Review: Snow Country

Tuan Kawabata memulai buku ini dengan suasana di dalam kereta. Saya yang seringkali, bahkan hampir tiap dua minggu sekali menggunakan kereta sampai termenung-menung dibuatnya.

Shimamura dalam perjalanan liburannya. Lelaki yang hidup dari warisan orang tua dan tak memiliki pekerjaan jelas ini hendak berlibur. Tujuan liburannya itu, sekaligus untuk menyegarkan dirinya dari kepadatan Tokyo dengan mengunjungi gunung-gunung di awal musim dingin.

Dalam perjalanan di kereta itu, ia melihat seorang gadis cantik, Yoko. Gadis ini naik kereta degan seseorang yang pucat seperti sedang sakit. Shimamura terhenyak oleh kecantikan gadis itu dengan cara yang tak terduga.

Ia sedang memandangi telunjuk kirinya. Telunjuk itulah satu-satunya bagian tubuhnya yang masih bisa mengingat dengan samar-samar seorang wanita lain, Komako. Perempuan yang akan dikunjunginya di gunung nanti, di sebuah desa bersalju.

Pada saat yang demikian kalut karena ingatan yang mengkhianatinya dan hanya telunjuknya saja yang masih terhubung. Ia angkat telunjuk itu, digerakkan di kaca jendela kereta yang berembun, kemudian ia buat sebuah garis. Kaca itu, lantas menjadi sebuah cermin. Saat itulah, ia melihat mata seorang wanita yang menyeruak dan mengagetkannya. Mata yang demikian indah itu, mata milik Yoko.

Maka, perjalanan itu bagi Shimamura selanjutnya adalah dengan memerhatikan Yoko. Bagaimana ia merawat lelaki sakit itu, yang dengan sembarangan Shimamura duga bukan suaminya. Shimamura berlagak kelelahan dan menyandarkan tubuhnya serta melihat pemandangan di luar jendela kereta.

Sebenarnyalah, Shimamura melihat pantulan Yoko di cermin jendela itu. Pada saat yang sama, ia pun dapat melihat latar belakang pemandangan di luar jendela, bagaimana senja mulai pergi berganti malam yang membuat gunung-gunung menghitam namun masih jelas bentuknya. Dua hal yang Shimamura lihat secara bersamaan itu, memberikan kesan seperti sebuah wajah yang mengapung di landskap alam yang berada di luar kereta.

Keadaan ini, sebenarnya tidak istimewa betul. Saya sering mengalami sewaktu pulang berkereta. Saya pun selalu memilih bangku yang dekat jendela sewaktu memesan tiket. Dan cermin jendela, penumpang yang terpantul di sana, dan pemandangan di luar pun sering pula saya saksikan. Tetapi, memang jarang ada wajah cantik yang terpantul di sana. Lebih tetapi, saya tak pernah terpikir untuk mengabadikan momen cermin, penumpang dan pemandangan di luar itu ke dalam tulisan.

Di sini, Tuan Kawabata berhasil memukau saya dengan tulisannya yang sederhana mengenai situasi kereta. Suasana yang dialami hampir semua penumpang kereta yang duduk di dekat jendela. Ia seperti melihat gambaran tiga dimensi yang tidak langsung terlihat saat kita berkonsentrasi. Ia menggambarkan sebuah keadaan yang hanya bisa diamati ketika konsentrasi berpadu dengan santai. Maksud saya, jikalau kita berkonsentrasi pada cermin, maka hanya penumpang di kereta yang terlihat. Pun sebaliknya, saat kita ingin melihat kondisi di luar, maka hanya pemandangan itu saja yang nampak. Anehnya, saat kita santai tanpa bermaksud melihat cermin atau pemandangan, bukankah malah terlihat dua hal itu secara bersamaan?

Tak lupa, simaklah bagaimana Tuan Kawabata menggambarkan kondisi di kereta seperti pada kutipan berikut ini:

Kaca jendela mulai berembun. Pemandangan di luar mulai remang-remang, dan sosok-sosok penumpang membayang samar-samar pada kaca. Cermin senja itu lagi. Kereta api itu, yang menyeret tidak lebih dari tiga atau empat gerbong model lama, gerbong-gerbong yang sudah renta dan kusam, mungkin satu-satunya kereta api jompo yang masih melaju di jalur utama. Lampu-lampunya juga guram.

Shimamura membayangkan dirinya sedang menumpang kendaraan khayal, sedang diangkut ke tempat tak dikenal, dicerabut dari kenyataan. Derak monoton roda kereta berubah menjadi suara perempuan.

‘Snow Country’ membawa kita pada sebuah daerah bersalju di Jepang sana dengan gunung-gunungnya. Bagaimana serangga berwarna kuning melesat-lesat di pintu masuk hutan pohon suji. Suasana di desa wisata itu dengan atap-atap rumah yang tertimbun salju. Pula, sebuah cinta terlarang geisha kepada pelancong. “Dan, aku tidak mengeluh. Bagaimanapun hanya perempuan yang bisa sungguh-sungguh mencintai.” Begitu kata Komako, sang geisha, seperti mengeluh, mirip bergumam sendiri. Namun, sebenarnya ditujukan pada Shimamura.

Saya kurang tahu, tetapi mungkin begitu pula yang akan dikatakan istri Shimamura yang ditinggalkan di Tokyo. Istri yang justru sangat jarang disebut dalam novel ini. Mungkin, begitu pula yang dirasakan Yoko kepada lelaki sakit di kereta. Lelaki di mana dalam sakitnya mendapatkan pelayanan yang tulus dari Yoko, padahal senyatanya ia adalah calon suami Komako. Bahkan, setelah penyakit itu merenggut kehidupannya, Yoko-lah yang setia menziarahi pusaranya saban hari. Tak boleh lupa pula, bagaimana Komako begitu benci kepada Yoko. Bukan karena Yoko merawat calon suaminya. Namun, karena Shimamura terpesona pada suara bening Yoko.

Tuan Kawabata menuliskan cinta begitu pelik, simaklah dilema masing-masing tokoh seperti tertulis di atas. Ia begitu wajar menceritakannya, sewajar kereta dengan cermin jendela, penumpang dan pemandangan di luar yang mulai remang-remang.

Cinta dalam bingkai Kawabata seperti sebuah kendaraan khayal. Ia mengangkut ke sebuah tempat tak dikenal. Mungkin, ia pula yang mencerabut dari kenyataan.

10 Responses

  1. saya belon pernah baca novel Jepang 😀
    Jadi pas di kereta kemaren, apakah sampeyan sempat berkenalan dengan ‘yoko’ dan melupakan sesaat si komoko..heheh

    hahaha, tak ada yoko atau pun komako, mas, yang ada malah a*ua.. a*ua.. a*ua.. pedagang kaki lima yang, maaf, sedikit berisik itu 🙂

  2. jadi teringat jaman dulu dr shinjuku naik kereta di akhir minggu menatapi wani wanita muda yang modis itu 😛

    wuahhh, njenengan malah sudah pernah ke sana, mas? 🙂
    ada fotonya apa tidak? :mrgreen:

  3. novel baru atau lama ini ya? berapa halaman? soalnya kl sampe 500, biasanya saya udah keburu beli buku lain, dan buku lama ga selesai.. haha.

    salam kenal yah! :mrgreen:

    iya salam kenal, ini novel lama kayaknya, ngga gitu tebal kok, karena kalau tidak salah awalnya adalah cerpen 😛

  4. Novel yang memukau. Ini rupanya yang mengingatkan uncle goop pada kereta senja. Betapa tiap perjalanan membawa kita pada ruang yang tak terjamah oleh raga. “Anehnya, saat kita santai tanpa bermaksud melihat cermin atau pemandangan, bukankah malah terlihat dua hal itu secara bersamaan?”
    Apa kabar uncle goop? Bersama Shimamura menikmati perjalanan?

    kabar baik, mas 🙂 terima kasih atas apresiasinya, ya. :mrgreen:

  5. cinta yang getir, cinta yang menyakitkan. kawabata memang spesialis kegetiran.

    saya sendiri baru membaca beberapa cerpennya, belumlah banyak sangat. sepertinya panjenengan lebih ‘kenal’ kawabata ketimbang saya 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: