Tokoh: Kartini dan Gamelan

Tentang Gamelan ia mengatakan sesuatu dalam rangkaian pikiran yang sempurna dan mengharukan, suara dari jiwa Rakyatnya sendiri pada masa itu:

Gamelan tidak pernah bersorak-sorai; sekalipun di dalam pesta yang paling gila pun, dia terdengar sayu dalam nyanyiannya, mungkin begitulah seharusnya. Kesayuan itulah hidup, bukan nyanyi bersorak-sorai!

Malam waktu itu; jendela dan pintu-pintu terbuka; bunga cempaka berkembang di taman kamar kami dan bersama dengan puputan angin segar, berdesah dengan dedaunannya serta mengirimkan kepada kami ucapan salamnya dalam bentuk bau harumnya—aku duduk di lantai, sebagaimana halnya sekarang ini, pada sebuah meja rendah, di kiriku Dik Rukmini, juga sedang menulis, di kananku Annie Glaser, juga di lantai sedang menjahit, dan di hadapanku seorang wanita yang menyanyikan kami sebuah cerita dari buku. Betapa indahnya! Suatu impian yang mengalun dalam suara-suara yang indah, kudus, jernih, dan bening yang mengangkat roh kami yang menggeletar ke atas ke dalam kerajaan makhluk-makhluk berbahagia. (Surat Kartini, 15 Agustus 1902 kepada E.C. Abendanon)

Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 102

Khusus tentang musik barat Kartini pernah menulis, demikian:

Aku terkenang pada suatu malam belum lama berselang. Seorang kenalan membawa kami berdua mengunjungi sebuah konserta di gedung kesenian di Semarang. Itulah buat pertama kali dalam seluruh hidup kami, bahwa kami berdua, tanpa membawa si adik, tanpa Ayah, tanpa Ibu, berada di tengah-tengah lautan manusia. Kami berasa sendiri, sangat sendirian di antara orang-orang yang sama sekali tak kami kenal. Dan tiba-tiba kami berpikir: Beginilah bakalnya hidup kita di kemudian hari! Kita hidup seorang diri di tengah-tengah lautan kehidupan yang besar. (Surat, 29 Agustus 1902, kepada Nyonya Nelly van Kol)

Di sini, Kartini memiliki pandangan, bahwa dengan gamelan ia hidup di zaman kegemilangan nenek moyangnya, sedang dengan musik barat ia hidup di zaman keyatimpiatuan modern di masa-masa mendatang.

Bagi Kartini, gamelan itu:

 Menuangkan arus api ke dalam nadi kami. (Surat, 29 Agustus 1902, kepada Nyonya Nelly van Kol)

Hal itu terjadi karena gamelan menyebabkan tubuhnya tertarik untuk bergerak dan hanya dengan kekerasan saja ia dapat tolak kekuasaaanya.

Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 201

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *