Menulis: Sebuah Aktivitas Harian

Bud Gardner adalah anggota National Speakers Association (NSA), sebuah grup pembicara profesional berskala dunia. Pada suatu ketika, ia harus menjadi seorang direktur pertemuan yang salah satu tugasnya adalah mengundang pembicara dalam acara Konferensi Klub Penulis California ke-20. Pembicara yang dimaksud adalah Alex Haley, seorang pengarang terkenal yang karyanya berjudul ‘Roots’  telah menjadi best seller.

Bud kemudian menulis surat kepada Alex Haley. Isi surat tersebut mengharapkan Alex bersedia menjadi pembicara pada konferensi yang akan diselenggarakannya. Bud mula-mula ragu, apakah penulis sekaliber Alex bersedia menerima undangannya?

Yang menarik dari surat Bud adalah bagaimana ia menghiba kepada Alex agar ia bersedia datang. Ia memohon kepada sisi emosional Alex:

“Kami membutuhkanmu, Alex, sebagai pembicara utama kami—untuk memompa kami, menerangi kami, mengilhami kami, membimbing kami. Kau bukan sekadar penulis, kau sebuah legenda.”

Bud harus menunggu selama tiga minggu sebelum Alex meneleponnya, ia bilang, “Hai, Buuuuud. Suratmu menyentuhku, Bung. Aku milikmu. Katakan apa yang kau ingin aku lakukan, dan aku akan melakukannya.”

Efek dari kesediaan Alex ini kemudian adalah meningkatnya jumlah peserta konferensi, sehingga panitia harus membatasi peserta sejumlah 425 orang saja. Bud tentu merasa begitu senang mengetahui ini akan menjadi konferensi dengan peserta terbesar yang pernah diselenggarakan.

Sayangnya tak semua berjalan sesuai kemauan Budd. Menjelang hari penyelenggaraan konferensi, pegawai pengendali jalur penerbangan akan mogok setiap saat. Ini berarti ada kemungkinan para pembicara yang diundang, termasuk Alex tidak bisa hadir.

Kekhawatiran Bud tersebut, terjawab satu hari sebelum penyelenggaraan acara. Semua pembicara sudah hadir kecuali Alex. Menurut manajernya, ia harus terbang ke kota lain untuk suatu urusan baru kemudian Alex akan datang ke tempat penyelenggaraan konferensi.

Bud menjadi begitu khawatir, ia takut petugas pengendali jalur penerbangan akan mogok atau Alex akan tertahan dan tak bisa hadir tepat waktu sebagai pembicara di konferensi. Sementara itu di sisi lain, peserta justru terus bertambah mencapai angka 500 orang dan hampir semuanya menunggu Alex.

Di bandara, Bud begitu gelisah saat menjemput Alex. Pesawat yang membawa Alex telah tiba, namun tak ada sosok yang ditunggu itu. Bud sudah putus asa. Hingga kemudian seorang temannya menunjuk ke pintu pesawat, di mana Alex berdiri dengan gagahnya.

“Aku berhasil menipumu, ya, Buuud?” Tanya Alex. Ia memang sengaja menjadi orang terakhir yang turun dari pesawat untuk mempermainkan Bud.

Begitu mereka bertemu, Alex segera dibawa menuju tempat konferensi. Sederet agenda sudah menunggunya, mulai dari konferensi pers, penandatanganan buku, acara makan malam dan terakhir ditutup dengan menjadi pembicara.

Sementara itu, Alex sendiri merasa kelelahan, ia membutuhkan tidur siang. Hal ini sayangnya tak bisa dituruti oleh Bud, ia memaksa Alex untuk mengikuti jadwal yang sudah disusun. Syukurlah, tak sedikit pun Alex menolak.

Semua acara berjalan lancar, pada saat menjadi pembicara, Alex berhasil menyihir semua peserta konferensi. Ia bercerita bagaimana ia kelaparan sebagai penulis. Ia menjadi penghuni gelap apartemen-apartemen karena ia tak bisa membayar sewa. Ia juga bercerita bagaimana ia menghabiskan dua belas tahun untuk melakukan penelitian dan menulis Roots, karya besarnya. Bagaimana buku itu ditolak oleh banyak penerbit dan perubahan hidupnya yang drastis manakala karya itu akhirnya diterbitkan.

Bud sejatinya harus mengingatkan Alex manakala ia sudah berbicara selama satu setengah jam. Ia menarik jaket Alex sebagai tanda, bahwa sudah tiba waktunya Alex berhenti berpidato. Namun apa yang terjadi, Alex tak mau berhenti. Ia terus saja berbicara sampai dengan dua setengah jam tanpa istirahat. Pidatonya diakhiri dengan teput tangan memekakkan telinga yang diberikan oleh para hadirin sambil berdiri. Lalu ia membungkuk dan cepat-cepat keluar dari pintu belakang untuk akhirnya menjalani tidur yang sangat diperlukan.

Dari peristiwa tersebut, Bud belajar banyak hal, yaitu: sikap positif menentukan hasil positif. Ia yang nyaris membuat dirinya sendiri gila dengan mengkhawatirkan kesalahan yang bisa terjadi alih-alih memusatkan perhatian pada apa yang diinginkan berjalan dengan baik. Sejak saat itu, Bud telah mengikuti saran bijaksana Alex, “Sikapmu adalah segalanya. Yakinlah kepada dirimu sendiri dan percayalah kepada materimu. Untuk menjadi penulis berhasil, menulislah setiap hari entah kau menginginkannya atau tidak. Jangan pernah putus asa dan dunia akan memberimu anugerah yang melampaui impianmu yang paling mustahil.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 44-50.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: