Wisata: Jambi

Bandara Sultan Thaha menyambut kedatangan saya sore menjelang malam itu. Tak ada yang istimewa, karena dibandingkan dengan Bandara Soeta, jelas Sultan Thaha tak ada apa-apanya. Mulai dari toilet kedatangannya yang kecil, kalau tidak salah hanya berisi empat buah urinoir. Lalu, jarak antara pintu masuk dari landasan pacu ke area parkir pun tak lebih dari 15 meter. Kendati begitu, saya harus menempuh jarak yang cukup jauh dari tempat pesawat berhenti sampai ke pintu kedatangan, padahal saat itu hanya pesawat saya satu-satunya yang mendarat. Dalam hati ini bertanya-tanya, kenapa tak parkir di dekat pintu kedatangan saja? 😀

Selepas dari Bandara, bagian Kota Jambi menyambut saya. Sayang, saat itu malam sudah menjelang, sehingga tak banyak yang bisa diceritakan kecuali menu cumi bakar pedas yang menjadi menu makan malam. Pada mulanya saya mengira, cumi akan disajikan dengan potongan-potongan kecil seperti di Jakarta. Ternyata, apa yang saya dapat adalah tiga tusuk sate yang penuh dengan sambal dan bumbu. Gurih sekali.

Selanjutnya adalah menuju hotel, syukurlah di masa yang ramai seperti sekarang dan sebagian besar hotel penuh dengan pengunjung, saya masih bisa menginap di Grand Hotel Jambi. Hotel ini istimewa, karena di lantai 5 ada diskotik yang ramai sepanjang malam dan suaranya bisa tembus ke lantai 4. Memang, pada mulanya saya ditawari kamar di lantai 4, namun karena mendapati kenyataan akan kemungkinan terganggunya waktu istirahat, maka saya memilih kamar di lantai 3, kendati kunci kamar menggunakan kunci manual—bukan kartu seperti lazimnya.

Singkat kata, esoknya saya harus bertugas mencari data-data untuk pabrik. Tak ada kendala berarti, semua bisa diperoleh dengan mudah. Apa yang menarik adalah, perjalanan kami ke Kabupaten Batanghari. Jarak dari Kota Jambi sekitar 100 Km, namun bisa kami tempuh sangat cepat hanya dalam waktu 1 jam lebih sedikit. Bandingkan apabila jarak itu berada di Pulau Jawa, paling tidak akan memakan waktu lebih dari dua jam.

Semak dan perdu di sepanjang jalan
kehijauan sepanjang jalan

Sepanjang perjalanan pepohonan menyambut di kanan-kiri jalan. Perdu dan semak, pohon duku, durian dan karet, serta beraneka ragam tanaman lain sungguh rapat berjajar seakan membentuk pagar. Dan hijau tanaman-tanaman itu sungguh menyegarkan mata yang biasanya hanya terpentok dari gedung ke gedung.

Tak banyak rumah warga yang berjajar di pinggir jalan. Kebanyakan adalah area perkantoran atau sekolah yang mendominasi di sepanjang jalan. Kata pemandu saya, rumah warga berada agak di dalam kebun atau mepet dengan Sungai Batanghari. Jika ada satu dua rumah, maka letaknya terpencar-pencar. Di sepanjang jalan Jambi-Batanghari itu, di sekitar permukiman yang ada tidak banyak saya lihat aktivitas warga. Semua terlihat sepi, mirip rumah tanpa penghuni. Lagi-lagi kata pemandu, di kala siang warga sedang berada di kantornya masing-masing, yaitu di kebun-kebun mereka.

rumah panggung di Jambi

Khusus menyoal rumah, desain awal rumah adat di Jambi adalah rumah panggung. Sebentuk rumah yang disangga oleh batang-batang kayu trembesi. Saat ini, jenis rumah-rumah itu masih bisa ditemukan. Sayangnya, bangunan adat tersebut terselip-selip, tersembunyi di antara bangunan-bangunan rumah tembok dengan desain tanpa panggung. Pendeknya, sekarang yang dominan di sana adalah bangunan rumah seperti di Pulau Jawa.

Dampak dari pembangunan rumah yang mengabaikan kearifan lokal, yakni dengan adanya penyangga adalah: apabila banjir melanda—jenis bencana yang sering melanda seantero Jambi—maka rumah dengan panggung akan terbebas dari banjir. Genangan air hanya menyentuh lantai bangunan. Sementara itu, bangunan ‘modern’ tanpa panggung sudah akan terendam sampai dengan atap. Sungguh sayang, bukan?

Menyoal kuliner, Jambi menawarkan aneka menu. Letaknya yang dekat dengan Palembang membuat pempek menjadi makanan yang mudah ditemukan di berbagai sudut kota. Selain itu, seperti halnya di Manado, banyak warung hasil franchise yang bisa ditemukan, seperti: Ayam Bakar Wong Solo, Iga Bakar Mas Giri dan lain-lain dan kawan-kawan. Di sebuah sudut Batanghari, saat saya menikmati udang yang besar dimasak pedas, sedikit kejutan saya dapat. Rupanya penjual masakan udang nan nikmat itu berasal dari Boyolali, woalahhh, tetangga. 😀

Apabila malam menjelang, maka penjual bandrek akan berjajar di pinggir jalan-jalan kota. Kelengkapan mereka adalah meja kecil dengan kursi-kursi plastik—bukan kursi bakso, namun kursi plastik yang ada sandaran punggungnya. Warung ini apabila di Jawa bisa disejajarkan dengan warung lesehan. Waktu bukanya pun sama, dari habis Isya sampai dengan jam dua dini hari.

Jambi memiliki dua sisi wajah yang berkebalikan. Di siang hari, tanahnya yang lempung menempel di semua sisi jalan, terserak di trotoar dan membuat warnanya kecoklatan, debu pun beterbangan apabila terik menghajar dan roda-roda kendaraan melindasnya. Sementara itu di malam hari, lupakan semua itu dan nikmatilah Bandrek serta kemeriahan malam Kota Jambi, abaikan saja pengguna motor yang wara-wiri tanpa helm, lupakan pula debu dan tanah lempungnya. 😀

Selamat berjalan-jalan!

One Response

  1. wah, paman goop mencerita nya adem banget, damai. tapi bagaimana akan bisa terus berdamai dengan alam bila pembangunan (rumah) mulai mengabaikan kearifan lokal 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: