Kepemimpinan: Pemimpin adalah Seniman

Sore itu seperti biasa saya sedang tekun membuka-buka halaman koran langganan ketika sampai pada sebuah halaman yang menampilkan pasangan Cagub-Wagub Jokowi dan Ahok. Pada saat itu memang sedang masa kampanye Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.

Menurut saya, yang menarik dari gambar Jokowi dan Ahok adalah bagaimana gaya Jokowi. Beliau menggunakan baju kotak-kotak legendarisnya itu, sepatu kanvas, dan celana jeans. Batin saya, ini orang kok ngga mengikuti pakem, sih, bukankah biasanya pasangan cagub-wagub akan berpose separuh badan, berdampingan, kemudian menggunakan busana-busana resmi, semacam jas, atau busana daerah?

Melihat gambar Jokowi tersebut, saya baru sadar, ini justru seperti pasangan penyanyi. Haha.

Busana nyeleneh seperti yang sudah disebutkan di atas, pose seluruh badan, posisi yang tak berdampingan, dan kalau tak salah ia bersedekap. Pendek kata, apa yang disajikan benar-benar beda. Barangkali, Jokowi dan Ahok atau tim suksesnya memang belajar dari artis-artis kala membuat poster pertunjukan. Bisa jadi, kan?

Nah, kemudian saya menemukan artikel mengenai bagaimana seorang pemimpin dan artis. Berikut ringkasannya.

Seorang artis bisa saja memiliki tampilan yang nyentrik, mengecat rambut, dan membiarkan rambutnya gondrong. Namun, yang juga perlu dipahami adalah artis juga mempunyai target kualitas tertentu dan tidak mencapai keberhasilannya dengan santai.

Pemimpin perusahaan atau wilayah juga begitu, bukan? Ia tak bisa kalau hanya mengandalkan keterampilan teknik semata. Hendaknya ia juga menumbuhkan kompetensi soft skill yang sangat mengandalkan seni. Seni di sini seperti seni membangun relasi dan mengelola manusia.

Selanjutnya, bagaimana respon masyarakat terhadap artis dan pemimpin?

Respon khalayak terhadap artis atau pemimpin yang dikaguminya kurang lebih adalah akan mengikuti benda-benda, baju, bahkan tak jarang menganggapnya keramat atau memiliki kekuatan. Sejatinya, kharisma istimewa seperti apa yang dimiliki oleh artis dan pemimpin semacam ini?

Kekaguman masyarakat pada kedua tokoh ini demikian kuat karena alasannya jelas, yaitu kompetensi. Keduanya mempunyai kemampuan mengorkestra berbagai kekuatan dan menciptakan hubungan yang saling respek antara si pemimpin atau artis dan masyarakat. Situasi seperti ini, bisa jadi ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang genuine yang ada pada diri pemimpin atau artis itu sendiri.

Kedua tokoh, baik artis atau pemimpin, biasanya berorientasi sosial. Mereka mengumandangkan tantangan, memukau, menenangkan, dan memotivasi. Visi keduanya jauh ke depan, besar, kuat, dan menyangkut dunia, diri masyarakat itu sendiri, dan selanjutnya pilihan masyarakat.

Kualitas lain yang juga penting baik oleh artis maupun pemimpin adalah konsistensi terhadap keyakinannya. Konsisten kehendak seorang pemimpin terlihat oleh panutannya sebagai fokus dan bisa terbaca dengan mudah oleh semua penganutnya. Semua strategi, kebijakan, dan struktur perlu dikelola dan dikomunikasikan secara utuh dan menyeluruh. Meski harus menangani kompleksitas tingkat tinggi, ia penuh dengan imajinasi dan ‘sense of humor’. Ia tak boleh ‘jaim’ memikirkan atau khawatir tentang diri sendiri atau mungkin kantong sendiri.

Komunikasi panggung seorang artis pun bisa menjadi pembelajaran bagi seorang pemimpin. Bagaimana komunikasi terjalin, apakah dua arah dari hati ke hati? apakah hubungannya seolah dekat tak terpisahkan?

Panggung bagi seorang artis sejatinya adalah kesempatan pertama dan terakhir, tidak akan ada kesempatan untuk mengulang pertunjukan lagi. Semestinya pemimpin pun harus dapat memanfaatkan setiap momentum untuk berinteraksi dengan serius dan hati-hati serta all out.

Seni Kepemimpinan

Seorang pemimpin yang sukses pasti tahu cara memupuk gairahnya terhadap karya, serta konsep dan visinya ke dalam manajemen dan keteraturan administratifnya. Keseimbangan antara masa depan dan sekarang, kerja kreatif dan administratif sudah dikuasainya benar-benar.

Respon pemimpin yang sukses lebih lincah dan bersifat real time, fleksibel terhadap perubahan-perubahan di menit terakhir. Pemimpin juga perlu meniru langkah artis dalam membuat koreksi dan melihat kesalahan sebagai pemicu perbaikan. Cara artis melihat kegagalan biasanya lebih tangguh daripada seorang pemimpin karena artis segera akan menuduh dirinya kurang latihan dan mendera dirinya untuk lebih baik lagi bila gagal.

Menyangkut kolaborasi, pemimpin bisa juga belajar dari artis. Artis sangat lentur dalam hal ini, ia terbiasa mengadakan pertunjukan bersama dengan artis lain, kendati berbeda genre, bahkan dengan kompetitornya sekalipun, kolaborasi mudah dilakukan.

Hal yang juga penting adalah artis mudah belajar dari orang lain. Setiap kali ada yang memainkan alat musik yang tak lazim, biasanya artis akan mengajukan berbagai pertanyaan. Ia belajar dari siapa saja yang lebih terampil darinya.

Jadi, siapa Pemimpin yang nyeni?

Tulisan ini dirangkum dari Fitur Klasika di Koran Kompas, 1 September 2012, berjudul ‘Pemimpin dan Artis’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *