Menulis: Tiga Cara untuk Mengawali Novel Anda

first_sentences

Oleh: Diane O’Connell

Ketika pertama kali membuka novel baru, ada banyak kejutan dalam kalimat pertama. Saya tahu ini sedikit ekstrem, tapi bukankah sebuah kalimat pembuka yang menarik dan menggairahkan akan membuat Anda segera masuk ke dalam cerita novel daripada hanya satu kalimat yang biasa-biasa saja?

Sebuah kalimat pertama yang kuat dan menarik bukan hanya menuntun pembaca ke novel Anda, namun juga menjadi petunjuk kepada keseluruhan tema cerita, eksplorasi dan proses terus menerus.

Berikut ini adalah 3 cara untuk mengawali novel Anda:

1. Kejutan

“Hari ini nenekku meledak!”

Iain M. Banks, The Crowd Road.

Apakah Anda baru saja bertanya, “Apa, Meledak?” Sebuah pembuka yang mengejutkan membuat pembaca berhenti sejenak, bahkan perhatiannya jadi kacau. Cara yang dramatis membuat cerita dalam novel Anda lebih hidup.

Biasanya, kalimat pembuka yang terbaik adalah yang singkat, mengejutkan, atau mengandung frase yang membingungkan pembaca seperti di atas. Kendati pembaca Anda tak paham apa yang terjadi, namun mereka tertarik. Mereka ingin tahu lebih banyak dan satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah tetap membaca untuk mengetahui jawabannya. Ini adalah kunci Anda sebagai seorang penulis.

2. Memikat

“Bayangkan, sebuah musim panas yang diambil dari film ‘Coming of Age’ yang berlatar di kota kecil pada tahun 1950-an.”

Tana French, In The Woods.

Kalimat di atas sungguh cantik, bahkan puitis, sehingga dapat mengajak pembaca ke dalam latar novel Anda. Kesan nostalgia yang digunakan oleh French menghiasi kalimat pertamanya. Ia mengingatkan pembaca pada gambaran kota kecil dan musim panas yang sangat indah. Pembaca pun terbawa pada kenangannya masing-masing.

Pembukaan novel yang menggetarkan semacam ini juga mengatur gaya keseluruhan novel. In The Woods mengambil latar di pedesaan Irlandia sepanjang musim panas yang akhirnya mengubah karakter tokohnya. Sebuah gambaran masa lalu digunakan, maka French melakukan reka ulang kenangan yang terhubung dengan masa kecil. Kita tak akan ingat bagaimana percakapan atau apa tepatnya rutinitas tiap hari, namun kita mengingat apa yang dirasakan dengan panca indera. Kalimat pertama French membangun gambaran sebuah adegan Proust dalam Remembrance of Things Past, ketika dia memanfaatkan ingatan dari Madeleine yang sederhana dan memikat hati. Gambaran ini mengarahkan pembaca bagaimana novel ini akan bercerita.

3. Menghubungkan

“Jika kau benar-benar ingin mengetahui tentang hal ini, hal pertama yang barangkali ingin kau ketahui adalah di mana aku lahir, sejelek apa masa kecilku, bagaimana kesibukan orang tuaku sebelum aku ada, dan semua omong kosong David Copperfield, namun aku tak ingin bercerita tentang itu jika kau ingin mengetahui yang sebenarnya.”

—J. D. Salinger, The Catcher in the Rye

Jika tokoh protagonis yang mengarahkan jalan cerita dalam novel, atau memiliki sudut pandang yang unik, maka cobalah pembukaan novel dengan masuk ke dalam pemikirannya, dalam bentuk cerita atau dialog. Di sini, kita mendengar pencerita secara jelas mendeskripsikan suasana. Serta merta, kita akan penasaran dia akan berkata apa lagi.

Pembukaan yang sempurna semacam ini memerlukan komitmen penuh untuk menulis dalam pikiran karakter utama. Pertama kali Anda harus paham pola pikirnya, suasana, latar tempat… Ini jika Anda ingin mengenalkan karakter utama Anda sesegera mungkin kepada pembaca.

Apakah Anda ingin menyusun kalimat pembuka yang memikat namun tak yakin bagaimana melakukannya? Cobalah hal ini, carilah pembuka sebuah novel yang Anda suka dan coba tiru, bagaimana susunan serta struktur kalimat yang ada, namun dengan cerita Anda sendiri. Jangan takut mengambil risiko berkaitan dengan penulisan kreatif. Jika Anda punya satu dosin kalimat pembuka, namun tak ada satu pun yang dipilih cobalah terus dan jangan menyerah. Kalimat pembuka umumnya adalah sebuah kalimat yang sering sekali berubah dalam sebuah novel.

Diterjemahkan dari: www.writetosellyourbook.com/fiction-advice/three-ways-killer-opening-line

Sumber Gambar

Pelatihan: The Art of Knowledge Exchange

A. Waktu dan Tempat

Lokakarya ini diselenggarakan pada 1-2 April 2014 di Kantor World Bank, Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Tower 1, Ruang Mahakam, Jl. Jend. Sudirman kav. 52-53 Jakarta

B. Narasumber dan Peserta

Narasumber:
• Steffen Janus (Program Manager, Knowledge Hub, World Bank)
• Mr. Philip Karp, Lead Specialist, Knowledge Management, Development Effectiveness Unit, East Asia and Pacific Region

Peserta:
• Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BNPB
• Direktur Pengurangan Risiko Bencana, BNPB
• Direktur Kesiapsiagaan, BNPB
• Kapusdiklat, BNPB
• Kapusdatin, BNPB
• UNESCO
• UNDP
• AIFDR
• Kemenkeu
• Setneg
• Bappenas
• YPRB
• Studio Driya Media/Yayasan Bumi Manira

C. Latar Belakang dan Tujuan Lokakarya

Menjadi tuan rumah bagi delegasi yang berkunjung atau menjadi panitia field visit dapat menyita waktu. Seorang pekerja harus meninggalkan pekerjaan operasionalnya dan menjadi beban pekerjaan tambahan baginya untuk mengurus tamu dan kerja lapangan tersebut.

Namun, sebuah studi pendahuluan dari World Bank menunjukkan bahwa berbagi pengetahuan dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi kedua belah pihak, tamu dan tuan rumah. Kegiatan ini dapat mendukung untuk upaya replikasi pengalaman yang baik dan pembangunan yang cepat dengan menghindari hambatan yang mungkin terjadi di tempat lain.

Berbagi pengetahuan bukanlah ilmu pasti, kendati demikian hal ini dapat dilakukan secara sistematis dan sederhana. Sebuah pendekatan yang efektif telah dikembangkan oleh World Bank Institute, yaitu “The Art of Knowledge Exchange”. Pendekatan ini telah diajarkan kepada staf World Bank di seluruh dunia dan sekarang ditawarkan kepada institusi yang terpilih.

Tujuan dari lokakarya ini adalah familiarisasi peserta dengan pilihan untuk mengorganisasi program berbagi pengetahuan. Instrumen dan aktivitas yang dipelajari akan mendorong staf bukan hanya dalam kesempatan berbagi pengetahuan level internasional, namun juga sangat berguna untuk merencanakan dan menerapkan pada pertemuan sehari-hari maupun lokakarya. Selain itu, dengan lokakarya ini diharapkan perserta dapat:

1. Menerapkan 5 langkah model desain untuk perencanaan dan pertukaran pengetahuan yang sukses.
2. Mengidentifikasi konteks dan proses yang spesifik untuk perencanaan, pendistribusian, dan tindak lanjut untuk pertukaran pengetahuan.

D. Hasil Lokakarya

Lokakarya dilakukan dalam dua segmen. Sesi pagi di hari pertama fokus pada pengetahuan dasar dan metodologi. Sementara sesi sore dan waktu sisa lainnya akan digunakan untuk menerapkan konsep secara konkrit pada aktivitas yang dipilih.

Di hari pertama, peserta melakukan diskusi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah proses pertukaran pengetahuan dapat berjalan dengan baik dan apa tantangan yang dihadapi dalam melakukan proses ini.
Secara umum, peserta menyimpulkan, bahwa pertukaran pengetahuan dapat berjalan dengan baik bila ada kesamaan pengetahuan, sarana dan prasarana mendukung, serta struktur bahasa yang digunakan mudah dipahami.

Instruktur dari World Bank Institute selanjutnya menjelaskan mengenai Kerangka Kerja Pengembangan Kapasitas, yaitu:
• Pertukaran pengetahuan dalam konteks pembangunan,
• Menjawab kendala utama pengembangan kapasitas,
• Memastikan hal itu didorong oleh permintaan
• Target yang disasar adalah agen perubahan
• Berfokus pada hasil atau produk yang konkrit
• Mamfasilitasi pemilihan instrumen dan aktivitas yang tepat

Dalam sebuah kegiatan pertukaran pengetahuan, maka digunakan model yang dinamakan ‘Bridge Model’ atau model jembatan. Bridge Model terdiri dari serangkaian kegiatan, yaitu:

Picture1

Gambar 4. Bridge Model

1. Anchor

Anchor atau jangkar adalah langkah paling awal sebelum proses berbagi pengetahuan dimulai. Proses ini diawali dari identifikasi apa tujuan pembangunan, lebih jauh kepada identifikasi perlunya pertukaran pengetahuan dilakukan. Selanjutnya adalah dengan menentukan tantangan institusi/badan/lembaga. Terakhir adalah menentukan perubahan tujuan dari pertukaran pengetahuan.

2. Define Key Points

Setelah Anchor dilakukan, maka ditindaklanjuti dengan menentukan poin-poin kunci untuk proses berbagi pengetahuan. Poin-poin tersebut mencakup identifikasi profil peserta. Menentukan apa yang harus diperoleh oleh peserta dalam jangka waktu menengah (intermediate outcomes). Dalam langkah ini, hal terakhir yang dilakukan adalah mengidentifikasi penyedia pengetahuan.
Setelah penjelasan mengenai Key Points, instruktur membagi peserta ke dalam berbagai grup untuk melakukan diskusi dan simulasi persiapan sebuah acara berbagi pengetahuan. Acara tersebut berupa:

• Seminar sehari mengenai penanganan bencana Merapi dengan tamu dari BPBD Karo
• Video conference untuk persiapan seminar sehari penanganan bencana Merapi.
• Seminar 5 hari kunjungan dari delegasi Filipina ke Merapi
• Video conference untuk persiapan seminar 5 hari dengan tamu dari delegasi Filipina.

Berikut ini contoh skenario kunjungan dari BPBD Karo/Sinabung dan kunjungan dari delegasi Filipina.

Picture1

Gambar 4. Skenario Kunjungan Delegasi

Peserta mamaparkan hasil diskusinya dan rencana seminar yang akan diselenggarakan. Selanjutnya instruktur memberikan saran dan masukan. Catatan dari kegiatan ini adalah: penyelenggara dan tuan rumah harus mengetahui dengan jelas maksud dan tujuan dari delegasi tamu. Ada daftar pertanyaan yang mesti diajukan dan bisa dijadikan template manakala akan menerima kunjungan tamu dari instansi/lembaga/negara lain.

• Daftar pertanyaan tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
• Level dari pejabat yang akan hadir dalam seminar dan video conference
• Fokus bencana apa yang akan dibicarakan.
• Berapa lama kunjungan akan dilakukan
• Fasilitas apa yang harus disiapkan (Transportasi/akomodasi)
• Bagaimana agenda pertemuan dan video conference

3. Design

Langkah ke tiga dalam model jembatan pengetahuan adalah ‘Design and Develop Key Points’. Setelah mengetahui maksud dan tujuan kunjungan suatu delegasi, maka dibuat desain acaranya. Dalam penyusunan desain acara, harus memerhatikan:

• Pemilihan peserta
• Pengorganisasian, desain dan tim yang akan mempresentasikan
• Pembuatan kerangka waktu kerja untuk pengorganisasian dan pengajuan proposal untuk intervensi yang konkrit.
• Pembuatan agenda yang disesuaikan dengan aktivitas
• Penyiapan isi dari seminar

Sebuah panitia seminar kemudian harus melakukan checklist yang meliputi: pertimbangan kebutuhan dan peluang, pemilihan instrumen untuk pertukaran pengetahuan, apa metode yang akan digunakan dan bagaimana urutannya, terakhir adalah pemilihan aktivitas dan urutannya dalam kegiatan pertukaran pengetahuan yang akan diselenggarakan.

Pertimbangan kebutuhan dan peluang operasional di antaranya mencakup: jumlah anggaran, jumlah orang, waktu yang diperlukan, teknologi dan sumberdaya, serta lingkungan operasional.

Sementara itu, instrumen dalam suatu kegiatan pertukaran pengetahuan yang dimaksud adalah bentuk dari kegiatan itu sendiri. Instrumen itu bisa berupa: konferensi, kunjungan ahli, pameran pengetahuan, study tour, lokakarya, kompetisi, knowledge jam, multi stakeholder dialog/konsultan, komunitas praktisi, dan twining. Instrumen tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung-gabungkan dalam sebuah kegiatan pertukaran pengetahuan.

Sebagai contoh, konferensi ditambah pameran pengetahuan, dan komunitas praktisi bisa digabung dalam satu kegiatan yang menghasilkan sebuah pengetahuan baru. Apabila suatu kegiatan bertujuan untuk memperdalam keterampilan, maka bisa dilakukan rangkaian kegiatan lokakarya, knowledge jam, dan kunjungan ahli.

Di lain sisi, ada pula aktivitas pertukaran pengetahuan. Aktivitas yang dimaksud adalah berbagai kegiatan kecil-kecil untuk mendukung berjalannya instrumen pertukaran pengetahuan. Pertimbangan dalam melakukan suatu aktivitas adalah: bagaimana membangun blok-blok instrumen yang disesuaikan dengan profil peserta, durasi kegiatan, fase-fase kegiatan, sumberdaya dan logistik. Bentuk-bentuk aktivitas yang dilakukan dalam kegiatan pertukaran pengetahuan adalah: presentasi, diskusi, pertukaran pengalaman, dan analisis. Masing-masing dari aktivitas masih bisa dibagi lagi, misalnya paparan bisa diisi dengan demonstrasi/pertunjukan, panel para ahli, lightning talks, sesi poster, pelaporan, dan story telling. Demikian juga dengan diskusi, maka bisa diisi dengan lingkaran anekdot, brainstrorming, sesi buzz, bahkan e-discussion.

Peserta kemudian diminta untuk mengembangkan agenda untuk sebuah instrumen pertukaran pengetahuan. Dalam grupnya peserta membangun standardisasi agenda yang sesuai untuk skenario yang ditentukan. Perlu dipikirkan tujuan, pertanyaan konkrit yang diajukan, jumlah dan profil dari peserta/tamu, durasi acara, dan lainnya. Peserta diminta untuk membuat gabungan aktivitas yang dapat menghasilkan produk/outcomes terbaik.

Picture1

Tabel 1. Skenario Kegiatan

Dari agenda kegiatan yang sudah dibuat, maka kemudian dilakukan review. Review bisa dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan seabgai berikut:

• Apakah cukup variasi aktivitas dalam instrumen?
• Siapa yang bicara dan untuk berapa lama? Apakah informasi yang dipaparkan cukup waktu?
• Apakah disediakan waktu bagi peserta untuk melakukan refleksi pembelajaran?
• Apakah elemet tindak lanjut sudah diikutsertakan?
• Apakah waktu yang digunakan untuk melakukan aktivitas cukup?
• Apakah kita belajar dari mereka?
• Apakah sumberdaya yang tersedia memadai untuk pelaksanaan?

Pada hari kedua, peserta mendapat tugas Berkaitan dengan draf agenda yang telah disusun. Peserta lokakarya diminta untuk berdiskusi dalam rangka menyusun satu sesi secara spesifik. Sesi yang harus dibuat detailnya adalah: opening session, presentation session, field visit, action planning session. Dalam detail kegiatan tersebut, maka harus dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut:

• Apa tujuan dari sesi tersebut?
• Bagaimana alur dari sesi tersebut?
• Siapa melakukan apa dan kapan serta berapa lama?
• Apa sumberdaya yang diperlukan?

4. Implement

Beberapa kunci dalam implementasi/penerapan perencanaan berbagi pengetahuan adalah: mendampingi peserta dalam seluruh sesi kegiatan, membangun keterhubungan dan pertemanan dengan peserta, mengatur dokumen secara sistematis dan lacak kembali.
5. Result

Hasil dari kegiatan harus bisa menyatukan data-data pada saat pelaksanaan kegiatan itu sendiri. Perlu juga dilakukan pengukuran efektivitas di antara hasil yang diharapkan dan tidak diharapkan. Kemudian paling akhir disusun laporan kegiatan.

E. Kesimpulan dan Tindak Lanjut

• Dalam suatu pelaksanaan kegiatan pertukaran pengetahuan yang efektif, haruslah disusun dengan mengikuti alur mulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan hasil.
• Model Jembatan atau ‘Bridge Model’ dapat digunakan untuk membantu berjalannya pelaksanaan proses pertukaran pengetahuan dengan baik.
• Setiap langkah dalam ‘Bridge Model’ ada kunci-kunci atau indikator yang harus dipenuhi agar kegiatan pertukaran pengetahuan bisa berjalan dengan efektif.
• Semua rencana yang peserta buat akan digunakan untuk menyambut delegasi dari Filipina yang akan datang ke Yogyakarta untuk belajar dan berbagi pengetahuan tentang proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

F. Lain-Lain

Dokumen yang terkait dengan lokakarya ini adalah:
1. The Art of Knowledge Exchange Handbook
2. Paparan THe Art of Knowledge Exchange: Sharing Operational Experiences and Lessons Learned

Catatan-catatan lain selama berjalannya pelatihan
• Sebelum suatu delegasi atau tamu datang, maka perlu ada kuesioner sebagai template.
• Opening session jangan terlalu formal.
• Dalam suatu agenda pertemuan dengan delegasi luar negeri, maka perlu dimasukkan item ‘shopping’ hal ini perlu dilakukan untuk menjaga agar peserta tidak belanja sendiri-sendiri.
• Dalam sebuah site visit, perlu ada time keeper yang mengatur jalannya site visit itu sendiri.
• Site visit bukanlah kegiatan wisata, oleh karena itu perlu dipilih guide/fasilitator dengan hati-hati.
• Dalam perjalanan antara tempat pertemuan dengan lokasi site visit di kendaraan dapat dimanfaatkan untuk briefing.
• Proses pertukaran pengetahuan atau ‘knowledge exchange’ dapat dimasukkan ke dalam semua sesi.
• Delegasi tamu yang hadir bila diminta untuk melakukan presentasi, maka harus dimasukkan dalam agenda sedari awal
• Pada bagian akhir kegiatan, perlu dilakukan konfirmasi lagi apakah pihak tuan rumah sudah memenuhi harapan tamu dan menjawab pertanyaan sesuai dengan tujuan tamu.
• Dalam melaksanakan suatu kegiatan, jangan berfokus pada ‘tools’ tapi pada ‘objective’ kegiatan tersebut.

Pelatihan: Capturing and Packaging of Operational Experiences and Lessons Learned

A.      Waktu dan Tempat

Lokakarya diselenggarakan pada tanggal 26-28 Maret 2014 di Universitas Gadjah Mada, Jl. Pancasila No. 2 Bulaksumur, Yogyakarta.

B.      Narasumber dan Peserta

Narasumber:

  • Steffen Janus (Program Manager, Knowledge Hub, World Bank)
  • Nicolas Meyer (Learning Specialist at the World Bank Institute)
  • Mathy van Buel (International Expert on Learning Technologies)

Peserta:

  • Direktorat Kesiapsiagaan, BNPB
  • Direktorat Pemberdayaan Masyarakat, BNPB
  • Direktorat Pengurangan Risiko Bencana, BNPB
  • Pusdiklat, BNPB
  • Pusdatin, BNPB
  • BPBD Prov. DIY, Kab. Sleman, dan Kab. Bantul
  • MTBA (Magister Teknik Bencana Alam, UGM)

C.      Latar Belakang dan Tujuan Lokakarya

Workshop/Lokakarya “Capturing and Packaging of Operational Experiences and Lesson Learned” adalah tindak lanjut dari perintah Kepala BNPB untuk meningkatkan kapasitas BNPB agar lebih sistematis dalam merekam, mengemas, dan membagikan pengalaman-pengalaman operasional dalam semua bidang kerja BNPB.

Pengalaman yang paling relevan untuk efektivitas sebuah organisasi adalah berasal dari para praktisi tematik dan pembuat kebijakan di organisasi tersebut. Sayangnya, beliau ini tidak memiliki waktu untuk berbagi pengalaman yang telah diperoleh dengan pihak lain baik di dalam maupun di luar organisasinya. Pengalaman tersebut berupa pengetahuan tersirat (tacit knowledge) yang ada di kepala para praktisi dan pembuat kebijakan yang dapat hilang manakala beliau pindah atau pensiun.

Banyak organisasi yang tidak memiliki proses yang sistematis dan terlembagakan untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan pelajaran-pelajaran penting dari pelaksanaan tugas-tugas operasionalnya. Dalam seni merekam dan mengemas pengetahuan mencakup langkah-langkah dasar yang diperlukan dalam kaitannya dengan pengetahuan teknis. Inti kegiatan ini adalah penguatan kapasitas penting dalam mengidentifikasi, merekam, memvalidasi dan pengemasan pengalaman-pengalaman operasional.

Tujuan dari lokakarya, diharapkan pada akhir kegiatan peserta akan mampu memahami dan menerapkan langkah-langkah pertama berbagi pengetahuan (dari identifikasi, merekam, sampai pengemasan). Peserta dapat memilih teknik dan alat yang tepatguna untuk melaksanakan setiap langkah. Peserta juga dapat mengevaluasi secara mandiri hasil kerjanya. Akhirnya, peserta dapat memahami keseluruhan siklus berbagi pengetahuan dan manfaatnya untuk diri sendiri dan organisasi.

D.      Hasil Lokakarya

Metode yang digunakan dalam lokakarya ini adalah learning by doing. Kegiatan-kegiatan praktik merekam pengetahuan dikombinasikan dengan sesi eksplorasi kelompok, diskusi, penugasan-penugasan praktis, dan penilaian akhir untuk memastikan pengalaman belajar yang kaya dan sangat interaktif. Studi kasus dalam lokakarya ini adalah proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana erupsi Merapi.

Pertama-tama, peserta harus mengidentifikasi pengetahuan yang akan dibahas terkait dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca Merapi. Semua peserta mengajukan pertanyaan dan dikelompokkan ke dalam 8 topik. Pada saat yang sama, peserta yang berpengalaman dalam penanggulangan bencana Merapi, terutama pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi diminta untuk memaparkan pengetahuannya. Selanjutnya, peserta dibagi ke dalam 8 grup sesuai topik dan di masing-masing grup ada expert/ahli/narasumber, yaitu orang yang berpengalaman tadi.

Proses berbagi pengetahuan mengikuti siklus ‘Art of Capturing and Packaging’ yang digambarkan sebagai berikut:

Picture1

Gambar 2. Siklus ‘Art of Capturing and Packaging Knowledge’

Langkah pertama adalah identifikasi pengalaman operasional dan pembelajaran yang layak direkam. Metode yang digunakan untuk melakukan proses identifikasi adalah:

  1. Kuesioner 5W1H
  2. Cheklist: sesuai dengan kriteria pada identifikasi pengetahuan
  3. Audit pengetahuan
  4. Analisis Kesenjangan Pengetahuan

Identifikasi pengalaman operasional atau pengetahuan ini perlu dilakukan agar suatu pengetahuan/pengalaman bermanfaat untuk digunakan oleh orang lain. Sebuah pengetahuan yang layak untuk direkam harus memenuhi kriteria:

  • Dibutuhkan oleh orang banyak
  • Dijelaskan dengan baik
  • Dapat direkam/disimpan/dicatat
  • Dapat dibagikan ke orang lain
  • Dapat dilaksanakan oleh orang lain
  • Sesuai dengan topik bahasan

Langkah kedua setelah identifikasi pengetahuan untuk dibagi adalah proses perekaman pengetahuan. Guna melakukan hal ini, banyak metode dan peralatan yang dapat digunakan untuk merekam pengalaman operasional dan pembelajaran. Metode tersebut di antaranya adalah:

  • Wawancara
  • Bercerita (story telling)
  • Review dan evaluasi (after action reviews)
  • Laporan di kantor
  • Grup Diskusi (focus group)
  • Observasi
  • Panduan Bagaimana Untuk … (How to Guides)
  • Blog
  • Wiki
  • Ruang Kerja Bersama
  • Konferensi
  • Forum
  • Komunitas Praktisi

Dengan mengetahui metode perekaman, bukan berarti tugas selesai. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana peserta dapat menerapkan metode tersebut. Guna mengatasi hal itu, setiap kelompok harus mengisi template rencana perekaman yang terdiri dari:

  • Pengetahuan apa yang ingin direkam
  • Siapa ahli yang akan menjadi narasumber
  • Bagaimana teknik perekaman dilakukan
  • Di mana dilakukan perekaman
  • Kapan waktu perekaman
  • Bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan
  • Peran dan tanggung jawab, siapa melakukan apa
  • Risiko yang mungkin dihadapi
  • Kesempatan atau tindak lanjut apa yang mungkin terjadi

Pada lokakarya ini, dalam grupnya masing-masing ada peserta yang berperan sebagai pewawancara dan narasumber. Pewawancara menyiapkan serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan topik di masing-masing grup. Namun, dalam perkembangannya digabungkan metode wawancara dan story telling. Hal ini dilakukan agar semua pewawancara memiliki pemahaman yang sama terlebih dahulu tentang topik yang dibahas.

Setelah proses perekaman selesai dilakukan, peserta/pewawancara harus mengisi template perekaman. Template ini terdiri dari:

  • Topik apa yang ingin direkam pengetahuannya,
  • Latar belakang topik tersebut dipilih,
  • Tantangan yang dihadapi,
  • Solusi untuk mengatasi tantangan dan keberhasilan atau kegagalan solusi tersebut,
  • Pembelajaran,
  • Rekomendasi.

Setelah sebuah pengalaman atau pengetahuan bisa direkam, maka perlu dilakukan validasi terhadap informasi yang didapatkan. Validasi tersebut dapat dilakukan oleh manajemen, penulis/pewawancara sendiri, ahli lain, dan kawan-kawan pewawancara sendiri. Cara yang bisa dilakukan adalah melakukan perulangan proses wawancara atau story telling dengan pertanyaan yang sama atau menanyakan hal-hal yang dirasa masih kurang jelas.

Manakala proses validasi selesai dilakukan, maka proses selanjutnya adalah pengemasan pengetahuan. Banyak pilihan untuk mengemas pengetahuan agar bisa dibagi ke orang lain. Hal yang umum dilakukan misalnya dalam bentuk paparan untuk disajikan kepada peserta atau pihak yang membutuhkan. Selain itu, pengemasan juga bisa dilakukan dalam bentuk rekaman audio, video, tulisan di website, buku, laporan dan lainnya.

Seluruh hasil kemasan pengetahuan tersebut selanjutnya perlu dilembagakan secara resmi oleh organisasi agar lebih terbaca dan ada legitimasinya.

Pada hari terakhir, di hari ketiga lokakarya diisi dengan paparan peserta atas hasil diskusi. Dalam hal ini adalah pengetahuan yang telah dikemas ke dalam berbagai bentuk. Sebagian besar peserta memaparkan dalam bentuk presentasi menggunakan power point. Namun, presentasi tersebut ada yang dilengkapi dengan video, rekaman audio, bahkan ada satu kelompok yang memafaatkan media leaflet.

Satu demi satu grup menampilkan hasil kemasan pengetahuannya dan dikomentari oleh grup lain serta instruktur. Selanjutnya adalah tindak lanjut, yaitu adanya rencana aksi sebagai tindak lanjut untuk melengkapi pengetahuan tersebut. Rencana aksi yang dimaksud mencakup beberapa hal berikut:

  • Klarifikasi dari definisi pengetahuan
  • Second opinion
  • Kapan akan dilakukan rencana tindak lanjut tersebut
  • Apa pertanyaan lain yang muncul

Catatan penting dari rencana aksi ini adalah, apa pun rencana yang muncul harus bisa dilakukan.

Dengan dilakukannya paparan oleh semua kelompok, maka sejatinya lokakarya sudah selesai. Namun, tim instruktur berkenan untuk mengajarkan kepada peserta yang berminat bagaimana memanfaatkan media presentasi, termasuk power point, video dan audio secara efektif untuk merekam pengetahuan.

Dalam penggunaan power point, pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah, “Apabila Anda dapat menjelaskan tanpa power point, kenapa Anda harus menggunakannya?”

Beberapa petunjuk yang bisa dimanfaatkan saat akan menggunakan power point adalah:

  • Cerita apa yang ingin disampaikan dalam paparan tersebut, bagaimana alurnya?
  • Hati-hati dalam memilih gambar yang akan digunakan dalam power point
  • Jangan pernah lupa tujuan presentasi itu sendiri
  • Fokuslah pada ide dan gunakan gambar
  • Setiap presentasi selalu menjual produk/sesuatu
  • Setiap slide harus memiliki tujuan mandiri yang mendukung keseluruhan cerita
  • Kunci dari presentasi adalah mencari kunci dari sebuah produk/pengetahuan
  • Hal yang paling penting adalah bagaimana menarik perhatian peserta
  • Jangan gunakan satu power point untuk berbagai kesempatan, sesuaikan paparan dengan peserta yang hadir.
  • Harus berhati-hati saat akan menambahkan animasi pada paparan
  • Berlatih memaparkan power point kita secara terus menerus
  • Gunakan standar huruf (ukuran/jenisnya) sesuai yang disarankan oleh power point.

E.       Kesimpulan dan Tindak Lanjut

  • Pengalaman atau pengetahuan perlu direkam, dikemas, dan dibagikan agar kinerja suatu organisasi efektif.
  • Saat seorang praktisi atau ahli yang berpengalaman pindah kerja atau pensiun, maka pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya bisa ditularkan kepada orang lain di luar atau di dalam organisasi.
  • Kemasan pengetahuan yang dihasilkan hendaknya dilembagakan agar memiliki legitimasi.

F.       Lain-Lain

  • Dokumen yang terkait dengan lokakarya ini adalah:
  • Template for Capturing Plan
  • Detailed action plan
  • Short description template
  • Paper “The Art of Capturing and Packaging Knowledge”
  • Template Form Validasi
  • Hasil-hasil diskusi bisa diakses di www.dewantoedi.net

Pelatihan: Pembangunan Kapasitas Pembelajaran Jarak Jauh untuk BNPB

A.      Waktu dan Tempat
Lokakarya diselenggarakan pada 25 Maret 2014 di GDLN Center di Kampus UI, Gedung IASTH Lantai 1, Jl. Salemba 4, Jakarta.

B.      Narasumber dan Peserta

Narasumber: Mr. Mathy van Buel, seorang ahli internasional dalam bidang teknologi pembelajaran.

Peserta: BNPB (Pusdiklat dan Pusdatin), World Bank, Universitas Indonesia

C.      Latar Belakang dan Tujuan Lokakarya

Sebagai bagian program dukungan untuk BNPB dalam pembangunan kapasitas perekaman dan pembagian pengetahuan, World Bank mengundang BNPB dalam lokakarya ‘Developing Distance Learning Capacity for BNPB’.

Dalam Lokakarya ini diberikan informasi desain pusat pelatihan BNPB dan penggunaan teknologi secara strategis yang akan digunakan untuk program pelatihan bagi BPBD dan mitra-mitra BNPB. Tempat lokakarya adalah di Global Development Learning Network (GDLN) yang berada di Universitas Indonesia. Diharapkan dari lokakarya ini peserta mendapatkan gambaran singkat pengaturan teknologi dan bagaimana hal itu digunakan untuk proses pembelajaran, pelatihan, dan dialog pada tingkat nasional dan internasional.

D.      Hasil Lokakarya

Teknologi dan metodologi yang handal dapat secara efektif mendukung upaya berbagi pengetahuan dan pengalaman praktis ke seluruh Indonesia, bahkan mancanegara. BNPB yang bekerja di wilayah sebesar Indonesia dan memiliki kompleksitas geografis yang terpisah-pisah dapat menggunakan teknologi dan metodologi pembelajaran jarak jauh. Fasilitas pendidikan dan pelatihan BNPB yang baru di Sentul dapat menggunakan metode pembelajaran jarak jauh untuk berbagai pengetahuan ke BPBD di seluruh Indonesia atau mitra-mitra dari luar negeri.

Fasilitas GDLN yang ada di UI dibangun oleh World Bank dengan biaya US$ 200.000, memiliki kapasitas tempat duduk 60 orang, ruangannya kedap suara dan ada satu ruang untuk penterjemah. Di bagian depan, terdapat dua layar proyektor untuk menampilkan near sight dan far sight. Peserta seminar atau paparan jarak jauh yang ada di UI ditampilkan di layar ‘near sight’ sementara yang berada di tempat lain ditampilkan di layar ‘far sight’.

Picture1

Gambar 1. Contoh Pemanfaatan Fasilitas GDLN

Guna melakukan video conference diperlukan jaringan internet dengan kapasitas 2-5 MB. UI sendiri saat ini memiliki dua fasilitas GDLN yang berada di Salemba dan Depok.

Sejauh ini, GDLN di UI pernah digunakan untuk melakukan video conference dengan peserta dari 22 universitas yang berbeda di seluruh Indonesia. Seluruh peserta terlibat aktif dalam seminar jarak jauh tersebut. Layar GDLN di UI dapat menampilkan sampai dengan maksimal 9 peserta dan secara berganti-ganti menampilkan 22 peserta lainnya.

Dalam melaksanakan video conference, selain prasarana dan sarana untuk melakukan seminar jarak jauh, diperlukan juga peserta, narasumber, dan teknisi. Selain itu, berbagai pertimbangan juga perlu dirancang sebelum seminar jarak jauh dilakukan. Catatan lainnya: perlu interaksi yang aktif di antara peserta seminar dan moderator yang cakap untuk mengatur jalannya video conference. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah rencana cadangan manakala terjadi gangguan misalnya terjadi kegagalan jaringan internet.

Kendala lain apabila sistem pembelajaran jarak jauh diterapkan di BNPB adalah banyak pelatihan yang dilakukan memerlukan praktik. Kondisi ini dapat diatasi dengan adanya asisten lokal yang berada di daerah untuk membantu peserta selama praktik dilakukan.

Sebuah seminar atau kelas jarak jauh hendaknya tidak melibatkan terlalu banyak peserta dan harus ada sistem yang memungkinkan seluruh peserta aktif terlibat dalam kegiatan. Hal ini diperlukan agar semua peserta tidak teralihkan perhatiannya dan narasumber mudah mengontrol kelas. Dengan demikian, narasumber yang terlibat dalam kegiatan ini haruslah memiliki keahlian dan keterampilan yang baik.

E.       Kesimpulan dan Tindak Lanjut

  • BNPB tertarik untuk menggunakan metode pembelajaran jarak jauh di bidang penanggulangan bencana kepada BPBD dan mitra lain dalam dan luar negeri.
  • Pusdiklat BNPB bertanggung jawab dalam bidang kurikulum dan penyelenggaraan pelatihan. Pusdatin BNPB mendukung dari sisi teknologi dan sarana untuk jalannya video conference.
  • Perlu ada Training of Trainer bagi narasumber yang akan terlibat dalam pembelajaran jarak jauh.
  • Sebelum sistem pembelajaran jarak jauh diterapkan di BNPB, Pusdiklat menginginkan dilakukan uji coba terlebih dahulu dengan menggunakan fasilitas GDLN yang ada di UI dan universitas lain di seluruh Indonesia.

F.       Lain-Lain

Dokumen yang terkait dengan lokakarya ini adalah:

  1. Pengalaman GDLN di wilayah Asia-Pasifik
  2. Panduan Pembangunan Fasilitas GDLN
  3. Paparan mengenai GDLN
  4. Paparan Pembelajaran Penyelenggaraan Kuliah Jarak Jauh di UI
  5. Defining Blended Learning in the GDLN Context

Pelatihan: BNPB-World Bank, Ringkasan Eksekutif

BNPB didukung oleh World Bank akan mengembangkan fasilitas pembelajaran jarak jauh di InaDRTG. Fasilitas ini serupa dengan yang ada di Universitas Indonesia dan merupakan bagian dari GDLN (Global Development Learning Network). Dengan adanya fasilitas ini, maka proses belajar dan pelatihan dapat dilaksanakan untuk seluruh wilayah Indonesia tanpa peserta harus datang ke pusat pelatihan BNPB.

Universitas Indonesia telah memanfaatkan fasilitas GDLN untuk menyelenggarakan seminar dan kuliah jarak jauh dengan metode video conference. BNPB yang memiliki wilayah kerja di seluruh Indonesia dan bermitra dengan BPBD sudah selayaknya meniru apa yang dilakukan oleh UI. Harapannya, proses pelatihan dan pembelajaran dapat dilakukan secara jarak jauh. Laporan lengkap kunjungan ke GDLN dapat dibaca di Bab I. Pembangunan Kapasitas Pembelajaran Jarak Jauh untuk BNPB

Selanjutnya, BNPB telah berpengalaman dalam melakukan upaya penanggulangan bencana di seluruh Indonesia. Kendati demikian, upaya pencatatan pengalaman dan pengetahuan praktis tersebut masih jarang dilakukan. Suatu saat, para staf, pejabat, dan tenaga ahli yang ada di BNPB akan pindah kerja atau pensiun. Sangat disayangkan apabila pengalaman dan pengetahuan praktis tersebut hilang seiring dengan ketidakhadiran beliau di BNPB.

Guna mengatasi hal ini, maka BNPB didukung oleh World Bank menyelenggarakan lokakarya ‘The Art of Capturing and Packaging Knowledge’. Sebuah pengetahuan yang dimiliki oleh para ahli dapat dimanfaatkan oleh pihak lain, namun harus diidenfitikasi, dan dikemas. Bagaimana melakukan itu semua, dapat dibaca pada laporan di Bab II. Capturing and Packaging of Operational Experiences and Lesson Learned

Sebuah pengetahuan atau pengalaman yang telah dikemas kemudian harus disebarluaskan, dibagi, atau ditukarkan (exchange). Bagaimana kegiatan pertukaran pengetahuan ini dilakukan secara efektif?

Sebuah model berbagi pengetahuan telah dikembangkan oleh World Bank, dinamakan ‘Bridge Model’. Implementasi ‘Bridge Model’ dilakukan dengan mempertimbangkan tujuan pertemuan, siapa peserta yang hadir, siapa narasumber yang datang, waktu yang tersedia, sampai dengan jumlah anggaran yang ada. Dalam kegiatan pertukaran pengetahuan, perlu dilakukan pemilihan instrumen dan aktivitas yang tepat. Bagaimana penyusunan kegiatan pertukaran pengetahuan tersebut dilakukan, bisa dibaca pada laporan di Bab III. The Art of Knowledge Exchange Workshop and Training

BNPB sebagai ‘Center of Excellent’ dalam penanggulangan bencana hendaknya mampu mengemas pengetahuan dan keahlian yang dimiliki agar dapat bermanfaat untuk pihak lain di Indonesia dan dunia. Dalam rangka hal itu, maka perlu fasilitas untuk berbagi pengetahuan dan penyelenggaraan kegiatan berbagi pengetahuan yang baik. Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk mendukung upaya tersebut.

Menulis: Membuat Tulisan Ilmiah Populer

Berikut ini adalah catatan saya saat mengikuti kegiatan pertemuan penyusunan ‘Buku Data Bencana Tahun 2013’ pada tanggal 21 April 2014 kemarin. Catatan ini berdasarkan paparan dari Ahmad Arif, beliau adalah jurnalis Kompas yang diundang oleh Pusdatinmas, BNPB, untuk memberikan pemahaman mengenai tulisan ilmiah populer. Silakan disimak poin-poin berikut, semoga bermanfaat.

  1. Suatu karya tulis hendaknya disajikan dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti
  2. Tulisan populer ditujukan untuk semua kalangan, kaya data, dan enak dibaca
  3. Harus ada aspek manusia dalam sebuah tulisan populer
  4. Struktur tulisan populer: mulai dari informasi terkuat/terpenting → sembunyikan bagian terlemah → buat ending yang terkuat (akurat berdasarkan fakta-fakta)
  5. Tips dalam menulis populer: gunakan kalimat sederhana, hindari istilah asing, jargon dan pakailah singkatan yang umum digunakan, buat analogi, don’t tell but show.
  6. Tulisan populer harus mengandung nilai-nilai aktual: hubungannya dengan masyarakat, peristiwa terbaru, konteks dengan masalah yang menjadi tren. Tujuannya adalah tulisan Anda layak untuk dibaca sekarang juga dan bukan besok-besok.
  7. Kalimat sederhana ditandai dengan penggunaan Subyek-Predikat-Obyek, hindari menggunakan anak kalimat, sebuah kalimat idealnya maksimal terdiri dari 13 kata, satu paragraf maksimal 3 kalimat atau 5 baris dalam format MS Word.
  8. Penyajian tulisan populer dapat mengikuti saran sebagai berikut: judul yang memikat, lead yang berbicara (kata, kalimat, paragraf pertama jangan bertele-tele), kalimat yang mengalir (jangan biarkan pembaca kehilangan semangat untuk melanjutkan membaca), ending yang berkesan.
  9. Layout sebuah buku sangat menentukan
  10. Saat ini tuntutannya adalah penyajian yang interaktif
  11. Tim ekspedisi cincin api terdiri dari:
  • 1-2 orang penulis
  • 1-2 orang fotografer/videografer
  • 1-2 orang layouter
  • Catatannya: harus ada satu orang yang menangani keseluruhan buku dari awal sampai akhir.

Pelatihan: Empat Langkah Mudah Menggunakan Garmin ‘GPSmap 62s’

Capture_GPS

  • Nyalakan GPS

Tekan dan tahan tombol power dan kemudian biarkan GPS receiver menerima sinyal satelit. GPS receiver bisa digunakan ketika dapat menangkap minimal 3 sinyal satelit.

  • Baca Posisi

Setelah GPS receiver menerima sinyal satelit, maka posisi koordinat Anda saat ini bisa langsung dibaca di perangkat.

  • Simpan Waypoint

Plotting titik (mark waypoint) berarti pembuatan titik atau ploting lokasi, syaratnya Anda tidak diperkenankan pada posisi bergerak, anda harus berhenti pada lokasi tersebut sampai berhasil melakukan mark waypoint.
Untuk melakukan mark waypoint, tekan beberapa saat tombol MARK, maka akan muncul halaman Mark Waypoint. Selanjutnya arahkan highlight biru pada tombol DONE, dan tekan tombol Enter.
Melalui Waypoint Manager, Anda bisa mengubah (edit) dan menghapus (delete) suatu waypoint.
Mengubah Titik (Editing Waypoint). Tekanlah MENU dan pilih Waypoint Manager.

  • Go To

Tekan tombol Find, pilih waypoint yang akan dituju. Tekan tombol Enter untuk masuk ke halaman waypoint. Arahkan highlight kuning pada tombol Go, kemudian tekan tombol Enter untuk menampilkan navigasi arah dalam peta ke waypoint tersebut.

Materi ini disiapkan sebagai bahan ajar dalam Forum Komunikasi Wartawan di Surabaya 15-17 April 2014 yang diselenggarakan oleh Bidang Humas, Pusdatinmas, BNPB

Pelatihan: Manfaat GPS untuk Wartawan

Informasi mengenai posisi menjadi salah satu unsur dalam rumus dasar 5W1H-nya wartawan. Where (di mana) lokasi berita Anda terjadi mutlak dicantumkan atau berita yang ditulis bukanlah berita yang lengkap. Pertanyaannya adalah dari mana Anda mendapatkan informasi lokasi tersebut?

GPS memberikan informasi lokasi di mana saat ini Anda berdiri. Lokasi tersebut dari wilayah administrasi seperti provinsi, kab/kota, kecamatan, desa, sampai dengan yang paling detil titik koordinat.

Guna meningkatkan kemampuan GPS, maka perangkat ini biasanya juga dilengkapi dengan peta. Keunggulan ini memungkinkan Anda mengetahui posisi Anda saat ini. Sebagai contoh, saat Anda meliput letusan gunung api, Anda bisa mengetahui apakah berdiri di KRB I, II, atau III. Anda pun bisa tahu, saat ini berada di radius berapa dari Gunung Api. Bila yang diliput kegiatan presiden atau demonstrasi, Anda bisa mengetahui saat itu berdiri di ring berapa. Dengan informasi-informasi dari GPS tersebut, maka Anda bisa nyaman melakukan liputan tanpa harus risau dengan keselamatan pribadi.

Satu ketika Anda mendapatkan tugas dari kantor untuk melakukan peliputan bencana di lokasi yang baru Anda dengar saat itu. Bagaimana Anda akan menuju ke lokasi tersebut?

Barangkali Anda bisa bertanya kepada teman atau orang lain yang telah mengetahui lokasi bencana tersebut. Namun, ada cara lain yang bisa Anda gunakan, yaitu menggunakan GPS. Bila mobil liputan Anda dilengkapi GPS, maka Anda bisa meminta bantuan GPS untuk memandu sampai tiba di lokasi. GPS memiliki kemampuan ini.

Lebih jauh lagi, bukan hanya lokasi baru yang bisa Anda tuju dengan bantuan GPS, namun lokasi penting seperti kantor, hotel, tempat pertemuan, dan lainnya juga bisa ditemukan dengan menggunakan bantuan GPS. Apabila Anda dipandu oleh GPS, maka bisa lebih cepat menuju ke lokasi tanpa harus bertanya kepada orang lain atau kawan. Daripada sibuk bertanya lokasi atau rute suatu tempat yang harus dituju, dengan bantuan GPS, maka energi Anda bisa dihemat untuk melakukan liputan.

Saat Anda menuju ke lokasi bencana, maka rute perjalanan Anda bisa direkam menggunakan GPS. Data perekaman ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk membantu Anda pulang kembali ke kantor. Anda tak perlu khawatir tersesat dan tak bisa pulang, dengan menggunakan bantuan dari GPS.

Barangkali Anda sudah biasa memanfaatkan GPS bawaan di gawai yang biasa digunakan. Berbagi lokasi di facebook, twitter, whatsapp, dan foursquare, mungkin bukan hal yang baru dan sudah rutin dilakukan. GPS membantu berbagi lokasi Anda dengan kawan dan jaringan di media sosial.

Namun, lebih penting daripada itu, bila Anda meliput di wilayah bencana atau konflik, maka GPS juga bisa membantu untuk melakukan pantauan posisi. Anda dibekali GPS (yang sudah dilengkapi perangkat tambahan) maka kantor bisa dengan mudah memantau setiap pergerakan yang dilakukan. Hal ini untuk menghindari apabila hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada Anda.

Saat ini, GPS juga sudah ditambahkan ke dalam kamera. Gambar yang Anda hasilkan dari kamera jenis ini membuatnya sudah dilengkapi dengan titik koordinat. Tak hanya menampilkan gambar, dengan foto ber-geotagging tersebut, sekaligus Anda juga menampilkan lokasi di mana foto diambil.

Materi ini disiapkan sebagai bahan ajar dalam Forum Komunikasi Wartawan di Surabaya 15-17 April 2014 yang diselenggarakan oleh Bidang Humas, Pusdatinmas, BNPB

Review: 10 Years

capture_10years

Seperti biasa, saat mengganti-ganti saluran televisi di rumah, saya temukan film yang menarik. Tentu saja sudah tak baru, tapi kendati bukan film baru, karena saya baru menonton film itu pertama kali, jadi tetap terasa baru buat saya.

Entah berapa malam yang lalu, saya temukan ’10 years’ di FX Channel. Saya baca sinopsisnya sekilas dan kemudian memutuskan untuk menonton film tersebut.

Sinopsis

Film ini ringan dan alurnya mudah ditebak. Namun, hal itu tak mengurangi ketertarikan saya menontonnya. Cerita yang disajikan mengenai sebuah kelas yang mengadakan reuni 10 tahun setelah mereka lulus.

Masing-masing pemeran punya kisah berkaitan dengan saat-saat mereka sekolah. Masing-masing juga punya misi dalam reuni 10 tahun itu. Namun, rupanya masing-masing pemeran juga punya persoalan dengan masa lalu yang hendak diselesaikan.

Misi-misi Lelaki

capture_10years2

  1. Jake sudah berpacaran dengan Jess, namun dia masih ingin bertemu dengan mantan pacarnya dulu, Mary.
  2. Sully telah menikah dengan anggota pemandu soraknya dulu, Sam. Dalam reuni itu, dia ingin meminta maaf pada teman-teman yang dahulu sering sekali diganggunya.
  3. Marty dan A.J bersaing sedari dulu dan dalam reuni itu, mereka berdua memperebutkan perhatian Susan, gadis paling seksi di kelas mereka.
  4. Reeves dahulu malu-malu mengakui kalau dia memerhatikan dan menyukai salah seorang temannya, Elise. Di reuni, dia kembali bertemu dengan Elise, setelah sepuluh tahun, apakah dia menemukan keberaniannya?

Yang Menarik

  • Realitas sesungguhnya.

Saya bayangkan, jika kelas di SMA dulu mengadakan reuni 10 tahun kemudian, tentu suasana yang tercipta tak akan jauh berbeda. Canggung yang muncul saat dua orang mantan saling bertemu. Situasi aneh saat korban dan pembuat onar saling berjabat tangan. Itu semua rasanya begitu nyata, bahkan penonton seperti dibiarkan menebak-nebak. Tak urung, saya pun tersenyum-senyum kegirangan karena tebakan saya benar atau saat dengan jahil otak saya mengingat teman masa SMA dulu yang mungkin saja mengalami situasi persis di film ini.

  • Seseorang tak pernah dewasa saat bertemu kawannya.

Hal ini terbukti dalam film ini. Kendati sudah beranak dua, Sully tetap saja badung dan alih-alih meminta maaf pada korbannya, dia justru kembali mengulang mengganggu mereka. Peristiwa ini sungguh membuat malu Sam, istri Sammy.

  • Kenakalan masa lalu akan diulang kembali.

Adalah A.J dan Marty yang dari dulu mengharapkan Susan menoleh ke arah mereka. Dalam reuni itu, harapan itu masih menyala-nyala kendati A.J sudah beristri. Niat awal sebenarnya dia ingin menjadi mak comblang antara Marty dengan Susan, namun justru dia pun terpikat. Mereka berdua kemudian membuntuti Susan pulang ke rumah. Di rumah itu dahulu mereka kerap berbuat jahil. Anehnya, setelah sepuluh tahun, ide mereka untuk menjahili Susan tetap sama.

  • Cinta pertama tak pernah padam.

capture_10years3

Adalah Reeves yang kini telah menjadi seorang penyanyi terkenal. Semua mata gadis di reuni pun memandang ke arahnya. Namun, dia tetap saja jengah saat Elise memasuki ruangan. Elise adalah cinta pertama Reeves yang tak bisa dimiliki. Apakah Elise masih sendiri dan mau bersama Reeves, bagaimana usaha Reeves untuk memikat Elise?

Jadi, kapan kita reuni? 😀

Sumber Gambar:

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3