Wisata: Sydney dan Canberra

Pagi itu saya tiba di Sidney masih mengantuk. Perjalanan 7 jam dari Jakarta membuat tidur saya yang sambil duduk sungguh tak nyenyak. Dan apa yang ditawarkan Sidney? Jawabannya adalah suasana seperti di Dieng yang sejuk. Bedanya adalah, bila angin dingin berhembus, maka jaket saya yang tipis pun segera tembus. Sayang, tak lama saya di sini karena harus segera naik pesawat lagi ke Canberra.

Pesawat Turboprop Dash 8 buatan Canada yang muat 50 orang itu membawa saya ke Canberra. Baling-balingnya berputar, menderu di atas wilayah tenggara Australia. Kurang lebih 50 menit kemudian, saya pun mendarat di Canberra.

Bila Sidney seperti Dieng, saya tak tahu di mana di Indonesia yang hampir sama dengan Canberra. Maksud saya, tentu Canberra di bulan Juni, manakala musim dingin baru di ambang pintu.

Dingin itu menyeruak begitu saja saat tubuh keluar dari pesawat. Belum lagi manakala hembusan angin datang menerpa, maka beku yang ganti melanda.

Suhu di sana berkisar dari minus 6 sampai paling tinggi 11 derajat celcius. Guna mengatasi hal ini, saya memakai bersama/rangkap dua jaket tipis yang saya bawa. Ah, itu pun tak kuasa menahan dingin yang meraja.

Syukurlah kemudian di dalam taksi cukup hangat. Apalagi dilengkapi dengan kehangatan sambutan dari sopirnya. Mereka ini yang bule totok, yang dari Vietnam, ada pula dari Somalia. Saya cuma kurang suka dengan sopir yang berasal dari India.

Australia rupanya negara dengan beragam asal warga. Rata-rata mereka menjadi warga Australia sudah cukup lama. Di medio 1980-an mereka datang ke sana sebagai imigran. Kemudian, setelah mereka tinggal antara 5 s/d 10 tahun, mereka pun bisa menjadi warga negara Australia.

Seperti yang sudah disebutkan: Vietnam, Somalia, India, ah, rupanya tak cukup hanya itu saja. Banyak keturunan Italia, Belanda, yang juga menjadi warga Australia. Nama-nama mereka yang menjadi penunjuk bagi saya dari mana asal moyang mereka. Terbukti pula dengan adanya nama-nama Prancis, Yunani, Pakistan, dll.

Saya kurang tahu bagaimana rupa penduduk asli Australia. Kendati begitu, saya cukup paham banyak wilayah di sana yang mempertahankan nama asli dalam bahasa Aborigin, sebut saja seperti wilayah Jerabombera atau Wolongong.

Barangkali kita bisa belajar, bagaimana warga yang beragam itu disatukan oleh pemerintah federal Australia. Mereka masing-masing masih mempertahankan adat dan budaya asal. Selain yang sudah disebutkan, yaitu dari nama mereka, penanda yang lain adalah beragamnya rumah makan yang menyajikan masakan dari seluruh penjuru dunia. Selain itu juga dari Bahasa Inggris mereka yang masih terpengaruh logat asal.

Pelajaran mengalah pun saya dapatkan kembali di sana. Dari hal yang sederhana, mereka sudah menerapkan hal itu. Misalnya, di jalan raya, ia yang hendak berbelok pasti mendahulukan mereka yang akan berjalan lurus. Barangkali, karena setiap orang bersedia saling mengalah inilah, maka mereka bisa disatukan di bawah bendera Australia.

Biar begitu, tak selamanya warga mau patuh pada pemerintah. Misalnya saat di sana, saya pun menemukan ada permasalahan antara pemerintah dengan imigran. Imigran tersebut adalah mereka yang bersikeras mengenakan cadar. Di lain sisi, menarik justru menyimak pendapat warga Australia keturunan Somalia yang menjadi sopir taksi berkaitan dengan permasalahan ini. Kendati ia seorang muslim, alih-alih mendukung mereka yang bersikap fanatis dan membandel, ia justru menyokong tindakan polisi.

Canberra sebagai ibukota Australia kurang menarik apa lagi ketika musim dingin. Beku yang menyapa, angin dingin yang menusuk-nusuk. Ah….

Manakala jam menunjuk angka 9 malam, maka sepi pun menelusup di jalan raya. Hanya satu dua kendaraan yang melaju. Jarang sekali berpapasan dengan pejalan kaki, juga polisi. Dan memang tak perlu, karena keamanan terjaga, warga pun taat pada aturan yang ada.

Semula, sebagai salah satu negara maju, saya kira semua fasilitas tersedia. Namun nyatanya, untuk mencari internet saja saya kesulitan. Sejauh yang bisa saya temukan hanyalah dijumpai pada sebuah toko cepat saji yang menyediakan internet gratis. Selain itu, tak ada lagi, atau barangkali juga saya yang kurang rajin mencari.

Malam beranjak semakin larut, dingin semakin njekut. Di warung-warung makan warga berkumpul mencari kehatangan. Pun dengan saya, yang memasuki King Mosley di Citywalk Canberra guna merasakan steak khas Australia. Kemudian, daging yang tebal, penuh dan terlihat begitu lezat pun terhidang. Di luar, dari jendela saya melihat muda-mudi mengobrol sambil merokok dan terus merapatkan jaketnya.

Serombongan gambar lain di Australia bisa dilirik di sini

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: