Review: Invictus

Di tengah merosotnya kepercayaan kepada pemimpin. Barangkali perlu kita tengok sebentar pesan-pesan dalam film ‘Invictus.’

Alkisah, Afrika Selatan di masa-masa awal perubahannya. Transisi dari berhentinya politik apartheid ke demokrasi. Kegentingan terjadi di mana-mana, karena euforia kebebasan yang dialami warga kulit hitam. Mereka baru saja terbebas dari kungkungan kekuasaan yang membelenggu selama bertahun-tahun.

Kegembiraan dan kemerdekaan itu bahkan dilengkapi dengan terpilihnya seorang di antara warga kulit hitam, Nelson Mandela, sebagai presiden kulit hitam pertama. Jadilah sebuah suasana yang serba tak enak tercipta. Warga kulit hitam baru saja memeroleh kemerdekaannya. Di sisi lain, warga kulit putih belum siap melepaskan kenangannya saat berkuasa.

Tugas berat harus diemban Madiba—panggilan sayang Mandela dari sukunya—untuk meredakan ketegangan dua kubu warga negara berbeda warna kulit. Madiba yang melenggang memasuki kantornya diiringi tatapan mendamba pegawainya yang berkulit hitam. Pada saat yang sama, pegawai kulit putih justru mengepak perlengkapan mereka, sudah siap akan pergi keluar dari kantor.

Lalu, di tengah situasi serba tak enak itu, dikumpulkan semua pegawai di istana. Di situ, Madiba menjelaskan tentang posisinya dan posisi para pegawainya yang berbeda itu.

What is verby is verby. The past is the past. We work for the future. Reconciliations starts here. Forgiveness start here too, it liberates the soul, it removes fear. That’s why it such powerfull weapon.

Bila orang lain yang bicara begitu, barangkali maknanya tak sedalam saat itu diucapkan oleh Madiba. Untaian kata itu begitu bermakna karena Mandela adalah bukti paling sahih dari kekejaman politik apartheid. Mandela mengucapkan kata itu seperti menghunus pedang, kilaunya sudah cukup membikin keder musuh.

Mandela tahu betul arti memaafkan lebih dari siapa pun. Bila tiga puluh tahun terpenjara dalam ruangan 1,5×2 meter, lalu berubah menjadi pemilik kekuasaan yang besar di tangannya, balas dendam adalah tindakan paling logis yang kemungkinan bisa dilakukan.

Tapi Mandela, alih-alih mendendam, ia justru memaafkan dan mulai bekerja.

Sebenarnya, apa filosofi kepemimpinan Mandela? Di dalam Invictus, hal itu terkuak manakala ia mengundang kapten tim Rugby Afrika Selatan, Francois Pienaar. Tim rugby negeri itu akan mengikut kejuaraan dunia. Sementara di lapangan, Afsel bukan negeri raksasa untuk jenis olah raga ini. Akibatnya, Francois memanggul beban berat di pundaknya untuk membawa negerinya agar bisa sekadar berbicara dalam kejuaraan itu.

“Bagaimana filosofi kepemimpinanmu?”

“Dengan teladan, Mr. President. Saya akan memberikan contoh sebelum melakukan perintah.”

“Tepat sekali, tapi itu saja belum cukup, masih perlu adanya inspirasi.”

Francois seperti terhipnotis. Ia resapi kta itu, ‘inspirasi’ dan diingatnya baik-baik.

oOo

Nah, dan inspirasi, di mana bisa kita temukan di hari-hari seperti sekarang ini?

gambar

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: