Menulis: Berawal dari Niat

Bila lama tak menulis, maka pikiran berselirat. Laksana akar pohon yang jalin menjalin di antara sulur yang satu dengan yang lain terjadi semakin rumit. 

Nah, pikiran saya seperti itu. Bila lama tak menulis, maka kelindan pikiran itu kian hari makin rumit. Seperti benang ruwet yang menunggu untuk diurai.

Mengurai benang perlu sabar, harus dicari ujung pangkalnya agar bisa ditelusuri di bagian mana yang mulai kusut. Pikiran tak bisa dilacak di mana ujung pangkalnya.

Saya baca di NGI satu buah ingatan akan memicu serombongan saraf-saraf di otak bereaksi. Seperti halnya listrik yang mengantarkan setrum. Hal ini yang membikin sulit mencari di mana ujung pangkal pikiran yang bersemayam di otak itu.

Agar pikiran tak berselirat seperti akar yang berkelindan menopang pohon. Saya perlu merumuskan banyak hal. Namun, sejatinya saya hanya perlu menulis.

Sayangnya, sekadar niat tak akan jadi. Sebuah huruf harus diguratkan, sebuah kata ditorehkan, digabung menjadi kalimat, kemudian paragraf dan akhirnya menjadi satu cerita.

Yang sudah disebutkan di atas adalah teori menulis. Namun, lagi-lagi semua itu hanya bisa menjadi sebuah tulisan bila ada penggeraknya.

Pemicu itu yang kemudian harus dicari. Dan bagi saya, rupanya penggerak tersebut adalah membaca. Membaca blog orang lain salah satunya, melihat update kawan-kawan, perlahan diri ini pun tergerak untuk mengetikkan alamat blog sendiri di perambah.

Demikianlah terus berlanjut, sampai kemudian hadir satu lagi tulisan. Bagi saya, rupanya bukan sekadar satu tulisan lagi, lebih dari itu: sebuah usaha menata pikiran agar tak berselirat.

Cobalah kau menulis, kawan, agar tak kusut tampang kau tu. Hehehe

Gambar dipinjam dari sini

Mengenai ‘berselirat’ silakan dibaca penjelasannya di sini

4 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: