Review: The Spy Next Door

Salah seorang teman di milis alumni SMA lintas angkatan berkata, bahwa menjadi tua itu, kian banyak hal-hal yang bisa dilakukan tanpa perlu merasa sungkan. Tentu saja ini bukan berarti bebas sekehendak hati sebebas-bebasnya. Ini berarti bila ia—orang yang sudah sepuh tadi—melakukan sesuatu, akan banyak dimaklumi. Bila pandangannya sudah tak awas, misalnya, maka orang akan bilang, “Wajarlah, sudah tua.”

Usia barangkali sesuatu yang aneh di antara banyak hal lain yang aneh pula. Ia berkurang detik demi detik, namun pada hari tertentu pengurangan itu ditandai, bahkan dirayakan.

***

‘The Spy Next Door’ bercerita ihwal seorang agen internasional yang hendak pensiun, namun mesti menyelesaikan sebuah misi terakhir. Di sini tak bisa dipungkiri, bahwa Jacky Chan masih saja memukau kendati telah berumur. Dan hebatnya, ia memanfaatkan ketuaannya itu dalam perannya.

Jacky bukan lagi seorang agen yang lincah menangkap penjahat. Ia menjelang pensiun, sudah setengah hati menyelesaikan kasus yang mesti dipecahkannya. Ia justru sibuk dengan dirinya dan rencana masa depannya guna membentuk keluarga. The Spy Next Door kemudian bercerita bagaimana usaha Jacky untuk meyakinkan anak-anak kekasihnya.

Tambatan hatinya itu memang seorang janda beranak tiga. Ibu nan cantik ini sudah kepincut kepada Jacky yang kala itu menyamar sebagai seorang pengusaha pulpen dan penyayang keluarga. Trauma masa lalu dengan suaminya yang pergi meninggalkannya dengan anak-anak membuat ia berharap pada seorang lelaki dengan karakter Jacky dalam penyamarannya.

Mula-mula, Jacky kesulitan meluluhkan anak-anak yang bandel itu. Waktu berjalan dan ada kasus baru yang harus diselesaikan Jacky. Sayangnya, dalam prosesnya ia malah melibatkan anak-anak dalam bahaya. Melalui aksi Jacky, kepiawaiannya menggebuk musuh satu per satu, alat-alat canggih yang dimiliki, pada akhirnya ia berhasil memikat anak-anak. Lantas, apa yang perlu disayangkan?

Pelibatan itu jualah penyebabnya. Dengan melibatkan anak-anak, berarti juga membawa mereka dalam masalah dan terancam keselamatannya. Nah, ini yang menjadi masalah karena kemudian ibu itu tak setuju dan mengancam memutuskan hubugan cintanya dengan Jacky. Bagaimana akhir dari film ini? Barangkali tak sulit bagi Anda untuk menebaknya, bukan?

Satu yang menarik ialah tatkala Jacky menjelaskan arti keluarga pada salah seorang anak yang mulanya menjadi penentang terbesarnya. Ia bilang, “Keluarga bukan mengenai darah siapa yang mengalir di dalam tubuhmu. Keluarga adalah tentang siapa yang mencintai dan dicintaimu.”

Selanjutnya, saya melihat ‘Edge of The Darkness’. Di sini, tokok sepuh itu diperankan oleh Mel Gibson. Ia menjadi seorang bapak yang mesti menyaksikan putri satu-satunya meregang nyawa.

Sebagai veteran perang dan detektif. Ia mengira dirinyalah sasaran sebenarnya dari penembakan itu dan bukan putrinya. Namun, manakala ia melihat satu demi satu kasus yang telah dipecahkannya, tak ia lihat seorang pun yang berpotensi mengincar nyawanya.

Gibson akhirnya seperti petualang goa yang masuk ke kegelapan kasus itu dengan obor dan peta yang terbatas. Ia mengawali dari dugaan-dugaan sampai kemudian perlahan-lahan kebenaran demi kebenaran tersibak.

Nyatalah kemudian, bahwa ia begitu kehilangan putri semata wayangnya itu. Melalui foto, video dan kenangan, ia bahkan seperti mendengar suara-suara putrinya yang memanggil-manggil. Masih diliputi kesedihan dan dendam, ia berlawalata mencari siapa sebenarnya pembunuh putrinya.

***

Film ini bagus, namun saya kurang begitu suka dengan musik latarnya. Menurut saya, ini seperti film-film lama yang menunjukkan peningkatan ketegangan dengan perubahan musik latar. Agak membosankan jadinya.

Bukan pada tempatnya, saya kira bila membandingan goncangan perasaan yang harus dialami Gibson dengan Iwan Fals, misalnya. Sengaja di sini Iwan sebagai contoh karena saya juga melihat tayangan Kick Andy tentang musisi besar ini. Selepas melihat tayangan itu, kemudian saya membaca artikel panjang berjudul ‘Dewa Dari Leuwinanggung’ buah karya Andreas Harsono.

Di situ Iwan bilang, “Bila anak kehilangan orang tua agak wajar. Namun, bila orang tua kehilangan anak, ini berat.” Kemudian kita maklum, Iwan mesti beristirahat sekitar lima tahun dari dunia musik untuk mengembalikan ‘kesehatan’ jiwanya.

Kembali menyoal Mel Gibson. Saya kurang tahu, barangkali juga karena itu film, maka kehilangan itu bisa dilewati dengan mudah. Atau, mungkin karena dendam dan amarah yang membuat ia sepertinya melenggang saja menghadapi itu? Persis seperti yang dibilang Seno Gumira, bahwa ia berkarya satu di antaranya karena marah. Kemudian, ada hal yang tak hendak kita lupakan: seorang anak, begitu berarti bagi orang tuanya. Walaupun barangkali perhatian kurang tercurah. Meski mungkin rasa sayang ditunjukkan dengan malu-malu.Dan keluarga? Silakan lirik kembali pesan Jacky Chan di atas.

6 Replies to “Review: The Spy Next Door”

  1. Keluarga bukan mengenai darah siapa yang mengalir di dalam tubuhmu. Keluarga adalah tentang siapa yang mencintai dan dicintaimu

    gooosh aku suka kata-katanya di Jacky ituuuu…

    same here 🙂

  2. menjadi tua seharusnya bijaksana, dalam arti tak lagi membabi buta. masak ga capek terusan menggelora 😀

    hahaha, barangkali mengamalkan tua-tua keladi itu, mas :mrgreen:

  3. Jangankan harus kehilangan anak yang udah gede macam Iwan, om. Kehilangan anak yang masih dalam kandungan saja rasanya beraaaaat banget. Tak bisa sembuh hanya dalam hitungan tahun. Karena kehilangan tetap kehilangan, meski telah ada gantinya.

    “Keluarga bukan mengenai darah siapa yang mengalir di dalam tubuhmu. Keluarga adalah tentang siapa yang mencintai dan dicintaimu.”

    Betul.. dan kita meski bukan sedarah, tak pernah ketemu, berjarak, berlainan nasib tapi bolehlah kau kusebut keluargaku.. 😀

    “Kehilangan tetaplah kehilangan.” sebuah poin tambahan yang berharga, terima kasih saudaraku… Tapi, bukan berarti kita saling mencintai, kan? hahaha… Duh, apa kabarnya para bayut itu, ya? 😆

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *