Review: Bangkok Dangerous

Sebagai pembunuh bayaran yang profesional, ia tahu betul bagaimana menjalani profesinya itu. Menerima tugas tanpa bertanya, mengerjakan dan menyelesaikan tanpa meninggalkan jejak.

Dalam pengerjaannya, ia kadang membutuhkan kawan. Ia membutuhkan waktu untuk merancang aksi yang berhasil guna dan tak terlacak.

Ia seperti hantu di tengah ramai. Tak seorang pun akan tahu bahwa ia seorang pembunuh. Tapi di saat yang sama, ia akan tahu banyak hal lebih dibandingkan orang lain. Ia memang memerhatikan bagaimana lingkungan tempatnya berdiri, siapa yang berbahaya, di mana jalan keluar mesti diambil bila hal itu menuntut dan lain persoalan yang semua itu terjadi secara otomatis. Pendeknya itu seperti aliran darahnya terjadi begitu saja.

Dalam beraksi, ia pasti akan merencanakannya dengan matang terlebih dahulu. Dibukanya peta, dicari rute, jalan dan lokasi untuk melakukan eksekusi terhadap sasaran. Di saat yang sama, ia pun akan menghitung waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan aksinya. Pada akhirnya, buah dari semua itu adalah skenario bak jalinan cerita yang tercetak di otaknya dan tinggal melakukan aksi macam aktor yang jago akting.

Sebagai pembunuh bayaran yang profesional, ia tahu pula bagaimana mengakhiri profesinya itu. Jangan pernah berpikir akan berhenti bila memang tak ingin berhenti, terbersit sedikit pun jangan sampai pikiran itu muncul. Karena manakala pikiran itu menyeruak, aksinya akan terpengaruh. Sebuah kegagalan, bisa saja menjadi muaranya.

Dan di Bangkok, ia menemukan murid sekaligus cintanya. Lalu, apa lagi yang terjadi di Bangkok? Bangkok Dangerous akan menjawabnya untuk Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: