Tokoh: Kartini dan Agama

Dari sejarah Barat, Kartini melihat bagaimana kemajuan berjalan setindak demi setindak seperti orang membuat gedung yang memasang batu demi batu, dari renaissance sampai timbulnya pemikiran-pemikiran baru di lapangan keagamaan Nasrani, yang mengakibatkan terjadinya peperangan-peperangan agama yang terjadi beberapa generasi di Eropa. Kartini pun pernah menyatakan pendapatnya—sebagai suatu hal yang membuktikan ia memperhatikan sajarah Eropa dan perkembangannya.

Agama dimaksudkan sebagai karunia bagi umat manusia, untuk mengadakan ikatan antara makhluk-makhluk Tuhan. Kita semua adalah saudara, bukan karena kita mempunyai satu leluhur, yaitu leluhur manusia, tapi karena kita semua anak-anak dari satu Bapa, dari Dia, yang bertahta di langit sana. Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad yang telah lewat menjadi biang keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam. Orang-orang dari orangtua yang sama berdiri berhadap-hadapan, karena cara mereka beribadah kepada Tuhan yang sama berbeda. Orang-orang dengan hati mereka yang terikat oleh kasih sayang yang mesra, berpalingan satu daripada yang lain membawa kecewa. Perbedaan gereja, di mana Tuhan yang sama itu juga dipanggil, telah menjadi tembok pemisah bagi kedua belah pihak, tembok pemisah yang mendebarkan jantung mereka.

Benarkah agama menjadi karunia bagi umat manusia? Sering pertanyaan itu timbul dalam hatiku yang ragu. Agama yang harusnya melindungi diri kita dari dosa ini, berapa saja kejahatan yang orang telah lakukan atas namaMu. (Surat, 6 Nopember 1899, Kepada Estelle Zeehandelaar)

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 146

Sebuah buku berjudul ‘Quo Vadis?’ telah memberikan pengaruh besar pada Kartini di bidang kesetiaan serta keuletan dalam memperjuangkan cita-cita pendeknya di bidang moral. Quo Vadis? sendiri adalah sebuah roman sejarah yang terjadi di masa Romawi purba, yang menceritakan tentang pengembangan agama Nasrani dan pengorbanannya, keuletan serta ketabahannya dalam menghadapi siksaan serta ancaman dari kekuasaan pasukan-pasukan Romawi. Akhirnya kemanusiaan juga yang menang atas kebiadaban. Dalam hubungan ini Kartini menulis:

Nyonya van Kol menceritai kami banyak tentang Jesus, Nyonya, tentang Rasul-rasul Petrus dan Paulus.

Tak pentinglah agama atau ras apa orang itu, jiwa besar tetaplah jiwa besar, watak yang mulia tetap watak mulia. Anak-anak Allah orang dapatkan dalam setiap agama, pada setiap ras.

Aku telah bawa Quo Vadis? Dan aku kagumi serta cintai pahlawan-pahlawan kepercayaan itu, yang dalam penderitaan yang paling pahit pun masih dapat bersyukur dan beriman pada Yang Mahatinggi., masih mengajarkan kebesaranNya dalam nyanyian yang indah. Aku ikut menderita bersama mereka, serta ikut bersorak dengan kemenangan mereka. (Surat, 5 Juni 1903 kepada Dr. N. Adriani)

Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 172-173

Kartini pernah mengusulkan kepada Belanda, jika mereka hendak mengajarkan kesalehan mutlak pada orang Jawa, haruslah diajarkan kepada mereka itu cara mengenal Tuhan Yang Maha Esa, Bapa Cinta. Bapa seluruh makhlukNya, tak peduli orang Nasrani, Islam, Buddha, atau pun Yahudi. Kemudian Kartini menyatakan pula, bahwa:

…. Agama yang sesungguhnya ialah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun sebagai Islam dan lain-lain. (Surat, 31 Januari 1903, kepada E.C. Abendanon).

Kembali di sini orang berhadapan dengan sinkretisme dalam jiwa Kartini, yang selalu mencoba meninggalkan syarat, untuk tidak terpeleset dari asas ajaran. Tapi lebih jelas ialah sebagaimana ia rumuskan sendiri:

Selalu menurut paham dan pengertian kami, ini segala agama adalah Kebajikan, yang membuat setiap agama menjadi baik dan indah. Tapi, duh! Orang-orang ini apakah yang telah kalian perbuat atasnya!

Agama adalah dimaksudkan sebagai karunia, untuk membentuk ikatan antara semua makhluk Tuhan, coklat dan putih, dari kedudukan, jenis, kepercayaan apapun, semua kita adalah anak-anak dari satu Bapa, dari satu Tuhan.

Tak ada Tuhan lain terkecuali Allah! Kata kami orang-orang Islam, dan bersama kami juga semua orang beriman, kaum monoteis; Allah adalah Tuhan, Pencipta Sekalian Alam.

Anak-anak dari satu Bapa, saudara dan saudari jadinya, harus saling cinta-mencintai, artinya tunjang-menunjang bertolong-tolongan. Tolong-menolong dan tunjang-menunjang, cinta-mencintai, itulah nada dasar segala agama.

Duh, kalau saja pengertian ini dipahami dan dipenuhi, agama akan menguntungkan kemanusiaan, sebagaimana makna asal dan makna ilahiah daripadanya: karunia!

Itu yang justru membuat kami bersiaga terhadap agama, ialah bahwa para pemeluk agama yang satu menghinakan, membenci, kadang memburu-buru yang lain, malah…. (Surat, 21 Juli 1902, kepada Nyonya van Kol.)

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 262

3 Replies to “Tokoh: Kartini dan Agama”

  1. setahu saya, Kartini yang “terkungkung” dalam aturan adat dan agama adalah pemicu dari pikiran-pikiran “pemberontak”nya. Bisa dipahami bahwa Kartini rindu akan kebebasan. Setidaknya, jika ia “bebas” dan sempat mengeyam pendidikan yang lebih tinggi, mungkin pola pikirnya akan berubah. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *