Kiat: Mendidik Anak Tanpa Kekerasan

“Gua cekek lu sekarang, mampus lu! Disuruh sekolah, malah bandel.”

Jelas itu bukan percakapan. Ibu itu begitu geram, sehingga muncul kata-kata itu. Pagi yang biasanya sibuk karena banyak pedagang dan pejalan kaki melintas pun diramaikan oleh teriakan dari rumah sebelah kosan.

“Aduh sakit, bu. Ampun….”

Rintihan yang memilukan dari gadis cilik itu tak juga redakan kemarahan ibunya. Barangkali bukan hanya teriakan, entah cubitan, mungkin pukulan mendarat pula di tubuh anak itu. Hanya suara-suara yang saya dengar sewaktu saya menjemur cucian. Tetangga lain yang mengetahui pun hanya melirik, sekadar ingin tahu apa yang terjadi. Bukan urusan saya, bukan urusan tetangga, biarlah menjadi urusan ibu dan anaknya. Walaupun di bagian akhir saat saya sudah selesai menjemur, ada pula saya dengar si suami ikut-ikutan kena semprot, hehehe.

Bila benar ibu itu sampai mencekik dan mampuslah anaknya, saya kira tak perlu pemerintah kembali menggalakkan program KB. Biarlah orang tua mencekik anak-anaknya sendiri dan berkuranglah penduduk negeri ini.

Terdengar sadis memang, sesadis ancaman ibu itu kepada anaknya. Lepas dari alasan kemarahannya sebagai akibat kebandelan anak yang tak mau sekolah. Lepas dari maksud baiknya agar anak bersedia berangkat sekolah karena katanya sedang ulangan. Miris mengetahui niatan, meski tak dilakukan, mengetahui niatan mencekik itu.

Kata-kata yang diucapkan ketika marah, bukanlah kata yang sebenarnya. Namun, kegeraman seperti apa yang dapat memicu munculnya kata-kata semacam itu? Barangkali sekarang cukup kata-kata. Bagaimana esok, bagaimana lusa, seandainya si anak melakukan kesalahan yang lebih berat?

Apakah orang tua berhak melakukan kekerasan dalam bentuk kata-kata dan perbuatan kepada anaknya? Setelah segala jerih payah agar anak tumbuh besar, peran yang telah dijalani, budi yang telah ditanam, mungkin membuat orang tua merasa berhak melakukan segala sesuatu kepada anaknya. Apakah yang termasuk berbuat apa saja itu mencakup :memaki, menghardik, mencubit, memukul, mencekik?

Simaklah cerita masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi – Pendiri Lembaga M.K.Gandhi) berikut ini. Maaf bila barangkali pernah membacanya.

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan.

Kami tinggal jauh dipedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, “Ayah tunggu kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Segera saja saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh ayah saya. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung saya berlari menunju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayah menanyai saya, “Kenapa kau terlambat?”

Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John Wayne sehingga saya menjawab, “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.” Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong.

Lalu ayah berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu, ayah dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah akan berbohong lagi.

“Sering kali saya berpikir mengenai peristiwa ini dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan.”

Dr. Arun Gandhi adalah cucu Mahatma Gandhi dan pendiri Lembaga M.K.Gandhi untuk Tanpa-Kekerasan
Pada tanggal 9 Juni 2005 ia memberikan ceramah ini di Universitas Puerto Rico dan bercerita bagaimana memberikan contoh tanpa-kekerasan yang dapat diterapkan di sebuah keluarga.

Selayaknya anak kecil, banyak hal dilakukan oleh mereka yang seringkali membuat kemarahan terasa begitu akrab. Memang tak ada pukulan, cubitan dan permainan tangan lain yang terjadi. Namun kesabaran terasa begitu terbatas saat menghadapi anak kecil. Jujur saya mengakui bila melalui kata-kata dan lirikan mata saya pun melakukan kekerasan kepadanya.

Saya masih perlu belajar bagaimana menghadapi anak kecil. Dalam anggapan saya dia sudah besar dan harus memahami kata-kata saya. Dalam benak saya, apa yang saya lakukan benar agar dia mandiri, tak manja dan lain-lain. Di sini, semua terbingkai dalam otak saya, menurut saya, benak saya, anggapan saya, pendapat saya, saya tak terbantahkan. Namun, benarkah demikian dalam hematnya, dalam alam pikirannya, dalam dunia kecilnya itu?

6 Responses

  1. buatku, ketika berhadapan dgn anak-anak, kita harus memberikan contoh..paling mudahnya melalui cerita keteladanan, dan jangan jauh2 sampe ke teladan nabi..yg dekat2 saja..tanamkan empati dan simpati sejak awal..itu saja..

    setuju sepenuhnya :mrgreen:

  2. semoga anak perempuan di atas tidak dendam pada masa kecilnya di saat sudah dewasa

    semoga saja begitu, mas….bayangkan kalau dia punya anak kemudian juga memperlakukan anaknya demikian, seperti rantai yang tak pernah putus, bukan?

  3. Ia adalah busur panah yang siap meluncur menembus ruang yang butuh seorang pemanah. Sesekali bisa menjadi belati yang tajam, dan butuh seorang pengasah.
    Siapapun akan merasa bersalah jika membesarkan seorang anak dengan cara yang salah.
    Salam dari saya Paman Goop.

    yupe, betul sekali… terima kasih, ya 😀

  4. Hohoho..pngalaman memakaikan bju dan pipo selepas mandi padahal lg enak2 tdur juga teringat kayany…

    jelass… nek itu salah mamah kakak pastinya, huh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: