Cerpen: Gita dan Dika

‘Gita dan Dika’ kembali Gita membacai tulisan itu. Deretan kata yang tertulis di bagian belakang sampul depan diarinya. Tiada yang istimewa dari jalinan huruf yang tertera berwarna hitam itu. Kecuali… kecuali kenangan akan Dika yang kembali terukir perlahan-lahan di benak Gita.

“Halo, kenalkan saya Dika, berasal dari Cilacap.” Menjadi kalimat pertama yang keluar dari bibir Dika ketika ia pertama kali masuk di kelas Gita. Ya, dia memang siswa baru pindahan dari kota kecil Cilacap. Ke sini, dia mengikuti orang tuanya yang dipindahkan tugasnya sebagai seorang dokter. Prestasi mengkilap sebagai seorang dokter di Puskesmas kecamatan telah berhasil membuat rumah sakit sebesar Rumah Sakit Karyadi melirik dan kemudian memanggilnya.

Seluruh siswa di dalam kelas tidak terlalu menaruh perhatian akan kedatangan Dika di hari pertamanya itu. Semua sedang disibukkan oleh persiapan pentas seni yang akan diselenggarakan oleh sekolah di akhir bulan. Kedatangan Dika seperti angin lalu, hanya selintas lewat dan kemudian dibiarkan begitu saja. Saat wali kelas bertanya, “Adakah yang ingin ditanyakan kepada teman baru kalian ini?” Kelas seperti kuburan di tengah malam yang sunyi. Tak seorang pun menjawab. Semua sedang disibukkan dengan persiapan pentas seni.

Ketua kelas, Andi yang biasanya ramah dan bijak nampak tidak perduli. Kepalanya sedang penuh dengan aneka macam ide. Memang kebetulan sekali kedatangan Dika tepat pada saat rapat persiapan pentas seni digelar. Jam pelajaran Matematika Bu Husna memang diminta oleh warga kelas akan digunakan untuk rapat persiapan pentas seni. Bu Husna sebagai wali kelas tentu saja tidak berkeberatan dan sangat mendukung kelasnya ini dapat tampil di pentas seni dan memberikan penampilan terbaiknya.

Maka, kedatangan Dika benar-benar seperti pengganggu. Di tengah rapat yang sedang alot dan penuh dengan lontaran ide serta perdebatan sengit dia malah datang diantar oleh Bu Husna. Akibatnya, Dika terabaikan di hari pertamanya masuk di sekolah baru. Kebetulan pula, di kelas ini ada sebuah meja kosong di belakang yang tiada berpenghuni. Jadilah Dika duduk di sana seorang diri tiada yang memerhatikan, tiada yang memedulikan.

Hari berganti dan pentas seni semakin dekat. Andi masih juga kebingungan, belum lagi memutuskan jenis kesenian apa yang akan ditampilkan pada pentas seni nanti. Banyak sekali usulan dari warga kelas seperti gerak dan lagu, pembacaan puisi, teater sampai parodi. Namun, Andi tahu betul semua itu hanyalah usulan-usulan ngawur dari warga kelasnya. Andi cukup sadar dan tahu benar bagaimana warga kelasnya yang hobi omong besar namun dalam pelaksanaannya nol besar. Pendek kata, kelas Andi adalah kelas NATO, ‘No Action Talk Only’.

Kondisi itulah yang membuatnya pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, bila dia telah memutuskan sesuatu berdasarkan usulan dari warga kelas, maka dia sendiri yang harus melaksanakan usulan itu. Adapun si pencetus ide? Ah, pasti telah kabur entah ke mana. Seperti memakan buah Simalakama Andi jadinya. Bila ide tidak dilaksanakan, maka kelas masih bingung apa yang akan ditampilkan. Bila ide dilaksanakan maka itu artinya kerepotan yang amat sangat baginya. Duhhh….

Entah kali ke berapa rapat digelar lagi. Memang usulan sudah mulai mengerucut menjadi beberapa jenis kesenian saja yang akan ditampilkan. Gerak dan lagu oleh Rini and gang menjadi sebuah pilihan. Meski di antara anggota gang Rini sendiri masih timbul perdebatan mengenai jenis lagu apa yang akan digunakan sebagai musik latar. Semua anggota gang mengusulkan lagu kegemarannya masing-masing. Akhirnya, kata sepakat masih jauh dari harapan.

Pembacaan puisi bisa juga ditampilkan, namun Andi mendengar dari sahabatnya di kelas sebelah: Ardi. Bahwa kelas Ardi sudah akan menampilkan puisi bahkan lengkap dengan teater. Jadilah kembali Andi pusing karena nampaknya ide pembacaan puisi juga batal. Tidak mungkin, bukan, meniru ide kelas sebelah? Apa kata dunia nanti?

Usulah terakhir adalah menampilkan band. Namun, usulan ini juga menghadapi rintangan yang tidak mudah. Anggota band di kelas ini tidak lengkap. Dodo dan Doni memang jago memainkan gitar, namun tak mungkin hanya mereka berdua yang tampil tanpa kelengkapan anggota-anggota yang lain, bukan?

Rapat di hari itu pun masih juga belum mengambil keputusan apa-apa.

Dan sementara itu Dika, ah, apa kabarnya dia, ya? Hei, ternyata dia sudah berani bergaul dengan beberapa orang teman di sekitar tempat duduknya yang mojok di belakang. Mulai dari menanyakan pelajaran sampai meminjam tip-ex. Boleh juga keberanian Dika. Dia tidak minder meski berasal dari kota kecil, satu per satu teman-teman di sekitar tempat duduknya mulai dikenalnya.

Wuri adalah cewek yang mula-mula dikenal oleh Dika. Beberapa catatan Wuri dipinjamnya untuk mengejar pelajaran yang tertinggal. Terkadang beberapa alat tulis Wuri juga sering dipinjam Dika. Mulanya memang Wuri merasa terganggu, apalagi dia tergolong siswi yang pelit. Namun, entah kenapa pada Dika hal itu tidak terjadi. Wuri sukarela meminjamkan semua benda miliknya kepada Dika. Awalnya tiada seoranpun warga kelas yang sadar mengenai sikap Wuri ini. Selain karena Dika dan Wuri duduk di bagian belakang, keduanya juga tidak terlibat aktif dalam rapat.

Sampai pada suatu ketika, Andi meminta usulan dari seluruh warga kelas. Saat tiba giliran Wuri dia berkata, “Dika memiliki usulan yang sebaiknya kalian dengar.”

“Nah, usulmu sendiri apa?” Andi sepertinya masih enggan mendengarkan suara murid baru dan memilih meminta pendapat Wuri.

“Aku tidak memiliki ide, kurasa ideku tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan ide Dika.” Jawaban Wuri ini disertai dengan rona merah di pipinya. Dan memang, bila diperhatikan di dalam jawabannya ini terkandung pujian yang tersembunyi kepada Dika.

“Baiklah, jadi apa usulmu itu, Dika?” Andi tidak sabar sekaligus merasa penasaran dengan jawaban Ruri barusan. Sebenarnya, memang Andi tidak suka bila ada siswa lain di kelas yang memiliki kelebihan yang tidak dimilikinya. Dan entah karena apa, dia merasa Dika memiliki kelebihan itu. Pejantan bila sudah bertemu pejantan, agaknya memang ingin memamerkan siapa di antara mereka yang lebih jago, bukan?

Dika tidak segera menjawab, justru pandangannya diarahkan ke seantero kelas. Dengan itu, ternyata dia sudah bisa meminta perhatian seluruh kelas. Artinya, kelas yang semula ramai karena masing-masing sibuk berbincang dan berbisik-bisik merasa segan karena lirikan mata tajam Dika. Ketika kelas sudah menjadi sunyi, barulah Dika berkata, “Ya, memang benar saudara Andi apa yang dikatakan saudari Wuri itu. Saya memiliki sedikit ide yang barangkali bisa kita tampilkan pada saat pentas seni nanti. Namun, sebenarnya ide biasa saja, kok, hanya Wuri yang sedikit melebih-lebihkan.”

“Jadi, apa idemu itu, kawan?” Nampaknya Dodo sudah tidak sabar dengan perkataan Dika yang panjang dan lebar itu.

“Saya mendengar dari Wuri, di kelas ini ada seseorang yang bersuara merdu bernama Gita, apakah memang demikian adanya?” Dika berkata demikian sambil pandangannya kembali mengarah ke seluruh kelas. Sebenarnyalah dia memang belum tahu siapa Gita itu.

“Yess, itu memang benar, lantas apa hubungannya dengan Gita?” Doni yang ramah kali ini yang memberikan jawaban.

“Saya bermaksud bernyanyi berduet dengannya saat pentas seni besok bila teman-teman semua setuju.” Jawaban Dika ini tidak diduga sebelumnya oleh seluruh warga kelas. Begitu percaya diri ia mengajukan dirinya sendiri.

“Boleh juga usulmu, namun kami belum tahu bagaimana kamu bernyanyi, Dika.” Gita kali ini yang menjawab. Sekaligus dengan ini Dika menjadi tahu siapa sosok bernama Gita. Pada beberapa kejap Dika terpesona pada Gita. Siswi yang duduk di depan sendiri itu memang beberapa kali membuatnya bertanya-tanya. Ada aura yang lain saat Dika mengamatinya, namun untuk bertanya kepada Wuri Dika merasa malu. Keduanya saling berpandangan beberapa saat tidak sadar bahwa seluruh kelas memerhatikan mereka berdua.

“Hei, malah pacaran, jadi bagaimana kamu bernyanyi Dika?” Andi merasa cemburu melihat keduanya saling berpandangan begitu rupa.

Ternyata Dika bernyanyi begitu indah. Petikan gitar Dodo dan Doni menjadi musik pengiring yang melengkapi kelembutan suara Dika. Gita bahkan sampai terpesona tak berkata-kata dan terus tercengang mengamati, ah, lebih tepat menikmati nyanyian Dika.

Semenjak detik itu keduanya sering berlatih bersama-sama. Mereka berdua menjadi dekat satu dengan yang lain. Dan bagaimana dengan duet mereka? Bukan main, Andi bahkan sampai merinding saat mendengar suara mereka berdua berpadu dalam sebuah lagu. Begitu memesona apa yang mereka berdua sajikan. Di telinga anak-anak yang lain, lagu yang mereka bawakan sudah sangat bagus, namun keduanya justru merasa belum puas. Mereka tiap hari bersama dan terus menerus berlatih setiap pulang sekolah sampai dengan beberapa hari menjelang pentas seni berlangsung.

Dika dan Gita begitu nama mereka dipanggil oleh pembawa acara, maka seluruh penonton yang terdiri dari siswa-siswi dan dewan guru bersorak-sorak. Memang Gita sudah dikenal karena suaranya yang merdu, namun bagaimana dengan Dika? Hal ini cukup menjadi pertanyaan di setiap kepala. Itu saja belum cukup. Penampilan Dodo dan Doni yang akan mengiringi dengan gitar masing-masing juga menimbulkan ketertarikan. Yang lebih heboh, seluruh warga kelas ikut turut serta di belakang dua orang penyanyi dan dua orang gitaris itu. Mereka menjadi suara latar yang akan memperindah suara Gita dan Dika. Jadi, sebenarnya selain mereka berdua tekun berlatih, Gita dan Dika juga melatih teman-temannya yang lain untuk mendukung penampilan mereka. Akhirnya seluruh kelas ikut berperan dalam pentas seni. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh kelas-kelas lain. Dan tahukah bahwa ternyata semua itu adalah ide Dika si anak baru.

Gita sudah tidak lagi membaca deretan kata ‘Gita dan Dika’ di bagian dalam sampul depan bukunya. Dia telah selesai membuka dan membaca halaman demi halaman yang ada di diari itu. Sampai akhirnya dia tiba pada sebuah halaman yang ada fotonya.

Mereka berdua, Gita dan Dika di dalam foto itu yang diambil selepas mereka menyanyi di pentas seni tempo hari itu. Di dalam foto itu, mereka terlihat begitu mesra. Masing-masing memegang microphone dan tangan mereka bertautan, bergandengan tangan. Di latar belakang, Doni dan Dodo sibuk memetik gitarnya, kepala mereka menunduk dan wajahnya tidak kelihatan. Lebih ke bagian belakang dari foto itu, Gita melihat warga kelasnya yang lain tersenyum. Ya, mereka tersenyum selepas bernyanyi dan mendengar tepuk tangan membahana dari seluruh warga sekolah yang hadir di aula. Semua nampak begitu gembira.

Tanpa sadar dari mata Gita mengalir butiran-butiran bening air mata. Hal yang biasa terjadi bila dia kembali membuka diari itu. Kembali mengingat semua peristiwa semenjak kedatangan Dika di kelasnya. Pentas seni yang melibatkan seluruh sekolah dan kebahagiaan yang muncul seusai mereka berdua bernyanyi saat melihat penonton tersenyum, tertawa dan bertepuk tangan memuji dan menghargai dengan sangat penampilan mereka. Saat Gita kembali teringat berita yang didengarnya tak lama setelah pentas seni usai. Yaitu berita tentang kecelakaan yang menimpa Dika selepas dia pulang dari sekolah lebih awal karena ada suatu urusan lain. Motor Dika tertabrak truk yang melanggar lampu merah di sebuah perempatan dan Dika langsung tewas di tempat kejadian. Gita hanya mendengar kabar terakhir mengenai senyuman di wajah Dika yang sudah dingin. Barangkali ketika Dika meninggal dia teringat pentas seni di sekolah barunya yang begitu membahagiakannya.

Cerpen ini sudah dimuat di Majalah Olga edisi November

9 Replies to “Cerpen: Gita dan Dika”

  1. aiiihhh…
    ending-a tragis bener sih om…
    pake ketabrak truk lagi.. ~haiissh~

    knp truk sllu jdi primadona yah..??!
    knp gak mercy or BMX eh BMW gtu, hwkekeke.. :mrgreen:

    sayang BMW-nya sih, dt, hahaha… makasih

  2. ceritanya bagus tapi kuq sad ending sih waduh sampe merinding saya pas tau Dika meninggal wow mengejutkan sekali 🙁
    thankyu dan sukses slalu 🙂

    hah, masa sampai merinding? 🙂 terima kasih atas apresiasinya 🙂

  3. This is the fitting blog for anybody who needs to seek out out about this topic. You realize so much its virtually exhausting to argue with you (not that I truly would want?aHa). You definitely put a brand new spin on a subject thats been written about for years. Great stuff, simply nice!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *