, kita rasanya sudah terbiasa dan ahli untuk melakukannya, bukan?

Tak jarang Anda merasa iri melihat profesi orang lain dan betapa mereka menikmatinya. Menjadi pramugari sepertinya menarik, menjadi penulis rasanya sungguh membanggakan, tukang rokok kok tampaknya damai dan bisa bersantai. Diam-diam Anda memimpikan pekerjaan tersebut, sudah timbul keinginan dalam diri Anda untuk beralih profesi.

Saya memiliki pengalaman menarik manakala menyaksikan seorang pramugari beraksi.

Seperti juga Anda, saya pun membayangkan sungguh menyenangkan menjadi seorang pramugari yang bisa terbang ke mana pun, melihat tempat-tempat baru, bertemu banyak orang, selalu rapi, bersih dan wangi. Saya dengar gajinya pun menggiurkan nilainya. Siapa yang tak tertarik dengan segala hal tersebut?

Saya baru tahu betapa beratnya pekerjaan pramugari dalam penerbangan antara Padang-Jakarta beberapa waktu lalu.

Saat itu pesawat sudah mengangkasa dan tiba masanya bagi para pramugari untuk menyajikan makanan kepada para penumpang. Kebetulan saat itu memasuki daerah yang cuacanya buruk. Terang saja pesawat pun bergejolak menyesuaikan dengan kondisi sekitar.

Di dalam pesawat, saya yang duduk dan sudah memasang sabuk pengaman kencang-kencang pun merasa khawatir dan takut. Bila tak malu, ingin rasanya saya berteriak atau membaca doa keras-keras.

Nah, pada kondisi tersebut, pramugari yang mendorong trolley makanan itu tetap melakukan aksinya. Mereka berdiri dengan tak tenang, sesekali harus memegang kursi. Terlihat begitu repot saat ingin menuangkan minuman atau mengambil makanan. Di tengah semua itu, mereka harus tetap tersenyum saat melayani para penumpang yang ketakutan.

Saya kira sungguh tak mudah dan susah dilakukan saat Anda takut, ingin berteriak, dan barangkali gemetar, namun harus tetap tersenyum dengan manis.

Saat pekerjaan kita terasa berat, barangkali tiba saatnya untuk melihat pekerjaan orang lain. Bukan hanya menyaksikan berbagai hal yang menyenangkan, namun intip juga berbagai tantangan yang harus mereka hadapi.

Saya kira, tak ada pekerjaan yang mudah.

Perubahan Iklim: Dampak pada Negara Miskin

Daerah yang kering akan makin kering, sementara daerah tropis basah akan kian basah, demikian dilaporkan IPCC.

Pada tahun-tahun mendatang, negara berpendapatan rendah akan tetap berada di garis depan yang terdampak oleh perubahan iklim karena ulah manusia. Mereka akan mengalami naiknya permukaan air laut, badai yang makin kuat, hari-hari yang makin hangat, hujan yang tidak bisa diprediksi, serta gelombang panas yang makin besar dan lama. Demikian hasil penelitian secara menyeluruh tentang persoalan perubahan iklim.

Penilaian UN pada tahun 2007 memprediksi peningkatan temperatur hingga lebih dari 6 derajat celcius pada akhir abad ini. Kondisi tersebut diragukan oleh para peneliti, namun rata-rata suhu di daratan dan lautan terus meningkat sepanjang waktu. Dimungkinkan peningkatan tersebut akan mencapai empat derajat celcius di atas tingkat suhu yang ada sekarang dan cukup untuk merusak tanaman pangan serta membuat panas di banyak kota tak tertahankan lagi.

Seiring dengan meningkatnya temperatur dan lautan yang kian hangat, daerah tropis dan subtropis akan menghadapi perubahan drastis pada curah hujan tahunan, demikian dilaporkan oleh IPCC yang telah diterbitkan pada 30 September.

Afrika timur akan mengalami peningkatan hujan yang durasinya pendek, sementara Afrika barat akan mengalami muson yang lebih berat. Myanmar, Bangladesh, dan India akan mengalami siklon yang lebih kuat, di wilayah Asia selatan yang lain, musim panas disertai hujan harus diantisipasi. Indonesia akan mengalami hujan yang lebih sedikit antara Juli sampai Oktober, namun daerah pantai di sekitar Laut Tiongkok dan gurun di Thailand akan mengalami peningkatan hujan ekstrem ketika siklon menghantam daratan.

“Diyakini bahwa dalam jangka panjang, curah hujan global akan berubah. Negara di lintang tinggi, seperti Eropa dan Amerika Utara akan mengalami curah hujan yang lebih banyak, namun daerah subtropis dan semi kering akan berkurang curah hujannya. Di daerah tropis yang lebih hangat, curah hujan ekstrem akan meningkat intensitas dan frekuensinya.” Demikian dikatakan oleh penulis laporan.

Dalam laporan tersebut juga disampaikan, “Muson akan terjadi lebih awal atau tidak berubah, sementara rata-rata muson akan tertunda, sehingga akan memperpanjang musim.”

Ilmuwan di negara berkembang serta para pengamat setuju dengan laporan tersebut karena menjadi pendukung penelitian yang sudah mereka lakukan sendiri.

“Laporan IPCC menguak fakta bahwa perubahan iklim sungguh terjadi dan lebih kuat daripada sebelumnya. Kita telah melihat dampak dari perubahan iklim di Bangladesh dan Asia selatan. Ini bukan hal yang baru untuk kita. Kebanyakan negara berkembang saat ini menghadapi ancaman perubahan iklim. Mereka tak memerlukan laporan IPCC bahwa cuaca sedang berubah.” Dikatakan oleh Saleemul Huq, Direktur International Centre for Climate Change and Development yang berkantor di Dhaka.

Peneliti juga telah menurunkan perkiraan kenaikan muka air laut. Bergantung pada emisi gas rumah kaca di masa depan, muka air laut akan meningkat antara 40-62 cm pada tahun 2100. Namun, variasi geografis akan memberikan pengaruh yang sangat signifikan. Jutaan orang yang tinggal di kota-kota besar di negara berkembang akan terancam, termasuk mereka yang tinggal di Lagos dan Kalkuta.

Dilaporkan jenis bencana yang terkait dengan cuaca akan lebih sering terjadi seiring dengan meningkatnya suhu dunia. Kendati frekuensi terjadinya siklon tropis kemungkinan menurun atau tetap pada level sekarang, namun intensitasnya akan meningkat dengan angin yang lebih kuat dan curah hujan yang lebih lebat.

Hidup di kota-kota besar negara berkembang tak dapat dihindari, kendati suhu perkotaan sudah lebih tinggi daripada lokasi di sekitarnya. Temperatur yang lebih tinggi dapat mengurangi durasi pertumbuhan di beberapa bagian Afrika sampai 20%, demikian disampaikan dalam laporan.

Dr. Camilla Toulmin, Direktur International Institute for Environment and Development, mengatakan, “Pemodelan iklim belum cukup untuk memprediksi dampak di tingkat lokal dan regional, namun sudah sangat terasa kerentanan yang harus dihadapi oleh tiap orang.”

Oxfam memprediksi bahwa kelaparan dunia akan lebih buruk seiring dengan perubahan iklim yang berdampak pada produksi pertanian dan mengganggu pendapatan warga. Mereka memperkirakan jumlah penduduk yang beriko mengalami kelaparan meningkat 10-20% pada tahun 2050, dengan asupan kalori per kapita makin jatuh di seluruh dunia.

“Perubahan iklim telah mengancam usaha-usaha untuk mengatasi kelaparan dan hal tersebut semakin memburuk.” Dikatakan Oxfam. “Dunia yang kian panas adalah dunia yang makin lapar. Jika waktu yang tersisa dari abad 21 dibiarkan terbuang sia-sia seperti dekade awal, kita akan segera menghadapi iklim ekstrem yang belum pernah dihadapi umat manusia.”

Sumber tulisan dari sini

 

Perubahan Iklim: Penyebab Cuaca Ekstrem

Muka air laut yang semakin tinggi menyebabkan daerah pesisir semakin rentan, meningkatnya kejadian cuaca yang ekstrem akan menghantam perekonomian dan kehidupan. Demikian laporan IPCC, sebuah badan yang terdiri dari berbagai peneliti tentang perubahan iklim yang dibentuk oleh PBB.

Para peneliti sudah memberikan peringatan ini bertahun lalu, namun laporan IPCC tersebut, adalah laporan khusus mengenai cuaca ekstrem yang disusun selama lebih dari dua tahun oleh 220 ahli. Ini adalah pertama kalinya, sebuah laporan disusun secara komprehensif untuk menilai dari segi keilmuan pada materi perubahan iklim, sebagai usaha untuk mencapai keputusan yang pasti. Dalam laporan tersebut berisi peringatan yang jelas terutama kepada negara berkembang, yang karena letak geografisnya akan mengalami dampak terburuk dari perubahan iklim. Infrastruktur dan kondisi perekonomian di negara-negara tersebut juga kurang dipersiapkan untuk menghadapi iklim ekstrem dibandingkan negara maju. Kendati demikian, negara maju tetap menghadapi ancaman dari hujan badai, gelombang panas, dan kekeringan yang menimbulkan korban.

Chris Field, wakil ketua IPCC yang menulis laporan mengatakan, bahwa pesan yang ingin disampaikan sangatlah jelas, yaitu cuaca ekstrem terjadi lebih sering. “Kejadian ekstrem yang penting telah berubah dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Terdapat bukti yang jelas dan tak terbantahkan, kami juga mengetahui penyebab terjadinya kerugian akibat bencana.”

Beliau mendorong pemerintah untuk melakukan tindakan, banyak dampak ekonomi dan korban manusia dapat dihindari bila langkah antisipasi dilakukan. “Kita telah kehilangan banyak nyawa dan aset perekonomian karena bencana.”

Kepala lembaga iklim Eropa, Connie Hadegaard, mengatakan bahwa laporan tersebut hendaknya memicu pemerintah untuk melakukan tindakan, terutama karena adanya peringatan dari Badan Energi Internasional yang mengatakan bahwa dunia hanya memiliki waktu lima tahun untuk mengambil langkah-langkah dalam pemotongan emisi guna menghindari bencana akibat pemanasan global. “Dengan berbagai pengetahuan dan argumentasi yang logis mengenai perlunya tindakan untuk mengatasi perubahan iklim,¬† sangat menyedihkan bahwa ada beberapa pemerintahan yang seolah tak peduli. Fakta yang dikumpulkan mengenai perubahan iklim terus bertambah, kepada pemerintahan yang belum juga mengambil tindakan, pertanyaannya kemudian adalah, sampai seberapa lama mereka akan terus berdiam diri?” Kata Connie.

Bob Ward, Direktur Kebijakan dan Komunikasi di Grantham Research Institute, London School of Economics, mengatakan bahwa laporan IPCC tersebut sebagai penanda semakin jelasnya dampak perubahan iklim. Kata Ward, “Tinjuan dari para ahli berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada menunjukkan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak di berbagai belahan dunia baik dari sisi frekuensi, intensitas, dan lokasi dalam bentuk kondisi cuaca ekstrem, gelombang panas, kekeringan, dan banjir bandang. Ini perlu menjadi catatan karena kejadian ekstrem sangatlah jarang dan secara statistik sulit mendeteksi tren terjadinya karena data yang ada masih sangat sedikit. Lebih jauh, tren tersebut telah diidentifikasii selama beberapa dekade terakhir ketika peningkatan suhu rata-rata hanya beberapa derajat. Laporan tersebut menunjukkan, jika kita tidak menghentikan level peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, maka kita akan melihat lebih banyak lagi pemanasan dan perubahan dramatis pada cuaca ekstrem yang tampaknya akan mengganggu usaha manusia untuk beradaptasi.”

Namun, laporan tersebut juga perlu diberi catatan karena sulitnya menentukan secara spesifik kejadian cuaca ekstrem pada pemanasan global yang disebabkan oleh manusia. Menghubungkan kerugian ekonomi, seperti kerusakan karena badai dan banjir juga sangatlah sulit karena banyak faktor yang terlibat. Peningkatan laju urbanisasi dan kesejahteraan berarti kerugiaan saat ini lebih besar daripada di masa lalu.

Kondisi ini akan menimbulkan perdebatan pada masa datang saat pemerintah negara maju harus menyediakan pendanaan kepada negara berkembang untuk menolong masyarakat beradaptasi pada dampak perubahan iklim.

Para peneliti masih ragu apakah perubahan iklim menyebabkan peningkatan frekuensi topan. Namun, terdapat peringatan keras untuk belahan bumi utara dan wilayah Eropa serta Amerika Utara yang saat ini sering mengalami topan merusak. Ada ‘Poleward Shift’ atau perubahan kutub pada pola badai yang berarti topan merusak akan lebih sering terjadi di wilayah seperti New York atau wilayah Eropa yang berada di pesisir Atlantis.

Pemodelan ilmiah juga menunjukkan kecenderungan pada durasi, frekuensi, dan intensitas gelombang panas meningkat di daratan. Hal ini berarti, rekaman hari-hari sangat panas, yang semula hanya sekali dalam 20 tahun, sekarang ini hampir terjadi setiap tahun. Dampak kondisi ini sangat terasa pada lansia dan balita yang lebih rentan pada perubahan temperatur.

Dalam laporan tersebut dikatakan, “Kecenderungan frekuensi hujan lebat atau proporsi total hujan lebat akan meningkat pada abad ke 21 di berbagai area di dunia. Hal ini terjadi utamanya pada daerah lintang tinggi atau wilayah tropis, serta pada daerah dingin di sebelah utara lintang tengah. Hujan sangat lebat yang berasosiasi dengan topan tropis akan menyebabkan meningkatnya pemanasan.” Hal tersebut mengindikasina bahwa, hujan sangat lebat yang semula terjadi sekali dalam dua puluh tahun saat ini akan terjadi sekali setiap lima tahun. Para ilmuwan masih kesulitan untuk menghubungkan fenomena ini dengan frekuensi terjadinya banjir, sebab banjir tergantung pada kondisi lokal seperti topografi. Di samping itu, banjir dan tanah longsor terjadi karena hujan lebat yang diselingi dengan musim kering.

Para ilmuwan juga mempercayai, bahwa kekeringan akan makin intensif di abad ke 21 pada beberapa musim dan lokasi karena berkurangnya banjir atau meningkatnya penguapan di daratan. Mereka mengatakan daerah yang paling rentan adalah Eropa bagian selatan, Mediterania, Eropa Tengah, bagian tengah Amerika Utara, Amerika Tengah, Meksiko, Timur Laut Brasil, dan Afrika bagian selatan.

Simon Brown, manajer penelitian iklim ekstrem di Hadley Centre, pusat penelitian iklim di Kantor Meteorologi Inggris berkata, “Fokus laporan IPCC pada cuaca ekstrem sangatlah tepat karena hal ini kurang mendapat perhatian padahal menjadi hal pertama yang mendera masyarakat yang terpapar perubahan iklim. Kerentanan masyarakat terutama terjadi karena adanya cuaca ekstrem, sehingga sangatlah tepat apabila IPCC berfokus pada hal ini, apakah akan berubah menjadi lebih buruk, meluas atau dengan konsekuensi yang sangat signifikan. Laporan ini akan sangat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan karena terdiri dari berbagai disiplin ilmu, bukan hanya aspek fisik cuaca ekstrem namun juga bagaimana kita beradaptasi dan bertindak pada perubahan yang terjadi di masa depan.

Tim Gore, pengarah pada perubahan iklim Oxfam berkata, “Ini adalah peringatan bagi para pemimpin dunia untuk bertindak saat ini juga menghadapi perubahan iklim guna menyelamatkan kehidupan dan perekonomian. Hubungan antara perubahan iklim dan peningkatan frekuensi serta intensitas cuaca ekstrem makin terasa dan warga negara miskin yang akan terdampak paling parah dari kejadian tersebut. Banjir dan kekeringan yang baru-baru ini terjadi di Asia Timur dan juga wilayah Tanduk Afrika dapat menghancurkan pertanian, membuat harga makanan makin mahal dan menyebabkan kelaparan pada masyarakat yang miskin.”

Beliau menambahkan, “Diperkirakan satu dolar yang diinvestasikan untuk perubahan iklim akan mampu mengurangi 60 dolar kerusakan yang mungkin terjadi. Pemerintah harus mencari sumber pendanan baru dan menghindari pengeluaran yang lebih besar untuk menangani bencana nantinya.”

Sumber tulisan dari sini

Perubahan Iklim: IPCC tentang Hujan dan Keawanan

Berikut ini ringkasan laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang berkaitan dengan hujan dan keawanan

Curah hujan ekstrem meningkat dari sisi frekuensinya, intensitas, dan juga durasinya. Hal itu terjadi pada akhir abad dua puluh satu terutama di daratan di daerah lintang tengah dan juga di wilayah tropis basah (7) seiring dengan peningkatan temperatur global (23).

Rerata hujan diprediksi akan meningkat di lintang tengah sampai dengan tinggi. Pada level regional, perubahan skala hujan disebabkan karena kombinasi berbagai variabel alami dalam hujan sendiri, pengaruh letusan gunungapi, dan dampak dari polusi udara. (88)

Intensitas dan frekuensi hujan lebat yang terjadi di daratan akan meningkat. Hal ini disebabkan karena peningkatan kandungan uap air di atmosfer dan perubahan sirkulasi atmosfer. (88)

Aktivitas manusia mengubah emisi gas dan aerosol yang berpengaruh pada reaksi kimia di atmosfer, menghasilkan O3 dan perubahan jumlah aerosol. Keduanya akan mengubah keseimbangan energi karena menyerap, menyebarkan, dan memantulkan sinar matahari. Aerosol ada yang berperan sebagai kondensor awan, mengubah tetes-tetes awan dan berpengaruh pada curah hujan. (126)

Pada paruh pertama abad 21, awan yang menutupi AS, Soviet, Eropa Barat, Canada, Australia meningkat. Sedikit wilayah mengalami penurunan seperti China dan Eropa Tengah. Trend tersebut terus bertahan sampai dengan awal 1970an dengan sedikit perubahan di wilayah regional di Asia Barat dan Eropa yang menurun, namun meningkat di US.

Siklus iklim global akan berubah, akan meningkatkan perbedaan wilayah basah dan kering, demikian juga yang mengalami iklim basah dan kering, dengan beberapa pengecualian saja.

Review: Work Love Play

work_love_play

Pada tahun 1930, John Maynard Keynes memprediksi bahwa dalam abad ini, kita akan bekerja selama 15 jam saja per hari. Dua dekade kemudian, Wakil Presiden Richard Nixon mengemukakan, bahwa pada tahun 1990, warga Amerika akan pensiun pada usia 38 tahun. Namun, tak peduli dengan banyaknya gadget baru yang semestinya dapat memudahkan kita, seperti mesin pencuci piring, popok sekali pakai, skype, dsb, banyak orang di negara maju justru merasa saat ini mereka bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya.

Brigid Schulte memberi istilah pada kondisi ini sebagai ‘the overwhelm’. Sementara itu, dalam buku yang ditulis oleh reporter The Washington Post mencoba menjelaskan kenapa di antara kita selalu merasa bahwa waktu yang kita miliki dalam sehari kurang. Dia bersimpati pada kita yang merasa bersalah karena bingung harus memilih antara karier atau keluarga, dia juga merasa lelah karena merasa sudah bekerja terlampu banyak, namun merasa harus bekerja lebih banyak lagi.

Hal tersebut adalah perasaan yang umum, terutama pada ibu yang bekerja. Baru-baru ini saya duduk dalam satu ruangan bersama dengan bos-bos wanita dari suatu media, kami berdiskusi bagaimana mereka bisa mencapai level tinggi tersebut. Jawabannya selalu bekerja paruh waktu pada saat anak-anak mereka masih muda, namun dalam satu kasus karena punya suami yang berada di rumah sebagai bapak rumah tangga. Mereka telah membuktikan, bahwa kita tak dapat memiliki semua, jika itu berarti bekerja 60 jam seminggu dan pada saat yang sama harus menjaga keluarga kecil Anda.

Berdasarkan diagnosis dari Schulte, sejauh ini kelompok yang tak punya waktu untuk bersenang-senang adalah ibu, terutama bila ia adalah orang tua tunggal. Kesimpulan tersebut didapatkan dari penelitian selama bertahun-tahun, karena mulanya mereka (terutama pria) mengira bahwa mengurus anak dan pekerjaan rumah sebagai waktu bersantai. Ini bukanlah buku yang akan menyadarkan Anda dengan pesan feminis yang kuat, namun tak bisa dipungkiri bahwa ada aspek gender dalam pandangan kita mengenai ‘bekerja’.

Biarpun makin banyak jumlah wanita yang bekerja secara penuh, namun pendapat kolot kita pada aspek gender sangatlah sulit diubah. Ibu tetap mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah dan mengurus anak daripada seorang bapak, meskipun bila keduanya bekerja. Sementara waktu bapak untuk anaknya biasanya hanya tambahan saja, sebagai orang tua pembantu atau orang tua yang menyenangkan. Ibu di sisi lain adalah orang tua utama dan karenanya tak bisa benar-benar bersantai. Pada pasangan gay, peran tersebut justru kurang lebih seimbang. Seorang ibu hanya punya sedikit waktu luang sementara pada saat yang sama masih mengkhawatirkan tentang email penting yang belum dibaca atau ada bau aneh di bawah tangga yang bisa jadi bangkai kucing.

Melawan ‘the overwhelm’ berarti mengidentifikasi masalah, dalam buku ini dijelaskan adanya tiga persoalan: pekerjaan, harapan, dan diri kita. Anda boleh senang bila hidup di Eropa, karena di Amerika, terlihat sekali kebencian pada warganya dan ingin mereka tak bahagia. “Amerika adalah satu-satunya negara maju yang tidak memberikan waktu istirahat pada pekerja.” Tulis Schulte. “Hampir seperempat pekerja di Amerika tak mendapat kesempatan berlibur, kebanyakan adalah pekerja rendah atau paruh waktu.” Di sana juga tak ada pertimbangan ‘maternity’ karena tak ada aturan mengenai hal itu. Semua hal tersebut adalah hasil dari dominasi agama di tahun 1970-an, penghasut seperti Pat Buchanan menduga bahwa pengasuhan anak adalah media untuk mendoktrin anak dan membuat mereka menjadi kelompok-kelompok kecil. Schulte cemburu pada negara-negara di Skandinavia yang memiliki kebijakan bersahabat untuk keluarga, namun di Amerika situasinya sangat berbeda.

Penyebab berikutnya dari ‘the overwhelm’ adalah konstruksi yang disebut oleh Schulte sebagai ‘ideal worker’. Seorang pekerja ideal adalah bagian paling sempurna dari mesin kapitalis, tak pernah izin atau bahkan mogok kerja, selalu siap untuk bekerja lembur atau dinas ke luar kota, termasuk tak pernah izin untuk mengurus anak atau orang tua yang sakit. Banyak bisnis yang terpengaruh oleh ‘paham kehadiran’, mereka percaya ada korelasi yang kuat antara waktu yang dihabiskan di kursi kantor dan produktivitas. Sesuatu yang tak benar, karena penelitian menunjukkan, bahwa seseorang hanya bisa bekerja delapan jam sehari. Setelah itu, mereka hanya duduk di meja, bermain game di komputernya, atau sudah melamunkan menu makan malam. Budaya bekerja dalam waktu yang lama berpengaruh baik pada pria maupun wanita, manakala seorang pria meminta waktu bekerja yang fleksibel, dia diasumsikan sebagai pekerja pemalas atau banci.

Kendati begitu, kita tak dapat menyalahkan pekerja tanpa hati tersebut. Kemakmuran relatif telah memaksa pekerja untuk menyembah altar kerja lembur, sebuah sikap yang oleh Schulte disebut sebagai ‘lebih sibuk daripada kau’. Memiliki kulit yang kehitaman–bagi orang asing–adalah lambang bahwa Anda bisa berlibur ke kawasan tropis, jadi bekerja lembur adalah penghormatan bagi pekerja di kalangan menengah. Tak memiliki waktu luang menandakan Anda punya pekerjaan, karier dan Anda akan bepergian ke suatu tempat.

Resep dari Schulte sangat sederhana, yaitu memutuskan untuk mencintai bualan tentang kesibukan dan badai pekerjaan. Namun, jika Anda tak mencintainya, barangkali Anda bisa memilih untuk pergi bermain alat musik atau berolah raga. Berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga, seorang peneliti memiliki pesan sederhana bagi para ibu, yaitu agar tak takut untuk terlihat jelek. Para Ibu tak akan melakukan bedah jantung di lantai dapur, bukan? Lagi pula, bila Anda dituntut untuk cantik, para pria juga mesti mengurangi berat badannya.

Kelebihan buku ini adalah gabungan antara penelitian dan anekdot sehari-hari yang dialami dan disajikan melalui mata seorang reporter yang mencatat dengan detil. Adapun kritik yang disampaikan adalah, pesan Schulte lebih banyak ditujukan pada pekerja di bidang kreatif dan ide untuk meminta empat hari kerja atau pulang pada pukul empat tak berlaku untuk pekerja rendah atau pekerja kontrak. Penulis buku ini juga mengetahui, bahwa rata-rata jam kerja antara bos yang sangat sibuk dengan pekerja rendah sangatlah jauh bedanya, dengan demikian ia telah melakukan generalisasi. Namun, tentu saja buku semacam ini tak dapat mengatasi semua persoalan yang demikian rumit, dan kalau pun buku ini dapat melakukannya, tak seorang pun dapat membaca hasilnya. Kita benar-benar kekurangan waktu dalam sehari.

Tulisan ini bersumber dari sini

Penanggulangan Bencana: Peta untuk Meningkatkan Kesiapsiagaan

Bagaimana peta dapat menyajikan sebuah isu yang kompleks namun efektif? Berikut ini enam tips praktis untuk melakukannya.

Banyaknya isu yang berkembang di masyarakat membuat peningkatan kewaspadaan menjadi tantangan tersendiri. Data tabular seringkali menjadi cara untuk menyajikan suatu kasus, namun untuk menarik perhatian pengguna maka penyajiannya haruslah mudah dipahami. Peta mampu menampilkan suatu data dengan menarik dan cepat dipahami, baik untuk data lokal atau pun global, serta menimbulkan efek WOW pada pengguna.

Penggunaan peta dapat membantu menyajikan data yang lengkap serta sangat efektif untuk menampilkan kerentanan dan sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Namun, bila tidak berhati-hati dalam menggunakannya, malah dapat menyebabkan kebingungan, atau kesalahan interpetasi terhadap suatu persoalan. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka bagaimana cara yang terbaik dalam menggunakan peta untuk meningkatkan kewaspadaan?

1. Sumber data adalah kuncinya

Data menjadi dasar dalam pembuatan peta. Pilih data dengan cermat dan pastikan Anda paham sumber data tersebut, metodologi pengumpulannya, dan keterbatasannya. Hal ini untuk memastikan peta Anda menyampaikan pesan seperti yang diinginkan, serta tampilannya sesuai dengan kondisi di lapangan.

2. Mengidentifikasi dan memahami siapa sasaran peta kita

Agar peta efektif dalam meningkatkan kewaspadaan, maka dari sisi tampilan dan isinya harus sesuai dengan sasaran pembaca. Sebagai contoh peta yang kompleks dan detil untuk wilayah provinsi, gambaran berbagai indikator dalam satu peta akan sangat berguna untuk meningkatkan kewaspadaan dalam pengembangan lingkungan yang profesional. Namun, level kedetailan mungkin tidak berhasil untuk memicu imaginasi masyarakat umum. Dalam berkomunikasi dengan orang yang tidak ahli, akan lebih tepat bila peta yang ditampilkan lebih sederhana dengan grafik yang mudah dipahami serta dengan warna-warna khusus.

3. Pertimbangkan grafik, gaya dan desain

Seperti alat visualisasi lainnya, maka warna, grafik dan gaya tampilan sangat penting untuk meyakinkan bahwa peta kita memberi dampak yang besar bagi penggunanya. Buatlah peta Anda sesuai dengan tema organisasi, seperti juga tampilan laporan, halaman web atau tampilan lainnya yang digunakan. Semua hal tersebut untuk meningkatkan pemahaman pengguna pada pesan yang akan disampaikan.

Menggunakan dua indikator yang berbeda, seperti variasi ukuran simbol di depan warna background dapat meningkatkan pemahaman pembaca pada pesan peta. Namun, harus diperhatikan juga agar tak terlalu rumit atau pesan kita justru akan kabur.

4. Penekanan pada pesan

Memberikan penekanan pada hal-hal tertentu dalam peta kita seringkali berguna untuk agar upaya kewaspadaan dapat tercapai. Hal ini dapat diraih dengan memberikan informasi/pelabelan pada satu negara/provinsi/daerah tertentu yang menunjukkan risiko tinggi dan rendah. Demikian juga pada satu daerah yang datanya tidak tersedia namun sangat penting untuk meningkatkan pemahaman pada suatu masalah. Semua hal tersebut dapat dicapai dengan memberikan informasi/teks, gambar, grafik tambahan untuk menarik perhatian pembaca pada informasi utama yang akan disampaikan.

5. Pembesaran (zoom) di daerah tertentu

Jangan terpaku untuk menunjukkan semua benua atau negara. Dalam banyak kasus, menunjukkan satu daerah atau beberapa lokasi secara bersama akan lebih menarik. Cara tersebut membuat tampilan yang lebih detail dan banyak gambar untuk ditampilkan. Pembesaran (zoom in) dapat memberikan fokus dan meningkatkan kewaspadaan pada masyarakat yang ditargetkan dalam suatu negara.

6. Yakin, bahwa peta adalah jalan terbaik untuk menampilkan data Anda

Peta adalah satu di antara banyak cara untuk menampilkan data. Pada beberapa indikator, sebagai contoh untuk mengukur terjadinya perubahan pada kurun waktu tertentu, peta bukanlah alat paling efektif dan perlu juga memahami keterbatasan peta itu sendiri. Peta digunakan manakala dapat secara jelas, lengkap dan informatif dalam menampilkan suatu informasi untuk meningkatkan kewaspadaan pada suatu persoalan, baik dalam skala global atau nasional.

Oleh Guy Bailey, Kepala Atlas pada Perusahaan Analisis Risiko, Maplecroft,
@maplecroftrisk

Sumber tulisan dari sini