Kebijakan: Sumber Energi Alternatif

Di jejaring sosial twitter, seringkali saya membaca kicauan seorang teman yang mengeluh karena lagi-lagi terjadi mati listrik di lokasi tempat tinggalnya. Entah dia sedang mengerjakan tugas, mengunduh file, atau apa pun aktivitas saat itu, tentu sangat mengganggu apabila kondisi itu terus berlanjut.

Persoalan listrik dan energi nasional memang seakan tak kunjung menemukan titik temu. Bagaimana PLN bergantung kepada bahan bakar fosil yang tak terbarukan. Negara pun gamang untuk menaikkan harga BBM guna menghemat subsidi, namun di lain sisi harus bersitegang dengan rakyatnya.

Sejatinya, bagaimana kondisi energi di negeri kaya raya ini?

Masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa bensin atau listrik yang mereka konsumsi saat ini berasal dari sumber daya energi tak terbarukan, yang jumlahnya terus menyusut seiring waktu. Masyarakat perkotaan bahkan tak mau peduli apabila bensin yang mereka pakai disubsidi oleh pemerintah yang nilainya tiap tahun makin membengkak. Selanjutnya, terdapat penggunaan BBM bersubsidi secara salah yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan tambang dan perusahaan di wilayah pedalaman.

Benarkah produksi minyak nasional memang telah menipis?

Rig Minyak Lepas Pantai
Rig Minyak Lepas Pantai

Dalam sebuah kesempatan diskusi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (2000-2009) Purnomo Yusgiantoro berbicara panjang lebar mengenai industri minyak nusantara. “Pengertian migas sebagai depleteable resource  harus dipahami banyak pihak.” Di negara kita, lanjutnya, minyak telah ditemukan sejak seratus tahun silam. Saat pengurasan berlangsung, produksi minyak akan mencapai titik jenuhnya. “Waktu disedot dia mencapai peak, begitu sampai peak dia sudah tak bisa sustain lagi. Decline itu sudah terjadi tahun 1996,” demikian fakta yang disampaikan Purnomo.

Pengurasan minyak terjadi karena target penerimaan minyak waktu itu besar sekali sampai ada yang 75 persen. Jadi, kalau penerimaan minyak turun, penerimaan negara juga turun. Akibatnya, depresiasi seperti yang terjadi pada 1980-an. Sementara itu, secara alami produksi minyak mentah Indonesia terus merosot, sementara konsumsi BBM tak pernah turun seiring meningkatnya jumlah penduduk dan industrialisasi.

Bagaimana dengan kondisi gas dan batu bara kita?

Batu Bara
Batu Bara

Berbagai aktivitas eksplorasi jelas menunjukkan semakin meningkatnya cadangan gas bumi. Cadangan-cadangan gas Indonesia tersebar di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Papua. Berbanding terbalik dengan minyak, cadangan terbukti gas nasional selalu merangkak naik.

Sayangnya, hingga akhir tahun 2011, pasokan gas ke industri selalu kurang. Dari komitmen pasokan gas tahun ini sebesar 868 juta standar metrik kaki kubik per hari, ternyata realisasi pasokan gas untuk industri hanya terpenuhi 65 persennya. Penyebab kondisi ini adalah terbatasnya infrastruktur transmisi dan distribusi gas nasional. Kebanyakan konsumen gas berada di Jawa, sedangkan sebagian besar cadangan gas berada di luar pulau itu.

Pada awal September 2012, terjadi pengereman produksi batu bara. Permintaan sedang lesu sehingga harganya anjlok. Sebelumnya, harga batu bara bisa mencapai 100 dolar per ton, saat ini tinggal 80 dolar. Kondisi ini diakibatkan oleh perekonomian China yang menjadi pasar utama batu bara Indonesia mengalami perlambanan.

Produksi batu bara pada tahun 2011 mencapai 371 juta ton, naik dibandingkan produksi pada tahun 2010 yang mencapai 260 juta ton. Namun, dari jumlah itu sekitar 78 persen diekspor, sisanya baru digunakan untuk kebutuhan dalam negeri.

PLN sebagai salah satu konsumen utama batu bara sering mengalami kekurangan pasokan. Kendati sudah ada kewajiban pasokan dalam negeri dengan harga yang tak jauh berbeda dengan harga internasional, namun spesifikasi batu bara yang ditawarkan kepada PLN lebih buruk daripada yang diekspor.

Apa energi alternatif dan terbarukan yang bisa dimanfaatkan di negeri ini?

Sejatinya Indonesia memiliki 40% potensi panas bumi dunia. Sayangnya, baru sekitar 4% saja yang dimanfaatkan. Kendala di lapangan dikarenakan rendahnya tarif beli listrik oleh PLN dan sulitnya mendapat izin eksplorasi dari Kementerian Kehutanan.

Eksplorasi panas bumi belum dapat dilakukan karena berbenturan dengan UU Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. Di dalam aturan itu, panas bumi termasuk pertambangan. Padahal, aktivitas pertambangan dilarang di hutan konservasi. Sementara seluruh kawasan konservasi 26,82 juta hektar dan hutan lindung 28,86 juta hektar ternyata menyimpan potensi panas bumi yang besar.

Energi Surya
Panel-panel penerima energi surya

Selain panas bumi, Indonesia juga memiliki banyak potensi sumber energi listrik yang terbarukan, seperti mikrohidro, tenaga angin, tenaga surya dan biomassa. Sayangnya, sampai 13 tahun mendatang, target penggunaan energi terbarukan baru seperempat dari total penggunaan energi nasional.

Enam provinsi di Indonesia memiliki potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), yaitu Papua, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Belum lagi potensi sumber energi dari cahaya matahari sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Energi Angin
Kincir Angin

Tenaga angin juga dimiliki oleh Indonesia, namun baru dimanfaatkan sekitar 1,8 megawatt. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) telah dibangun di sejumlah wilayah, di antaranya di Soe, NTT; Aceh Selatan, dan Bantul, Yogyakarta.

Sumber energi alternatif yang lain yaitu biomassa yang diperkirakan mencapai 49.810 megawatt, berasal dari perkiraan produksi 200 juta ton biomassa per tahun dari residu pertanian, kehutanan, perkebunan, dan limbah padat.

Penutup

Melihat kondisi energi nasional yang masih ditopang oleh minyak, gas, dan batu bara, serta belum dimanfaatkannya energi alternatif secara maksimal, tentu banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah dan masyarakat. Bahan bakar fosil pada suatu saat nanti akan habis dan tak bisa diperbarui lagi, apabila saat itu tiba, apakah energi alternatif sudah siap menggantikan?

Sobat Bumi
Sobat Bumi

Regulasi harus diatur agar eksplorasi panas bumi bisa dilakukan di kawasan konservasi dan hutan lindung, tentu dengan tetap menjaga kelestarian wilayah tersebut. Infrastruktur pendukung harus dibangun agar pemanfaatan energi alternatif bisa dilakukan secara maksimal. Langkah mudahnya bisa dengan menaikkan target pemanfaatan energi alternatif dan terbarukan.

Penelitian dan teknologi harus digalakkan untuk pemanfaatan biomassa, angin, dan tenaga surya yang menimbulkan dampak minim pada lingkungan. Pemanfaatan mobil listrik yang murah bisa menjadi pilihan termasuk fasilitas pendukungnya, seperti parkir yang dilengkapi dengan pengisian baterai bertenaga surya.

Dengan segala upaya itu, barangkali kita bisa menjadi sobat bumi yang baik.

Data dan fakta dirangkum dari National Geographic Indonesia, Edisi bulan Oktober, pada artikel yang berjudul Elegi Energi Nusantara.

4 Replies to “Kebijakan: Sumber Energi Alternatif”

  1. Saya pikir tenaga surya yang ada di Indonesia sangat melimpah sepanjang tahunnya dan belum dianggap sebagai sumber energi bagi kebanyakan orang Indonesia.
    Kalau bisa kedepannya bisa ditambahkan artikel mengenai cara dan kemampuan Indonesia mengelola tenaga matahari ini, serta teknologi dan media terkini yang bisa digunakan atau sudah diterapkan negara lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *