Cerpen: Bayangan

Kamu seperti bayang-bayangku, turut ke mana pun aku melangkah….

Adalah A, dan ini ceritaku tentangmu.

Undangan merah jambu itu masih tergeletak di meja. Plastik pembungkusnya masih terbungkus rapi. Aku tak merasa perlu untuk sekadar membukanya.

Inisial namamu, A, dan ahhh, bahkan tak kuperhatikan siapa pasanganmu. Hanya dari deretan alamat yang kuhapal di luar kepala, telah membuatku mengerti, paham, bahwa kamu bukan untukku. Barangkali untuk selamanya.

Di sebuah kelas, sepuluh tahun yang lalu.

A, kamu duduk di belakangku. Apa yang biasa kamu lakukan kalau guru memberi pelajaran yang membosankan?

Terkadang aku suka mencuri pandang, dan heiii, apa yang kamu lakukan? Kamu memandangku. Hahaha, penawar kebosanan macam apa itu?

Dan bagaimana bila aku bosan? Ugh, jujur aku pun ingin balas memandangmu.

Lalu, kenapa pula kita harus saling pandang sembunyi-sembunyi?

Karena, A, kamu dan aku tahu, ada yang tak terucapkan di antara kita. Sebuah rasa yang menelusup begitu laten yang menghangatkan hati kita manakala kita bersama.

Rasa itu, A, tak pernah kau ucapkan, tapi aku tahu. Rasa ini, A, ada di dalam hatiku bersemayam di sana dan kamu pun tahu biarpun aku hanya diam.

Lalu, kita pun berpura-pura.

Kita bersandiwara seolah tak ada suatu apa yang terjadi antara kita. Kepopuleranmu perlahan membelenggumu, memborgolmu begitu erat dan mendudukkanmu di pucuk ketenaran. Kamu, A, adalah bisik-bisik di setiap bibir gadis yang merekah di sudut kantin.

Aku adalah bunga yang tumbuh di pinggir. Aku terlampau sibuk dengan rumput dan tak menyadari hadirmu yang begitu dekat. Aku silau oleh matahari. Maka aku menatapnya dan barangkali aku buta. Tapi, aku merasa, A, hanya, aku tak kuasa untuk berkata.

A, bukankah kamu jengah dengan semua bunga cantik yang mencoba-coba menarik hatimu itu? Kamu berjalan pongah, yang, ahhh… itu justru malah membuat mereka semakin terperangah.

Kenapa, A, kenapa kamu betah denganku, mencuri pandang kala bosan mendera? Bunga-bunga cantik itukah penyebabnya? Kukira iya, kamu bosan dengan tingkah polah mereka.

Lalu, kenapa aku, A? Aku yang bahkan acuh padamu. Berjalan diam dalam kesendirianku, tafakur dalam sunyiku. Kendati memang aku menutupinya dengan tertawa bersamamu, bercanda. Senyum itu, A, bukan untukmu, itu untuk hatiku sendiri yang takkan kubagi.

Dan mungkin kamu tahu itu, maka kamu cukup dengan memandangku dan bersamaku setiap waktu. Aku pun telah puas, manakala aku merasa kamu masih di belakangku dan memandangku.

Kita berdekatan tapi tak pernah bersentuhan. Kamu adalah bayangan, yang tak bisa kusentuh, semakin aku mendekat, berkas cahaya membuatmu mulur lalu memanjang dan semakin sulit kujangkau.

Sekarang aku sadar, bahkan waktu pun tak kuasa untuk memisahkan bayangan itu. A, kamu masih di belakangku, bahkan saat ini ketika aku menerima surat undangan darimu.

Selamat, A.

Ditulis atas pesanan dari seorang sahabat yang centil :DMenul

6 Replies to “Cerpen: Bayangan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *