Review Buku: Bekisar Merah

Sedari mula Lasi sudah tercerabut dari akarnya di Karangsoga. Di desa tempat para penyadap kelapa hidup dan tinggal itu, Lasi menjadi orang asing. Ia yang memiliki kulit lebih putih dari yang lain, mata kaput sangat indah dan kecantikan lainnya telah membatasi dirinya sendiri dengan lingkungannya di Karangsoga.

Pak Ahmad Tohari memulai ‘Bekisar Merah’ dengan sosok Darsa yang sedang memandangi kebunnya. Cara bercerita beliau yang bisa menggambarkan keindahan sebuah tempat begitu detil telah membuat lupa. Terlena padahal ada sebuah masalah yang dialami Darsa dan penduduk Karangsoga lainnya. Masalah itu adalah harga gula kelapa yang sekilonya kadang tak cukup untuk membeli setengah kilo beras.

Karangsoga hidup dalam kemiskinan para penyadapnya. Meski kicauan burung, harum embun pagi dan lumut basah senantiasa tercium dari tebing-tebing di tepi kali.

Pak Handarbeni adalah sosok lain dalam cerita itu yang kaya raya dan tinggal di hiruk pikuknya Jakarta. Dengan kekayaannya Pak Han sudah membeli apa saja. Termasuk di dalamnya sebuah kebanggaan khas lelaki kaya di zaman itu. Yaitu wanita untuk statusnya, sebagai pajangannya, guna mengisi rumahnya yang ke sekian.

Adalah Pak Wiryaji yang mengenalkan Darsa dengan Lasi. Ia adalah ayah tiri bagi Lasi dan paman Darsa. Kesengsaraan hidup yang mesti dialami Lasi sebagai istri penyadap dijalaninya dengan sabar. Darsa, kendati tak tampan amat, namun memiliki tubuh yang liat dengan otot-otot kuat.

Satu hari, Darsa terjatuh dari pohon kelapa yang sedang disadapnya. Bagi orang Karangsoga, adalah terlarang menyebut seseorang jatuh. Itu untuk menolak bala, agar kejadian itu tak menghantui, sebuah kejadian biasa dan tak menyurutkan niat para penyadap lain. Karena itu, orang Karangsoga akan menyebutnya, “Ada katak lompat.”

Jatuhnya Darsa ini kelak akan menjadi awal perceraiannya dengan Lasi. Ia bermain serong dengan Sipah, anak tukang pijat. Suatu tindakan kurang ajar mengingat Lasi, istrinya begitu cantik sementara Sipah adalah perawan tua dan pincang pula. Lasi jadi bahan pembicaraan di Karangsoga. Lasi yang sedari kecil sudah tak nyaman di Karangsoga karena isu yang beredar bahwa ia adalah anak haram serdadu Jepang yang memerkosa simboknya membuatnya makin tak betah.

Ia pun pergi menumpang truk Pardi yang membawa gula ke Jakarta. Gula-gula itu, awalnya dari para penyadap lalu disetor ke Pak Tir, seorang juragan gula. Dari Pak Tir inilah kemudian gula-gula itu dibawa ke Jakarta, disetor ke cukong-cukong.

Jakarta menyambut Lasi dengan ramah. Kecantikan blasterannya yang unik dan begitu menonjol telah membuat Bu Koneng jatuh hati. Bu Koneng adalah pemilik rumah makan sekaligus induk semang untuk Si Anting Besar dan Si Betis Kering. Dua nama yang disebut terakhir ini adalah pacar atau istri-istri sopir di perjalanan. Sopir itu, termasuk di dalamnya Pardi. Apakah Lasi akan menjadi seperti istri-istri jalanan itu?

Rupanya Bu Koneng cukup pintar untuk tetap memelihara Lasi dengan baik. Ia tak mengincar sopir-sopir. Lasi singkatnya ditawarkan pada Bu Lanting, sosok yang memiliki jaringan dan perkenalan luas dengan para pejabat dan orang kaya Jakarta.

Bekisar, adalah unggas elok hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa. Jenis unggas ini sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya.

Lasi setelah tinggal dengan Bu Lanting kerapkali dipamerkan di pergaulan tingkat atas Jakarta. Ia diajak makan dan jalan-jalan. Parasnya yang mirip Jepang pun tak luput mendapat perhatian. Pada puncaknya, ia dipotret mengenakan kimono warna merah, sehingga begitu mirip dengan seorang artis: Haruko Wanibuchi.

Agaknya, kebiasaan yang berlaku di zaman itu, apa yang dilakukan petinggi akan diikuti pula oleh anak buahnya. Maka, setelah seseorang di pucuk atas mengambil seorang Jepang menjadi istri yang ke sekian. Anak buahnya pun tak hendak mengalah. Biarlah bila bukan Jepang tulen, maka Jepang peranakan yang banyak terdapat di pedalaman daerah jajahan pun tak mengapa.

Lasi adalah bekisar merah untuk rumah Overstee Handarbeni. Di rumah barunya yang masih kosong, Lasi akan mengisi setiap sudutnya. Nantinya, sudut-sudut rumah yang sepi itu akan berpindah pada kesepian di hati Lasi. Biarpun segala kebutuhannya tercukupi, sandangnya selalu bagus, perutnya tak pernah kosong, namun ada yang tak terpenuhi di diri lasi.

Apa yang tak didapat Lasi dengan sempurna adalah nafkah batin mengingat kegagalan Pak Han di malam-malam Lasi begitu butuh sentuhan. Menyikapi ini, Pak Han esoknya akan memberikan aneka rupa pemberian pada Lasi. Pula, ia akan berkata, “Kamu boleh mencari lelaki mana pun yang kamu suka asal kamu tetap jadi istriku dan tidak keluar dari rumah ini.”

Ah, hati Lasi teraduk-aduk mendengar saran semacam itu dari suaminya. Tapi apa dayanya, manakala kemudaannya memanggil-panggil. Di lain sisi, bukan kehidupan rumah tangga macam itu yang diharapkannya. Di sini ia begitu kecewa pada Pak Han.

Di tengah kemegahan rumahnya di Slipi, Lasi yang kesepian seringkali malah teringat pada desanya, Karangsoga. Ia bayangkan ilalang yang ditiup angin, bangkong yang melompat di kali dan kepiting yang saling belit dengan capitnya. Ada pula anak lelaki teman sebayanya yang sering mengganggu, tapi yang lebih diingat ialah sosok Kanjat. Ia lebih muda, berpipi gemuk maklum anak Pak Tir, orang paling kaya di Karangsoga.

Satu kali selama di Jakarta, pernah Kanjat datang mengunjunginya. Saat itu, Kanjat sudah menjadi seorang lelaki yang gagah dan tampan. Ia ingat, Kanjatlah satu-satunya teman yang tak pernah mengganggu. Kanjat selalu seperti hendak melindungi, namun Lasi pun suka geli bila mengingat Kanjat yang selalu menempelkan tubuhnya pada Lasi saat bermain petak umpet di bawah terang purnama.

Adakah lelaki yang dirindui Lasi itu Kanjat? Bagaimana dengan kekayaan dan pemberian Pak Han? Apakah benci Lasi pada Darsa akan hilang setelah sekian lama dan dilihatnya kesengsaraan Darsa tak juga beranjak pergi?


One Reply to “Review Buku: Bekisar Merah”

  1. ah, ahmad tohari. saya tak pernah tuntas membaca penulis ini. hanya trilogi RDP yg saya habiskan. mungkin ini buku yg harus saya baca meski saya nggak suka dg cara ahmad tohari melukiskan panorama desa yg terlalu bertele2. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *