Menulis: Sebuah Anugerah

Marcia Preston sedang asyik menulis saat cucunya, Jessica, yang berumur tiga tahun mengganggunya. Menulis adalah pekerjaan Marcia. Ia bisa berada di ruang kerjanya dan tak mengizinkan siapa pun datang mengganggu.

Namun, khusus untuk Jessica ia tak bisa menolak kehadiran malaikat kecil itu. Si mungil yang tinggal jauh darinya itu, memberikan kebahagiaan, merampasnya dari dunia ilusi yang dibangunnya perlahan-lahan. Ia tak menyesal karena itu.

Marcia paham, betapa hal-hal yang paling dicintai selalu meminta pengorbanan. Cokelat penuh dengan lemak dan kalori. Teknologi membuat hidup lebih mudah tapi sekaligus memperumitnya. Bahkan sukacita murni kerja fisik pun dinodai oleh keletihan dan rasa sakit. Ia selalu tidak sabar untuk menunggu kunjungan cucu perempuan dan keluarganya, namun pada saat yang sama ia harus bangun tengah malam untuk menyelesaikan tulisannya.

Bagi Marcia, menulis adalah anugerah mendua. Kita, yang kecanduan menulis, kata dia, memaki-maki diri kita sendiri dan merasa bersalah ketika kita tidak menulis, dan pada saat bersamaan menundanya dan mencari pengalihan. Mengapa? Karena hal yang paling membuat kita bahagia juga merupakan sesuatu yang membosankan, mengesalkan, dan sulit. Menulis membuat kita gila, tapi tidak menulis, bahkan membuat kita semakin gila.

Salah satu di antara sedikit hal yang Marcia tahu lebih sulit diperoleh daripada keterampilan menulis yang baik adalah kebijaksanaan. Dan bahkan kebijaksanaan pun dengan semua manfaatnya meminta bayaran.

Kita membayarnya dengan tahun-tahun berisi pengalaman, dan ketika kita akhirnya mulai bijak dan hidup mulai lebih bisa dimengerti, kita dikejutkan oleh pemahaman tiba-tiba tentang betapa singkatnya hidup.

Marcia melanjutkan, pemahaman tentang sifat waktu yang cepat berlalu juga mengaruniai kita sebuah penghargaan bagi setiap detik waktu. Setiap pagi merupakan sebuah janji, setiap matahari tenggelam tak boleh dilewatkan. Kehijauan baru di pepohonan, air mengalir yang jernih, wajah-wajah suci yang segar karena baru bangun tidur—semua menusuk hati dengan ketajaman yang menyayat. Kebijaksanaan mengajari kita untuk menrengkuh karuania mendua kita tanpa perasaan mendua, untuk mengecap baik kenikmatan maupun kepedihannya.

Yang utama, kebijaksanaan membuat kita merengkuh dan menuntut yang terbaik dari hidup. Marcia ingin semuanya. Ia tak peduli kalau harus sampai kehabisan waktu untuk mengalami semuanya, tapi ia akan mencobanya.

Nah, bagaimana dengan saya, Anda, kita? 😀

Tulisan ini adalah rangkuman dari ‘Anugerah Mendua’ sebuah subbab di dalam buku ‘Chicken Soup for The Writer’s Soul’ halaman 140-142.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *