Kiat: Tiga Hal yang Perlu Dilakukan Agar Terhindar dari Penyakit

Manakala saya pulang ke rumah dan bertemu keluarga tentu banyak hal yang diperbincangkan. Terkadang, pembicaraan melantur ke mana-mana, diselingi tawa, cibiran, dan sendau gurau. Menemani obrolan itu, teh hangat khas yang khusus dan hanya bisa ditemukan di rumah menemani. Tak ketinggalan cemilan seadanya turut menggoyang lidah. Seru sekali biasanya obrolan berlangsung.

Seperti kemarin saat saya pulang karena istri mau memotong kambing qurban di kampung. Seperti biasa, perbincangan pun tergelar. Dimulai dari update informasi, yaitu mengabsen tetangga di kampung yang meninggal akhir-akhir ini. Barangkali aneh, tapi buat saya itu penting. Dengan pengetahuan itu, nanti saat lebaran, saya tak akan salah bicara saat sowan ke tetangga. Misalnya, saya masuk ke rumah orang, terus ketemu sama nyonya rumah, bisa-bisa saya menanyakan di mana tuan rumah berada. Apabila si tuan sudah meninggal dunia, tentu suasana yang tercipta akan terasa aneh, bukan?

Berdasarkan informasi kemarin, saya jadi tahu, bahwa Pak A meninggal dunia di Arab saat baru 10 hari menginjakkan kaki di sana untuk menunaikan ibadah haji. Pembicaraan pun berkembang membahas cerita-cerita yang dialami oleh jamaah haji di tanah suci sana.

Topik ganti lagi, sekarang mengenai stres yang berujung pada sakit. Oh, iya, jadi rupanya sakit itu ada dua macam. Satu, sakit memang karena penyakit, misalnya ya batuk pilek karena mimik es pas siang-siang atau kehujanan. Kedua, sakit karena stres. Ini aneh, biasanya ditandai dengan mumet alias pening yang tak kunjung sembuh biarpun sudah minum aneka macam obat.

pusinggggggg!

Jenis penyakit yang kedua itu, kalau menurut analisis Bapak yang terkadang sok tahu, tapi mungkin juga ada benarnya, disebabkan karena pikiran si sakit itu sendiri. Nah, guna mengatasi penyakit semacam itu, beliau memberikan nasihat, bahwa dalam menjalani kehidupan ini, seseorang hendaknya bisa melakukan tiga hal berikut ini:

Wening ing cipta

Bahasa inggris untuk wening ing cipta adalah positive thinking alias berprasangka baik. Kata beliau, dengan berprasangka baik, maka pikiran akan jauh lebih tenang. Tak risau pada apa yang akan terjadi, tak curiga, tak berandai-andai. Selalu berharaplah yang terbaik akan terjadi dan biasanya memang itu yang terjadi.

Sumeleh ing rasa

Arti bebas dari sumeleh ing rasa itu kurang lebih ya bersyukur. Bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini. Bagaimana caranya? Kata Bapak cara termudah untuk bersyukur adalah beribadah dengan sebaik-baiknya, berbagi dengan orang lain yang membutuhkan, yah, semacam itulah.

Pener ing pakarti

Hal terakhir, yakni pener ing pakarti artinya bekerja yang baik. Pada poin ini, Bapak mencontohkan kasus Pak Akil. Bermain-main, tak sungguh-sungguh, menyerempet bahaya, melanggar peraturan, mestinya jangan sekali-kali dilakukan atau kau akan tahu akibatnya.

Demikianlah, barangkali ada di antara kawan-kawan yang sering pusing tak kunjung sembuh, cobalah melakukan tiga hal di atas. Semoga sakit kepalamu itu akan hilang dan bahagia hidupmu. Amin….

Baca juga Nasihat Bapak sebelumnya di sini

Gambar meminjam dari sini

Pelatihan: Menghitung Penduduk Terpapar Bencana dengan ArcGIS

ArcGIS dapat digunakan untuk melakukan perhitungan penduduk terpapar akibat suatu bencana. Perhitungan penduduk terpapar dapat dilakukan bukan hanya pada saat terjadinya suatu bencana, namun juga dapat dilakukan sebelum bencana terjadi.

Pada tautan berikut, Anda dapat mengunduh data-data yang digunakan untuk perhitungan penduduk terpapar dan langkah-langkah perhitungannya.

Data-data untuk perhitungan penduduk terpapar
Langkah-langkah perhitungan

Selamat mencoba

Wisata: Anyer dan Lombok

IMG_1473
Bocah bermain di Anyer

Di manakah pantai favoritmu, kawan?

Ketika kecil, paling-paling saya diajak ke Parantritis di mBantul sana. SMP ikut rombongan sekolah menyaksikan debur ombak di Pantai Kuta Bali. SMA mengorganisir setengah ilegal melakukan wisata ke Pangandaran. Nah, pas kuliah, bisa dolan sendiri ke deretan pantai di Gunung Kidul.

Sekarang, syukurlah bersama istri saya bisa bermain-main ke Anyer dan kemarin karena disuruh kantor ke Lombok, saya berkesempatan mampir ke Senggigi dan Kuta Lombok. Semua indah tentu saja pantai-pantai di negeri ini. Biru laut tak seperti warna laut yang aneh di Jakarta, haha. Gemuruh ombak, buih yang menyentuh telapak kaki, pasir pantai yang membuat geli, nyiur yang melambai. Hmm… apa lagi, ya?

Semua yang ditawarkan oleh pantai tentu saya nikmati dengan suka hati.

Sayangnya, di beberapa lokasi pantai itu sudah dimiliki hotel-hotel. Didirikan berderet sepanjang pantai, dipersembahkan khusus kepada pengunjung hotel. Pantai itu pun tak lagi bebas dimasuki. Padahal, biasanya adalah bagian yang paling menarik dari sebuah garis panjang pantai.

Di Anyer, bila kau tak dapat hotel yang memiliki pantai bagus, maka bersiaplah berbagi pantai dengan ribuan pengunjung lain yang memadati semacam pantai umum. Hiruk pikuk di situ dan barangkali ketenteraman mendengarkan bunyi ombak tak bisa kau temukan. Namun, itu pun cukup untuk sekadar memadamkan kerinduan kita pada pantai, bukan?

Bila kau bermobil, masuk ke pantai umum itu membayar sekitar 40ribu. Nanti di sana, kau bisa sewa sebuah griya tawang dengan harga 60ribu plus tikar. Bisa kau gunakan berlama-lama, bahkan kalau tak punya kamar, bisa pula kau menginap di situ.

Pantai, dari Griya Tawang
Pantai, dari Griya Tawang

Barangkali badanmu pegal setelah menempuh perjalanan nan melelahkan dari Jakarta, bisa kau minta ibu-ibu yang menawarkan jasa pijat untuk melancarkan aliran darah di nadimu. Saat kau lapar pun tak perlu khawatir, karena pedagang kaki lima lalu lalang di sekitarmu menjajakan aneka rupa dari mulai tato temporal sampai makan siang.

Lain Anyer lain pula Senggigi dan Kuta di Pulau Lombok. Di sana, kau cukup membayar lima ribu agar mobilmu bisa parkir di pinggir pantai. Tentu pantai umum, bukan milik hotel. Entah berapa kau harus bayar kalau di sana, sepertinya mahal.

Pantai Senggigi
Pantai Senggigi

Kalau ke Senggigi, bila tak bisa kau jangkau pantai yang indah karena sudah dikuasai hotel-hotel itu, cukuplah kau duduk di sekitar Pura Batu Bolong. Di tanjakan pada jalan berkelok nan tinggi itu, rasakan hembusan angin yang kuat dari bawah, cicipi jagung bakar dan sate bulayak yang akan menggoyang lidahmu. Kemudian jangan lupa masukkan ke saku satu sepotong senja dengan sunset yang bisa kau nikmati di sana.

Sepotong Senja dipigura di dekat Pura Batu Bolong, Senggigi
Sepotong Senja dipigura di dekat Pura Batu Bolong, Senggigi

Selamat berwisata….

Review: Peace, Love, and Misunderstanding

Diane adalah pengacara yang, seperti biasa, keras kepala dan jagoan berdebat, haha. Ia tak pernah mau mengalah, dalam hal apa pun. Semua perdebatan seakan-akan harus dimenangkannya. Kalau pun tak bisa dimenangkan, maka ia memilih pergi.

Di awal cerita, Mark, suami Diane meminta cerai. Diane pun serta merta memilih untuk pergi, lebih tepat pulang kepada ibunya, Grace. Dia mengajak dua anak remajanya, Zoe dan Jake.

Grace adalah seorang hippie, tinggal di Woodstock, ia sudah 20 tahun tak bertemu dengan putrinya, Diane. Awal mula penyebabnya, karena Grace menjual ganja kepada tamu-tamu saat resepsi pernikahan Diane, hahaha.

Di Woodstock cerita kemudian dimulai.

Zoe dan Jake diajak oleh Grace untuk mengikuti demonstrasi menentang perang. Di lokasi demonstrasi, Jake yang sibuk dengan handycam-nya menemukan sesosok wajah rupawan, Tara.

Ajakan Grace kepada cucunya itu tentu saja ditentang oleh Diane. Diseret putra dan putrinya itu keluar dari arena demonstrasi… ke toko daging. Eh, di sana malah ada si ganteng Cole yang memikat hati Zoe.

“Kamu pasti ingin bercinta dengannya, bukan?” Begitu bisik Jake pada Zoe.

Hari berganti, kini di rumah Grace diadakan pesta. Pesertanya, siapa lagi kalau bukan para demonstran yang kemarin. Ini berarti, Jake bertemu lagi dengan Tara, dan Zoe bertemu dengan Cole. Kesalahpahaman pertama terjadi, saat Jake bersiap mendekati Tara, dia diajak keluar oleh seorang cowok lain. Jake pun urung melangkah, hal ini diketahui oleh neneknya, Grace, yang kemudian memberikan pelukan hangat pada Jake.

Cole sebenarnya datang agak terlambat, pesta sudah dimulai, dan dia baru datang. Pas, di teras dia bertemu dengan Zoe. Cole saat itu merokok, Zoe pun bertanya, “Adakah hal lain yang kau lakukan dan merendahkan kehidupan?” Cole dengan santai menjawab, “Apakah ini saat yang tepat bagiku untuk bilang ke kamu, kalau aku berburu?”

Di dalam rumah, hanya Diane yang tampaknya tak bersemangat. Ia seperti menghindari pesta para hippie itu. Hal ini direspon oleh Grace dengan memperkenalkan seorang pria, Jude, kepada Diane. Tak diragukan lagi, Jude jelas seorang yang menawan. Mereka berdua, Diane dan Jude lantas berjalan-jalan keluar dan sampai di tepi telaga. Dua orang yang sudah berumur itu pun kembali menjadi kanak-kanak, melucuti pakaiannya dan terjun ke telaga. Saking girangnya, mungkin, Diane lupa tak melepas gaunnya, hahaha.

Cerita mengalir dengan kesalahpahaman yang kerap muncul, seperti kekeliruan Jake terhadap Tara. Dia mengira Tara sudah mempunyai cowok, hal yang kemudian dibantah. “Ah, dia cuma teman,” demikian Tara bilang. Zoe salah menerka atas pilihan profesi Cole, baginya yang vegetarian, apa yang dilakukan Cole bekerja di tempat pemotongan hewan adalah tindakan yang sungguh kejam. Padahal, Cole punya alasan tersendiri akan profesinya itu. Zoe pun berseteru dengan ibunya sendiri, karena dia melihat Diane berciuman dengan Jude di panggung pada saat pertunjukan musik. Dia berpendapat itu tindakan yang sangat tak pantas, sementara Diane belum bercerai dari Mark. Diane gundah karena kemarahan anaknya, ia pun menemui Grace.

Diane: They hate me.

Grace: It’s difficult for kids to accept that their parents are human.

Saat purnama tiba, ini adalah masa ketika kaum wanita di Woodstock memuliakan dirinya. Mereka mempunyai ritual untuk menyambut purnama, lambang kehormatan wanita, begitulah menurut mereka. Saat itu Cole datang, Grace pun berkata, “Tak boleh ada energi maskulin di sini.” Kemudian, Zoe dan Cole pergi dari ritual itu. Mereka menghabiskan waktu berdua, kemudian bercinta. Nah, pulangnya, seekor rusa tertabrak mobil Cole. Rusa itu meregang nyawa, Zoe bilang mereka harus membawanya ke dokter, namun Cole, dengan telengas menembak rusa itu sampai mati. Keduanya kemudian tak saling bicara.

Sementara itu di tempat upacara menyambut purnama, Diane yang semula enggan terlibat dan menertawakan, akhirnya turut pula minum dan sibuk dalam permainan. Mereka saat itu memainkan sebuah permainan benar atau salah. Apabila seseorang salah menebak tentang suatu fakta, maka dia harus meminum segelas tequila. Ah, entah giliran siapa, namun terungkap kemudian bahwa Jude dulunya adalah kekasih Grace, padahal saat itu Diane baru saja tidur dengan Jude, haha….

Sudah barangtentu Diane marah besar. Keesokan harinya, ia bertengkar dengan Grace, ia merasa dibohongi. Ujungnya ia pun pergi lagi ke kota dengan membawa serta Zoe dan Jake. Di kota, ia menyelesaikan urusan pernikahannya dengan Mark. Di kota pula ia mendengar kabar bahwa Grace dipenjara lagi karena tertangkap menjual mariyuana. Diane marah besar akan ketidakdewasaan Grace, namun saat itu ia bertemu dengan Jude. Dan inilah perbincangan mereka berdua:

Diane: You want me to just let go of 40 years of irresponsibility, embarrassment, and her total refusal to grow up?

Jude: Yes, exactly.

Diane: [incredulous] Like a balloon that’ll just float away.

Jude: It’s not a balloon, Diane. It’s a sandbag you’ve got to drop for the balloon to get off the ground.

Apakah Diane bisa melepaskan karung pasir, sehingga dia menjadi balon yang bisa terbang tinggi? Bagaimana dengan Grace, bisakah ia lebih dewasa atau akankah ia tetap eksentrik? Kesalahpahaman itu tetap ada, sampai akhir cerita.

Ini kisah yang manis tentang perjalanan keluarga yang singkat, namun sebuah cerita kehidupan yang panjang. Tontonlah, Kawan, bila kau sempat.

Terima kasih.