Kiat: Manfaat Bersepeda

Bersepeda secara masal dapat menghemat layanan biaya kesehatan 17 milyar poundsterling, mengurangi 500 kematian di jalan dan mengurangi polusi. Demikian hasil sebuah penelitian baru untuk ‘British Cycling’.

“Banyak orang tak ingin bersepeda serta ada juga yang tak bisa bersepeda, lalu apa gunanya ada jalur khusus sepeda?” Demikian sering ditanyakan oleh sebagian orang.

Jawaban pertanyaan tersebut tentu saja banyak dan berlimpah. Namun, sungguh mudah untuk menyanggah jawaban-jawaban itu. Syukurlah, seseorang bisa menjawab dengan mudah dan gampang diikuti. Dr. Rachel Aldred, seorang sosiologis dan ahli transportasi, terutama bersepeda dari Universitas Westminster adalah orang tersebut.

Dia diminta oleh ‘British Cycling’ lembaga sepeda di Inggris sana untuk mempelajari dengan teliti berbagai penelitian dari seluruh dunia dan merangkum apa saja keuntungan yang mungkin diperoleh bila Inggris menjadi negara dengan jumlah pesepeda yang banyak seperti halnya Belanda atau Denmark.

Dokumen setebal 24 halaman dengan dilengkapi oleh sebuah infografik diterbitkan bersamaan dengan debat di Parlemen Inggris tentang perkembangan implementasi dan rekomendasi laporan Britain Cycling tahun lalu.

Mari kita berandai-andai berdasarkan dokumen tersebut ketika di masa depan 20% perjalanan dilakukan dengan sepeda. Hidup akan jauh lebih mudah bagi pesepeda. Jika bersepeda di Inggris sama amannya dengan di Belanda, tulis Dr. Alfred, maka akan menyelamatkan hidup sekitar 80 pesepeda dalam setahun. Jumlah yang bunyak, namun sebenarnya itu baru awalnya saja.

Perubahan dari perjalanan menggunakan mobil ke sepeda meningkatkan keamanan untuk semua, bukan hanya pesepeda. Sebuah penelitian bahkan mengungkapkan, bahwa perubahan ke mode transportasi menggunakan sepeda dapat menyelamatkan 500 nyawa setahunnya.

Kemudian, dampak bersepeda pada sektor kesehatan masyarakat. Inggris seperti kebanyakan negara maju yang berpusat pada mobil, menghadapi epidemi penyakit yang berhubungan dengan kegemukan dan kemalasan bergerak serta dua tipe diabetes yang bisa menyebabkan negara bangkrut.

Berikut ini kesimpulan penelitian Dr. Alfred:

Jika jumlah warga Inggris dan Wales yang bersepeda dan berjalan sebanyak warga Copenhagen, Denmark, maka layanan biaya kesehatan bisa dihemat 17 milyar poundsterling dalam dua puluh tahun.

Masih ada keuntungan bagi kesehatan, yaitu dengan berkurangnya polusi. Alfred menyimpulkan:

Mengubah 10% perjalanan jarak pendek dari mobil ke sepeda, di Inggris dan Wales di luar London, dapat menyelamatkan lebih dari 100 kelahiran prematur per tahun.

Sedikit mobil berarti sedikitnya polusi suara. Sebuah penelitian di Canada yang dikutip dalam laporan tersebut mengatakan, orang yang hidup di area yang terdampak bunyi kendaraan menderita 22% risiko kematian akibat serangan jantung daripada mereka yang tinggal di daerah yang sepi.

Dr. Aldred tak lupa juga menyebutkan bahwa bersepeda secara masal dapat meningkatkan kesejahteraan. Ini adalah sektor di mana banyak pekerjaan harus dilakukan, namun sebuah penelitian mengemukakan, bahwa orang yang bekerja menggunakan sepeda memiliki tingkat stres yang lebih rendah daripada mereka yang menggunakan mobil. Lebih jauh lagi, penelitian lain mengatakan bahwa daerah perkotaan yang memiliki lebih sedikit kendaraan biasanya akan hubungan antar warga akan lebih dekat dan ramah.

Bersepeda juga memicu kemandirian pada anak-anak dan remaja. Sekitar setengah murid sekolah dasar di Belanda mengendarai sepeda dibandingkan hanya satu 1% di Inggris.

Sepeda juga membantu lansia dari isolasi dan menjaga kesehatan fisik dan mental beliau-beliau ini. Saat penulis bertemu dengan Dr. Adler baru-baru ini, dia menunjukkan bukti yang tidak dimasukkan ke dalam laporan, bahwa di Belanda, sekitar 20% orang yang berusia 80-84 tahun masih bersepeda secara rutin.

Bagaimana dampak dalam bidang ekonomi? Ada asumsi, bahwa tanpa mobil maka perekonomian akan wafat. Asumsi tersebut keliru, karena di New York, ketika diterapkan sistem jalur sepeda yang terpisah, dikhawatirkan perekonomian di sepanjang jalur sepeda tersebut akan terdampak. Namun, alih-alih berkurang, perekonomian justru meningkat 14%.

Berdasarkan penelitian tersebut, banyak sekali manfaat mengubah gaya hidup bermobil ke bersepeda. Di antara keuntungan tersebut adalah: sebuah negara atau kota yang penduduknya bersepeda lebih sehat, lebih bahagia dan bersosialisasi, tak ada isolasi, kurangnya polusi, lebih aman, dan lebih manusiawi pada mereka yang berusia lanjut atau anak-anak. Sekitar 1.500 pejalan kaki di bawah 16 tahun dan sekitar 300 pesepeda meninggal dunia atau terluka tiap tahun di Inggris. Sudah saatnya kita membangun berkilo-kilometer jalur sepeda yang terpisah dan aman.

Sumber tulisan diterjemahkan dan dirangkum dari sini

Penanggulangan Bencana: Pertumbuhan Penduduk Terus Terjadi

National Academy of Sciences mengungkapkan, bahwa jumlah populasi tak terpengaruh oleh perang yang brutal atau pandemi penyakit yang mengerikan.

Laju pertumbuhan penduduk sangatlah cepat, bahkan pembatasan kelahiran, pandemi penyakit atau perang dunia ketiga tak mengurangi jumlah manusia yang menyebabkan bumi tak kuasa lagi untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Demikian hasil sebuah penelitian.

Daripada mengurangi jumlah manusia, maka usaha memangkas konsumsi sumber daya alam dan upaya daur ulang akan meningkatkan kemungkinan pemanfaatan SDA secara efektif dan berkelanjutan dalam 85 tahun ke depan, demikian hasil laporan dalam proceeding yang diterbitkan oleh National Academy of Sciences.

“Kami terkejut bahwa skenario lima tahun perang dunia ketiga dengan korban yang hampir sama dengan gabungan korban pada perang dunia satu dan dua, nyaris tak mengubah jumlah jumlah populasi manusia di abad ini.” Demikian dikatakan Prof. Barry Brook, koordinator penelitian dari Universitas Adelaide, Australia.

Perang dunia kedua menimbulkan korban antara 50 sampai 85 juta anggota militer dan masyarakat sipil adalah konflik yang paling brutal dan paling banyak korban dalam sejarah manusia. Sementara itu, lebih dari 37 juta orang meninggal dunia akibat perang dunia pertama.

Menggunakan pemodelan berbasis komputer untuk data kependudukan dari WHO dan Biro Sensus Amerika, para peneliti mencoba berbagai skenario pengurangan populasi. Penemuan mereka adalah, dalam kondisi saat ini untuk tingkat kelahiran, kematian, dan usia rata-rata ibu melahirkan pertama kali, maka populasi global akan meningkat dari 7 milyar pada tahun 2013 ke angka 10,4 milyar pada tahun 2100.

Perubahan iklim, perang, pengurangan kematian dan kelahiran, serta peningkatan usia melahirkan sedikit memengarungi prediksi ini. Pandemi global berbahaya yang menyebabkan 2 milyar orang meninggal hanya akan mengurangi populasi ke angka 8,4 milyar, sementara jika 6 milyar meninggal, maka akan tersisa 5,1 milyar.

“Populasi global meningkat sangat cepat pada abad terakhir, sekitar 14% dari total manusia yang pernah ada masih hidup hingga saat ini. Itu adalah angka yang sangat serius. Hal tersebut dinilai berbahaya karena beberapa alasan, yaitu ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi semua manusia, serta dampaknya bagi iklim dan lingkungan.” Kata Prof. Corey Bradshaw, peneliti dari Universitas Adelaide.

Beliau menambahkan, “Kami telah mencoba berbagai skenario untuk perubahan populasi manusia di seluruh dunia sampai tahun 2100 dengan menyesuaikan tingkat kelahiran dan kematian untuk menentukan tingkat populasi yang masuk akal di akhir abad. Penerapan kebijakan satu anak di seluruh dunia seperti di China sampai dengan akhir abad, atau kematian masal seperti konflik global atau pandemi penyakit, akan tetap menyisakan 5-10 milyar penduduk pada 2100.

Menurut, Brook, yang sekarang di Universitas Tasmania, pengambil kebijakan perlu lebih banyak mendiskusikan pertumbuhan penduduk, namun juga memperingatkan bahwa momentum jumlah penduduk yang tak dapat dihindari tersebut akan membuat berbagai upaya cepat demografi dikesampingkan, seperti pada masalah keberlanjutan kita.

“Hasil penelitian kami menunjukkan, bahwa perencanaan keluarga yang efektif dan pendidikan reproduksi yang dilakukan secara global akan memberikan hasil yang positif untuk menahan laju populasi dan meringankan beban pada ketersediaan sumberdaya dalam jangka waktu yang lumayan lama. Anak cucu kita akan menikmati keuntungan dari perencanaan semacam itu, namun manusia yang hidup sekarang tidak.” Demikian kata Prof. Brook.

Bradshaw kembali menambahkan, “Akibat dari penelitian ini adalah, usaha bersama untuk keberlanjutan sumberdaya akan diarahkan secara produktif pada pengurangan dampak yang sebisa mungkin menggunakan inovasi teknologi dan sosial.”

Hal tersebut dengan demikian menggarisbawahi apa yang sudah diperingatkan oleh Thomas Malthus mengenai kecepatan laju populasi di abad 18. Laporan tersebut juga memperingatkan, bahwa demografi momentum sekarang ini mengindikasikan tak adanya kebijakan yang mampu untuk mengubah jumlah populasi terutama pada tahun-tahun yang akan datang, seperti misalnya pengurangan secara ekstrim dan cepat pada angka kelahiran.

“Ini membutuhkan waktu yang sangat lama sementara target jangka panjangnya masih belum jelas.” Demikian dilaporkan. “Namun, beberapa pengurangan dapat dicapai pada pertengahan abad dan mengurangi jumlah orang yang harus diberi makan. Hasil yang lebih cepat untuk suatu keberlanjutkan dapat dicapai dengan kebijakan dan teknologi yang tidak memanfaatkan banyak sumber daya.”

Dengan tak adanya bencana atau pengurangan angka kelahiran yang besar, penelitian menunjukkan bahwa Afrika dan Asia Selatan adalah yang paling menderita karena perubahan ekosistem di masa datang.

Laporan yang diterbitkan minggu lalu oleh para peneliti dari Universitas Lund, Swedia, menunjukkan bahwa kemampuan produksi pangan di wilayah Sahel, Afrika tidak sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Sementara itu, pemanasan global justru akan makin mempertajam ketidakseimbangan tersebut.

Tulisan ini adalah hasil terjemahan dari sini

Disaster Management: InAWARE for Optimising the Disaster Data

Jakarta, (27/10) Pasific Disaster Center (PDC) and BNPB conducted Train the Trainer for Indonesia All-hazards Warning and Risk Evaluation (InAWARE). The training purpose was to improve the personal ability of BNPB staff in gathering disaster data. This activity taught the participants to deliver early warning in disaster management through improving the access of information from several sources nationally and internationally. Those sources were integrated in order to send the disaster information for the disaster prone community.

InAWARE system provided facility for monitoring and evaluating the risk. InAWARE system actually is the modifying version of previous Disaster Aware which build by PDC, the platform that integrating a number of global data for disaster monitoring.

“InAWARE system will increase the ability of personnel to search and collecting the disaster data in the prone area.” John Livengood, one of the instructors explained. “This system has continued developing in order to make it easier to use and the data will more complete. In addition, InAWARE assists the disaster management institution to access automatically the disastrous events in national, regional, and international region. Furthermore, the system supports data sharing among the disaster management activists and dissemination the disaster information for the risk society.

The source for this article is from BNPB Website

Perubahan Iklim: Risiko Musim Dingin Parah di Eurasia

Musim dingin yang parah akan lebih sering terjadi pada beberapa dekade ke depan sebagai akibat dari mencairnya es di Lautan Arktik dan mengirimkan udara yang beku ke selatan, demikian kesimpulan dari satu penelitian yang baru saja dilakukan.

Musim dingin parah yang terjadi berhubungan dengan mencairnya es di Laut Arktik yang semakin besar terjadi. Penelitian baru tersebut menggunakan metode yang komprehensif, yaitu pemodelan komputer pada waktu-waktu yang diindikasikan terjadinya musim dingin yang beku. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan iklim, bukan semata-mata oleh variasi iklim.

“Penyebab musim dingin parah yang terjadi di Eurasia adalah pemanasan global.” Kata Prof. Masato Mori, dari Universitas Tokyo, seorang ilmuwan yang memimpin penelitian tersebut. Perubahan iklim memicu pemanasan di Arktik terjadi lebih cepat daripada di lintang yang lebih rendah. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa musim dingin parah yang terjadi adalah ancaman nyata dari perubahan iklim yang sudah terjadi dan bukan sekadar ancaman di masa depan. Mencairnya es di Arktik juga berdampak pada musim panas yang basah di Inggris.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal ‘Nature Geoscience’ menunjukkan peningkatan risiko musim dingin yang ber-es akan terjadi pada dekade mendatang. Namun, lebih daripada itu, pemanasan global yang berkelanjutan akan menyebabkan musim dingin yang lebih dingin lagi. Lautan Arktik diperkirakan akan bebas es pada akhir musim panas di tahun 2030 dan mencegah perubahan pola angin, sementara di sisi lain perubahan iklim akan terus meningkatkan suhu rata-rata.

Arctic_sea_ice_extent

“Kesesuaian antara kenyataan di lapangan dan hasil pemodelan komputer sangatlah penting untuk menunjukkan fakta, bahwa peningkatan risiko terjadinya musim dingin yang parah sungguh nyata.” Demikian dikatakan oleh Prof Adam Scaife, seorang ahli perubahan iklim dari UK Met Office dan bukan anggota dari tim peneliti. “Bukti-bukti yang seimbang semakin memperkuat hal itu.”

Dr Colin Summerhayes, dari Scott Polar Research Institute, Cambridge, Inggris, mengatakan, “Bukti yang menunjukkan berkurangnya lautan es membuat sebagian orang percaya bahwa pemanasan global telah berhenti. Sebenarnya itu tak pernah berhenti. Kendati terjadi perlambatan pemanasan permukaan sejak tahun 2000, namun es di Lautan Arktik telah hilang dengan cepat karena pemanasan pada kurun waktu tersebut.”

Mencairnya es memengarungi musim dingin di Eurasia karena lautan lepas lebih gelap daripada es dan menyerap lebih banyak panas. Hal tersebut kemudian akan menghangatkan udara di atasnya dan melemahkan angin di lapisan atas yang disebut ‘pusaran kutub’. Lebih lanjut, akan terjadi perubahan pada arus yang cepat dan berhenti di tempatnya. Tahanan ini akan menyebabkan udara beku mengarah ke selatan dari Arktik, dan karena ini terhenti, maka musim dingin yang parah bisa berlangsung lama.

Ahli iklim sejak lama telah memperingatkan bahwa pemanasan global bukan hanya memicu terjadinya perubahan temperatur secara bertahap dan lambat. Namun, pemanasan global memengarungi sistem iklim yang berujung pada peningkatan terjadinya peristiwa ekstrim.

Akibat pemanasan global, gelombang panas yang mematikan di Eropa dan Australia lebih sering terjadi dan dirasakan. Sementara frekuensi kejadian banjir berlipat ganda daripada frekuensinya sebelum tahun 2000.

“Rata-rata suhu global tahunan meningkat, namun distribusi temperatur lebih ekstrim dan menimbulkan dampak pada produksi pangan dunia.” Dikatakan oleh Prof Peter Wadhams dari Universitas Cambridge. “Seiring dengan mencairnya es, maka kita akan menghadapi iklim yang ekstrim ini terus berlangsung, bahkan akan lebih buruk lagi.”

Sumber tulisan dari sini

Disaster Management: Achievement in the Merapi Rehabilitation and Reconstruction Phase

Jakarta – It has been four years since the eruption of Mount Merapi. An affected community experience significant improvement in rehabilitation and reconstruction process. One of the key successes in the process was the establishment of the joint program among the UN organisations such as: UNDP, FAO, and NGO like IOM. This program was under supervised and coordinated of the BNPB as part of the after disaster action plan for rehabilitation and reconstruction which had been established since July 2011. Exposing the result to communities, UNDP, BNPB and other UN bodies conducted ‘Program Exposes’ on Thursday (23/10) at Jakarta.

This program was held in two phases, the first phase started in February 1, 2012 until May, 2013, while the second phase was between February 2, 2013 and September, 2014. The output of the program covered three aspects. Firstly, the program considered about the livelihood recovery sustainability and supporting the increased of income by involving value chain analysis for the selected commodity. Secondly, the activity urged the capacity building for local government to organise and coordinate the recovery process that based on disaster risk reduction and also encouraged the participation all stakeholder. Lastly, there was a strengthening in resilience and coordination among the affected community and related stakeholder.

Several achievements have been touching the affected community. Beyond the capacity development of the local government, affected community gained the experience to increase their welfare after the eruption. Those were included communal cage for the cow, the certification for snake fruit for export purpose, village information system, etc. The rehabilitation and reconstruction program based on disaster risk reduction and build back better principle.

In his remarks, The Director of Recovery and Social Economic Improvement of BNPB, Siswanto Budi Prasodjo, said thank you for the UN agencies and other donors for supporting and the significant achievement for rehabilitation and reconstruction program after the eruption four years ago. Siswanto, as coordinator of DR4, UNDP, said that the program accomplishments had been increasing livelihood and sovereignty of the affected people.

Source from BNPB Website

Kiat: Kesehatan Mental dengan Bermain

play_in_the_workplace

Hidup kita telah menjadi urusan yang sangat serius. Namun, penelitian terbaru menunjukkan, bahwa jalan keluar dari hidup yang terlampau serius adalah dengan lebih banyak bermain. Jadi, keluar dan bermainlah.

Barangkali di masa kecil Anda adalah orang yang senang bermain. Kemudian Anda bersekolah dan menemukan, bahwa pekerjaan rumah, tugas, serta ujian mulai menyita perhatian. Saat itu Anda masih mencoba untuk tetap bermain dengan misalnya mendengarkan atau bermain musik yang disukai, namun rupanya ini pun menjadi berubah menjadi satu hal yang serius. Waktu berjalan dan datanglah masa media sosial, kemudian Anda pun mulai asyik bermain dengan fasilitas baru ini, tapi lambat laun Anda pun menjadi terlampau serius dengannya.

Kendati begitu, Anda tak letih untuk terus mencoba mainan baru. Sebab, kita semua adalah petualang yang senang dan tertantang dengan hal baru. Anda terus mencoba dengan cara tersendiri, biarpun misalnya Twitter membuat Anda seperti seorang petualang yang mesti bersembunyi dari ganasnya piranha di suatu sungai. Namun, bukankah begitu menyenangkan saat menemukan syaraf-syaraf Anda menegang karena debar di dada saat Anda bermain-main itu?

Bermain dan membiasakan diri untuk terus melakukannya bukan hanya menyenangkan, namun kegiatan tersebut juga bahan dasar untuk menjaga agar mental tetap sehat.

Dalam Bahasa Inggris, ‘play’ atau bermain antonimnya adalah ‘work’ atau bekerja. Namun, kegiatan bermain itu sendiri sangatlah kompleks. Seorang Psikiatris, Dr. Stuart Brown menjelaskan, bahwa antonim bermain bukanlah bekerja, namun depresi! Dr. Brown sudah bertahun-tahun meneliti tentang sejarah bermain dari pasiennya, mereka adalah para pemuda pembunuh yang tidak memiliki sejarah bermain. Dr. Brown percaya, bahwa bermain apapun jenis permainan tersebut dari yang rumit sampai dengan sederhana sangatlah penting untuk perkembangan otak. “Tak ada yang bisa mencerahkan otak seperti bermain.” Kata Dr. Brown.

Kita tahu permainan secara alami berdasarkan insting sebagai seorang anak yang sedang tumbuh. Namun, studi menunjukkan bahwa orang dewasa pun perlu bermain dan menjadi pribadi yang suka bermain. Memprioritaskan bermain bagi orang dewasa terdengar sembrono, karena kita hidup di zaman yang penuh dengan masalah dan ketidakadilan. Akan tetapi, masalah memerlukan solusi yang kreatif. Apakah bermain dapat membantu kita menemukan solusi tersebut? Bagaimana bila bermain adalah salah satu jalan keluar dari berbagai masalah itu? Dr. Brown adalah salah satu peneliti yang menyarankan hal itu. Ahli lain seperti Einstein pun berkata, “Bermain adalah bentuk tertinggi dari penelitian.” Kemudian bila merunut ke belakang, Archimedes pun berseru “Eureka!” di kamar mandi, bukannya di laboratorium.

Kita meyakini, bahwa kita terlalu sibuk untuk melakukan suatu permainan. Budaya kita memberikan nilai lebih pada ‘kesibukan’, ini cara kita untuk mengukur kesuksesan. Pernah pada suatu masa ukuran kesuksesan adalah alasan religius, yang ‘berjasa’ dan ‘tidak berjasa’; kini politisi membagi produktivitas menjadi: ‘pencari kerja’, ‘pekerja miskin’, ‘pekerja untuk keluarga’. Kesibukan telah menggantikan alasan religius, namun hal baru tersebut tak juga menolong kita seperti hal lama.

Bermain bukan menunjukkan kemalasan, sebaliknya hal ini sangat berguna. Ini adalah bentuk rekreasi dengan penekanan dua suku kata terakhir: kreasi. Bermain sangat diperlukan oleh manusia dan baik untuk individu. Sebuah budaya yang mendorong kegiatan ini akan mendapatkan banyak manfaat. Denmark, sebagai negara paling bahagia di dunia adalah contohnya. Kemudahan dalam bekerja dan penitipan anak yang terjangkau berarti lebih banyak waktu luang. Ini juga menandakan adanya kesetaraan gender dan budaya ‘kerja untuk hidup’. Dengan dilakukannya hal ini, maka dapat memberikan harapan bahwa seseorang berhak memenuhi kepentingannya sendiri, termasuk bagi seorang ibu.

Di tempat kerja, sebuah percobaan dilakukan, pemberian tugas yang sesuai dengan struktur hari kerja dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan. Ekonom, peneliti, dan karyawan yang berpikiran maju mengetahui hal tersebut. Google dan Pixar sudah mempraktikan sistem kerja yang menyenangkan ini dan banyak orang ingin bergabung. Bos Virgin, Richard Branson juga mengumumkan waktu libur tak terbatas bagi pegawainya. Kerja pintar bukan kerja keras adalah cara baru dalam dunia kerja.

Kita semua membutuhkan bermain, terutama bagi mereka yang berpendapat kita terlampau sibuk. Lima menit sehari telah memberikan perbedaan. Bagaimana kalau kita mulai sekarang?

Sumber tulisan dari sini
Sumber gambar dari sini 

Penanggulangan Bencana: Mitos dan Kenyataan dalam Situasi Bencana

myths_facts

Mitos: Jenazah menyebabkan risiko pada kesehatan
Kenyataan: berkebalikan dengan kepercayaan umum, jenazah tidak menyebakan lebih banyak risiko penyebaran penyakit pasca terjadinya bencana alam daripada korban yang selamat.

Mitos: Epidemi penyakit dan wabah tidak dapat dihindari pasca terjadinya suatu bencana
Kenyataan: Epidemi penyakit tidak secara langsung terjadi setelah bencana dan jenazah tidak menyebabkan penyebaran penyakit berbahaya. Kunci untuk mencegah penyakit adalah dengan meningkatkan kondisi sanitasi dan pendidikan pada masyarakat.

Mitos: Cara tercepat untuk menangani jenazah dan menghindari penyebaran penyakit adalah dengan penguburan massal atau dikremasi. Tindakan ini dapat menenangkan korban yang selamat.
Kenyataan: Korban yang selamat akan bisa berdamai dengan rasa kehilangannya bila mereka diizinkan untuk mengikuti kepercayaan dan agamanya serta dapat mengidentifikasi dan menemukan keluarganya yang hilang/meninggal.

Mitos: Adalah tidak mungkin untuk melakukan identifikasi pada banyak jenazah yang menjadi korban dari suatu bencana.
Kenyataan: Guna identifikasi jenazah atau bagian tubuh selalu ada kesempatan.

Mitos: Teknik DNA untuk pengenalan jenazah belum tersedia di seluruh negara karena berbiaya tinggi dan kebutuhan teknologi tinggi.
Kenyataan: Teknologi ini sekarang secara cepat mudah diakses oleh semua negara. Lebih lagi, dalam suatu bencana besar, kebanyakan negara dapat meminta bantuan pendanaan dan teknologi termasuk dukungan teknik DNA.

Mitos: Relawan medis dari luar negeri dengan berbagai latar belakang spesialisasi diperlukan.
Kenyataan: Penduduk lokal hampir selalu dapat memenuhi kebutuhan hidup darurat. Hanya personel medis dengan keahlian tertentu yang tidak tersedia di lokasi terdampak yang diperlukan.

Mitos: Berbagai bantuan internasional diperlukan dan itu diharapkan sekarang.
Kenyataan: Penanganan yang terburu-buru dan tidak berdasar pada evaluasi yang berimbang hanya akan menyebabkan kekacauan. Sebaiknya menunggu penilaian kebutuhan sebenarnya selelsai dilakukan.

Mitos: Bencana mengakibatkan hal-hal buruk pada kebiasaan manusia.
Kenyataan: Kendati terdapat kasus antisosial secara terbatas, sebagian masyarakat merespon bencana secara spontan dan baik.

Mitos: Masyarakat yang terdampak masih trauma dan tidak berdaya untuk bertanggung jawab pada keselamatan mereka sendiri.
Kenyataan: Sebaliknya, banyak warga yang menemukan kekuatan baru pada saat tanggap darurat karena ribuan sukarelawan yang secara spontan bersatu mencari korban yang tertimbun puing-puing pasca terjadinya bencana.

Mitos: Bencana adalah pembunuh acak.
Kenyataan: Bencana berdampak lebih kuat pada masyarakat yang paling rentan, seperi warga yang miskin, wanita, anak-anak, dan lansia.

Mitos: Penempatan korban bencana di hunian sementara adalah alternatif terbaik.
Kenyataan: Hal ini seharusnya menjadi alternatif terakhir. Banyak lembaga menggunakan dana untuk tenda dan memesan material bangunan, peralatan, dan dukungan konstruksi yang lain di negara yang terdampak bencana.

Mitos: Semua hal akan kembali normal dalam beberapa minggu.
Kenyataan: Dampak dari suatu bencana berlangsung lama. Bencana menguras anggaran dan sumberdaya suatu negara hanya dalam waktu singkat setelah terjadinya bencana. Kegiatan bantuan yang sukses ditandai dengan bantuan internasional yang mulai berkurang seiring dengan kebutuhan.

Mitos: Orang yang kelaparan dapat menyantap apa saja.
Kenyataan: Umum terjadi, bahwa seseorang yang kelaparan akan sangat lapar dan memakan apa saja yang bisa disediakan. Kebiasaan ini tidak manusiawi dan keliru.  Meskipun dalam kondisi awal lapar, seseorang biasanya tidak mengkonsumsi dalam jumlah yang cukup makanan yang tidak bervariasi dan tidak familiar dalam waktu yang cukup lama. Lebih penting lagi, orang yang kelaparan biasanya akan sakit dan tidak memiliki selera yang baik. Akibatnya mereka akan merana dan kurus atau jatuh sakit lagi.

Beberapa orang yang menyantap makanan dengan gizi baik akan terkena dampak bila hanya memakan menu yang monoton dari tiga atau lebih komoditi (seperti gandum, kacang, dan minyak), karena hanya komoditi itu yang tersedia untuk para pengungsi. Hal ini belum termasuk kekurangan gizi mikro yang sering juga terjadi. Konsepsi ini dimulai, sebagai bagian dari gagalnya tujuan bantuan makanan yang seharusnya disediakan untuk kesehatan, kemakmuran, dan  keberadaan yang layak serta mendapat pertolongan dan penerimaan dari ketergantuan dan kehormatan diri. Sumber: Lancet, Vol. 340, Nov 28, 1992

Mitos: Anak-anak yang diare tidak seharusnya diberi makan secara intensif.
Kenyataan: Pandangan dari masa yang lalu dan dari masa normal–bukan masa darurat–kadang berlanjut, seorang anak harus diberi minum dan dicegah diare sebelum diberi makan lagi. Kebijakan ini tidak betul dan pada anak yang kurang gizi akan berakibat fatal. Seorang anak yang terkena diare harus diberi makan, jika diperlukan diberikan cairan diet dengan tabung nasogastric pada saat yang sama ketika tambahan cairan diberikan. Jika terjadi diare yang berlebihan, maka beberapa nutrisi akan diserap dan dimulai proses penyembuhan. Jika pemberian makan dimulai setelah rehidrasi biasanya sudah akan terlambat. Sumber: Lancet, Vol. 340, Nov 28, 1992

Mitos: Pengungsi dapat mengatasi kekurangannya sendiri
Kenyataan: Kesalahan konsep ini merendahkan martabat pengungsi. Hal ini berakibat, jika sekali tumbang, mereka tak punya hak dasar atas makanan, permukiman, dan perhatian–kemudian bila hal ini ditawarkan menjadi tindakan sosial, maka pengungsi bisa atau seharusnya berbuat lebih kurang sama dengan mereka yang bukan pengungsi.
Faktanya, mereka seringkali memerlukan makanan lebih banyak dari kebutuhannya, terutama jika mereka kekurangan gizi dan sakit sebelum tiba di penampungan serta memerlukan rehabilitasi; bila mereka menderita karena terpapar akibat permukiman yang tidak layak.

Mitos: Pertukaran makanan mengindikasikan masyarakat tidak memerlukan semua ransum.
Kenyataan: Jika sumber makanan disediakan oleh petugas perkemahan, maka ransum tersebut harus mencukupi semua nutrisinya. Hal ini memerlukan campuran bahan makanan termasuk buah dan sayuran. Jika hal ini tidak dapat dipenuhi, maka harus didorong terjadinya pertukaran dan pengungsi tidak akan kekurangan gizi dan nutrisi mikro. Fakta bahwa beberapa jenis makanan diperjualbelikan, untuk menambah variasi menu bukan berarti mengurangi ransum yang diberikan. Sumber: Lancet, Vol. 340, Nov 28, 1992

Mitos: Ransum yang standar cocok untuk semua masyarakat.
Kenyataan: Kalori yang direkomendasikan per pengungsi haruslah bervariasi berdasarkan komposisi demografi, nilai gizi, dan status kesehatan populasi pengungsi (diizinkan pula untuk menambah alokasi apabila terjadi kekurangan gizi) tingkat aktivitas, suhu lingkungan, dan sisa makanan dari rangkaian ketersediaan pangan di suatu negara oleh seseorang.
Dengan kata lain, ada variasi kebutuhan untuk pemenuhan energi, yang bergantung pada suatu kondisi dan apabila menggunakan gambaran perseorang akan mengakibatkan kekurangan atau kelebihan. Angka 1900 kcal adalah asumsi yang secara umum digunakan seringkali kurang dari yang dibutuhkan. Sumber: Lancet, Vol. 340, Nov 28, 1992

Mitos: Kecukupan energi berarti kecukupan nutrisi.
Kenyataan: Menu yang tersedia haruslah cukup baik jumlah maupun kualitasnya, memenuhi kebutuhan kalori, protein, dan nutrisi mikro. Manakala pengungsi bergantung pada ransum yang disediakan, sebagai contoh pada masa-masa awal tanggap darurat atau pada lokasi pengungsian yang tertutup, di mana pertukaran untuk variasi menu tak mungkin dilakukan, maka ransum harus didesain harus dapat memenuhi kebutuhan nutrisi secara lengkap.
Seringkali, ransum didesain untuk memenuhi energi minimum yang diperlukan dan mikro nutrisi diserahkan kepada pengungsi untuk memenuhi sendiri. Pemenuhan akan kebutuhan mikro nutrisi haruslah dibuat secara terbuka, terutama bila ransum yang disediakan dihitung berdasarkan kebutuhan energi secara penuh. Pangan haruslah bervariasi dan dapat diterima oleh pengungsi, termasuk kebutuhan untuk anak-anak.

Mitos: Bencana menyebabkan kematian secara acak.
Kenyataan: Bencana mengakibatkan korban terbesar di lokasi yang rentan, secara umum tempat tersebut ditinggali oleh masyarakat yang miskin.

Mitos: Lebih baik membatasi informasi pada saat terjadi bencana.
Kenyataan: Pembatasan akses informasi menyebabkan masyarakat kurang percaya yang justru berakibat pada kerusuhan atau kesalahan penanganan.

Sumber tulisan dari sini

Sumber gambar dari sini

Perubahan Iklim: Delapan Dampak

PBB melaporkan, bahwa bencana, termasuk topan, banjir, dan gelombang panas meningkat lima kali lipat sejak tahun 1970-an.

Lupakan masa depan. Saat ini, bumi kita lima kali lebih berbahaya dan lebih rawan bencana daripada kondisinya pada tahun 1970-an. Hal ini terjadi akibat adanya peningkatan risiko akibat perubahan iklim, demikian hasil laporan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia. Dekade pertama abad 21 menunjukkan sejumlah 3.496 bencana alam terjadi karena banjir, angin topan, kekeringan, dan gelombang panas. Jumlah itu mendekati lima kali lipat kejadian bencana yang dilaporkan pada tahun 1970, yaitu 743 kejadian dan semua itu berhubungan dengan kondisi cuaca yang terpengaruh oleh perubahan iklim. Perlu digarisbawahi, bencana alam yang terjadi kurang lebih lima kali lebih sering daripada yang terjadi pada 1970-an. Namun demikian, beberapa bencana seperti banjir dan angin topan memberikan ancaman lebih besar apabila dibandingkan jenis bencana yang lain. Banjir dan angin topan juga menimbulkan dampak yang lebih besar dalam bidang ekonomi, namun gelombang panas lebih banyak menimbulkan kematian.

1) Kita memerlukan kapal yang lebih besar atau perlindungan terhadap banjir

Disaster_Report_By_Decade
Jumlah bencana yang dilaporkan dalam satu dekade berdasarkan tipe bencana (1971-2010) Keterangan: Biru gelap: banjir; biru terang: gerakan massa; hijau: badai/topan; kuning: kekeringan; merah: temperatur ekstrem; orange: kebakaran lahan dan hutan.

Banjir dan topan besar memimpin jauh sebagai penyebab kejadian bencana selama periode 2000-2010. Sekitar 80% dari 3.496 bencana yang terjadi selama dekade terakhir disebabkan oleh dua jenis bencana tersebut. Permukaan laut naik karena perubahan iklim, begitu juga topan yang disertai hujan. Ada bukti tambahan, bahwa peningkatan temperatur berakibat pada meningkatnya badai.

2) Gelombang panas adalah pembunuh baru

Jumlah kematian yang dilaporkan dalam satu dekade berdasarkan tipe bencana (1971-2010) Keterangan: Biru gelap: banjir; biru terang: gerakan massa; hijau: badai/topan; kuning: kekeringan; merah: temperatur ekstrem; orange: kebakaran lahan dan hutan.
Jumlah kematian yang dilaporkan dalam satu dekade berdasarkan tipe bencana (1971-2010)
Keterangan: Biru gelap: banjir; biru terang: gerakan massa; hijau: badai/topan; kuning: kekeringan; merah: temperatur ekstrem; orange: kebakaran lahan dan hutan.

Mulanya, pada tahun 1970-an, gelombang panas tidak dikategorikan sebagai bencana. Namun, semenjak tahun 2010 jenis bencana ini menjadi penyebab utama kematian karena bencana alam bersama dengan angin topan. Di Rusia saja, lebih dari 55.000 orang meninggal dunia karena gelombang panas yang terjadi pada tahun 2010.

3) Penanganan banjir makin mahal

Jumlah kerugian ekonomi yang dilaporkan dalam satu dekade berdasarkan tipe bencana (1971-2010) dalam milliar dollar. Keterangan: Biru gelap: banjir; biru terang: gerakan massa; hijau: badai/topan; kuning: kekeringan; merah: temperatur ekstrem; orange: kebakaran lahan dan hutan.
Jumlah kerugian ekonomi yang dilaporkan dalam satu dekade berdasarkan tipe bencana (1971-2010) dalam milliar dollar.
Keterangan: Biru gelap: banjir; biru terang: gerakan massa; hijau: badai/topan; kuning: kekeringan; merah: temperatur ekstrem; orange: kebakaran lahan dan hutan.

Penanggulangan bencana lima kali lebih mahal pada tahun 2010 dibandingkan pada tahun 1970 dan sebagian besar disebabkan karena meningkatnya kerugian akibat bencana banjir. Biaya penanganan meningkat dari 505 milliar dollar menjadi 864 milliar dollar selama dekade terakhir.

4) Hampir semua bencana dari 8.835, sekitar 89%-nya dikarenakan banjir dan topan

Reported_number_disaster

5) Topan menjadi ancaman terbesar bagi kehidupan, dengan korban 1,45 juta dari 1,94 juta korban meninggal karena bencana secara global. Kekeringan menjadi penyebab kematian selanjutnya karena banyaknya korban yang meninggal selama kekeringan di Afrika pada medio 1980-an.

Death_by_disaster

6) Sekitar setengah dari 2390,7 milliar dollar biaya penanggulangan bencana selama 40 tahun terakhir digunakan untuk penanggulangan bencana topan Katrina dan badai super Sandy yang keduanya terjadi di Amerika Serikat.

Economic_lost_by_hazard_type

7) Kekeringan yang terjadi di Afrika Timur pada tahun 1970 dan 1980-an adalah pembunuh terbesar pada era modern, membunuh 600.000 orang di Ethiopia, Mozambique, Somalia, dan Sudan. Namun, di Bangladehs, pembunuh utamanya adalah Topan.

disaster_ranked_by_reported_death

8) Topan dan beberapa badai lainnya meningkatkan dampak pada perekonomian Amerika Serikat. Lima penanganan bencana paling mahal dari seluruh dunia berada di Amerika Serikat. Kelimanya disebabkan karena badai atau topan yang mengakibatkan kerugian 294 milliar dollar.

disaster_ranked_by_economic_losses

Sumber tulisan dari sini