Wisata: Bondowoso

senja di sebuah sudut kota Bondowoso

Kota ini bisa dicapai dalam tempo sekitar empat sampai lima jam dari Surabaya. Setelah melewati Kota Sidoarjo, Pasuruan dan Probolinggo, serta kota-kota kecil seperti Bangil dan Besuki, lalu menanjak di perbukitan, maka pada saat jalan kembali menurun, di sanalah Bondowoso terletak begitu damai.

Di Bondowoso ada satu jalur utama yang membelah kota. Jalur ini merupakan jalur penghubung Situbondo dan Jember. Selain jalur utama itu, jalan-jalan yang ada adalah jalan kabupaten yang bercabang dan bermuara di jalur utama.

Tak banyak yang bisa diceritakan dari kota ini. Dalam hubungannya dengan sejarah, ada sebuah monumen di Bondowoso, yaitu Monumen Gerbong Maut. Kisahnya, dahulu penjajah Belanda mengangkut tahanan, yaitu para pejuang menggunakan gerbong tanpa ventilasi dan diisi begitu banyak orang. Dalam sebuah buku, saya pernah membaca, saking hausnya para tahanan yang ada di dalam gerbong itu, ada yang sampai meminum air kencing temannya sendiri.

Bondowoso seperti kota-kota di Jawa pada umumnya. Alun-alun menjadi pusat aktivitas warga. Denyut ramai warga dan denyar lampu masih terasa sampai larut malam sementara bagian kota yang lain, di luar alun-alun boleh dikatakan begitu sepi.

Belum ada mall yang dipadati pengunjung. Pertokoan yang ada pun hanya ada di jalur tertentu. Toko-toko itu berada di kanan-kiri jalan saling berhadapan dan sudah banyak yang tutup menjelang magrib. Di hari minggu, kebanyakan toko-toko tersebut tutup.

Makanan khas di Bondowoso adalah tape singkong. Di samping itu, sajian lainnya cukup standar, kecuali barangkali adanya lodeh ceker. Menyangkut makanan yang satu ini, saya pun tak mencobanya sendiri karena saya tak terlalu suka ceker. Saya hanya mengamati ekspresi teman-teman yang memakannya. Mereka terlihat begitu menikmati lodeh ceker sampai terus-terusan kembali ke warung yang sama.

Hari-hari ini Bondowoso sedang waspada karena adanya ancaman dari aktivitas vulkanik Gunung Ijen. Di kawahnya, terdapat tiga puluh juta meter kubik air dengan pH sangat rendah yang sewaktu-waktu bisa tumpah bila ada peningkatan aktivitas vulkanik gunung tersebut.

Bayangkanlah tubuh terguyur air aki, kira-kira begitu gambaran bahaya bila air di kawah Ijen sampai tumpah. Saya berharap semoga air yang ada tak keluar bersamaan lalu membentuk tsunami kecil. Harapannya, semoga air kawah yang ada bisa keluar sedikit demi sedikit seperti lazimnya mata air, sehingga tak menjadi bencana di masyarakat.

4 Responses

  1. Gunung Ijen itu tempat kawah ijen yang penghasil/tambang belerang itu ya Mas?

    Pernah liat foto dari dalam kawasan kawah ijen, sangat menyeramkan. Bukan seram ding, tapi sesak di dada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: