Review: Spartacus-Kore

Kore
Kore

Ini adalah seri terakhir dalam tulisan ‘Wanita dalam Spartacus’

Kali ini saya akan bercerita tentang Kore. Dia sejatinya tak ada hubungannya dengan Spartacus, namun berhubungan erat dengan musuh Spartacus: Imperator Crassus.

Crassus adalah konglomerat di Roma. Menggunakan kekayaannya, dia mampu membangun pasukan sendiri. Saat semua jenderal Roma bertekuk lutut di kaki Spartacus dan menderita kekalahan, maka tinggal Crassus-lah yang bisa diharapkan.

Crassus pun segera menyusun strategi. Diajak pula putranya, Tiberius, dan sahabatnya seorang bangsawan, Julius Caesar untuk meningkatkan kekuatan.

Saat itu, Spartacus semakin terkenal karena berhasil mengalahkan sebuah kota dan menjadikannya markas pasukan pemberontak.

Crassus di sisi lain tak langsung memimpin sendiri pasukannya. Dia mempercayakan kepada putranya, Tiberius. Pasukan Tiberius ini membangun kemah agak jauh dari kota yang dikuasai Spartacus.

Spartacus dalam satu kesempatan menjalin kerja sama dengan seorang bajak laut. Guna melakukan jual beli, maka dia harus ke pantai di mana bajak laut menunggu. Tak dinyana, pasukan Tiberius yang sudah mengintai tiba-tiba menyerbu.

Syukurlah, kendati Spartacus hanya membawa sedikit orang, namun kerja sama dengan bajak laut berhasil memukul mundur pasukan Tiberius.

Tiberius pulang ke perkemahannya dengan kekalahan total. Hanya tersisa dirinya dan beberapa gelintir pasukan yang juga lari terbirit-birit menghindari gempuran Spartacus dan bajak laut.

Mendengar kekalahan ini, Crassus pun marah besar. Dia heran, kenapa anaknya itu tak mendengar komando yang sudah jelas diberikan. “Jangan sekali-kali kamu menyerang sebelum aku sampai di sini.” Demikian perintah Crassus.

Hukuman pun tak terelakkan harus ditanggung oleh Tiberius. Dia dan pasukannya diundi, siapa yang memperoleh butiran batu warna hitam berarti mati. Tiberius sendiri memperoleh batu berwarna putih. Dia harus menghukum pasukan dan kawan-kawannya yang memperoleh batu hitam.

Tak hanya itu, Tiberius juga harus melucuti semua kehormatan yang dimilikinya. Dia bersama pasukannya yang memperoleh batu putih harus hidup bersama para budak dan tak ikut berperang. Pendek kata, kini dia menjadi budak juga.

Di sinilah Kore mulai berperan.

Kore adalah budak pribadi Crassus. Artinya: dia memenuhi semua kebutuhan Crassus mulai dari yang sepele sampai dengan kebutuhan ranjang.

Dalam masa perang itu pun, Kore dibawa serta ke perkemahan dari Roma. Tujuannya tentu saja untuk memenuhi semua kebutuhan Crassus. Hubungan di antara mereka berdua pun tak ubahnya pasangan suami istri yang saling sayang dan merindukan.

Berada di perkemahan, Kore pun melihat apa yang terjadi pada Tiberius. Ia merasa dekat dengan putra majikannya itu. Bagaimanapun ia turut merawat Tiberius hingga menjadi besar. Secara moral, kemudian Kore terpanggil untuk mendamaikan antara ayah dan anak ini.

Didekatinya Tiberius dan disampaikan bahwa hukuman yang diberikan oleh Crassus adalah bentuk sayang seorang bapak kepada putranya. Sayangnya, Tiberius menanggapi lain.

Manakala Crassus sedang memimpin pasukannya memburu Spartacus. Tiberius masuk ke kemah Kore. Dia melampiaskan amarah yang sejatinya ditujukan untuk ayahnya kepada Kore, sang budak tersayang.

Tiberius dan Kore
Tiberius dan Kore

Tiberius memaksa Kore untuk melayaninya. Kore dipaksa, dihinakan sedemikian rupa oleh Tiberius. Penghinaan yang tak akan pernah dilupakan.

Kore menutup erat peristiwa itu dari Crassus. Namun, jauh di lubuk hatinya rasa terhina itu berkembang menjadi kemarahan.

Di sisi lain, Crassus berhasil mengalahkan Spartacus. Julius Caesar disusupkan di antara para pemberontak Spartacus merongrong dari dalam. Sementara itu di sisi lain, bajak laut yang semula bekerja sama dengan Spartacus itu berhasil dibeli. Mereka menghianati kepercayaan yang diberikan oleh Spartacus dengan membelot dan mendukung Crassus.

Kota yang semula dikuasai oleh Spartacus pun berpindah tangan. Kini berhasil direbut kembali oleh Crassus. Pada saat yang sama, Crassus mengembalikan kehormatan dan wibawa Tiberius. Bahkan, dia dijanjikan akan menjadi bangsawan tertinggi di kota itu.

Sebagai tambahan, selain Tiberius dijanjikan menjadi pengelola kota, dia juga akan ditemani oleh Kore sebagai pembimbingnya. Keputusan Crassus ini serta merta ditanggapi dengan penuh penderitaan oleh Kore.

Tak terbayangkan bagaimana perasaan Kore saat ia harus hidup dengan Tiberius. Sosok yang dibenci dan sangat dihindari.

Kore kemudian bercerita tentang penghinaan yang diterimanya dari Tiberius kepada Caesar. Di sisi lain, Caesar yang membenci Tiberius menjanjikan untuk membantu Kore.

Caesar dan Kore pun menyusul Crassus yang saat itu sedang mengejar Spartacus. Di lapangan luas penuh salju telah dibangun tenda megah untuk pasukan dan Crassus sendiri.

Malam itu, Kore sudah bertemu dengan Crassus. Mereka seperti biasa bermesraan melepaskan rindu. Di saat yang dirasa tepat, Kore akan mulai bercerita dan mengadukan perbuatan Tiberius.

Sayangnya, Crassus sedang begitu bangga dengan putranya, Tiberius. Melihat kenyataan itu, Kore urung menceritakan apa yang terjadi pada Crassus.

Kore kemudian merasa tak punya peluang untuk membalaskan dendam pada Tiberius. Secara aneh, Kore malah pergi dari perkemahan dan bergabung dengan gerombolan Spartacus. Ia berharap, dengan bergabung ke Spartacus maka bisa membalaskan dendamnya.

Esoknya, Crassus bangun dan mendapati Kore tak berada di sisinya. Dia merasa sangat sedih dan mencoba mencari Kore ke mana saja.

Kore kemudian menjadi bagian dari para pemberontak yang lari dari kejaran Crassus. Ia ikut ke mana saja Spartacus pergi. Bahkan, sekali waktu juga membantu seorang budak wanita di rombongan itu yang akan melahirkan.

Mula-mula, Spartacus pun mencurigai Kore. Kecantikannya, gerak-geriknya tak pernah dilihat sebelumnya. Kore pun diinterogasi dan setelah terbuka kenyataan bahwa dia bergabung karena sakit hati yang dalam pada Tiberius, maka Kore pun diterima dengan tangan terbuka.

Waktu berjalan dan rombongan Spartacus dikagetkan dengan kedatangan Naevia yang membawa kepala Crixus. Mau tak mau, Spartacus kini dituntut untuk tak lagi lari. Suka tidak suka, kini dia harus berhenti dan melawan Crassus.

Spartacus kemudian mengatur strategi. Beberapa orang budak di rombongannya diminta untuk menyamar sebagai prajurit Roma dari kesatuan yang berbeda dengan Crassus. Tugas penyamar ini adalah untuk–seolah-olah–mengajak Crassus bertemu dalam perundingan menumpas Spartacus.

Tanpa menaruh curiga, Crassus kemudian menyuruh anaknya Tiberius untuk melakukan perundingan. Tentu saja, saat sampai di lokasi Tiberius kaget bukan kepalang karena yang ditemui adalah Spartacus.

Pendek kata dia pun ditawan oleh Spartacus.

Penentuan nasib Tiberius kemudian dilakukan dengan mengadakan pertandingan gladiator. Pelakunya, gladiator-gladiator betulan yang ada di rombongan Spartacus dan prajurit Roma termasuk Tiberius yang berhasil ditawan.

Secara khusus, Tiberius ditandingkan dengan Naevia. Ini adalah upaya atau jalan agar Naevia bisa membalas dendam. Pasalnya, Tiberiuslah sosok yang telah memisahkan kepala dan badan Crixus.

Saat Nevia sudah menggenggam kesempatan itu, utusan Crassus datang untuk membebaskan Tiberius. Penawaran yang diajukan adalah: Tiberius ditukar dengan 500 orang budak yang berhasil ditawan oleh Crassus saat dia mengalahkan Crixus.

Naevia rupanya begitu dewasa, sehingga ia pun bersedia untuk mengampuni Tiberius dan membebaskan saudara-saudaranya sesama budak. Sayang, barangkali memang Tiberius sudah sampai pada titi wancinya. Dia memang harus meninggal dunia saat itu juga.

Saat Tiberius memaki-maki setelah dibebaskan, dia mengancam akan memberikan balasan yang dahsyat kepada pasukan Spartacus. Saat itulah, mendadak dari belakang muncul Kore yang segera menusuk Tiberius dan menemui ajalnya.

Setelah kematian Tiberius ini, jasadnya dibawa ke perkemahan ayahnya, Crassus. Kore pun ketika itu turut serta. Dua kekasih majikan dan budak ini pun bertemu kembali. Kore bisa tetap melenggang karena kematian Tiberius diakui sebagai ulah para pemberontak.

Tentu saja kemarahan Crassus tak terbendung. Digalangnya kekuatan dan disusun rencana untuk menghantam Spartacus. Pertempuran besar dan penghabisan pun terjadi. Di sini Spartacus terluka setelah gagah berani sendirian mendekati Crassus, bahkan hampir membunuhnya. Dia kalah karena begitu banyak tentara yang melindungi Crassus.

Pertempuran itu memang dimenangkan oleh Crassus. Sebagian budak yang tua dan wanita telah diminta oleh Spartacus untuk pergi lebih dahulu. Namun, banyak juga yang tertangkap. Nasib mereka ini sungguh kasihan karena kini harus disalib di sepanjang jalan menuju ke Kota Roma sebagai pengingat para budak lainnya.

Akhir Hidup Kore

Di antara yang disalib itu, ada Kore. Ia menerima hukuman dari Crassus bukan sebagai pembunuh Tiberius, tapi karena dianggap berkhianat. Bergabungnya Kore dengan Spartacus adalah tanda dari pengkhinatan yang dilakukan.

Hidup Kore diabdikan untuk majikannya yang sekaligus cintanya. Namun, dendam putra majikan telah membawanya terseret dalam pusaran dendam yang lain. Kore bimbang, apakah harus tetap berada di sisi majikannya atau bergabung dengan musuh yang berarti terbebas dari putra sang majikan.

Sumber:

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: