Review: Inglorious Bastards

see-awesome-new-inglorious-basterds-pics-02-800-75

Mungkin ini film pertama yang saya lihat. Maksud saya, cara penyampaiannya yang seperti membuka sebuah novel barulah saya temui pertama kali. Di sana, ada empat atau lima bab yang pada mulanya terpisah-pisah, namun kemudian menyatu di bagian akhir.

Dari segi cerita, saya rasa tak ada yang istimewa. Tema klasik tentang pembalasan dendam yang dibungkus dengan perseteruan antara NAZI dan pihak sekutu.

Meski begitu, beberapa yang layak menjadi catatan: mengenai pengkhianatan tingkat tinggi, sebuah kebiasaan atau adat di suatu negara yang berbeda, bisa membuat sebuah penyamaran terbongkar. Masih ada lagi, kesabaran sebuah interogasi yang menguarkan kecerdikan sekaligus ancaman yang mematikan.

Ancaman dalam bentuknya, yaitu ketegangan memang terasa dari awal sampai dengan akhir. Cara penyajian yang lambat dan seperti terserak antara bagian cerita satu dengan yang lain, tak mengurangi ketegangan itu. Bahkan, bisa-bisanya saya dibuat tegang saat melihat seorang gadis bergaun merah yang cantik dengan pipi merona berdiri di jendela dengan latar belakang bendera NAZI yang berkibar-kibar di luar gedung.

Dalam kondisi biasa, tentu saja gadis itu, yang terlihat sedikit belahan dadanya akan membuat saya tegang. Tapi, ini bukan tegang yang itu, kau tahu, kan? Ini benar-benar mencekam. Apalagi bila Anda tahu apa maksud yang disembunyikannya sembari berdiri itu.

Melalui cara yang bila boleh disebut: konvensional, misalnya dengan memperlihatkan cucuran darah dari leher yang digorok. Pembuat film berhasil merampas perhatian penonton. Bahkan, dalam adegan duduk-duduk di café sambil tertawa-tawa, tetap saja penonton harus berulang kali menahan nafas.

Melihat film ini, ada pula sebuah ironi disajikan.

Dia begitu tenar karena berhasil membunuh banyak musuh hanya seorang diri. Dia adalah pahlawan bagi negaranya dengan prestasinya itu. Namun, saat disajikan gambaran dirinya sendiri yang menembaki musuh satu demi satu, terlihat sekali kalau dia muak, barangkali malah menyesali prestasinya sendiri itu.

Tidak lupa, tentang seorang perwira dengan segudang prestasi membunuhi orang Yahudi. Sampai-sampai, dia mendapat julukan “Pemburu Yahudi”. Ternyata, perwira ini memiliki sisi lain. Mungkin, dia pun muak dengan prestasi dan julukan dari musuh-musuhnya. Sebuah julukan yang dia pun tak suka, seperti beban yang menggelayuti langkahnya. Perwira ini, kemudian seperti mengalami perubahan cita-cita, dari semula yang mengejari karier dan prestasi, menjadi seseoran gyang mendambakan kekayaan dan hidup tenang di sebuah pulau, menyendiri. Demi maksudnya itu, dia berkhianat, meniru persis sosok pengkhianat yang baru saja dicekiknya sampai mampus.

Yang perlu diingat saat menonton film ‘inglorious bastards’ ini, Anda haruslah berhati-hati sekali. Kenapa? Karena bioskopnya terbakar.

Terima kasih.

4 Replies to “Review: Inglorious Bastards”

  1. Into The Wild kalo gak salah disajikan juga per-bab, paman. cuma mungkin bedanya Into The Wild ini cuma perputar di satu tokoh, seperti dalam bukunya.

    btw soal film yang ada adegan bioskop terbakar, udah nonton Final Destination IV? ada juga adegan bioskop terbakar. meledak bahkan.. 😀

    wuah, kayaknya saya perlu belajar perfilm-an dari dikau nih, bro 😀

  2. OOT pak, dah lama nggak berkunjung kesini…themenya konsep black & white ya? kirain gambarnya juga mau serba dibikin B&W juga 😛

    pengennya gitu, tapi emm adakah cara mudah untuk mengubah semua gambar menjadi hitam dan putih? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *