Review: Invictus

Di tengah merosotnya kepercayaan kepada pemimpin. Barangkali perlu kita tengok sebentar pesan-pesan dalam film ‘Invictus.’

Alkisah, Afrika Selatan di masa-masa awal perubahannya. Transisi dari berhentinya politik apartheid ke demokrasi. Kegentingan terjadi di mana-mana, karena euforia kebebasan yang dialami warga kulit hitam. Mereka baru saja terbebas dari kungkungan kekuasaan yang membelenggu selama bertahun-tahun.

Kegembiraan dan kemerdekaan itu bahkan dilengkapi dengan terpilihnya seorang di antara warga kulit hitam, Nelson Mandela, sebagai presiden kulit hitam pertama. Jadilah sebuah suasana yang serba tak enak tercipta. Warga kulit hitam baru saja memeroleh kemerdekaannya. Di sisi lain, warga kulit putih belum siap melepaskan kenangannya saat berkuasa.

Tugas berat harus diemban Madiba Continue reading “Review: Invictus”

Review: 500 Days of Summer

http://www.imdb.com/media/rm3088223232/tt1022603Keyakinan yang berubah, mungkinkah terjadi?

Barangkali kita harus menjadi Tom untuk memahaminya.

Syahdan, Tom percaya betul akan adanya cinta sejati. Dan Summer, adalah alasan di balik kepercayaannya itu.

Bagaimana dengan Summer sendiri? Ia justru tak percaya, ia menolak adanya cinta sejati. Lalu, ia dan Tom pun sepakat untuk tidak sepakat.

Kenyataan rupanya memupuk subur harapan Tom. Ia menginginkan hubungan yang serius dengan Summer. Namun, Continue reading “Review: 500 Days of Summer”

Review Buku: Bekisar Merah

Sedari mula Lasi sudah tercerabut dari akarnya di Karangsoga. Di desa tempat para penyadap kelapa hidup dan tinggal itu, Lasi menjadi orang asing. Ia yang memiliki kulit lebih putih dari yang lain, mata kaput sangat indah dan kecantikan lainnya telah membatasi dirinya sendiri dengan lingkungannya di Karangsoga.

Pak Ahmad Tohari memulai ‘Bekisar Merah’ dengan sosok Darsa yang sedang memandangi kebunnya. Cara bercerita beliau yang bisa menggambarkan keindahan sebuah tempat begitu detil telah membuat lupa. Terlena padahal ada sebuah masalah yang dialami Darsa dan penduduk Karangsoga lainnya. Masalah itu adalah harga gula kelapa yang sekilonya kadang tak cukup untuk membeli setengah kilo beras.

Karangsoga hidup dalam kemiskinan para penyadapnya. Meski kicauan burung, harum embun pagi dan lumut basah senantiasa tercium dari tebing-tebing di tepi kali. Continue reading “Review Buku: Bekisar Merah”

Review: Bangkok Dangerous

Sebagai pembunuh bayaran yang profesional, ia tahu betul bagaimana menjalani profesinya itu. Menerima tugas tanpa bertanya, mengerjakan dan menyelesaikan tanpa meninggalkan jejak.

Dalam pengerjaannya, ia kadang membutuhkan kawan. Ia membutuhkan waktu untuk merancang aksi yang berhasil guna dan tak terlacak.

Ia seperti hantu di tengah ramai. Tak seorang pun akan tahu bahwa ia seorang pembunuh. Tapi di saat yang sama, ia akan tahu banyak hal lebih dibandingkan orang lain. Ia memang memerhatikan bagaimana lingkungan tempatnya berdiri, siapa yang berbahaya, di mana jalan keluar mesti diambil bila hal itu menuntut dan lain persoalan yang semua itu terjadi secara otomatis. Pendeknya itu seperti aliran darahnya terjadi begitu saja.

Dalam beraksi, ia pasti akan merencanakannya dengan matang terlebih dahulu. Dibukanya peta, Continue reading “Review: Bangkok Dangerous”

Review: Negeri Lintasan Petir

Aku tak tahu bagaimana kayu-kayu itu terdampar dekat kebunku. Ada kemungkinan kayu-kayu itu dibuang oleh perusahaan perkayuan, dibuang oleh para peladang atau disambar petir, lalu dipindahkan ke sungai oleh erosi.

Gerson Poyk menyajikan kutipan paragraf di atas pada bagian awal bukunya. Mula-mula ia menceritakan rumah yang ditempati sosok ‘Aku’ dalam hal ini kemudian diketahui bernama ‘Indra’. Rumah yang terdiri dari kebun-kebun, beberapa rumah kecil di sekitar rumah utama, tempat Indra yang pematung, pelukis dan pemusik menghasilkan karya-karyanya. Indra sendiri ialah seorang transmigran yang sukses dengan kebunnya dan hasil kreasinya sebagai seorang seniman.

Kritik Gerson tak cukup sampai di situ. Continue reading “Review: Negeri Lintasan Petir”

Tokoh: Gerson Poyk

Awal mula perjumpaan saya dengan Pak Gerson terjadi dengan tidak sengaja. Waktu itu, saya menghadiri undangan sebuah pertemuan di hotel berbintang lima di bilangan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Pak Gerson sudah sepuh. Beliau berjalan perlahan-lahan dan kehadirannya benar-benar memberikan warna lain di ruang pertemuan hotel itu. Gemerlap lampu, kilau keramik dan gelas yang ada di sana memang menyilaukan. Biarpun begitu, Pak Gerson dengan kesederhanaannya pun tak kalah menggetarkan.

Ia yang saya kenal namanya selintas lewat, Continue reading “Tokoh: Gerson Poyk”

Review: Karate Kid

Hidup adalah pilihan, apakah akan bangkit atau terus terpuruk?

“Kungfu ada dalam setiap kehidupan, manakala kau memakai dan melepaskan jaket.” Hal ini dikatakan oleh Mr. Han saat ia menjelaskan apa itu kungfu.

Adalah Dre yang ngebet ingin bisa beladiri pasca penghinaan yang dilakukan teman-teman di sekolahnya. Agak surut ke belakang, kepindahannya dari Detroit di Amerika ke Beijing jelas sekali telah mengganggunya.

Ia berada di tempat yang salah, terlepas dari habitat aslinya. Bertemu dengan teman sebaya yang memusuhinya. Menganggap ia asing dan tak pantas bergaul dengan mereka.

Dre pun kemudian ingin pulang. Ia merasa di situ bukanlah rumahnya. Di sini, saya teringat pada para exile yang harus tercerabut dari akarnya. Mereka mesti hidup di tempat lain yang bukan rumahnya. Dan pulang, Continue reading “Review: Karate Kid”

Tokoh: Ainun Habibie

Jakarta, menjelang Tahun 1962….

Semburat senja merona kemerahan di langit barat. Angin bertiup lembut menerbangkan dedaunan yang telah jatuh dan terserak di jalan. Berkas sinar matahari yang berhasil menerobos gerumbul awan jatuh di tembok rumah sakit itu. Tembok yang warnanya putih pun kemudian bagaikan tersapu kuas berubah warna menjadi kekuningan.

Tidak semua bagian tembok terkena sinar matahari. Memang, meskipun sudah berhasil menerobos awan, namun ada pula di antaranya yang tertahan pepohonan. Hasilnya ialah bayang-bayang yang tercetak di tembok, yang bergerak, seirama dengan gerakan pohon yang dihembus angin.

Ahai, rupanya bukan hanya bayangan pohon saja yang jatuh di tembok itu. Di sana, di tembok itu, ada pula bayangan kaki jenjang, sesosok tubuh dan kibaran rambut. Empunya tubuh sendiri memang saat itu sedang tenang-tenang berdiri menunggu.

Ainun nama perempuan itu, ia seorang dokter anak. Sosoknya tak begitu tinggi, senyumnya ramah kepada siapa saja, lagaknya anggun dan terkendali. Dan sore itu, ia sedang menunggu kedatangan Rudy kekasihnya datang menjemput. Sudah beberapa lama ia berdiri seperti itu, setia menunggu.

Dari ujung jalan, nampaklah becak yang mendatangi Ainun perlahan-lahan. Ainun hapal betul siapa penumpang di becak itu, ialah Rudy yang duduk tak tenang. Di benak Ainun terbayang bagaimana Rudy akan meminta kepada tukang becak, “Ayo, Pak, kayuhlah lebih cepat. Kasihan bila Ainun mesti menunggu.”

Tak berapa lama kemudian, masih dengan kecepatannya semula, perlahan-lahan becak itu pun mulai mendekat. Sementara penumpang di dalamnya sudah hendak meloncat tak sabar lagi.

Senja pun kemudian menjadi saksi, bagaimana dua pasang kekasih yang saling peduli itu bertemu. Sesosok pria dengan bola mata bundar yang berkerjap-kerjap bahagia dan wanita dengan matanya yang seteduh telaga. Dua pasang mata itu pun baku pandang, waktu terhenti.

Ainun pun dituntun Rudy memasuki becak yang setia menunggu dengan tukangnya yang menyusut peluh karena bingung hendak melakukan apa saat menatap dua sejoli yang dilanda asmara begitu. Plastik penutup becak pun ditutup kendati hari tak hujan, barangkali khawatir angin nakal mengusik ketenangan mereka berdua. Sementara keduanya berasyik masyuk memadu kasih, becak itu pun berjalan perlahan-lahan.


Review: Surrogates

Manakala manusia sudah tak percaya pada dirinya sendiri….

Surrogates adalah sebuah robot pengganti. Ia dibuat semirip mungkin dengan pemiliknya, bahkan tak jarang melampaui. Robot pengganti ini menjadi pencitraan sempurna dari pemiliknya.

Citra sempurna itu berarti manakala si empunya sudah memutih rambutnya, ringkih tubuhnya dan tak lagi sempurna berjalan, si robot pengganti adalah kebalikan dari itu semua. Ia masih memiliki rambut yang hitam sempurna, tebal dan indah untuk perempuan atau gagah dan berjalan tegap untuk lelaki.

Namun, semua itu hanyalah tipuan belaka.

Robot pengganti itu menjadi topeng yang dipasang sempurna. Ia nampak sempurna, padahal pemiliknya sendiri hanya mampu tergolek pada pusat kendali di rumahnya. Kira-kira begini gambaran para pemilik Surrogates itu: berpiyama, muka kusut, kelelahan dan kurang gerak yang berarti juga kurang sehat.

Dengan robot itu pula mereka menjalani aktivitasnya sehari-hari. Yang semula seorang sherrif tetap menjadi sheriff, pun bila awalnya seorang penjahat. Bedanya, sheriff dan penjahat itu tidak bisa mati karena yang ditembak, yang tertabrak mobil, yang patah kaki selepas beraksi dan  berkelahi adalah robot-robot pengganti.

Masalah muncul manakala kerusakan yang terjadi pada robot pengganti berimbas pada pengendali yang duduk aman di rumah. Kerusakan itu muncul karena adanya senjata percobaan yang semestinya sudah tiada ternyata masih tersisa sebuah yang belum dimusnahkan. Akibatnya, ketakutan melanda para pengendali.

Apa yang terjadi pada para pengendali itu? Tontonlah Surrogates, jadilah saksi manakala dendam harus dibayar dengan mahal. Bagaimana eksistensi manusia perlahan-lahan digantikan oleh buah karyanya sendiri.

Review: Hachiko, A Dog’s Story

Tentang menunggu….

Hachi kedinginan di stasiun kereta pada petang hari yang hujan. Hachi adalah anjing kecil yang hilang tak bertuan. Sore itu, ia tersesat di stasiun dan kemudian berjalan tak tentu arah.

Boleh jadi sebuah kebetulan, yaitu ketika langkah kaki Hachi terantuk sepasang kaki yang kokoh. Ia tak tahu siapa pemilik kaki itu, tak pernah ia temui sebelumnya. Namun, pada saat itu tatapan mata keduanya telah beradu, baku pandang.

Lelaki itu, Parker Wilson, serta-merta mengangkat Hachi yang kedinginan, membawa dalam pelukannya. Kemudian, seperti ada jalinan pengertian di antara keduanya ketika detak jantung mereka saling berpadu, seperti saling mendengar dan didengar. Dua jantung yang bergerak seirama, segendang-sepenarian. Dari situ, berawallah keakraban di antara mereka berdua.

Keduanya seperti disatukan oleh rasa kehilangan yang sama. Parker kehilangan anak lelakinya, sementara Hachi kehilangan tuannya. Mereka lantas merasa bisa saling mengisi, memenuhi dan melengkapi satu sama lain. Memang, manakala dua orang yang pernah mengalami kehilangan bertemu, maka pertemuan itu menjadi begitu istimewa.

Parker dan Hachi menjadi tak terpisahkan. Ihwal intensitas komunikasi, lalu kualitas pertemuan bukan lagi hal yang patut dirisaukan. Jalinan hati dengan hati itu begitu kuat, bahkan kendati kata tak diucapkan.

Hachiko: A Dog’s Story, saya kira telah berhasil menyajikan jalinan ikatan antara anjing dan manusia yang begitu dalam itu. Hubungan yang kuat itu tersaji dengan begitu jelas melalui upaya menunggu tak kenal waktu Hachi pada Parker.

Kisah penantian itu bermula saat Hachi senantiasa mengantar dan menunggu Parker berangkat dan pulang bekerja. Di depan stasiun, ia memiliki tempat istimewa yang menjadi langganannya saat ia menunggu.

Di tempat penantiannya itu, ia mengantar Parker di kala pagi. Ia mengiringkan Parker dengan harapan agar selamat dan bisa bertemu lagi sore nanti.

Sementara itu di sore hari pada jam yang sama, Hachi akan kembali berada di tempatnya. Ia mendekam di sana sambil mengawasi satu demi satu penumpang kereta yang keluar dari stasiun untuk pulang ke rumah masing-masing.

Kebiasaan Hachi mengantar dan menjemput ini lambat laun membuatnya hapal lingkungan di depan stasiun. Seperti juga lingkungan stasiun itu pun akan kehilangan manakala Hachi tak datang. Walaupun Hachi tak datang adalah sebuah kondisi yang jarang terjadi, karena Hachi tak pernah tak datang, bahkan ketika Parker sudah tak pernah lagi datang.

Bermula pada sebuah pagi yang cerah, seperti biasa Parker akan berangkat kerja. Pagi itu, tak seperti biasa semacam firasat datang mengilhami Hachi. Akibatnya, Hachi menjadi tak bersemangat untuk mengantar seperti jamaknya hari-hari kemarin. Ia justru terus-terusan berputar seakan-akan ingin bilang, “Marilah kembali pulang.” Sayang, Parker tak mengerti apa makna di balik sikap Hachi yang tak biasa itu. Parker kukuh terus berjalan, naik kereta dan berangkat kerja seperti biasa.

Siang datang, Parker sedang bekerja manakala tiba-tiba datang sebuah serangan jantung. Parker tak terselamatkan dan pulang ke asal semua makhluk. Pada saat yang sama, kepulangan abadinya ini berarti ia tak pulang ke rumah pribadinya. Lebih jauh, itu berarti Parker tak akan datang—tak pernah datang—lagi pada Hachi yang masih saja menunggu seperti biasa di tempatnya.

Sejak saat itu, dimulailah penantian Hachi yang tak kenal waktu. Saksikanlah bagaimana kesetiaannya tak perlu lagi dipertanyakan dan bagaimana ia menunggu bersama bergantinya waktu.

Selamat menonton.